← Papa Pinjaman

Chapter Nineteen

Pasal yang Mau Kulanggar

POV: Clara

Aku menyusun strategi untuk pria yang menyukaiku dengan cara yang sama seperti menyusun strategi akuisisi perusahaan.

Pukul lima pagi, aku duduk di meja rias dengan hoodie abu-abu dan buku catatan kulit. Di halaman pertama, dengan tulisan tangan yang rapi, aku menulis:

Target: Irvan Oktovan.
Status saat ini: Menyukai Pihak Pertama (probabilitas tinggi berdasarkan observasi: telinga merah, kacamata berembun, tidak bergerak dua jam di rumah sakit, hampir jatuh dari kursi tinggi tadi malam).
Hambatan: Pasal 7. Rasa rendah diri (dugaan). Kebiasaan mundur sebelum menang (sumber: Opa, catur. Darren, gim. Futsal: sengaja membiarkan gol).
Tujuan: ...

Aku berhenti di kata “tujuan”.

Apa tujuanku? Menikah? Aku sudah pernah menikah, dan itu berakhir di pintu kedatangan bandara. Pacaran? Aku tiga puluh tahun dan punya anak lima tahun. “Pacaran” terdengar seperti kegiatan anak SMA di mal. Memperpanjang kontrak? Itu terdengar seperti menyewa apartemen.

Aku menatap halaman itu lama. Lalu aku mencoret semuanya dan menulis satu kalimat saja:

Berhenti pura-pura.

Aku menutup buku catatan itu, melepas hoodie, dan bersiap-siap untuk hari pertama perang.


Pukul enam lewat empat puluh, Irvan keluar dari pintu depan dengan kemeja biru muda, celana bahan, dan sepatu kulit cokelat. Rambutnya disisir dengan pomade Darren. Kacamatanya retak di tempat yang sama.

Dia melihatku berdiri di samping mobil dan berhenti di anak tangga.

Kemarin malam aku menggigit tali hoodie-nya di dapur. Dia pasti tidak tidur. Aku bisa melihatnya dari lingkaran hitam di bawah matanya, lebih gelap dari biasanya.

“Pagi, Bu,” katanya dengan hati-hati, seperti orang yang mendekati kucing yang tidak bisa ditebak.

“Pagi.”

Aku tidak mengoreksinya. Belum. Aku berjalan ke arahnya, dan dia mundur satu anak tangga tanpa sadar. Aku berhenti tepat di depannya, satu anak tangga di bawahnya, sehingga mataku sejajar dengan dagunya.

Aku mengangkat tangan dan membetulkan kacamatanya.

Untuk pertama kalinya sejak malam di balkon. Tiga minggu lebih aku tidak melakukannya. Tiga minggu lebih kami pura-pura malam itu tidak terjadi.

Ujung jariku menyentuh pelipisnya, menyusuri gagang kacamata sampai ke belakang telinganya. Telinganya langsung panas.

“Miring,” kataku.

“Nggak miring, Bu.”

“Sekarang nggak.”

Aku menarik tanganku dan berjalan ke kursi pengemudi. Di belakangku, aku mendengarnya menghembuskan napas panjang, seperti orang yang baru selamat dari kecelakaan.


Di mobil, Lily bernyanyi lagu balonku dengan lirik barunya. Aku menyetir. Irvan duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan dengan postur tegak seperti prajurit.

Di lampu merah Fatmawati, aku meliriknya.

“Kamu tidur jam berapa?”

“Jam... empat.”

“Rotterdam?”

“Rotterdam.”

“Bohong.”

Dia menoleh padaku. “Kenapa bohong?”

“Rotterdam libur. Hari ini hari raja mereka. Aku cek kalender libur nasional Belanda semalam.”

Dia menatapku dengan mulut sedikit terbuka. “Ibu... ngecek kalender libur nasional Belanda?”

“Aku mau tahu kapan kamu libur,” kataku, lalu lampu berubah hijau dan aku menginjak gas.

Di kursi belakang, Lily berhenti bernyanyi. “Mama, Om Kacamata merah lagi.”

“Om Kacamata kepanasan, Sayang.”

“Mobilnya dingin, Ma.”

“AC mobilnya fluktuatif.”

Di sebelahku, Irvan mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti orang yang tersedak udara.


Pukul dua belas siang, aku mengirim pesan.

Makan apa?

Tiga menit kemudian: Belum makan, Bu. Nanti.

Nanti kapan?

Setelah push kode.

Kodenya bisa nunggu. Lambungmu nggak.

Lima menit tidak ada balasan. Lalu: Ibu dari mana tahu lambung saya nggak bisa nunggu?

Bi Inah bilang kamu minum kopi sachet dari jam 6 dan belum makan apa-apa. Bi Inah juga bilang kamu kelihatan pucat. Bi Inah melaporkan semuanya.

Bi Inah mata-mata?

Bi Inah dibayar dua kali. Sekali oleh keluarga Moris, sekali oleh aku.

Aku tidak menunggu balasannya. Aku memesan makanan dari restoran Jepang favoritku, bento salmon teriyaki dengan sup miso dan puding matcha, dan menyuruh kurir mengantarnya ke rumah. Di catatan pesanan, aku menulis: Untuk Irvan. Makan dulu, baru push kode. — C.

Dua puluh menit kemudian, ponselku bergetar. Satu foto: bento salmon yang sudah setengah dimakan, di samping laptop yang terbuka. Di pojok foto, jarinya terlihat, dengan remah nasi di ujung.

Lalu satu pesan: Enak. Makasih.

Lalu satu pesan lagi, tiga menit kemudian: Ibu nggak usah repot-repot.

Aku mengetik: Aku nggak repot. Aku lagi usaha.

Usaha apa?

Aku menatap pertanyaan itu. Aku tersenyum. Aku tidak membalasnya.


Di ruang rapat pukul dua siang, Sinta memandangiku dengan tatapan yang semakin curiga setiap menit.

“Bu, Ibu senyum-senyum.”

“Aku tidak senyum-senyum.”

“Ibu senyum waktu Pak Hendrawan presentasi soal kerugian portofolio properti tiga koma dua miliar.”

“Aku senyum karena presentasinya bagus.”

“Pak Hendrawan presentasi soal kerugian, Bu.”

Aku melirik ponsel di bawah meja. Satu pesan baru dari Irvan: sebuah foto. Puding matcha yang sudah habis, mangkuknya kosong dan bersih. Di sebelahnya, sebuah catatan tulisan tangan di atas post-it kuning: Pudingnya juga enak. Tapi jangan dibeliin lagi. Nanti saya ketagihan.

Aku menutup mulut dengan punggung tangan.

Sinta mencatat sesuatu di tabletnya.


Pukul tiga lewat lima, aku duduk di bangku besi depan minimarket.

Irvan belum datang. Biasanya dia sudah di sini sejak jam dua belas, tapi hari ini dia bilang harus rapat daring dengan Singapura sampai jam tiga. Jadi aku datang lebih dulu. Aku duduk di bangku yang biasa dia tempati, meletakkan dua susu kotak stroberi di meja kecil yang catnya mengelupas, dan menunggu.

Mas Ucup keluar dari minimarket dengan kemoceng. Dia melihatku dan berhenti di tengah langkah.

“Bu Clara.”

“Mas Ucup.”

“Ibu... duduk di bangku Mas Ir.”

“Iya.”

“Ibu mau saya bawain kursi yang lebih bagus? Ada kursi plastik di gudang. Warnanya biru. Nggak ada karatnya.”

“Bangku ini bagus.”

Mas Ucup memandang bangku besi yang catnya mengelupas, kakinya yang karatan, dan satu bautnya yang hilang, lalu memandangku dengan setelan kerja biru tua dan heels hitam. Dia jelas tidak setuju. Tapi dia hanya mengangguk dan masuk kembali ke minimarket.

Aku melihatnya dari balik kaca. Dia langsung mengambil ponsel. Aku tahu dia mengirim pesan ke Sinta.

Pukul tiga lewat sembilan, Irvan datang.

Dia berjalan dari arah jalan besar dengan hoodie... tidak. Dengan kaus hitam polos dan jaket jins tua yang jelas milik Darren karena lengannya kependekan. Karena hoodie-nya ada di kamarku. Karena aku menolak mengembalikannya.

Dia melihatku di bangku dan berhenti.

“Bu Clara?”

“Duduk.”

Dia duduk di bangku seberangku. Canggung. Meja kecil di antara kami. Dua susu kotak stroberi di atasnya.

“Ibu nggak ke kantor?”

“Ke kantor. Terus pulang.”

“Jam segini?”

“Aku jemput Lily.”

“Pak Karto?”

“Aku kasih Pak Karto libur.”

“Kenapa?”

Aku menusuk sedotan ke satu kotak susu dan menyerahkannya padanya. Lalu aku menusuk sedotan ke kotak satunya dan meminumnya. Sejak malam jam tiga pagi itu, aku sudah menghabiskan tujuh kotak. Bi Inah harus menambah stok di kulkas.

“Karena aku mau duduk di sini,” kataku. “Di bangku ini. Sama kamu.”

Dia memegang kotak susu dengan dua tangan dan menatapnya seolah kotak itu bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi.

“Bu,” katanya pelan, “hari ini Ibu... aneh.”

“Aneh gimana?”

“Tadi pagi benerin kacamata saya. Terus ngecek kalender Belanda. Terus kirim bento. Terus sekarang...” Dia menunjuk bangku, susu kotak, dan aku dengan gerakan tangan yang mencakup semuanya. “Ibu kenapa?”

Aku meletakkan susu kotakku di meja.

Aku sudah melatih kalimat ini sejak jam lima pagi. Dua puluh versi. Versi formal, versi santai, versi yang mengutip pasal-pasal kontrak. Semuanya terdengar seperti siaran pers.

Aku tidak memakai satu pun.

Aku berdiri. Dia mendongak padaku, bingung. Aku mengitari meja kecil itu, tiga langkah, dan berhenti di sampingnya. Dia duduk di bangku. Aku berdiri. Untuk pertama kalinya, aku lebih tinggi darinya.

Aku membungkuk.

Dan aku mencium pipinya.

Pipi kiri. Di bawah kacamata, di atas lesung pipi yang tidak muncul karena dia tidak sedang tersenyum. Di bekas lecet yang sudah hampir hilang sama sekali. Kulitnya hangat dan sedikit kasar karena belum dicukur. Wangi sabun batang, dan sedikit wangi parfum Darren dari jaket jinsnya.

Aku tidak lama. Dua detik. Mungkin tiga.

Aku menegakkan tubuh.

Irvan tidak bergerak. Sama sekali. Dia duduk di bangku besi dengan kotak susu stroberi di dua tangan, mata lebar di balik kacamata, mulut sedikit terbuka. Warna merah menjalar dari pipi yang baru kucium, ke telinga, ke leher, ke dahi, sampai ke pangkal rambutnya, seperti tinta yang tumpah di kertas.

Kacamatanya berembun. Di bawah matahari jam tiga sore. Di luar ruangan.

Di dalam minimarket, terdengar bunyi sesuatu jatuh. Banyak sesuatu. Seperti satu rak mi instan runtuh sekaligus.

“Itu...” Suara Irvan keluar serak. Dia berdeham. Mencoba lagi. “Itu pasal berapa?”

Aku kembali ke bangku seberangku dan duduk. Aku mengambil susu kotakku lagi. Aku menyedotnya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun jantungku berdetak sangat keras sampai aku yakin dia bisa mendengarnya dari seberang meja.

“Pasal yang mau kulanggar,” kataku.


Irvan menatapku lama.

Sepuluh detik. Lima belas. Kotak susu di tangannya mulai penyok karena digenggam terlalu keras.

“Pasal... tujuh?” tanyanya akhirnya.

“Pasal tujuh.”

“Ibu... yang nulis pasal itu.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa...”

“Karena aku salah nulis.”

Dia berkedip. “Salah nulis?”

“Aku nulis pasal itu buat melindungi kamu,” kataku. Aku meletakkan susu kotak di meja dan melipat tangan di atasnya, seperti sedang presentasi di depan dewan komisaris. Itu satu-satunya cara aku bisa mengatakan ini tanpa suaraku gemetar. “Aku pikir, kamu yang bakal jatuh. Kamu yang Instagram-nya isinya bakso. Kamu yang telinganya merah tiap aku ngomong. Aku pikir aku yang kebal.”

“Terus?”

“Ternyata aku nggak kebal.”

Hening.

Di dalam minimarket, bunyi benda jatuh berhenti. Mas Ucup pasti sedang menempelkan wajahnya di kaca.

“Jadi,” kataku, “aku mau bilang ini dengan jelas, supaya nggak ada salah paham. Aku mau melanggar pasal tujuh. Mulai hari ini.”

Irvan membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

“Bu...”

“Kamu nggak harus ikut melanggar,” potongku. “Kamu boleh tetap patuh sama kontrak. Itu hak kamu. Tapi aku nggak.”

“Ibu nggak... patuh?”

“Aku direktur, Irvan. Aku yang bikin aturan. Aku juga yang boleh melanggarnya.” Aku mencondongkan tubuh ke depan, di atas meja kecil, sampai jarak kami tinggal sejengkal. “Mulai hari ini, aku nggak akan pura-pura lagi. Aku nggak akan pura-pura nggak lihat kamu. Aku nggak akan pura-pura balkon itu nggak terjadi. Aku nggak akan pura-pura hoodie itu cuma buat nahan dingin.”

Kacamatanya masih berembun. Dia melepasnya, mencoba membersihkannya dengan ujung kaus, dan tangannya gemetar sampai kacamata itu hampir jatuh ke paving.

Aku mengambilnya dari tangannya. Aku membersihkannya dengan ujung blus sutraku. Lalu aku memasangkannya kembali di wajahnya. Pelan. Dari depan. Gagangnya kususupkan di balik telinganya yang panas.

“Sekarang kelihatan?” tanyaku.

“Kelihatan.”

“Apa yang kelihatan?”

Dia menatapku. Dari balik lensa yang baru bersih, dengan retak kecil di pojok kiri. Matanya bergerak dari mataku, ke tahi lalat di dekat sudut bibirku, lalu kembali ke mataku.

“Ibu,” katanya pelan. “Yang kelihatan cuma Ibu.”

Aku tidak siap untuk itu. Seluruh strategi yang kususun sejak jam lima pagi tidak punya protokol untuk kalimat itu.

Wajahku panas. Aku tahu wajahku merah. Dan kali ini dia bisa melihatnya dengan jelas, karena aku sendiri yang baru saja membersihkan kacamatanya.

“AC,” kataku lemah.

“Kita di luar, Bu.”

“Matahari. Fluktuatif.”

Dia tersenyum. Miring ke kiri. Lesung pipi muncul, di pipi yang tadi kucium.


Bel sekolah berbunyi.

Lily keluar paling akhir seperti biasa, berlari ke arah minimarket seperti biasa, dan berhenti di tengah jalan ketika melihat kami berdua di bangku yang sama.

Dia menyipitkan mata. Dia berjalan mendekat dengan langkah curiga, persis seperti Opa waktu masuk ruang rapat yang terlalu sunyi.

“Mama. Om. Kenapa diem-dieman?”

“Nggak diem-dieman, Sayang.”

“Muka Om merah banget.” Lily memanjat bangku di sebelah Irvan dan menatap wajahnya dari dekat. “Om sakit? Om demam kayak aku kemarin?”

“Nggak, Neng. Om... sehat.”

Lily meletakkan telapak tangan kecilnya di pipi kiri Irvan. Di tempat aku menciumnya.

“Panas,” katanya dengan nada dokter. “Pipi Om yang ini panas. Yang ini nggak.” Dia menyentuh pipi kanan. “Kenapa cuma satu yang panas?”

Irvan menatapku dari atas kepala Lily. Aku menatapnya balik dan menahan tawa dengan susah payah.

“Mama tadi cium pipi Om,” kataku.

Irvan mengeluarkan suara seperti balon yang dikempiskan.

Lily menatapku, lalu menatap Irvan, lalu menatap pipi kiri Irvan. Wajahnya berubah dari bingung, ke terkejut, ke sesuatu yang sangat serius.

“Mama cium Om Kacamata?”

“Iya.”

“Di pipi?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku berpikir. Aku bisa mengarang sepuluh alasan. Aku memilih satu yang jujur.

“Karena Mama sayang sama Om.”

Irvan berhenti bernapas lagi. Aku bisa melihat dadanya yang tiba-tiba diam di balik kaus hitam.

Lily memikirkan jawabanku dengan kening berkerut. Lalu dia mengangguk pelan, seolah semuanya masuk akal. Lalu dia berdiri di bangku, meraih wajah Irvan dengan dua tangan, dan mencium pipi kanannya dengan bunyi muah yang keras.

“Aku juga sayang,” katanya. “Sekarang dua-duanya panas.”

Di dalam minimarket, terdengar bunyi rak kedua runtuh.


Malam itu, pukul sebelas, ponselku bergetar.

Bu, tadi siang itu serius?

Aku menatap pesan itu lama. Aku sedang berbaring di ranjang dengan hoodie abu-abu, tudung di kepala, tali kiri yang tergigit di antara jari-jariku.

Aku mengetik: Aku selalu serius. Deskripsi pekerjaan.

Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi. Lama.

Lalu: Saya belum pernah dicium di pipi sama siapa pun selain Ibu saya.

Aku tertawa sendirian di kamar.

Sekarang udah. Dua orang. Aku dan Lily.

Tiga. Mas Ucup tadi nyium kening saya pas Ibu udah pergi. Katanya “selamat, Mas”.

Aku menjatuhkan ponsel ke wajahku sendiri karena tertawa terlalu keras.

Aku memungutnya lagi. Aku mengetik, menghapus, mengetik lagi. Lalu aku mengirim:

Besok aku di bangku lagi. Jam tiga. Siapkan pipi yang satunya.

Tiga titik muncul. Menghilang. Tidak muncul lagi.

Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh.

Lalu, dari ujung lorong di sayap timur, samar-samar, aku mendengar bunyi yang sudah kukenal.

Seseorang membenturkan kepalanya ke dinding. Pelan.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Aku menarik tudung hoodie menutupi wajahku dan tertawa sampai perutku sakit.