Chapter Seventeen
Lily Demam
POV: Irvan
Pukul satu lewat sepuluh dini hari, pintu kamarku diketuk dengan keras. Bukan tiga ketukan pelan seperti Lily yang membawa Pak Mentega. Ketukan beruntun, cepat, panik.
Aku membukanya.
Bu Clara berdiri di sana dengan kaus oversized dan celana piyama, rambut acak-acakan, wajah pucat, dan ponsel di tangan yang gemetar.
“Lily,” katanya. “Panas. Tiga sembilan koma delapan. Dia nggak mau bangun.”
Aku tidak ingat mengambil kunci mobil. Aku tidak ingat memakai sandal. Yang kuingat adalah berlari di lorong sayap barat, masuk ke kamar Bu Clara yang wangi vanila, dan melihat Lily terbaring di ranjang dengan wajah merah terbakar dan napas pendek-pendek. Rambutnya basah oleh keringat. Boneka kelincinya tergeletak di lantai.
Aku menyentuh dahinya. Panasnya seperti setrika.
“Neng.”
Lily membuka mata sedikit. Matanya tidak fokus, berkaca-kaca, seperti melihat sesuatu di belakangku.
“Om...” Suaranya serak dan kecil. “Pak Mentega... kepanasan...”
“Iya, Neng. Om tahu.”
“Aku... dingin...”
Panas tapi dingin. Aku tahu itu tanda apa. Waktu kecil, aku pernah demam seperti ini. Ibu membawaku ke puskesmas dengan motor Om Darto, dan aku ingat merasa sangat dingin di tengah panas yang membakar.
“Bu,” kataku tanpa menoleh. “Kita ke rumah sakit.”
“Dokter keluarga bisa datang jam enam...”
“Jam enam kelamaan.”
Dia menatapku. Aku melihat perang di wajahnya: kepanikan seorang ibu dan kebiasaan seorang direktur yang selalu punya prosedur. Lalu kepanikan menang.
“Pak Karto tidur di paviliun belakang...”
“Saya yang nyetir.”
Aku menggendong Lily turun tangga dengan selimut membungkus tubuhnya. Dia ringan, terlalu ringan, dan panas di pelukanku seperti bara. Kepalanya terkulai di bahuku. Napasnya pendek di leherku.
Oma muncul di ujung tangga dengan rambut digulung roll dan wajah ketakutan. Opa di belakangnya, sudah memakai kacamata. Darren keluar dari kamarnya dengan kaus terbalik.
“Kenapa? Kenapa Lily?”
“Demam, Oma. Kami ke rumah sakit.”
“Oma ikut!”
“Lusiana,” kata Opa pelan, meletakkan tangan di bahu Oma. “Biarkan mereka. Kita tunggu kabar.”
Oma menatap Opa, lalu menatap Lily di gendonganku, lalu menatapku. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Lily dengan jari keriput yang gemetar.
“Jaga dia, Nak.”
“Saya jaga, Oma.”
Darren sudah turun duluan dan membukakan pintu mobil. Dia melempar kunci padaku. Aku menangkapnya dengan satu tangan tanpa melepas Lily.
“Kabarin,” katanya. “Tiap jam. Bang, tiap jam.”
“Iya, Dar.”
Bu Clara duduk di kursi belakang dengan Lily di pangkuannya. Aku menyetir.
Aku belum pernah menyetir sedan putih ini. Aku belum pernah menyetir mobil seharga ini. Tapi jalanan Jakarta pukul satu dini hari kosong, dan aku menyetir seperti orang yang tahu persis ke mana harus pergi. Rumah sakit anak terdekat di Pondok Indah, tujuh menit. Aku sudah mencarinya di peta hari pertama pindah, karena itu yang dilakukan orang yang tinggal bersama anak kecil. Atau itu yang kupikir dilakukan orang yang tinggal bersama anak kecil. Aku tidak pernah tahu.
Di spion, aku melihat Bu Clara. Dia memeluk Lily sambil bergoyang pelan, maju-mundur, seperti menidurkan bayi. Bibirnya bergerak. Dia bernyanyi, sangat pelan, lagu yang tidak kukenal.
Suaranya bergetar di tengah lagu.
“Enam menit lagi, Bu,” kataku.
Dia tidak menjawab. Dia terus bernyanyi.
UGD rumah sakit anak itu terang, putih, dan berbau antiseptik. Seorang perawat muda menyambut kami di pintu, memeriksa suhu Lily, lalu wajahnya berubah serius.
“Empat puluh koma satu, Bu. Langsung ke dalam.”
Mereka membawa Lily ke ranjang di balik tirai. Dokter jaga datang, seorang perempuan paruh baya dengan kacamata di ujung hidung dan suara yang tenang. Dia memeriksa Lily dengan cepat dan teliti: telinga, tenggorokan, dada, perut. Dia bertanya sejak kapan panasnya, apakah ada muntah, apakah ada ruam, apakah Lily minum.
Bu Clara menjawab semuanya dengan suara direktur. Datar. Jelas. Tapi tangannya, yang menggenggam ujung selimut Lily, gemetar sampai selimutnya ikut bergetar.
Aku berdiri di belakangnya. Aku ingin memegang tangannya. Aku tidak tahu apakah boleh.
“Kemungkinan infeksi virus,” kata dokter itu. “Kita cek darah untuk memastikan bukan demam berdarah. Pasang infus karena dia agak dehidrasi. Kita observasi malam ini. Kalau trombositnya aman, besok siang bisa pulang.”
“Demam berdarah?” Suara Bu Clara pecah di kata kedua.
“Kita cek dulu, Bu. Sekarang musim hujan, jadi kita harus hati-hati. Tapi gejalanya lebih mirip virus biasa.”
Perawat datang dengan jarum.
Lily, yang tadi setengah sadar, tiba-tiba membuka mata lebar-lebar saat melihat jarum itu. Dia menjerit. Jeritan kecil yang serak, yang membuat seluruh tubuhnya menegang.
“Nggak mau! Nggak mau! MAMA!”
Bu Clara memeluknya. Lily meronta. Perawat menunggu dengan jarum di tangan dan wajah sabar yang terlatih.
“Om...” Lily mencariku di antara tangisnya. “Om Kacamata...”
Aku maju. Aku berjongkok di samping ranjang sampai wajahku sejajar dengan wajahnya.
“Neng. Lihat Om.”
Dia melihatku. Matanya penuh air mata.
“Neng tahu Om kacamatanya retak, kan?”
Lily mengangguk sambil terisak.
“Neng tahu retaknya dari mana?”
“Dari... nolongin aku...”
“Iya. Waktu itu Om jatuh di aspal. Sakit banget. Siku Om berdarah. Tapi Om nggak nangis.” Aku berbohong. Aku hampir menangis waktu itu, bukan karena sakit, tapi karena tanganku gemetar selama satu jam setelahnya. “Neng tahu kenapa Om nggak nangis?”
“Kenapa?”
“Soalnya Om lihatin Neng. Neng nggak apa-apa. Terus sakitnya hilang.”
Lily menatapku. Isaknya melambat.
“Sekarang gantian,” kataku. “Neng lihatin Om. Terus sakitnya nanti hilang.”
“Beneran?”
“Om pernah bohong?”
Lily berpikir sebentar di tengah demamnya. “Nggak pernah.”
“Lihatin Om.”
Dia menatapku. Aku menatapnya balik. Aku membuat wajah lucu, memajukan bibir dan menyilangkan mata, seperti anak ayam kebingungan yang dia tiru di bangku minimarket untuk menakut-nakuti Kenzo.
Lily tertawa. Kecil, serak, dan basah.
Perawat menusukkan jarumnya.
Lily tersentak. Air matanya jatuh lagi. Tapi dia tidak menjerit. Dia terus menatapku, dan aku terus membuat wajah anak ayam kebingungan, sampai infus terpasang dan perawat menempelkan plester bergambar bintang di punggung tangan kecilnya.
“Pintar,” kata perawat itu. “Paling pintar malam ini.”
Lily menghembuskan napas panjang. Lalu dia menarik lengan kausku. Aku ternyata keluar rumah hanya dengan kaus putih dan celana tidur motif awan. Hoodie-ku tertinggal di kursi mobil.
“Om.”
“Hm?”
“Sakitnya hilang.”
“Kan Om bilang.”
Di sebelahku, Bu Clara memalingkan wajah ke dinding. Bahunya berguncang sekali. Hanya sekali.
Mereka memindahkan Lily ke kamar rawat di lantai tiga. Kamar VIP, karena tentu saja Sinta sudah menelepon rumah sakit sepuluh menit setelah menerima pesan Bu Clara dan mengurus semuanya dari ranjangnya, dengan kecepatan yang mengagumkan untuk pukul dua pagi.
Kamar itu luas, dengan ranjang pasien di tengah, sofa panjang di dekat jendela, dan televisi yang tidak ada yang menyalakan.
Lily tertidur dengan infus di tangan kiri dan tangan kanan menggenggam jari telunjukku. Dia tidak mau melepaskannya. Setiap kali aku mencoba menarik tangan, dia merengek dalam tidurnya. Jadi aku duduk di kursi di samping ranjang, dengan satu lengan terulur, dan membiarkan jari telunjukku menjadi tawanan.
Bu Clara duduk di sofa. Dia mengirim pesan pada Darren, pada Oma, pada Sinta, pada Bi Inah. Lalu dia meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit.
“Hasil darahnya jam lima,” katanya.
“Iya.”
“Kalau demam berdarah...”
“Bu. Dokternya bilang kemungkinan virus.”
“Kemungkinan.”
“Kemungkinan besar.”
Dia diam. Lalu dia berdiri, berjalan ke arahku, dan duduk di lengan kursiku. Kursi itu sempit. Pinggulnya menempel di bahuku.
“Aku nggak tahu dia takut jarum,” katanya pelan.
“Semua anak takut jarum, Bu.”
“Aku nggak tahu dia takut jarum segitunya. Aku nggak pernah nemenin dia imunisasi. Bi Inah yang nganter. Atau Oma. Aku selalu rapat.” Dia menatap Lily. “Kamu tahu cara bikin dia berhenti nangis. Aku ibunya, dan aku nggak tahu.”
“Ibu tahu. Tadi Ibu nyanyi di mobil.”
“Dia nggak dengar. Dia setengah pingsan.”
“Dia dengar.” Aku menatap Lily yang tidur dengan mulut sedikit terbuka. “Anak-anak selalu dengar suara mamanya. Bahkan pas mereka pura-pura nggak dengar.”
Bu Clara tidak menjawab. Dia menatapku lama dari atas, dari lengan kursi. Lalu dia merosot turun, pelan, sampai duduk di lantai di sebelah kursiku. Dia menyandarkan punggung di kaki kursi, dan kepalanya bersandar di bahuku.
Aku membeku.
Satu tanganku dipegang Lily. Satu bahuku dipakai Bu Clara. Aku tidak bisa bergerak ke mana pun.
“Sebentar,” bisiknya. “Aku capek.”
“Iya, Bu.”
“Clara.”
“...Iya.”
Dia tertidur dalam lima menit. Aku tahu karena napasnya berubah, panjang dan teratur dan sedikit berat, dan kepalanya semakin berat di bahuku. Rambutnya jatuh ke lenganku. Wangi vanila bercampur antiseptik rumah sakit.
Aku tidak bergerak.
Pukul tiga, bahuku mulai kesemutan.
Pukul tiga lewat tiga puluh, kesemutan itu menjalar ke lengan, ke punggung, ke leher. Jari telunjukku yang dipegang Lily sudah mati rasa sejak satu jam lalu.
Aku tidak bergerak.
Pukul empat, perawat masuk untuk memeriksa infus. Dia melihat kami bertiga, anak kecil di ranjang yang menggenggam jari seorang pria, dan seorang perempuan yang tertidur di lantai dengan kepala di bahu pria itu. Dia tersenyum dan berbisik, “Pak, mau saya ambilkan bantal?”
“Nggak usah, Sus. Nanti mereka bangun.”
“Bapak nggak pegal?”
“Pegal.”
“Terus?”
“Nggak apa-apa.”
Perawat itu menatapku sebentar dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. Lalu dia menarik selimut dari lemari dan menyelimutkannya ke tubuh Bu Clara dengan hati-hati, tanpa membangunkannya.
“Bapak papa yang baik,” katanya pelan sambil keluar.
Aku tidak mengoreksinya.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak mengoreksinya. Aku bisa bilang saya bukan papanya. Aku bisa bilang saya cuma Om Kacamata. Itu jujur. Itu syarat yang kutulis sendiri: jangan bohong soal papa.
Tapi perawat itu sudah pergi, dan kamar itu kembali sunyi, dan aku duduk di sana dengan satu tangan dipegang Lily dan satu bahu dipakai Bu Clara, dan aku tidak mau mengoreksinya.
Aku hanya ingin satu malam. Satu malam saja, di kamar rumah sakit yang sunyi ini, di mana tidak ada yang tahu soal kontrak dan pasal-pasal dan tenggat waktu sembilan bulan. Satu malam di mana seorang perawat bilang aku papa yang baik, dan tidak ada yang membantah.
Aku menunduk dan menatap kepala di bahuku. Bu Clara tidur dengan kening berkerut sedikit, seolah bahkan dalam tidurnya dia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Bulu matanya yang panjang menempel di pipi. Bibirnya sedikit terbuka. Tahi lalat kecil itu ada di sana, di dekat sudut bibir kiri, dalam cahaya redup lampu tidur rumah sakit.
Dia cantik bahkan saat tidur di lantai rumah sakit dengan rambut kusut dan kaus kebesaran. Aku tidak tahu itu mungkin.
Aku ingin menyentuh keningnya. Menghaluskan kerutan itu dengan ibu jari, supaya dia tidak mengkhawatirkan apa pun, setidaknya dalam tidurnya.
Aku tidak melakukannya. Pasal tujuh. Pasal tujuh. Pasal tujuh.
Tapi aku juga tidak bergerak.
Dua jam, kata jam dinding di atas pintu, sejak dia pertama kali meletakkan kepalanya di bahuku. Dua jam, dan aku tidak bergerak sama sekali.
Pukul lima lewat sepuluh, dokter jaga masuk dengan selembar kertas.
Bu Clara terbangun di detik pintu terbuka. Dia menegakkan tubuh dengan cepat, terlalu cepat, dan selimut yang diselimutkan perawat jatuh dari bahunya. Dia menatap dokter itu dengan mata yang langsung waspada.
“Hasilnya?”
Dokter itu tersenyum. “Trombositnya normal, Bu. Bukan demam berdarah. Infeksi virus biasa. Panasnya juga sudah turun ke tiga delapan koma dua. Kalau sampai siang stabil, bisa pulang.”
Bu Clara tidak bereaksi selama tiga detik.
Lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dia tidak menangis. Atau, dia tidak menangis dengan suara. Bahunya bergetar. Napasnya tersendat, satu kali, dua kali. Tapi tidak ada suara yang keluar. Persis seperti yang Darren ceritakan. Dia tidak pernah menangis.
Dia tidak menangis dengan suara.
Dokter itu keluar dengan pelan.
Aku ingin memeluknya. Aku ingin menariknya ke bahuku lagi dan bilang semuanya baik-baik saja. Tapi tangan kananku masih dipegang Lily, dan tangan kiriku mati rasa.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Aku menggerakkan kakiku sedikit, sampai lututku menyentuh punggungnya. Hanya sentuhan kecil. Hanya untuk bilang saya di sini.
Bu Clara menurunkan tangan dari wajahnya. Matanya merah dan basah. Dia menoleh padaku, lalu menatap lututku yang menempel di punggungnya, lalu kembali menatapku.
“Kamu nggak gerak,” katanya. Suaranya serak. “Dari tadi.”
“Nanti Ibu bangun.”
“Berapa lama?”
“Dua jam.”
“Dua jam.” Dia menatap bahuku, lalu lenganku yang terjulur ke arah Lily, lalu jari telunjukku yang masih digenggam tangan kecil itu. “Kamu nggak gerak dua jam.”
“Bahu saya udah nggak ada rasanya sejak jam setengah empat, Bu.”
Dia tertawa. Tawa yang pecah di tengah, basah dan serak, bercampur dengan sisa tangisan yang tidak bersuara. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan, seperti biasa, tapi kali ini tangannya gemetar.
“Kamu bodoh,” katanya.
“Darren juga bilang begitu.”
“Darren benar.”
Dia berdiri. Dia merapikan kausnya yang kusut. Dia menatap Lily yang masih tidur dengan wajah yang tidak lagi merah terbakar, napas yang tidak lagi pendek-pendek. Lalu dia membungkuk dan mengecup kening Lily, lama.
Lalu dia berbalik padaku. Dia mengangkat tangan dan menyentuh bahuku. Bahu yang mati rasa. Dia memijatnya pelan, dari leher ke lengan, dengan jari-jari yang dingin dan kuat.
“Ini sakit?”
“Kesemutan.”
“Ini?”
“Kayak ada semut rapat di situ, Bu.”
Dia memijat lebih keras. Aku meringis. Dia tersenyum. Senyum kecil, lelah, dengan mata yang masih merah.
“Terima kasih,” katanya. “Untuk jarumnya. Untuk nyetirnya. Untuk bahunya.”
“Sama-sama.”
“Dan Irvan.”
“Hm?”
Dia berhenti memijat. Tangannya diam di bahuku.
“Perawat tadi,” katanya pelan. “Yang bilang kamu papa yang baik.”
Jantungku berhenti.
Dia mendengarnya. Dia tidak tidur.
“Kamu nggak koreksi dia,” katanya.
Aku tidak bisa menjawab. Aku tidak bisa menatapnya. Aku menatap jari telunjukku yang digenggam Lily, dan mencari kata-kata yang tidak ada.
Bu Clara tidak menunggu jawaban. Dia meremas bahuku satu kali, pelan, lalu melepaskannya.
“Aku juga nggak,” katanya.
Lalu dia keluar untuk mencari kopi, dan meninggalkanku di kamar yang sunyi dengan jari yang digenggam tangan kecil, bahu yang kesemutan, dan jantung yang, untuk pertama kalinya, tidak bisa kusalahkan pada AC yang fluktuatif.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam reading
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres