← Papa Pinjaman

Chapter Thirty Six

Om Darto

POV: Irvan

Delapan hari di Kotagede, aku tidak menyalakan ponsel.

Aku tidur di atas tikar di ruang tengah, karena kamarku, dengan seprai bunga-bunga merah muda yang dibeli Ibu untuk tamu perempuan, tidak bisa kumasuki. Aku bangun jam sembilan, jam sepuluh, jam sebelas. Aku makan apa yang Ibu taruh di meja. Aku tidak membuka laptop. Rotterdam mengirim surel ke alamat kedua yang kupasang di laptop Ibu untuk keadaan darurat, dan aku membalas satu kalimat: Cuti. Maaf.

Ibu tidak bertanya apa pun.

Dia menjahit dari pagi sampai malam, seperti biasa, dengan mesin jahit tua yang bunyinya tek-tek-tek-tek. Dia memasak. Dia menyapu teras. Dia menaruh teh tubruk di sebelahku setiap sore tanpa kata-kata. Setiap kali aku melewati lorong, aku melihat gambar di bingkai kayu murah. Rumah atap merah. Pria dengan tangan hitam. BAPAK.

Ibu tidak menurunkan bingkai itu. Aku juga tidak.

Di hari kedua, aku melihat kebaya brokat biru muda di manekin tanpa kepala di ruang jahit. Sudah jadi. Dua lengan terpasang. Kancing-kancing kecil dari mutiara imitasi di bagian depan. Bahu tiga puluh sembilan.

Aku berdiri di depan manekin itu lama. Ibu melihatku dari mesin jahitnya.

“Ibu selesaiin,” katanya. “Kemarin malam.”

“Buat apa, Bu?”

Ibu tidak menjawab. Dia kembali menjahit.


Di hari kelima, aku menyeberangi gang.

Aku tidak tahu kenapa hari itu. Mungkin karena aku sudah bosan menatap langit-langit ruang tengah. Mungkin karena suara kunci inggris dan mesin motor dari seberang gang, setiap hari dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, sudah terlalu lama menjadi satu-satunya suara yang kudengar selain mesin jahit Ibu.

Mungkin karena pion hitam di saku celanaku. Aku membawanya ke mana-mana. Ke kamar mandi. Ke meja makan. Ke tikar. Marmer hitam, dingin di pagi hari, hangat di siang hari.

Bengkel Om Darto pagi itu sepi. Satu motor bebek dengan tangki bensin terbuka. Satu sepeda anak dengan ban kempis. Dan Om Darto, berjongkok di samping motor, dengan kaus oblong abu-abu penuh oli dan rambut yang putih seluruhnya.

Dia mendongak waktu bayanganku jatuh di lantai semen.

Dia tidak kaget. Dia tidak tersenyum. Dia menatapku sebentar, lalu kembali ke motornya.

“Kunci sepuluh,” katanya.

Aku berdiri di ambang bengkel. Aku menatap rak perkakas di dinding. Rak yang sama. Kunci-kunci yang sama, digantung berurutan dari yang terkecil sampai terbesar, seperti waktu aku sembilan tahun. Aku mengambil kunci sepuluh dan menyerahkannya.

Om Darto menerimanya tanpa melihat. Dia mulai bekerja.

Aku berjongkok di sebelahnya.

Kami tidak bicara. Setiap beberapa menit, dia menyebut nomor. Kunci dua belas. Obeng plus. Tang. Aku menyerahkannya. Seperti Lily menyerahkan kunci kecil dengan wajah serius, beberapa bulan lalu, di bengkel yang sama.

Jam dua belas, Ibu mengantarkan dua piring nasi pecel ke bengkel. Dia meletakkannya di meja kayu yang penuh baut dan mur. Dia menatap kami berdua, berjongkok berdampingan di samping motor bebek dengan tangan yang sama-sama hitam oleh oli.

Dia tidak bicara. Dia kembali ke rumahnya, dan aku mendengar mesin jahitnya berbunyi lagi, lebih cepat dari biasanya.


Di hari ketujuh, Om Darto mulai mengecat bengkel.

Dia sudah membeli catnya sebulan lalu, kata Ibu. Kaleng-kaleng yang berjajar di pojok bengkel, belum dibuka. Dia menunggu pendapatku soal warna. Ibu sudah bilang itu di telepon, berbulan-bulan lalu, waktu aku baru pindah ke rumah keluarga Moris. Katanya bengkelnya mau dicat ulang, mau minta pendapatmu warnanya.

Aku tidak pernah menjawab.

Om Darto membuka tiga kaleng di depanku. Hijau tua. Biru muda. Abu-abu.

“Pilih,” katanya.

Aku menatap tiga warna itu. Hijau tua, warna bengkel sekarang, yang catnya sudah mengelupas di mana-mana. Biru muda, warna langit Kotagede di pagi hari. Abu-abu, warna...

Aku menunjuk abu-abu.

Om Darto menatapku. Lalu menatap kaleng abu-abu. Dia tidak bertanya kenapa. Dia menutup kaleng hijau tua dan biru muda, lalu menyerahkan kuas padaku.

Kami mengecat sepanjang sore. Dinding depan bengkel, pintu rolling, papan nama berkarat yang dia turunkan dan sandarkan di tiang. Om Darto mengecat bagian atas dengan tangga kayu. Aku mengecat bagian bawah. Kami tidak bicara. Kuas bergerak naik-turun. Cat abu-abu menutupi hijau tua yang mengelupas, lapis demi lapis.

Menjelang magrib, kami berhenti. Om Darto turun dari tangga dan duduk di bangku kayu panjang di depan bengkel. Aku duduk di sebelahnya. Tangan kami abu-abu sampai siku. Kaus kami bernoda cat.

Di seberang gang, di tembok rumah tetangga, samar-samar dalam cahaya senja, coretan kapur itu masih ada. Huruf I dan O, dengan panah di antaranya. Mengarah ke bengkel.

Om Darto melihat ke mana aku melihat.

“Kamu yang nulis itu,” katanya. Suaranya serak. “Pakai kapur jahit ibumu.”

“Umur sembilan.”

“Kamu bilang, biar tahu jalan pulang.”

Aku tidak menjawab.

Om Darto menatap coretan itu lama. Lalu dia berkata, pelan, dengan suara yang tidak pernah kudengar dari dia sebelumnya:

“Om nggak pernah hapus. Tetangga mau cat temboknya tiga kali. Om bayar mereka biar bagian itu nggak dicat.”


Aku memegang pion hitam di saku celanaku. Marmer yang dingin karena udara senja.

Tanya dulu sama orang yang ngajak kamu ke sana. Ibu, di telepon, waktu aku duduk di bangku batu di taman hotel. Om-mu dulu nggak nanya.

Kamu udah tanya Clara? Opa, di perpustakaan, dengan pion di antara jari-jarinya. Semua orang yang pergi dari rumah ini selalu yakin mereka sudah tahu jawabannya.

Aku tidak bertanya pada Clara. Aku tidak pernah bertanya pada Om Darto.

Dua puluh satu tahun, aku tinggal di sebelah bengkel ini, dan aku tidak pernah bertanya.

“Om,” kataku.

Om Darto tidak menoleh. Dia menatap coretan kapur di tembok seberang.

“Kenapa Om pergi?”

Hening.

Di ujung gang, azan magrib berkumandang dari musala. Seekor kucing melompat dari tembok. Seseorang menyalakan lampu teras.

Om Darto tidak menjawab lama. Aku melihat tangannya, yang abu-abu oleh cat sampai siku, mengepal di atas lutut.

“Bapakmu pulang,” katanya akhirnya.

“Aku tahu.”

“Om pikir,” dia menarik napas, “Om pikir kamu butuh bapak yang asli. Bukan om yang tangannya item terus. Bukan om yang cuma punya bengkel. Om pikir kalau Om tetap di sini, kamu bakal bingung. Tiap pagi keluar rumah, lihat bengkel, lihat Om. Tiap sore pulang sekolah, lihat bapakmu di teras. Kamu harus milih mau ke mana dulu.” Suaranya pecah sedikit. “Anak kecil nggak boleh disuruh milih, Le. Om pikir itu yang bener.”

Aku menatap coretan kapur. I dan O, dengan panah.

“Om ke Semarang,” lanjut Om Darto. “Kerja di bengkel teman. Tiap bulan ibumu kirim surat. Cerita soal kamu. Kamu juara kelas. Kamu jatuh dari sepeda. Kamu mulai pakai kacamata.” Dia berhenti. “Om nggak pernah bales. Om takut, kalau Om bales, Om nggak bisa tahan buat nggak pulang.”

“Wesel pos,” kataku. “Buat SPP.”

Om Darto menoleh padaku untuk pertama kalinya. Matanya melebar.

“Ibumu cerita?”

“Nggak. Aku yang tebak. Barusan.” Aku menatap tanganku yang abu-abu. “Ibu nggak mungkin bisa bayar SPP SMP negeri favorit dari jahitan permak. Aku selalu penasaran uangnya dari mana. Aku nggak pernah nanya.”

Om Darto menatapku. Lama. Lalu dia tertawa. Tawa pendek, serak, yang langsung pecah jadi sesuatu yang lain.

“Kamu dari dulu pinter,” katanya. “Tapi nggak pernah nanya.”

“Kayak Om.”

“Kayak Om.”


“Bapakmu pergi lagi dua tahun kemudian,” kata Om Darto. Suaranya lebih pelan sekarang. “Om dengar dari ibumu. Om langsung pulang. Naik bus malam. Om sampai sini subuh. Om berdiri di depan pintu rumah kalian. Jam lima pagi.”

Aku ingat. Aku tiga belas tahun. Aku keluar untuk ke sekolah, dan Om Darto berdiri di teras, dengan tas di bahu dan wajah yang kurus. Aku melihatnya. Aku bilang, “Pagi, Om.” Aku berjalan melewatinya ke sekolah.

“Kamu bilang ‘Pagi, Om’,” kata Om Darto. Seolah dia membaca pikiranku. “Bukan ‘Bapak’. ‘Om’. Dan kamu jalan terus.”

“Aku marah.”

“Om tahu. Om pikir Om pantes dapet itu.” Om Darto menatap tangannya. “Om yang pergi. Jadi Om nggak punya hak balik ke tempat Om. Om pikir itu hukumannya. Om terima.”

“Dua puluh tahun, Om.”

“Dua puluh tahun.” Suaranya bergetar. “Tiap pagi Om buka bengkel. Tiap pagi Om lihat kamu keluar rumah. SMA. Kuliah. Berangkat ke Jakarta. Om lihat semua. Dari sini. Dari bengkel ini.”

Aku menatap gambar di kepalaku. Pria dengan tangan hitam dari ujung jari sampai siku. BAPAK. Di laci bengkel, di bawah kunci-kunci dan baut-baut, dua puluh empat tahun.

“Om,” kataku. Suaraku serak. “Aku nggak butuh bapak yang asli.”

Om Darto membeku.

“Aku nggak pernah butuh.” Tanganku gemetar di atas lutut. Pion hitam di sakuku menekan pahaku. “Waktu bapak pulang, aku nggak seneng. Aku bingung. Dia nggak tahu aku nggak suka tomat. Dia nggak tahu aku takut gelap. Dia nggak tahu aku bisa baca kata karburator. Dia orang asing yang tidur di kamar Ibu.” Aku menarik napas. Napasku pecah. “Aku bangun pagi itu, tiga hari setelah dia pulang, dan bengkel Om tutup. Nggak ada yang bilang Om ke mana. Ibu cuma bilang, ‘Om-mu kerja di tempat lain.’”

“Le...”

“Aku nungguin, Om. Tiap sore. Di teras. Sampai magrib. Kayak sekarang.” Air mataku jatuh. Aku tidak mengusapnya. Tanganku terlalu abu-abu. “Aku nggak butuh bapak yang asli, Om. Aku butuh Om.”

Om Darto menutup wajahnya dengan tangan yang penuh cat abu-abu.

Bahunya berguncang. Tanpa suara. Seperti Clara di kamar rumah sakit, waktu dokter bilang trombosit Lily normal.

“Om kira,” katanya dari balik tangannya. Suaranya hancur. “Om kira Om ngasih kamu bapak. Ternyata Om cuma ninggalin kamu juga.”

Azan magrib selesai. Gang hening. Lampu teras rumah Ibu menyala di seberang.

Aku duduk di bangku kayu di depan bengkel yang baru dicat abu-abu, di sebelah pria yang dulu kupanggil Bapak, dan kami menangis. Dua laki-laki dengan tangan penuh cat. Di depan coretan kapur yang tidak pernah dihapus.


Ibu keluar dari rumah dengan dua cangkir teh tubruk. Dia menyeberangi gang. Dia meletakkan cangkir-cangkir itu di bangku di antara kami. Dia tidak bicara. Dia menatap kami berdua, lalu menatap dinding bengkel yang baru dicat.

“Abu-abu,” katanya.

“Irvan yang pilih,” kata Om Darto, dengan suara serak.

Ibu menatapku. Dia tahu kenapa abu-abu. Tentu saja dia tahu. Dia tahu soal hoodie yang dibeli dengan gaji pertama, hoodie yang tidak pernah dikembalikan.

Dia kembali ke rumah tanpa berkata apa-apa. Tapi di ambang pintu, dia berhenti dan menoleh.

“Makan malam,” katanya. “Bertiga.”


Kami makan malam bertiga di dapur Ibu yang sempit, di bawah lampu neon yang berkedip. Om Darto duduk di kursi yang tidak pernah dia duduki selama dua puluh satu tahun. Ibu memasak gudeg dan tempe bacem dan sambal krecek. Tidak ada yang bicara banyak.

Setelah makan, Om Darto bertanya, pelan, sambil mengupas jeruk:

“Anak itu. Lily.”

Aku berhenti.

“Kamu tinggalin dia?”

Aku tidak menjawab.

“Papanya pulang?”

“Iya, Om.”

Om Darto meletakkan jeruk yang setengah dikupas di atas meja. Dia menatapku dari seberang meja, dengan mata merah yang belum kering.

“Le,” katanya. “Kamu nggak nanya ke ibunya dulu?”

“Nggak.”

“Kamu nggak nanya ke anaknya?”

“Dia lima tahun, Om.”

“Kamu sepuluh tahun waktu Om pergi.” Om Darto menatapku. “Kalau Om nanya ke kamu waktu itu, kamu mau jawab apa?”

Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

Aku mengeluarkan pion hitam dari saku celanaku. Aku meletakkannya di atas meja, di antara piring gudeg dan kulit jeruk. Marmer hitam di atas taplak kain perca jahitan Ibu.

Om Darto menatapnya. Dia tidak bertanya itu apa.

“Jangan tulis cerita Om, Le,” katanya pelan. “Cerita Om jelek. Endingnya jelek.”

Aku menatap pion hitam itu. Satu langkah dari ujung papan.

“Terlambat, Om,” bisikku. “Aku udah nulis.”

Om Darto mengulurkan tangan dan menutup tanganku yang ada di sebelah pion itu. Tangannya kasar, hangat, dan masih ada sisa cat abu-abu di sela-sela jarinya.

“Belum terlambat,” katanya. “Om yang terlambat. Dua puluh tahun. Kamu baru dua minggu.” Dia meremas tanganku. “Kamu masih bisa nanya.”


Malam itu, aku tidak tidur di tikar ruang tengah.

Aku masuk ke kamarku. Kamar dengan seprai bunga-bunga merah muda. Seprai yang sama yang dipakai Clara dan Lily waktu mereka datang. Aku berbaring di atasnya, dengan pion hitam di tangan, dan menatap meja belajar kayu di bawah jendela.

Ukiran I dan O. Obeng milik Om Darto.

Aku menyalakan ponsel.

Delapan hari mati. Layarnya menyala dan notifikasi membanjir seperti air bendungan yang jebol. Pesan. Panggilan tak terjawab. Surel.

Tiga puluh satu panggilan tak terjawab dari Clara. Dua belas dari Darren. Tujuh dari Sinta. Empat dari nomor Oma. Satu dari Opa. Satu. Aku tahu Opa tidak pernah menelepon siapa pun lebih dari sekali.

Dan pesan-pesan. Aku tidak membukanya. Aku menggulir sampai ke pesan paling atas.

Dari Clara. Delapan hari lalu. Dari Singapura.

Besok malam aku pulang. Jangan lupa, kamu duluan yang bicara. Aku udah latihan punyaku.

Aku membacanya lagi.

Aku udah latihan punyaku.

Aku tidak tahu apa yang dia latih. Aku tidak pernah bertanya. Aku pergi sebelum dia sempat mengatakannya.

Aku membuka aplikasi tiket kereta. Jari-jariku gemetar.

Kereta ke Jakarta. Besok pagi. Jam delapan lewat sepuluh dari Stasiun Tugu.

Aku menekan beli.

Lalu aku berbaring dengan ponsel di dada, pion hitam di tangan, dan menatap langit-langit kamar yang sama yang kutatap waktu sepuluh tahun, menunggu seseorang pulang.

Kali ini, aku yang akan pulang.

Dan aku akan bertanya.