Chapter Twenty
Kacamata Berembun
POV: Irvan
Selama sebelas hari berikutnya, aku hidup di bawah serangan.
Aku tidak tahu istilah lain yang lebih tepat. Dalam dunia keamanan sistem, ada yang disebut persistent threat: serangan yang tidak datang sekali lalu pergi, tapi terus-menerus, sabar, dari berbagai arah, sampai sistem pertahanan kelelahan dan membuka pintu sendiri.
Bu Clara Moris adalah persistent threat paling canggih yang pernah kuhadapi.
Hari pertama. Bangku minimarket, jam tiga. Dia datang dengan dua susu kotak stroberi, duduk di sebelahku, bukan di seberang, dan mencium pipi kananku sebelum aku sempat mengucapkan “selamat siang”. Mas Ucup, di balik kaca, tidak menjatuhkan rak lagi. Dia sudah belajar. Dia hanya mengangkat papan bertuliskan “7” dengan spidol hitam, seperti juri lomba menyanyi.
“Tujuh?” tanya Bu Clara padanya lewat kaca.
Mas Ucup membalik papannya. Di baliknya tertulis: “KURANG LAMA.”
Hari kedua. Aku turun untuk sarapan dan menemukan roti di piringku sudah dipotong jadi empat bagian segitiga. Persis seperti yang kulakukan untuk Lily.
“Siapa yang potong?” tanyaku.
Bi Inah menunjuk dengan spatula ke arah Bu Clara, yang sedang membaca laporan di tablet dan tidak mengangkat kepala.
“Kamu suka segitiga,” katanya tanpa menoleh.
“Itu Lily yang suka segitiga.”
“Kamu makan sisa roti segitiga Lily setiap pagi. Aku perhatiin.”
Opa menurunkan korannya satu senti, lalu menaikkannya lagi.
Hari ketiga. Pukul sepuluh malam, pintu kamarku diketuk. Aku membukanya dan menemukan Bu Clara dengan hoodie abu-abuku, rambut dicepol, buku tebal di tangan.
“Aku mau baca.”
“Di... kamar saya?”
“Kamarku terlalu sepi.”
Dia masuk tanpa menunggu izin, duduk di tepi ranjang king size yang terlalu rapi, bersandar di kepala ranjang, dan mulai membaca. Aku kembali ke meja kerja dan menatap layar. Aku tidak menulis satu baris kode pun selama satu jam empat puluh menit. Setiap dua menit, aku mendengar halaman dibalik. Setiap lima menit, aku mendengar dia bergumam pelan, menanggapi sesuatu di buku itu. Setiap sepuluh menit, aku merasakan tatapannya di punggungku.
Pukul sebelas lewat empat puluh, dia menutup buku.
“Kamu nggak ngetik sama sekali,” katanya.
“Saya... mikir.”
“Satu jam empat puluh menit?”
“Masalahnya rumit.”
“Masalah apa?”
Aku memutar kursi dan menatapnya. Dia duduk di ranjangku dengan hoodie-ku dan kaki telanjang yang dilipat di bawah tubuhnya. Lampu meja yang kunyalakan untuk Pak Mentega jatuh di wajahnya dari samping, menerangi garis rahangnya, bulu matanya, dan tahi lalat kecil itu.
“Masalah yang duduk di ranjang saya,” kataku.
Dia tersenyum. Dia turun dari ranjang, berjalan ke arahku, membungkuk, dan mencium keningku. Satu detik. Lalu dia pergi.
“Selamat malam, masalah,” katanya di ambang pintu.
Aku tidak tidur.
Hari keempat. Pesan suara. Pukul dua siang. Tiga puluh detik.
“Irvan. Rapatku molor. Aku bosan. Pak Hendrawan presentasi soal diversifikasi portofolio sudah empat puluh menit dan belum sampai slide tiga. Ceritain sesuatu. Apa aja. Soal server Rotterdam. Soal Pak Mentega. Soal bakso yang enak itu. Aku mau dengar suara kamu.”
Aku mendengarkannya dua belas kali.
Lalu aku membalas dengan pesan suara empat menit tentang cara kerja protokol TCP/IP, dijelaskan dengan analogi kurir paket yang harus mengkonfirmasi setiap kiriman. Aku tidak tahu kenapa aku memilih topik itu. Aku panik.
Satu jam kemudian, dia membalas dengan teks: Aku dengerin sampai habis. Tiga kali. Aku sekarang ngerti TCP/IP. Aku nggak minta.
Lalu satu pesan lagi: Suara kamu kalau lagi jelasin sesuatu itu enak.
Hari kelima. Di meja makan, di depan seluruh keluarga Moris, dia menyuapiku sepotong tempe goreng dengan sumpitnya.
“Coba. Bi Inah pakai bumbu baru.”
Aku membuka mulut karena refleks. Dia memasukkan tempe itu. Aku mengunyah.
Seluruh meja diam.
Darren meletakkan sendoknya dengan bunyi keras. “Gue pindah ke Melbourne lagi.”
“Silakan,” kata Bu Clara tanpa menoleh.
Oma merekam. Opa membaca koran. Lily memandangi kami dengan mata bulat, lalu mengambil sepotong tempe dengan jarinya dan menyodorkannya ke mulutku juga.
“Aku juga mau suapin Om.”
Aku membuka mulut lagi. Lily memasukkan tempe itu, bersama sebagian jarinya.
“Enak?” tanya Lily.
“Enak.”
“Enakan mana? Tempe Mama atau tempe aku?”
Seluruh meja menunggu jawabanku. Bahkan Opa menurunkan koran dua senti.
“Tempe Neng,” kataku. “Soalnya ada rasa jarinya.”
Lily bersorak. Bu Clara menyipitkan mata padaku, lalu tersenyum.
“Pintar,” gumamnya. “Kamu diplomat.”
Hari keenam sampai kesepuluh. Aku berhenti menghitung.
Setiap pagi dia membetulkan kacamataku. Setiap siang dia mengirim makanan dengan catatan tulisan tangan yang ditandatangani “C.” Setiap jam tiga dia di bangku minimarket. Setiap malam dia mengetuk pintu kamarku dengan alasan baru: buku, charger, laporan yang butuh “pendapat orang IT”, atau tidak ada alasan sama sekali. Setiap malam dia mencium keningku atau pipiku sebelum pergi, dan setiap malam aku duduk di depan laptop setelahnya tanpa bisa menulis apa-apa.
Kacamataku berembun setiap hari. Di dapur. Di mobil. Di bangku minimarket di bawah matahari jam tiga. Di kamar yang AC-nya disetel delapan belas derajat.
Aku mulai curiga kacamata itu rusak.
Hari kesebelas. Sinta datang ke rumah dengan map.
Tentu saja map.
“Mas Irvan, ini undangan ulang tahun ke-77 Pak Hendra. Sabtu depan, Hotel Mulia, ballroom utama. Kode pakaian black tie.”
Aku membuka map itu. Di dalamnya ada kartu undangan tebal berwarna krem dengan huruf emas timbul, daftar tamu tiga halaman, dan satu lembar SOP dengan judul: PANDUAN PERILAKU MAS IRVAN DI GALA — v1.0.
Aku membaca daftar tamunya. Dua menteri. Tiga duta besar. Pemilik bank yang logonya kulihat di ATM setiap hari. Keluarga konglomerat yang namanya muncul di berita ekonomi. Pak Wiratmaja, komisaris independen yang pernah menelepon soal hoodie. Dan di halaman terakhir, dengan huruf kecil, keluarga Santoso-Hadiwijaya, dengan catatan tangan Sinta di pinggirnya: Hati-hati. Nyonya Santoso = sumber gosip utama kalangan atas Jakarta. Beliau yang menyebarkan rumor perceraian Bu Clara lima tahun lalu.
“Black tie,” kataku. “Itu jas hitam?”
“Tuksedo, Mas. Dasi kupu-kupu. Sepatu kulit mengkilap. Bukan yang cokelat.”
“Saya nggak punya tuksedo.”
“Saya tahu, Mas.” Sinta tersenyum. “Bu Clara sudah buat janji di penjahit. Besok jam empat sore. Beliau ikut.”
Penjahit itu ada di sebuah ruko tua di kawasan Menteng. Dari luar, tempat itu terlihat seperti toko kain biasa dengan papan nama yang catnya pudar. Di dalam, tempat itu seperti museum. Rak-rak kain wol dan sutra dari lantai sampai langit-langit, manekin-manekin dengan jas setengah jadi, dan seorang pria tua berusia tujuh puluhan dengan pita meteran di leher dan kacamata bulat di ujung hidung.
“Pak Liem,” kata Bu Clara. “Ini yang saya ceritakan.”
Pak Liem menatapku dari ujung rambut sampai sepatu. Lalu dia mengelilingiku satu kali, pelan, seperti Bi Inah mengendus udara di hari pertamaku.
“Bahu lebar. Pinggang ramping. Lengan panjang. Postur agak bungkuk.” Dia menepuk punggungku. “Terlalu banyak duduk di depan komputer.”
“Iya, Pak.”
“Tegakkan.”
Aku menegakkan punggung.
“Lebih.”
Aku menegakkan lebih.
“Bagus. Pertahankan untuk tiga jam ke depan.”
Tiga jam. Pak Liem mengukur setiap bagian tubuhku yang bisa diukur, dan beberapa bagian yang aku tidak tahu bisa diukur. Lingkar leher. Panjang lengan dari bahu ke pergelangan, dengan siku ditekuk dan diluruskan. Lebar punggung. Lingkar dada, dengan napas ditarik dan dihembuskan. Panjang kaki bagian dalam. Aku berdiri di atas panggung kecil di tengah ruangan dengan kemeja dan celana kain, lengan terentang seperti orang-orangan sawah, sementara Pak Liem bergerak mengelilingiku dengan pita meteran dan kapur jahit.
Bu Clara duduk di kursi kulit di depan panggung. Dengan kaki disilangkan. Dengan secangkir teh melati di tangan. Dengan tatapan yang tidak pernah beralih dariku selama tiga jam.
Dia memakai gaun kerja hitam dengan potongan sederhana, rambut digerai dengan gelombang lembut di ujung, dan lipstik merah bata. Anting mutiara. Kaki jenjang yang disilangkan dengan heels hitam tergantung di ujung jari kaki, bergoyang pelan.
“Bu Clara,” kata Pak Liem sambil mengukur lingkar dadaku, “mau pakai kain yang mana? Wol Italia atau wol Inggris?”
“Italia. Yang paling hitam.”
“Kerah shawl atau peak?”
Bu Clara memandangiku lama, dengan kepala miring sedikit, seperti memandangi lukisan di galeri.
“Shawl,” katanya. “Wajahnya terlalu lembut untuk peak.”
Pak Liem mengangguk. “Setuju.”
Aku tidak tahu apa artinya kerah shawl atau peak. Aku hanya tahu seseorang baru saja menyebut wajahku “terlalu lembut”, dan dia menatapku saat mengatakannya, dengan senyum kecil di sudut bibir yang ada tahi lalatnya.
Kacamataku berembun.
“Mas,” kata Pak Liem, “jangan tahan napas. Nanti ukurannya salah.”
Di tengah pengukuran, Pak Liem meletakkan pita meteran dan berkata, “Bu Clara, tolong pegang ujung ini sebentar. Saya ambil kapur di belakang.”
Bu Clara berdiri. Dia naik ke panggung kecil dan berdiri di depanku, sangat dekat, sambil memegang ujung pita meteran yang melingkari dadaku. Dia sedikit lebih pendek dariku, bahkan dengan heels. Matanya sejajar dengan daguku.
Pak Liem menghilang ke ruang belakang.
Kami berdiri di atas panggung kecil di tengah ruangan penuh kain, dengan pita meteran yang menghubungkan kami seperti tali.
“Delapan puluh sembilan,” katanya pelan, membaca angka di pita itu.
“Apa?”
“Lingkar dadamu. Delapan puluh sembilan senti.”
“Oh.”
“Kamu kurus.”
“Saya makan.”
“Kamu makan kopi sachet.” Dia menarik pita meteran itu sedikit. Tidak cukup untuk mengubah ukuran. Cukup untuk menarikku satu senti ke arahnya. “Mulai besok, aku kirim makan siang tiap hari.”
“Ibu udah kirim tiap hari.”
“Mulai besok, dua porsi.”
Dia menatapku dari jarak yang sangat dekat. Aku bisa melihat bintik-bintik cokelat keemasan di iris matanya, yang tidak pernah terlihat dari jarak jauh. Aku bisa mencium wangi vanila dan teh melati.
“Kamu tegang,” katanya.
“Pak Liem suruh saya tegak.”
“Tegak dan tegang itu beda.”
Dia melepaskan satu tangan dari pita meteran dan meletakkannya di dadaku. Tepat di tengah. Di atas jantung yang sedang, sekali lagi, menjalankan serangan DDoS terhadap seluruh sistem tubuhku.
“Nah,” katanya pelan. “Ini tegang.”
Pak Liem kembali dari ruang belakang dengan kapur di tangan. Dia melihat kami berdua di atas panggung, Bu Clara dengan satu tangan di pita meteran dan satu tangan di dadaku, aku dengan wajah merah dan kacamata berembun. Dia berhenti.
Lalu dia berbalik dan kembali ke ruang belakang.
“Kapurnya masih kurang,” katanya keras dari balik pintu. “Saya cari lagi. Lima menit.”
Pak Liem memberikan perkiraan harga di akhir sesi. Dia menuliskannya di secarik kertas dan menyerahkannya pada Bu Clara, bukan padaku.
Aku melirik kertas itu dari samping.
Angkanya setara penghasilanku tiga bulan.
Tiga bulan. Untuk satu setel pakaian yang akan kupakai satu malam.
Bu Clara melipat kertas itu dan memasukkannya ke tas tanpa berkedip. “Transfer besok, Pak Liem. Seperti biasa.”
“Terima kasih, Bu.”
Di mobil, aku tidak bicara. Bu Clara menyetir dengan satu tangan di kemudi. Dia melirikku di lampu merah pertama.
“Kamu diam.”
“Capek berdiri.”
“Bohong.”
“Bu,” kataku akhirnya. “Tuksedo itu. Saya mau bayar sebagian.”
Dia tertawa kecil. “Irvan.”
“Saya serius.”
“Kamu serius mau bayar tuksedo untuk acara Opa yang kamu datangi karena aku yang minta?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menatap ke luar jendela. Lampu-lampu Jakarta mengalir di kaca. Gedung-gedung tinggi, salah satunya dengan tulisan MORIS di puncaknya dalam huruf biru yang bercahaya.
“Karena kalau Ibu yang bayar semuanya,” kataku pelan, “saya jadi kayak... barang yang didandanin.”
Mobil diam. Lampu merah masih menyala.
Bu Clara tidak menjawab. Aku tidak berani menoleh.
“Kamu bukan barang,” katanya akhirnya. Suaranya pelan dan tajam, seperti pisau yang dipakai dengan hati-hati.
“Saya tahu, Bu.”
“Kamu tahu?”
“Saya tahu Ibu nggak nganggep saya barang.” Aku menatap tanganku di pangkuan. “Tapi orang-orang di gala itu. Nyonya Santoso. Dua menteri. Pemilik bank. Mereka lihat saya pakai tuksedo tiga bulan gaji saya, yang dibayar Ibu. Mereka nggak akan lihat Om Kacamata. Mereka akan lihat...”
Aku tidak menyelesaikan kalimatku.
Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson. Bu Clara tidak bergerak.
“Mereka akan lihat apa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa, Bu. Lampunya hijau.”
Dia menginjak gas. Dia tidak bertanya lagi. Tapi tangannya di kemudi mengencang, dan dia tidak bicara sampai kami tiba di rumah.
Malam itu, dia tidak mengetuk pintu kamarku.
Untuk pertama kalinya dalam sebelas hari.
Aku duduk di depan laptop sampai pukul dua belas, menunggu ketukan yang tidak datang. Lalu aku membuka laci meja kerja.
Di dalamnya, di bawah buku catatan dan kabel-kabel, ada map krem. Perjanjian Kerja Sama Pribadi. Salinanku.
Aku membukanya ke halaman terakhir.
Pasal 7: Para Pihak dilarang saling jatuh cinta. Tulisan tangannya, tinta biru, huruf terbaik.
Pasal 9: Apabila ayah kandung anak kembali dan berniat mengambil peran, Pihak Kedua mengundurkan diri. Tulisan tangannya lagi, tinta biru, di atas tulisan pensilku.
Dan di bawahnya, catatan tulisan tangan dari malam pertama: Aku meminta kamu tetap jadi Om Kacamata, hanya lebih dekat. — C.
Aku membaca semuanya berkali-kali.
Aku direktur, Irvan. Aku yang bikin aturan. Aku juga yang boleh melanggarnya.
Dia mengatakannya di bangku minimarket, sebelas hari lalu, dan aku mendengarnya sebagai sesuatu yang manis. Sebagai pengakuan. Sebagai perempuan yang berani melanggar aturannya sendiri demi aku.
Malam ini, di depan map krem dan tagihan tuksedo tiga bulan gaji, aku mendengarnya dengan cara lain.
Dia yang bikin aturan. Dia yang boleh melanggarnya. Dia yang boleh menulis pasal baru, menghapus pasal lama, memperpanjang, memperpendek, mengakhiri.
Aku Pihak Kedua. Aku yang tanda tangan di bawah namanya.
Dan setiap ciuman di pipi, setiap roti segitiga, setiap pesan suara, setiap bento dengan catatan “C.”, semuanya dimulai setelah perawat rumah sakit bilang aku papa yang baik. Setelah Lily menggambarku dengan kacamata retak. Setelah Bu Vanya kalah di rapat orang tua. Setelah Kenzo meminta maaf.
Setelah aku terbukti berguna.
Aku tidak tahu apakah dia jatuh cinta padaku, atau jatuh cinta pada seseorang yang bisa jadi papa yang baik untuk Lily. Aku tidak tahu apakah itu hal yang berbeda.
Aku tidak tahu apakah perempuan seperti dia, direktur, cantik, pewaris gedung dengan tulisan biru di puncaknya, butuh aku. Atau butuh suami. Status. Seseorang untuk mengisi ruang kosong di sebelah kiri gambar keluarga, dan kebetulan akulah yang sedang duduk di bangku minimarket waktu dia mencari.
Aku menutup map itu dan memasukkannya kembali ke laci.
Ponselku bergetar. Pukul dua belas lewat tujuh belas.
Aku nggak ketuk pintumu malam ini. Bukan karena marah. Karena aku lagi mikir soal yang kamu bilang di mobil. Aku belum nemu jawaban yang bener. Aku nggak mau jawab pakai jawaban yang salah. — C.
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu satu pesan lagi masuk.
Tapi aku tetap mau bilang selamat malam. Selamat malam, Irvan.
Aku mengetik balasan. Aku menghapusnya. Aku mengetik lagi.
Selamat malam, Clara.
Aku menatap nama itu di layar. Namanya. Tanpa “Bu”. Untuk pertama kalinya.
Aku tidak menekan kirim.
Aku menghapus namanya, menulis Selamat malam, Bu, dan mengirim itu.
Lalu aku melepas kacamataku dan menaruhnya di meja. Lensanya berembun. Di kamar dengan AC delapan belas derajat, di tengah malam, tanpa mi instan, tanpa matahari, tanpa dia.
Kali ini aku tahu kacamatanya tidak rusak.
Yang rusak aku.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun reading
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres