Chapter Thirty Seven
Operasi Jemput Papa
POV: Clara
Pukul sembilan malam, hari Senin, seluruh keluarga Moris berkumpul di ruang keluarga untuk rapat darurat.
Aku tidak memanggil mereka. Lily yang memanggil.
Setelah dia bicara di kamarnya, setelah tujuh hari diam, dia turun tangga dengan piyama kelinci dan boneka Pak Mentega di pelukan. Dia berdiri di tengah ruang keluarga dan berkata dengan suara yang masih serak:
“Semua orang kumpul. Kita mau jemput Om Kacamata.”
Oma menjerit dan menjatuhkan ponselnya. Bi Inah keluar dari dapur dengan spatula. Opa menurunkan korannya. Darren, yang baru pulang dari apartemen temannya dengan tas ransel dan wajah kusut, berhenti di ambang pintu depan dan menatap Lily dengan mulut terbuka.
“Neng ngomong,” bisik Darren.
“Iya. Om Darren jangan bengong. Duduk.”
Darren duduk.
Sinta tiba dua puluh menit kemudian. Dia menerima pesan dari Oma, DARURAT. RUMAH. SEKARANG. LILY NGOMONG., dan datang dengan taksi, rambut dicepol asal, kacamata tidur yang lupa dilepas, dan laptop di dalam tas kain.
Dia membuka laptop di meja ruang keluarga. Dia menyambungkannya ke televisi. Dalam sebelas menit, layar televisi menampilkan slide dengan latar biru tua dan huruf emas:
OPERASI J.E.M.P.U.T.
Jangan Enggan, Mas, Pulang Untuk Tinggal
Rahasia — Seluruh Keluarga Moris
Di pojok kanan bawah, logo baru. Siluet pria berkacamata dengan hoodie, menggendong anak kecil di punggung. Di belakang mereka, kucing oranye dengan koper.
“Sinta,” kataku. “Kamu bikin logo dalam sebelas menit?”
“Saya sudah bikin minggu lalu, Bu. Untuk jaga-jaga.” Sinta menekan clicker. “Slide dua. Analisis Situasi.”
Diagram lingkaran. “Penyebab Kepergian Mas Irvan”. Tiga segmen: Pasal 9 (merah), Rasa Tidak Layak (oranye), dan segmen hitam besar bertuliskan Map yang Tidak Dibuka.
Darren menunjuk segmen hitam. “Itu segmen paling gede.”
“Betul, Pak Darren. Tujuh puluh persen.”
Semua orang menoleh padaku. Aku menatap layar.
“Lanjut, Sinta.”
Klik. Opsi Strategi.
“Opsi A,” kata Sinta. “Viral. Bu Lusiana membuat video TikTok berisi permintaan keluarga agar Mas Irvan pulang. Target: satu juta tayangan dalam dua puluh empat jam.”
Oma mengangkat tangan dengan semangat. “Oma udah bikin skripnya! Oma pakai lagu yang sedih, terus ada tulisan gerak-gerak, terus...”
“Mas Irvan nggak punya TikTok, Oma,” kata Darren.
Oma berhenti. “Oh.”
“Opsi A dibatalkan,” kata Sinta tanpa berkedip. Klik. “Opsi B. Konfrontasi Langsung. Pak Darren menyetir ke Yogya malam ini dan membawa Mas Irvan pulang.”
“Gue siap,” kata Darren, sudah berdiri. “Gue tekel dia kalau perlu. Gue masukin ke bagasi.”
“Kamu nggak akan masukin dia ke bagasi, Dar.”
“Kursi belakang deh. Pakai sabuk pengaman.”
“Opsi B memiliki risiko hukum,” kata Sinta. Klik. “Opsi C. Pendekatan Logistik. Mas Ucup diterbangkan ke Yogya bersama bangku besi minimarket sebagai simbol emosional.”
“Mas Ucup?” tanya Opa. Pertama kalinya dia bicara.
“Saya sudah konfirmasi dengan Mas Ucup, Pak Hendra. Beliau bersedia. Beliau bertanya apakah bangkunya boleh masuk bagasi pesawat. Saya sedang cek regulasi maskapai.”
“Opsi D,” lanjut Sinta. Klik. “Bi Inah membuat sambal paling pedas dalam sejarah keluarga Moris, dikirim via ekspedisi kilat ke Kotagede, dengan catatan: Kalau mau yang lebih pedes, pulang.”
Bi Inah, di ambang pintu dapur, mengangguk dengan serius. “Bibi udah siapin cabenya, Non. Dua kilo.”
Aku menatap layar. Empat opsi. Diagram lingkaran. Logo pria berkacamata dengan anak di punggung. Keluargaku, duduk di ruang keluarga jam sembilan malam, dengan wajah-wajah yang tegang dan serius dan penuh harap.
Mereka semua menyusun rencana. Seperti aku menyusun adendum. Seperti aku menulis pasal. Seperti aku menyembunyikan tiga kata dengan pensil di pinggir halaman.
“Sinta,” kataku. “Matikan.”
Sinta berhenti. Clicker di tangannya membeku. “Bu?”
“Matikan layarnya. Semua opsinya batal.”
“Bu, saya masih punya Opsi E sampai H...”
“Batal.” Aku berdiri. “Aku yang jemput. Sendiri.”
Hening.
Oma menutup mulut dengan tangan. Darren perlahan duduk kembali. Bi Inah menurunkan spatula. Sinta menatapku lama, lalu, dengan gerakan pelan, menutup laptopnya. Layar televisi berubah hitam.
Dari kursinya, Opa melipat koran. Rapi. Empat lipatan. Dia meletakkannya di pangkuan dan menatapku dari balik kacamata baca.
“Akhirnya,” katanya.
“Tanpa map?” tanya Sinta pelan.
“Tanpa map.”
“Tanpa dokumen?”
“Tanpa dokumen.”
“Tanpa... naskah?” Sinta terlihat hampir panik. “Bu, Ibu nggak pernah presentasi tanpa naskah.”
“Ini bukan presentasi.”
“Tapi Bu, kalau Ibu gugup, kalau kalimatnya nggak keluar, kayak di restoran...”
“Kalau kalimatnya nggak keluar,” kataku, “aku akan berdiri di depannya sampai keluar. Sehari. Seminggu. Aku nggak akan kasih dia apa pun yang bisa dia simpan di laci.”
Sinta menatapku. Matanya mulai berkaca-kaca di balik kacamata tidur yang masih terpasang.
“Bu,” katanya dengan suara yang tidak lagi terdengar seperti sekretaris. “Saya boleh bilang sesuatu?”
“Boleh.”
“Ini kehormatan terbesar dalam karier saya.” Dia mengusap mata. “Bukan Proyek P.A.P.A. Bukan Operasi J.E.M.P.U.T. Ini. Lihat Ibu bilang ‘tanpa map’.”
Rapat bubar pukul sepuluh. Semua orang tidak tidur.
Oma mengemas tas kecil untukku. Isinya bekal dari Bi Inah (nasi, tempe goreng, sambal yang tidak terlalu pedas), selimut kecil, dan satu kotak susu stroberi. Dia menambahkan boneka Pak Mentega di atasnya, lalu mengambilnya lagi.
“Nggak, ini punya Lily.”
Darren memesan tiket pesawat untukku lewat ponselnya. Penerbangan pertama ke Yogya, pukul enam pagi. Dia menunjukkan layarnya padaku. “Kursi jendela. Biar Kakak bisa lihat awan sambil latihan ngomong.”
“Aku nggak latihan.”
“Kakak pasti latihan. Kakak selalu latihan.” Dia menutup aplikasi. Lalu dia menatapku lama. “Kak. Kalau dia nggak mau pulang...”
“Dia mau.”
“Kalau dia nggak mau.”
Aku menatap adikku. Dua puluh enam tahun, CFO junior, lulusan Melbourne dengan nilai sempurna dan ego sebesar gedung kantor. Yang mengusir tiga pacarku dan satu calon kencan. Yang mengantarku ke bandara lima tahun lalu dan menunggu di sebelahku tiga jam di pintu kedatangan.
“Kalau dia nggak mau,” kataku, “aku tetap bilang. Supaya dia tahu. Supaya dia nggak pergi karena salah paham. Kalau dia tetap pergi setelah tahu, itu pilihannya.”
Darren mengangguk pelan. Lalu dia memelukku. Tiba-tiba. Canggung. Seperti waktu dia sepuluh tahun di pemakaman Papa.
“Bawa pulang kiper gue,” bisiknya.
Pukul sebelas malam, aku menelepon Reza.
Dia mengangkat pada dering pertama. “Clara? Ada apa?”
“Aku ke Yogya besok pagi. Pesawat jam enam. Aku butuh seseorang di rumah buat Lily. Antar dia sekolah. Jemput. Temenin sampai aku pulang.”
Hening di seberang.
“Kamu minta aku?” tanya Reza pelan.
“Aku minta kamu.”
“Bukan Oma? Bukan Darren?”
“Oma dan Darren ada. Tapi aku minta papanya.” Aku menarik napas. “Ini syarat pertama, Reza. Kamu bilang kamu dateng, kamu dateng. Ini ujian pertama.”
Hening lagi. Lebih lama.
“Jam berapa?” tanya Reza.
“Jam enam pagi. Lily bangun jam enam. Dia makan roti segitiga. Empat bagian.”
“Aku tahu,” kata Reza. “Irvan kasih tahu.”
Aku memejamkan mata.
“Aku dateng,” kata Reza. “Jam enam. Aku janji.”
Pukul sebelas lewat dua puluh, Lily mengetuk pintu kamarku.
Tiga ketukan. Pelan. Seperti waktu dia membawa Pak Mentega ke kamar Irvan di malam pertama.
Aku membukanya. Dia berdiri di sana dengan piyama kelinci dan wajah yang sangat serius.
“Mama. Pinjam HP.”
“Buat apa, Sayang?”
“Aku mau kirim pesan ke Om Kacamata.”
Aku ragu. Ponselnya mati delapan hari. Pesan itu mungkin tidak akan sampai sampai dia menyalakannya, besok, lusa, atau tidak pernah.
“HP Om Kacamata mati, Sayang.”
“Nanti nyala,” kata Lily dengan keyakinan anak lima tahun yang tidak bisa dibantah. “Kata Om Kacamata, HP itu kayak orang Belanda. Tidurnya beda jam, tapi nanti bangun juga.”
Aku memberinya ponselku.
Dia duduk di tepi ranjangku. Dia membuka aplikasi pesan. Dia tahu caranya. Dia menemukan nama Irvan di daftar kontak. Irvan. Aku sudah lama menghapus “(Operasional)” di belakangnya.
Dia menekan tombol mikrofon. Dia mendekatkan ponsel ke mulutnya.
Dia menatapku. “Mama keluar dulu.”
“Kenapa?”
“Ini rahasia.”
Aku keluar dari kamarku sendiri. Aku berdiri di lorong, bersandar di dinding, dan mendengarkan suara anakku yang pelan dan serak dari balik pintu, bicara ke ponsel selama hampir dua menit. Aku tidak bisa mendengar kata-katanya. Hanya nadanya. Naik-turun. Pecah sekali di tengah. Lalu keras di akhir. Sangat keras.
Pintu terbuka. Lily menyerahkan ponselku.
“Udah,” katanya. “Terkirim.”
Aku menatap layar. Pesan suara. Satu menit lima puluh tiga detik. Centang satu. Abu-abu.
“Mama nggak boleh dengerin,” kata Lily.
“Mama nggak dengerin.”
“Janji?”
“Janji.”
Lily mengangguk puas. Dia berjalan kembali ke kamarnya dengan Pak Mentega di pelukan. Di ambang pintu kamarnya, dia berhenti dan menoleh.
“Mama.”
“Hm?”
“Kalau Mama ketemu Om Kacamata, jangan kasih map.”
Aku tertawa. Tawa yang pecah di tengah, seperti tawa di taman hotel.
“Mama nggak bawa map, Sayang.”
“Bagus.” Lily menguap. “Om Kacamata nggak suka map. Om Kacamata sukanya susu stroberi.”
Aku tidak tidur.
Pukul tiga pagi, aku duduk di dapur, di kursi tinggi, di bawah lampu kuning kecil. Aku tidak membuat mi instan. Aku tidak membuka laptop. Aku hanya duduk di sana, dengan hoodie abu-abu dan secangkir kopi dengan satu sachet susu kental manis. Karena kopi tanpa gula itu seperti hidup tanpa hari Minggu.
Pukul empat lewat tiga puluh, aku mandi. Aku tidak memakai riasan. Aku tidak memakai lipstik merah bata. Aku menggerai rambutku dan memasang jepit rambut perak Kotagede di sisi kiri, di atas telinga.
Aku berdiri di depan cermin. Perempuan di cermin itu terlihat lelah. Mata bengkak. Kulit pucat. Rambut yang tidak disisir dengan benar. Hoodie abu-abu yang terlalu besar, dengan tali kiri yang tergigit di ujungnya. Celana jins. Sepatu kets putih.
Dia tidak terlihat seperti direktur Moris Investment. Dia tidak terlihat seperti putri galak dengan gaun merah bata di gala. Dia tidak terlihat seperti perempuan yang pernah menyusun strategi di buku catatan kulit pukul lima pagi.
Dia terlihat seperti seseorang yang tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan.
Aku tahu aku cantik. Itu data. Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya, aku tidak peduli pada data itu.
Pukul lima lewat lima belas, di terminal keberangkatan bandara, Sinta menungguku di depan pintu masuk.
Dia memakai setelan kerja lengkap, rambut disanggul rapi, dan kacamata yang benar. Tentu saja dia tidak tidur. Di tangannya, sebuah map.
Map krem.
Aku berhenti di tengah langkah. “Sinta. Aku bilang nggak ada map.”
Sinta tersenyum. Senyum yang sangat profesional dan sangat puas. Dia membuka map itu.
Di dalamnya, satu lembar kertas. Tiket pesawat, dicetak. Dan satu post-it kuning dengan tulisan tangan Sinta.
Ini bukan dokumen, Bu. Ini boarding pass. Semangat. — Sinta, Koordinator Operasional (Pensiun)
Aku menatapnya. Aku tertawa. Lalu, tanpa peringatan, aku memeluk sekretarisku di depan pintu masuk terminal keberangkatan, di depan satpam dan petugas bandara dan penumpang-penumpang pagi yang mengantuk.
Sinta membeku. Tiga tahun jadi sekretarisku, dan aku tidak pernah memeluknya.
“Bu,” bisiknya. “Ini melanggar SOP.”
“SOP-nya dibatalkan.”
“Semua?”
“Semua.”
Dia melepaskan pelukanku dan merapikan kacamatanya dengan tangan gemetar.
“Kalau gitu, Bu,” katanya, “Ibu harus pergi sekarang. Boarding dua puluh menit lagi. Dan saya harus ke kantor pura-pura nggak nangis.”
Di pesawat, di kursi jendela, aku menatap awan.
Darren benar. Aku latihan. Aku tidak bisa berhenti latihan. Tiga kata. Aku mengulangnya dalam kepala seperti mantra. Aku mengulangnya dengan bibir tanpa suara. Pria di kursi sebelahku, bapak-bapak dengan kemeja batik, menatapku dengan curiga.
Di bawah awan, Pulau Jawa terbentang hijau. Sawah-sawah. Gunung-gunung. Sungai yang berkelok seperti pita.
Aku mengeluarkan ponsel. Mode pesawat. Aku membuka percakapan dengan Irvan.
Pesan suara Lily. Satu menit lima puluh tiga detik.
Centang dua.
Biru.
Aku menatap dua centang biru itu. Lama. Tanganku gemetar di atas layar.
Dia sudah menyalakan ponselnya. Dia sudah mendengarnya.
Di bawah pesan suara Lily, tidak ada balasan. Tapi di atasnya, di bagian paling atas layar, di bawah nama Irvan, ada tulisan kecil berwarna abu-abu:
terakhir dilihat hari ini pukul 05.47
Lima empat puluh tujuh. Satu jam lalu. Waktu aku sedang berdiri di depan cermin, dengan hoodie abu-abunya dan jepit rambut perak dari Kotagede.
Dia bangun sepagi itu.
Aku tidak tahu kenapa.
Pesawat mulai turun. Pramugari mengumumkan bahwa kita akan segera mendarat di Yogyakarta. Aku menyimpan ponsel dan menatap keluar jendela.
Di bawah, sebuah kota dengan atap-atap merah dan jalan-jalan kecil yang berkelok. Di suatu tempat di sana, sebuah gang sempit dengan coretan kapur di tembok. Huruf I dan O, dengan panah di antaranya.
Biar tahu jalan pulang.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa reading
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres