← Papa Pinjaman

Chapter Eighteen

Hoodie Abu-Abu

POV: Clara

Hoodie itu ada di jok belakang mobil, tergulung di sebelah kursi anak Lily.

Aku menemukannya dua hari setelah Lily pulang dari rumah sakit, waktu mengambil tas laptop yang tertinggal. Abu-abu pudar, dengan lengan yang ujungnya sudah berbulu karena terlalu sering dicuci, dan tali di tudung yang panjangnya tidak sama. Tali kiri lebih pendek, ujungnya digigit. Aku tahu siapa yang menggigitnya. Aku pernah melihatnya melakukannya di bangku minimarket, waktu dia berpikir keras soal sesuatu di layar laptop.

Aku mengangkat hoodie itu dari jok. Aku berniat mengembalikannya. Tentu saja aku berniat mengembalikannya.

Wangi sabun batang. Kopi sachet. Dan sesuatu yang lain, hangat, yang tidak bisa kunamai tapi langsung kukenali. Wangi yang sama yang kuhirup di bahunya selama dua jam di lantai rumah sakit, waktu aku pura-pura tidur dan mendengar perawat bilang Bapak papa yang baik.

Aku memeluk hoodie itu di dada. Aku berdiri di garasi yang sepi, di samping mobil, dan memeluk hoodie seorang pria seperti remaja lima belas tahun.

Lalu aku membawanya ke kamarku.


Aku bilang pada diriku sendiri aku akan mencucinya dulu. Mengembalikan pakaian kotor itu tidak sopan. Aku akan menyuruh Bi Inah mencucinya dan menaruhnya di kamar sayap timur besok pagi.

Tapi malam itu pendingin udara di kamarku terlalu dingin. Aku sudah mengecilkannya dua kali, dan tetap terlalu dingin. Selimutku terlalu tipis. Kausku terlalu tipis.

Hoodie itu tergeletak di kursi meja rias.

Aku memakainya.

Hoodie itu terlalu besar. Tentu saja terlalu besar. Bahunya jatuh sampai ke tengah lenganku. Lengannya menutupi tanganku sampai ke ujung jari, sehingga aku harus menggulungnya dua kali supaya bisa memegang ponsel. Ujung bawahnya jatuh sampai ke pertengahan paha, menutupi celana piyamaku sepenuhnya, sehingga aku terlihat seperti tidak memakai celana.

Aku berdiri di depan cermin.

Perempuan di cermin itu bukan direktur Moris Investment. Rambutnya digerai, sedikit kusut. Wajahnya tanpa riasan, pipinya merah muda karena baru mandi air hangat. Hoodie abu-abu pudar menelan tubuhnya seperti selimut. Tudungnya jatuh di punggung. Tali kirinya yang tergigit menggantung di dada.

Aku terlihat lebih kecil. Lebih muda. Aku terlihat seperti orang yang sedang dipeluk.

Aku menarik tudungnya ke atas kepala dan melihat pantulanku lagi. Mata almondku mengintip dari balik kain abu-abu. Tahi lalat di dekat sudut bibir kiriku terlihat sangat jelas di wajah yang dibingkai tudung.

Aku cantik. Itu data. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak memikirkannya sebagai data. Aku memikirkannya sebagai pertanyaan: kalau dia melihatku seperti ini, apa yang akan dia pikirkan?

Aku melepas tudung dengan cepat, seolah ketahuan melakukan sesuatu yang memalukan. Lalu aku naik ke ranjang, masih memakai hoodie itu, dan menarik selimut sampai dagu.

Kamarku tidak lagi terlalu dingin.


“Non.”

Bi Inah berdiri di pintu dapur pukul enam pagi dengan celemek bunga-bunga dan wajah yang sangat, sangat tenang. Terlalu tenang. Wajah seorang agen intelijen yang baru saja mendapat informasi rahasia negara.

Aku berdiri di depan mesin kopi. Dengan hoodie abu-abu. Aku lupa melepasnya. Aku bangun, menyikat gigi, lalu turun untuk membuat kopi, dan aku lupa sama sekali bahwa aku masih memakainya.

“Pagi, Bi.”

“Pagi, Non.” Bi Inah menatap hoodie itu. Lalu menatap wajahku. Lalu kembali ke hoodie itu. “Non kedinginan?”

“AC di kamar terlalu dingin.”

“Oh.” Bi Inah mengangguk dengan sangat serius. “AC-nya fluktuatif, ya, Non?”

Aku menjatuhkan sendok kopi.

Bi Inah memungutnya, menyerahkannya padaku dengan senyum yang sangat sopan, lalu kembali ke kompor dan mulai menggoreng tempe sambil bersenandung. Lagu yang dia senandungkan adalah lagu dangdut tentang cinta rahasia.


Pukul enam lewat dua puluh, Oma turun untuk sarapan. Dia melihatku di meja makan. Dia melihat hoodie itu. Dia berhenti di anak tangga terakhir dan menutup mulut dengan kedua tangan.

“Clara.”

“Pagi, Oma.”

“Clara, itu...”

“Aku kedinginan.”

“Itu punya Nak Irvan.”

“Aku tahu, Oma.”

Oma menurunkan tangannya perlahan. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru melihat kembang api. Lalu dia merogoh saku daster dan mengeluarkan ponsel.

“Oma, jangan.”

“Oma cuma mau...”

“Oma.”

Oma memasukkan ponselnya kembali dengan wajah kecewa. Tapi dia duduk di sebelahku, sangat dekat, dan berbisik dengan suara yang sama sekali tidak pelan: “Dulu Oma juga pakai jaket Opa. Waktu pacaran. Opa nyariin jaketnya tiga minggu. Oma nggak pernah balikin.”

“Oma, aku nggak...”

“Sampai sekarang jaketnya masih di lemari Oma,” lanjut Oma, mengabaikanku. “Udah bolong-bolong dimakan ngengat. Tapi Oma simpen.”

Opa turun dengan koran di tangan. Dia melihatku. Dia melihat hoodie itu. Dia tidak bereaksi sama sekali. Dia duduk di kepala meja, membuka koran, dan membaca.

Tapi dari balik koran, aku mendengar Opa bergumam: “Jaket saya warna cokelat, Lusiana. Kamu bilang hilang di bioskop.”

“Hilang di bioskop,” Oma setuju dengan senyum manis. “Terus ketemu di lemariku.”


Darren turun pukul enam lewat tiga puluh. Dia melihat hoodie itu dan tertawa sampai harus berpegangan di pinggir meja.

“Kak. Kak. Itu hoodie buaya.”

“Hoodie apa?”

“Bang Irvan nyebut sepatunya buaya, soalnya solnya nganga. Hoodie-nya juga harusnya dinamain gitu, soalnya udah sama tuanya.” Darren duduk dan menuang jus jeruk, masih tertawa. “Dia tahu Kakak pakai?”

“Belum.”

“Belum?” Darren berhenti tertawa. Matanya melebar dengan kegembiraan murni. “Dia nggak tahu?”

“Dar.”

“Dia nyariin, lho. Kemarin sore dia nanya gue lihat hoodie-nya nggak. Katanya ketinggalan di mobil. Gue bilang nggak tahu.” Darren menyeringai. “Sekarang gue tahu.”

“Kamu nggak akan bilang.”

“Gue nggak akan bilang,” Darren setuju. “Gue cuma mau lihat mukanya pas dia tahu sendiri.”

Lily turun terakhir, digendong Bi Inah karena masih lemas setelah sakit. Dia melihatku dan langsung berseru, “Mama pakai baju Om Kacamata!”

Seluruh meja makan hening.

“Mama kedinginan, Sayang.”

“Terus Om Kacamata pakai baju apa?”

Pertanyaan yang sangat masuk akal. Aku tidak punya jawaban.

“Om Kacamata punya baju lain,” kata Oma dengan cepat.

“Om Kacamata cuma punya hoodie satu,” kata Lily dengan keyakinan anak yang sudah tiga bulan menghabiskan setiap sore di bangku minimarket bersama pria itu. “Kata Om, hoodie itu hoodie kesayangan. Dibeli pakai gaji pertama.”

Aku menatap lengan hoodie yang menutupi tanganku. Dibeli pakai gaji pertama.

“Terus kenapa Mama pakai?” desak Lily.

Seluruh meja makan menatapku. Oma dengan mata berbinar. Darren dengan seringai lebar. Bi Inah dari pintu dapur dengan spatula di tangan. Opa dari balik koran, satu mata kelihatan di atas halaman bisnis.

“Karena,” kataku perlahan, “Mama kedinginan.”

Lily memikirkan jawaban itu dengan serius. Lalu dia mengangguk. “Oke. Tapi nanti dibalikin, ya. Om Kacamata sayang sama hoodie itu.”

“Iya, Sayang.”

“Janji?”

“Mama... usahakan.”


Irvan tidak turun untuk sarapan. Dia bekerja sampai subuh untuk Rotterdam dan tidur sampai siang. Aku berangkat ke kantor pukul tujuh setelah melepas hoodie itu dan melipatnya dengan rapi di kursi meja riasku.

Aku bilang pada diriku sendiri aku akan mengembalikannya malam ini. Setelah pulang. Setelah dicuci.

Aku tidak menyuruh Bi Inah mencucinya.


Di kantor, Sinta menatapku dengan curiga sejak aku keluar dari lift.

“Bu, Ibu wangi aneh.”

“Wangi apa?”

“Sabun batang.” Sinta mengendus udara di dekatku seperti Bi Inah. “Merek yang murah. Yang dijual di minimarket. Ibu biasanya wangi parfum vanila yang harganya tiga juta.”

“Aku ganti sabun.”

“Ibu ganti sabun,” ulang Sinta dengan nada yang jelas-jelas tidak percaya. Dia mencatat sesuatu di tabletnya. Aku mencondongkan tubuh untuk melihat. Observasi: subjek (Bu Clara) wangi sabun batang. Sumber: kemungkinan besar kontak fisik jangka panjang dengan objek milik Mas Irvan. Tingkat keparahan: TINGGI.

“Sinta.”

“Ya, Bu?”

“Hapus.”

“Sudah tersimpan di cloud, Bu.”


Malam itu, pukul sepuluh, aku memakainya lagi.

Aku tidak punya alasan kali ini. AC di kamarku tidak terlalu dingin. Aku bahkan sudah menaikkan suhunya jadi dua puluh enam derajat. Aku hanya berdiri di depan kursi meja rias, memandangi hoodie abu-abu yang terlipat rapi, dan tahu bahwa kalau aku tidak memakainya, aku tidak akan bisa tidur.

Aku memakainya dan turun ke dapur untuk mengambil air. Aku bilang pada diriku sendiri itu satu-satunya alasan.

Lampu dapur menyala. Lampu kuning kecil di atas meja. Lingkaran cahaya yang sama.

Irvan duduk di kursi tinggi dengan laptop terbuka, kaus putih polos, dan celana tidur motif kotak-kotak. Tanpa hoodie. Dia menggosok-gosok lengannya yang telanjang sambil mengetik, seolah kedinginan.

Dia mendongak waktu mendengar langkahku.

Dia berhenti mengetik.

Dia menatapku. Dari rambutku yang tergerai, ke wajahku, ke hoodie abu-abu pudar yang menelan tubuhku, ke lengan yang digulung dua kali, ke tali kiri yang tergigit di ujungnya, ke kakiku yang telanjang di bawah ujung hoodie yang jatuh di pertengahan paha.

Lalu kembali ke wajahku. Mulutnya sedikit terbuka.

“Itu...” Suaranya tercekik. “Itu hoodie saya.”

“Iya.”

“Saya nyariin dua hari.”

“Aku tahu.”

“Ibu tahu saya nyariin?”

“Darren bilang.”

“Darren bilang dia nggak lihat.”

“Darren bohong.” Aku berjalan ke kulkas, membukanya, dan mengambil sebotol air. Aku sangat sadar dia sedang melihatku. Aku sangat sadar ujung hoodie itu naik sedikit saat aku membungkuk ke rak bawah. “Semua orang bohong ke kamu hari ini. Bi Inah, Oma, Darren. Mereka semua tahu dari pagi.”

“Semua?”

“Opa juga.”

Irvan menutup wajah dengan kedua tangan. “Ya Tuhan.”

Aku menutup kulkas dan bersandar di pintunya. Aku meminum air dari botol dengan pelan, memandanginya dari atas botol.

“Kamu kedinginan,” kataku.

Dia menurunkan tangan dari wajah. “Nggak.”

“Kamu gosok-gosok lengan dari tadi.”

“Itu... gerakan berpikir.”

“Kamu berpikir pakai lengan?”

“Programmer berpikir pakai seluruh tubuh, Bu.”

Aku tertawa. Aku meletakkan botol air di meja dan berjalan ke arahnya. Pelan. Kakiku yang telanjang tidak berbunyi di lantai dapur.

Aku berhenti di sampingnya. Sangat dekat. Dia duduk di kursi tinggi, jadi mata kami hampir sejajar.

“Bu,” katanya pelan. “Hoodie-nya...”

“Hm?”

“Boleh saya minta balik?”

Aku berpikir. Aku memiringkan kepala sedikit, seolah mempertimbangkan proposal investasi.

“Nggak,” kataku.

Dia berkedip. “Nggak?”

“Ini punyaku sekarang.”

“Itu hoodie saya satu-satunya, Bu.”

“Makanya.”

Dia menatapku seolah aku baru saja berbicara dalam bahasa yang tidak dia pahami. Aku menatapnya balik dengan wajah rapat direksi.

“Makanya,” ulangnya pelan. “Makanya apa?”

Aku mengangkat tangan, lengan hoodie yang tergulung jatuh sedikit, dan menyentuh kerah kaus putihnya. Aku merapikannya, meskipun tidak ada yang perlu dirapikan.

“Makanya aku ambil,” kataku. “Kalau kamu cuma punya satu, berarti satu-satunya yang kamu punya sekarang ada di aku.”

Dia tidak bernapas. Aku bisa melihatnya. Dadanya berhenti di bawah telapak tanganku yang masih di kerahnya.

“Bu...”

“Clara.”

“Bu Clara...”

“Kalau kamu bilang ‘Bu’ sekali lagi, aku pakai hoodie ini ke kantor besok.”

Dia menutup mulut.

Aku menarik tanganku dari kerahnya. Aku mengambil botol air dari meja dan berjalan ke ambang pintu dapur. Di sana, aku berhenti dan menoleh dari balik bahu.

“Oh, dan Irvan.”

Dia menatapku dengan wajah yang sudah merah dari leher sampai rambut. Kacamatanya, entah bagaimana, berembun lagi. Di dapur. Tanpa mi instan.

“Tali kirinya,” kataku sambil mengangkat tali yang tergigit itu dengan dua jari. “Kamu gigit, ya?”

“Kebiasaan,” katanya dengan suara kecil. “Kalau lagi mikir.”

“Hm.” Aku memasukkan ujung tali itu ke mulutku dan menggigitnya pelan. Sangat pelan. Sambil menatapnya.

Kursi tinggi itu bergeser dengan bunyi keras di lantai dapur. Irvan hampir jatuh. Dia menahan diri dengan satu tangan di meja, dan laptopnya bergeser ke tepi.

Aku melepas tali itu dari mulutku dan tersenyum.

“Selamat malam,” kataku, lalu naik ke kamarku.


Di kamar, aku menutup pintu dan bersandar di baliknya.

Jantungku berdebar sangat keras. Wajahku panas sampai ke telinga. Tanganku gemetar di dalam lengan hoodie yang terlalu panjang.

Aku bukan remaja lima belas tahun. Aku tiga puluh tahun. Aku pernah menikah. Aku pernah hamil. Aku pernah menunggu tiga jam di pintu kedatangan bandara dan menyetir pulang tanpa menangis. Aku pernah menandatangani surat cerai dengan tangan yang tidak gemetar. Aku pernah membangun sistem pertahanan yang tidak bisa ditembus oleh pria mana pun selama lima tahun.

Dan aku baru saja menggigit tali hoodie seorang pria di dapur rumahku, karena aku ingin melihat wajahnya.

Aku berjalan ke meja samping ranjang. Di sana ada dua gambar krayon. Yang di bawah: rumah atap merah, matahari tidak rata, aku, Lily, Pak Mentega, dan ruang kosong di sebelah kiri. Yang di atas: rumah yang sama, dengan sosok berkacamata retak yang tersenyum miring ke kiri, mengisi ruang kosong itu.

Aku duduk di tepi ranjang dan memandangi dua gambar itu lama.

Lalu aku mengakuinya. Pada diriku sendiri. Dalam hati. Pelan, seperti mengaku dosa di ruang yang tidak ada orang lain.

Aku jatuh.

Aku sudah jatuh. Mungkin sejak bangku minimarket, waktu dia bilang “bakso itu bakso yang enak”. Mungkin sejak meja makan, waktu dia bilang “Iya, Sayang” dengan suara bergetar. Mungkin sejak lapangan futsal, waktu dia jatuh karena melambai padaku. Mungkin sejak kamar rumah sakit, dua jam, bahu yang tidak bergerak, dan seorang perawat yang bilang Bapak papa yang baik.

Aku tidak tahu kapan. Aku hanya tahu itu sudah terjadi, dan aku sendiri yang menulis pasal yang melarangnya.

Pasal tujuh. Para Pihak dilarang saling jatuh cinta.

Aku menulis pasal itu untuk melindunginya. Itu yang kukatakan pada diriku sendiri waktu itu. Pria dengan tiga foto Instagram, kucing, mesin jahit, dan bakso, tidak boleh jatuh cinta pada perempuan yang hanya menyewanya setahun.

Ternyata aku menulis pasal itu untuk melindungi diriku sendiri. Dan aku yang pertama melanggarnya.

Aku menarik tudung hoodie ke atas kepala dan berbaring di ranjang. Wangi sabun batang dan kopi sachet memenuhi hidungku.

Delapan bulan tiga minggu lagi.

Aku memejamkan mata dan memutuskan sesuatu.

Kalau aku sudah melanggar pasal tujuh, aku tidak akan melanggarnya diam-diam.