Chapter Thirty Eight
Belum Beres
POV: Irvan
Pukul sebelas lewat dua puluh tiga malam, ponselku bergetar di atas dadaku.
Satu pesan. Dari Clara.
Aku menatap layar dalam gelap. Aku tidak membukanya. Jempolku berhenti di atas notifikasi, gemetar, dan aku tidak bisa menekannya.
Pratinjau di layar hanya menunjukkan ikon mikrofon kecil dan angka. 1:53.
Pesan suara. Hampir dua menit.
Clara tidak pernah mengirim pesan suara sepanjang itu. Pesan suaranya selalu pendek. Tiga puluh detik, paling lama. Rapatku molor. Aku bosan. Ceritain sesuatu.
Hampir dua menit berarti sesuatu yang besar. Sesuatu yang tidak bisa diucapkan dalam tiga puluh detik. Sesuatu yang mungkin dimulai dengan Irvan, aku mau bilang... dan diakhiri dengan apa pun yang dia latih selama dua hari di Singapura.
Atau sesuatu yang dimulai dengan Irvan, aku sudah baca suratmu, dan diakhiri dengan aku mengerti, terima kasih untuk semuanya.
Aku tidak tahu yang mana. Dan aku takut dua-duanya.
Aku meletakkan ponsel di dada, layar menghadap ke bawah. Aku menggenggam pion hitam. Aku menatap langit-langit kamar yang sama yang kutatap waktu sepuluh tahun.
Besok, pikirku. Besok aku naik kereta. Besok aku berdiri di depannya dan bertanya. Pesan suara itu bisa menunggu. Apa pun isinya, aku mau mendengarnya dari mulutnya sendiri. Bukan dari layar.
Aku tertidur pukul dua dengan ponsel di dada.
Aku terbangun pukul lima lewat empat puluh lima.
Bukan karena alarm. Karena suara azan subuh dari musala di ujung gang, dan suara mesin jahit Ibu yang sudah berbunyi di kamar sebelah. Tek-tek-tek-tek. Ibu bangun sebelum subuh setiap hari, sejak aku kecil.
Ponselku masih di dada. Layar menghadap ke bawah.
Aku membaliknya.
Pesan suara. 1:53. Dari Clara.
Aku berbaring di sana dan menatap angka itu. Kereta berangkat pukul delapan lewat sepuluh. Dua jam dua puluh lima menit. Aku bisa mendengarnya nanti, di kereta. Atau tidak sama sekali, sampai aku berdiri di depannya.
Aku menekan tombol putar.
Hening selama dua detik. Suara napas. Suara sesuatu bergesekan, seperti kain piyama di atas seprai.
Lalu sebuah suara.
Bukan suara Clara.
“Om Kacamata. Ini Lily.”
Aku duduk tegak di ranjang. Pion hitam jatuh ke seprai bunga-bunga.
“Om jangan matiin HP lagi. Aku telepon pakai HP Mama, tapi HP Om mati terus. Kata Mama, HP Om kayak orang Belanda. Tidurnya beda jam. Tapi nanti bangun juga.”
Suaranya serak. Kecil. Seperti pintu yang lama tidak dibuka.
“Om. Aku nggak ngomong seminggu. Beneran. Bu Ratna telepon Mama. Kenzo bawain puzzle, aku nggak mau main. Aku cuma pengen diem. Soalnya kalau aku ngomong, aku takut aku nangis. Terus kalau aku nangis, nggak ada yang bikin muka anak ayam.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Mama nangis di dapur. Bibi yang bilang. Mama duduk di lantai, di depan kulkas, pakai baju Om yang abu-abu. Terus Bibi bikinin Mama mi. Telurnya satu.”
“Om Darren tidur di rumah temennya. Terus pulang. Terus meluk Mama. Om Darren nggak pernah meluk Mama.”
“Oma nggak joget. Seminggu Oma nggak bikin video. HP Oma ada kertas kuning dari Om. Oma nggak mau copot kertasnya.”
“Opa main catur sendiri tiap malem. Aku lihat dari pintu. Pionnya kurang satu. Yang item. Opa nggak mau ganti pakai tutup botol. Opa bilang, ‘Tunggu aja.’”
Hening sebentar. Suara napas yang tersendat.
“Om. Om bilang anak kecil nggak boleh disuruh milih. Om bilang itu ke Kenzo. Terus Om bilang itu ke aku, di bangku, waktu Om pergi. Aku nggak ngerti waktu itu. Sekarang aku ngerti.”
“Aku nggak milih, Om.”
“Papa yang dari Kanada, aku panggil Ayah. Biar nggak ketuker. Ayah bisa sulap koin. Ayah dateng tiap Minggu. Ayah baik. Aku sayang Ayah.”
Suaranya pecah.
“Tapi Om... Om itu...”
Hening panjang. Tiga detik. Lima detik. Aku mendengar isakan kecil, ditahan, seperti anak yang menggigit bibir bawahnya keras-keras supaya tidak menangis di depan orang. Kebiasaan yang dia pelajari dari ibunya.
Lalu suaranya kembali. Keras. Sangat keras. Sampai speaker ponselku berderak.
“TUGAS OM KACAMATA BELUM BERES!”
Aku tidak bisa bernapas.
“Om belum jemput aku hari Selasa! Rabu! Kamis! Jumat! Senin! Om belum lihat gambar Pak Mentega yang ditempel Bu Ratna! Om belum ajarin aku baca jam! Om janji mau ajarin aku baca jam! Om belum jadi kiper di tim Om Darren! Om belum... Om belum...”
Isakan. Keras sekarang. Tidak ditahan lagi.
“Om bilang tugas Om beres. Om bohong. Om bilang Om nggak pernah bohong sama aku. Om BOHONG. Tugasnya BELUM BERES!”
Aku menangis. Di ranjang dengan seprai bunga-bunga merah muda, di kamar kecil di Kotagede, dengan ponsel di tangan yang gemetar, aku menangis seperti anak sepuluh tahun yang duduk di teras sampai magrib, menunggu bengkel di seberang gang buka lagi.
Suara Lily berubah. Lebih pelan. Masih basah, tapi lebih pelan.
“Om. Mama mau ngomong sesuatu. Tapi Mama takut. Mama udah latihan di Singapura, katanya. Tapi Mama tetep takut. Kata Mama, Mama udah lama nggak ngomong yang jujur. Mama lupa caranya.”
“Jadi aku yang bilang.”
“Kayak aku bilang ke Kenzo. Keras-keras.”
Tarikan napas panjang. Sangat panjang untuk anak lima tahun.
“OM KACAMATA PUNYA AKU!”
“Punya aku! Punya Mama! Punya Opa! Punya Oma! Punya Om Darren! Punya Bibi! Punya Mas Ucup! Punya Pak Mentega!”
“Pulang, Om.”
“Tugasnya belum beres.”
Rekaman berakhir.
Aku duduk di ranjang dengan ponsel di tangan dan wajah yang basah.
Di kamar sebelah, mesin jahit Ibu berhenti.
Pintu kamarku terbuka. Ibu berdiri di ambang pintu dengan daster batik cokelat dan kacamata baca di ujung hidung. Dia tidak bertanya apa pun. Dia hanya menatapku. Anak laki-lakinya yang tiga puluh satu tahun, menangis di ranjang masa kecilnya, dengan ponsel di tangan.
“Le,” katanya.
“Bu.”
“Suara siapa itu?”
“Lily.”
Ibu tidak bertanya lagi. Dia masuk ke kamar, duduk di tepi ranjang, dan memelukku. Seperti waktu aku kecil. Tangan yang kasar dan penuh bekas tusukan jarum menepuk punggungku.
Dua kali. Pelan.
Aku baru sadar, di pelukan Ibu, dari mana aku belajar menepuk punggung seperti itu.
Aku memutar pesan suara itu lagi. Kali ini aku mendengar bagian akhir, setelah suara Lily berhenti. Tiga detik terakhir yang tidak kudengar tadi, karena aku menangis terlalu keras.
Suara pintu dibuka. Suara langkah kaki. Lalu suara Lily, jauh dari mikrofon, bicara pada seseorang:
“Udah. Terkirim.”
Dan suara lain, lebih jauh, sangat pelan. Suara perempuan. Suara yang rendah dan tenang, yang terbiasa membuat ruangan diam.
“Mama nggak dengerin.”
Clara. Di balik pintu. Dia berdiri di luar kamarnya sendiri dan membiarkan anaknya bicara padaku.
Aku menurunkan ponsel.
Pukul enam lewat lima. Kereta berangkat pukul delapan lewat sepuluh.
Aku tidak bisa menunggu sampai delapan lewat sepuluh.
Aku mandi dalam lima menit. Aku memakai celana jins dan kaus putih. Aku memasukkan dua kardus ke... tidak. Aku meninggalkan dua kardus di kamar. Aku hanya membawa tas selempang. Laptop, charger, dompet dengan kertas terlipat sebesar kotak korek api di belakang KTP. Dan pion hitam, di saku celana.
Aku keluar kamar. Ibu berdiri di dapur dengan kotak bekal di tangan. Nasi, tempe bacem, dan telur dadar. Telur dadar dengan wortel yang diparut halus, dicampur ke dalamnya.
“Buat Neng Lily,” kata Ibu. “Bilang, Nenek Wati bikinnya pakai wortel. Tapi jangan kasih tahu dia wortelnya.”
Aku menerima kotak itu. Aku tidak bisa bicara.
“Kebayanya,” kata Ibu.
“Bu?”
Ibu menunjuk ke ruang jahit. Ke manekin tanpa kepala dengan kebaya brokat biru muda. Sudah jadi. Dua lengan. Kancing mutiara imitasi. Bahu tiga puluh sembilan.
“Nanti Ibu yang antar,” kata Ibu. “Kalau udah waktunya.”
“Waktunya apa, Bu?”
Ibu tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Senyum yang miring ke kiri, dengan lesung pipi. Senyumku.
Om Darto sudah di depan bengkel dengan motor bebek tua dan dua helm. Helm yang satu, helm anak-anak, biru muda dengan stiker bintang yang sudah pudar. Helm yang dulu kupakai waktu dia mengantarku ke sekolah, ke puskesmas, ke pasar malam.
Dia tidak tahu aku mau pergi. Aku tidak bilang. Tapi dia sudah di sana, dengan mesin menyala, seperti orang yang tahu.
“Tugu?” tanyanya.
“Tugu.”
Dia menyerahkan helm yang lain. Helm dewasa. Hitam. Baru. Masih ada label harga di bagian dalamnya.
“Beli kemarin,” katanya. “Buat jaga-jaga.”
Aku memakai helm itu. Aku naik ke boncengan. Motor bebek tua itu bergerak pelan menyusuri gang sempit, melewati rumah Ibu dengan cat hijau pucat, melewati bengkel yang baru dicat abu-abu, melewati tembok tetangga dengan coretan kapur.
I dan O. Dengan panah di antaranya.
Aku menoleh saat kami melewatinya. Panahnya mengarah ke bengkel. Ke belakang. Ke rumah.
Aku sedang berjalan ke arah yang berlawanan dengan panah itu.
“Om,” kataku di atas suara mesin motor.
“Hm?”
“Panahnya salah arah.”
Om Darto tidak menoleh. Dia menyetir dengan tenang, melewati jalan-jalan kecil Kotagede yang masih sepi di pagi hari.
“Panahnya nggak salah,” katanya. “Panah itu nunjuk ke rumah. Rumahmu yang pindah.”
Stasiun Tugu pukul tujuh lewat lima puluh. Ramai, seperti biasa. Orang-orang dengan koper dan tas ransel. Penjual gudeg dalam besek. Porter dengan seragam oranye.
Om Darto mematikan mesin motor di depan pintu masuk. Aku turun. Aku melepas helm dan menyerahkannya.
“Simpen,” katanya. “Buat nanti. Kalau kamu pulang ke sini lagi. Sama mereka.”
Aku memegang helm itu. Hitam. Baru. Dengan label harga di dalamnya.
“Om,” kataku. “Kalau dia nggak mau?”
Om Darto menatapku. Dia menstandar motor, turun, dan berdiri di depanku. Dia sedikit lebih pendek dariku sekarang. Waktu aku kecil, dia terasa seperti raksasa.
“Kamu tanya,” katanya. “Kalau dia bilang nggak, kamu pulang ke sini. Om ajarin kamu cat bengkel warna lain.” Dia meletakkan tangannya di bahuku. Tangan yang kasar, dengan sisa cat abu-abu di bawah kuku. “Tapi kamu tanya dulu. Jangan kayak Om.”
Aku memeluknya.
Di depan pintu masuk Stasiun Tugu, di antara porter dan penjual gudeg dan orang-orang yang berjalan terburu-buru, aku memeluk pria yang dulu kupanggil Bapak. Dia membalas pelukanku dengan tangan yang menepuk punggungku dua kali. Pelan.
“Pulang, Le,” bisiknya. “Om tunggu. Kali ini Om yang nunggu.”
Peron tiga. Kereta ke Jakarta akan tiba pukul delapan lewat lima.
Aku berdiri di tepi peron dengan tas selempang di bahu, kotak bekal di satu tangan, helm hitam di tangan lain. Pion hitam di saku celana. Kertas terlipat di dompet.
Aku mengeluarkan ponsel. Aku membuka percakapan dengan Clara. Pesan suara Lily di atas. Centang dua biru.
Aku mengetik: Saya pulang. Kereta jam 8.10. Sampai Gambir jam 4 sore.
Aku menatap pesan itu.
Aku menghapusnya.
Aku tidak mau dia menunggu di stasiun Gambir. Aku tidak mau dia berdiri di pintu kedatangan, menunggu seseorang turun dari kereta. Dia sudah pernah melakukan itu. Tiga jam. Hamil lima bulan. Aku tidak mau dia melakukannya lagi, bahkan untukku.
Aku akan datang ke rumahnya. Aku akan mengetuk pintunya. Tiga ketukan. Pelan. Dan aku akan bertanya.
Kereta datang dari arah timur. Suara klaksonnya panjang. Rem berdecit. Gerbong-gerbong berhenti satu per satu di sepanjang peron. Pintu-pintu terbuka.
Aku berjalan ke gerbong empat. Aku mengangkat satu kaki ke tangga kereta.
“IRVAN!”
Aku berhenti.
Suara itu datang dari ujung peron. Dari arah pintu masuk. Keras, serak, terengah-engah, dan pecah di tengah. Suara yang biasa membuat ruang rapat lantai dua puluh tiga diam. Suara yang biasa berkata AC-nya fluktuatif dengan nada rapat direksi.
Suara yang tidak pernah berteriak.
Aku menurunkan kakiku dari tangga kereta.
Aku berbalik.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres reading
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres