← Papa Pinjaman

Chapter Twenty Three

Ciuman Pertama

POV: Clara

Anak teman Nyonya Santoso bernama Kevin Adiwangsa, lulusan Harvard Business School, dan dalam dua puluh menit dia sudah menjelaskan padaku tiga kali bagaimana dia akan “merestrukturisasi” portofolio Moris Investment jika diberi kesempatan.

Aku tidak mendengarkan. Aku mengangguk di tempat yang tepat dan tersenyum di tempat yang tepat, sambil melirik ke arah meja keluarga setiap tiga puluh detik.

Kursi Irvan kosong.

Tadi dia di sana. Di sebelah Lily yang tertidur. Lalu dia berdiri dan berjalan ke arah toilet. Itu tiga puluh lima menit yang lalu. Aku tahu karena aku melihat jam di pergelangan tanganku setiap kali Kevin Adiwangsa mengucapkan kata “sinergi”.

“...dan tentu saja, Clara, kalau kita bicara soal diversifikasi...”

“Permisi, Kevin.” Aku menyerahkan gelas air putihku padanya. “Aku harus cek anakku.”

Aku tidak menunggu jawabannya.


Sinta menangkapku di dekat meja keluarga. Wajahnya tegang.

“Bu, Mas Irvan...”

“Di mana?”

“Saya nggak tahu, Bu. Katanya ke toilet. Tapi Pak Darren udah cek toilet pria dua kali. Nggak ada.”

Aku menatap kursi kosong itu. Di atas mejanya, di sebelah piring pencuci mulut yang tidak disentuh, ada gelas air yang masih setengah penuh. Dan kacamata cadangan yang Sinta paksa dia bawa, di dalam kotaknya, tertutup.

Dia tidak membawanya. Dia pergi tanpa kacamata cadangan.

“Tante Clara!”

Aku menoleh. Cucu Pak Wiratmaja, gadis dengan kawat gigi yang tadi bilang jangan dilepas, berlari ke arahku dengan wajah pucat. Dia berhenti di depanku, terengah, lalu memandang sekeliling dengan gugup sebelum bicara.

“Tante. Aku tadi di ruang powder room. Mau benerin eyeliner.”

“Terus?”

“Nyonya Santoso di sana. Sama teman-temannya.” Dia menelan ludah. “Mereka ngomongin Om Irvan. Jahat banget, Tante. Mereka bilang...”

Dia berhenti. Aku melihat dia ragu. Aku melihat dia menimbang apakah dia boleh mengatakannya padaku.

“Bilang apa?”

“Mereka bilang Om itu simpanan berhoodie. Mereka bilang Tante beli pacar. Buat status. Buat Lily.” Gadis itu menggigit bibir. “Terus aku keluar dari powder room, dan aku lihat Om Irvan di koridor. Berdiri. Diem. Di depan pintu. Dia denger, Tante. Semuanya. Terus dia jalan ke arah taman.”

Seluruh ballroom Hotel Mulia, dengan lampu kristal sebesar mobil dan tiga ratus tamu dan orkes jaz, tiba-tiba terasa sangat jauh.

Simpanan berhoodie.

Aku berbalik. Aku melihat Nyonya Santoso di seberang ruangan, sudah kembali di dekat pilar marmer, tertawa dengan segelas sampanye dan kalung zamrud sebesar telur puyuh.

Aku melangkah ke arahnya.

Tangan Sinta menangkap lenganku. “Bu. Bu.”

“Lepas, Sinta.”

“Bu, ini pesta Pak Hendra.”

“Aku tahu ini pesta Opa.”

“Kalau Ibu ke sana sekarang, besok pagi semua arisan se-Jakarta bahas ini. Bukan soal Nyonya Santoso. Soal Ibu. Soal Mas Irvan.” Sinta tidak melepaskan lenganku. Matanya berkaca-kaca, dan dia tidak pernah berkaca-kaca. “Mas Irvan yang bakal jadi bahan omongan, Bu. Bukan Nyonya Santoso.”

Aku berhenti.

Dia benar. Dia selalu benar di saat-saat yang paling menyebalkan.

“Taman,” kataku. “Di mana tamannya?”

“Koridor samping, Bu. Pintu kaca di ujung.”


Aku berlari.

Aku tidak berlari sejak lomba estafet di Hari Orang Tersayang. Gaun satin merah bata ini tidak dirancang untuk berlari. Heels merah bata ini tidak dirancang untuk berlari. Sanggulku, yang sengaja dibuat longgar oleh penata rambut, mulai lepas di langkah kesepuluh.

Koridor samping. Pintu kaca. Taman hotel yang gelap dan sepi, lampu-lampu kecil di antara semak-semak, bau kamboja dan tanah basah.

Aku berhenti di ujung jalan setapak batu, terengah.

Dia duduk di bangku batu di bawah pohon besar. Tuksedo hitam, punggung yang tidak lagi tegak. Dia menunduk, dengan siku di lutut dan kepala di tangan. Di salah satu tangannya, sesuatu yang hitam dan kusut.

Dasi kupu-kupu. Yang dia beli sendiri.

Dia mengangkat kepala.

Dari jarak ini, dalam cahaya redup, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi aku bisa melihat dia tidak tersenyum. Aku bisa melihat kacamatanya, yang retak di pojok kiri, memantulkan lampu taman.

Aku melepas heels-ku. Satu, lalu satunya lagi. Aku meninggalkannya di jalan setapak. Batu di bawah kakiku dingin dan sedikit basah.

Aku berjalan ke arahnya.


Dia berdiri waktu aku sampai di depannya. Refleks. Sopan. Seperti pegawai yang berdiri saat atasannya masuk ruangan.

Aku membencinya. Aku membenci refleks itu.

“Bu,” katanya. “Maaf. Saya cuma cari udara. Di dalam panas.”

“Jangan.”

“Jangan apa, Bu?”

“Jangan bilang AC-nya fluktuatif. Jangan bilang panas. Jangan bilang cari udara.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kuharapkan. Aku menurunkannya. “Aku tahu. Cucu Pak Wiratmaja lihat kamu di koridor.”

Dia tidak menjawab. Dia menatap dasi kupu-kupu di tangannya.

“Kamu dengar apa?” tanyaku.

“Nggak penting, Bu.”

“Irvan.”

Dia menghela napas. Panjang. Lalu dia mengangkat kepala dan menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tatapannya kosong. Bukan kosong karena tidak peduli. Kosong seperti ruangan yang semua perabotnya baru diangkut keluar.

“Simpanan berhoodie,” katanya dengan suara datar. “Itu yang paling lucu.”

Aku merasakan sesuatu yang panas dan tajam naik di dadaku.

“Aku balik ke dalam,” kataku. “Sekarang. Aku mau...”

“Jangan.”

Tangannya menangkap pergelangan tanganku. Pelan, tapi kuat.

“Ini pestanya Opa, Bu.”

“Aku nggak peduli.”

“Saya peduli.” Dia tidak melepaskan tanganku. “Opa ulang tahun. Oma lagi seneng. Lily tidur. Darren lagi ketawa. Saya nggak mau semua itu rusak gara-gara saya.”

“Bukan gara-gara kamu. Gara-gara Santi Santoso dan mulut sirupnya.”

“Tetap aja.” Dia menatapku. “Lagian, Bu, mereka nggak sepenuhnya salah.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Saya memang dibayar.” Suaranya tetap datar. Tetap tenang. Itu yang membuatnya lebih menakutkan. “Saya memang tinggal di Pondok Indah. Saya memang pakai tuksedo yang Ibu bayar. Saya memang tanda tangan kontrak. Itu semua fakta.”

“Kamu minta dibayar setengah.”

“Setengah tetap dibayar, Bu.”

Aku menatapnya. Aku menatap pria yang menyelamatkan anakku dari motor dan menolak uang ganti kacamata. Yang memotong kompensasinya sendiri jadi setengah. Yang memakai sisa kompensasi itu untuk membeli karung beras bekas, susu kotak stroberi, dan krayon baru untuk Lily. Aku tahu karena Bi Inah melaporkannya. Yang tidak bergerak dua jam di lantai rumah sakit.

Dan dia berdiri di depanku sambil bilang mereka nggak sepenuhnya salah.

“Oke,” kataku. Suaraku bergetar. “Oke. Kalau itu masalahnya, aku ubah. Besok pagi aku suruh Sinta revisi kontraknya. Pasal enam dihapus. Nggak ada kompensasi. Nol. Kamu nggak dibayar sepeser pun. Terus...”

Aku berhenti. Aku mendengar apa yang baru saja kukatakan.

Revisi kontrak. Pasal enam dihapus.

Irvan tidak bereaksi. Tapi aku melihat sesuatu di wajahnya. Sangat cepat, sepersekian detik. Seperti seseorang yang baru saja ditampar dengan pelan, dan pura-pura tidak merasakannya.

Aku salah. Aku tahu aku salah bahkan sebelum dia bicara. Aku baru saja mencoba memperbaiki luka dengan pasal. Seperti yang selalu kulakukan. Seperti yang kulakukan pada semua hal dalam hidupku sejak Reza pergi. Rapat. Dokumen. Klausul. Tanda tangan.

“Bukan itu, Bu,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Bukan soal uangnya.”

“Aku tahu.” Mataku panas. Aku tidak menangis. Aku tidak pernah menangis. Tapi mataku panas, dan tenggorokanku sempit, dan kata-kata yang biasanya selalu ada di ujung lidahku, rapi dan siap pakai, tidak ada. Semuanya hilang. “Aku nggak tahu cara ngomongnya, Irvan. Aku tahu cara negosiasi. Aku tahu cara bikin pasal. Aku nggak tahu cara ngomong ini.”

“Ngomong apa?”

Aku menatapnya. Pria dengan tuksedo yang kusut dan dasi kupu-kupu di tangan dan kacamata retak yang memantulkan lampu taman.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata.

Aku maju satu langkah. Kakiku yang telanjang di atas batu dingin. Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan meletakkan kedua tanganku di wajahnya. Di rahangnya yang dicukur bersih untuk pertama kalinya. Kulitnya hangat. Sedikit basah. Aku tidak tahu apakah itu embun malam atau sesuatu yang lain.

Dia berhenti bernapas.

Aku berjinjit.

Dan aku menciumnya.


Bibirnya diam.

Satu detik. Dua detik. Dia tidak bergerak. Dia berdiri kaku seperti di hari pertama aku menggenggam tangannya di gerbang TK, seperti di meja makan waktu aku menyeka sambal dari bibirnya. Tangannya tergantung di sisi tubuhnya. Dasi kupu-kupu masih di satu tangan.

Aku menciumnya dengan bibir yang gemetar. Aku tidak tahu apakah aku melakukannya dengan benar. Aku sudah lima tahun tidak mencium siapa pun. Aku lupa rasanya. Aku lupa bagaimana seharusnya.

Tiga detik.

Dia tidak membalas.

Aku mulai menarik diri. Pelan. Rasa malu yang panas mulai menjalar dari leher ke wajahku. Aku salah membaca. Aku salah membaca semuanya. Seperti Reza di pintu kedatangan bandara. Seperti...

Tangannya naik.

Dasi kupu-kupu jatuh ke jalan setapak batu. Tangannya yang kosong naik ke pinggangku, lalu ke punggungku, dan menarikku kembali.

Dan dia membalas.

Pelan. Ragu-ragu di awal, seperti orang yang baru belajar bahasa baru dan takut salah mengucapkan kata. Lalu tidak ragu lagi. Bibirnya bergerak di bibirku dengan kelembutan yang membuat lututku lemas. Tangannya di punggungku, di kulit telanjang di atas garis gaun, hangat dan sedikit gemetar. Tangan satunya naik ke tengkukku, ke rambutku yang sudah setengah lepas, dan jari-jarinya menyelinap di antara helai-helai yang jatuh.

Aku berpegangan di kerah tuksedonya. Wol Italia yang paling hitam. Kerah shawl, karena wajahnya terlalu lembut untuk peak.

Aku benar soal itu. Wajahnya memang terlalu lembut. Bibirnya juga.

Wangi sabun batang. Parfum Darren yang dipinjamkan. Angin malam dan kamboja. Air mancur kecil di kolam yang berbunyi pelan.

Aku tidak tahu berapa lama. Sepuluh detik. Satu menit. Selamanya.

Dia yang menarik diri lebih dulu. Hanya beberapa sentimeter. Cukup untuk bernapas. Dahinya bersandar di dahiku. Kacamatanya miring, bingkainya menekan pelipisku. Napasnya terengah di bibirku.

“Clara,” katanya.

Namaku. Tanpa “Bu”.

Untuk pertama kalinya.

Aku memejamkan mata. Aku mendengarnya bergetar di udara di antara kami, dan aku merasakan sesuatu di dadaku retak. Bukan retak yang menyakitkan. Retak seperti es di musim semi. Seperti kulit telur.

“Lagi,” bisikku.

“Apa?”

“Bilang lagi.”

Dia diam sebentar. Aku merasakan ibu jarinya bergerak di tengkukku, pelan.

“Clara.”

Aku menangis.

Aku tidak berencana menangis. Aku tidak pernah menangis. Lima tahun. Di bandara, di ruang bersalin, di depan surat cerai dengan nama Lily yang ditulis salah. Tidak pernah. Tapi seorang pria dengan kacamata retak menyebut namaku dua kali di taman hotel yang gelap, dan aku menangis seperti anak kecil, dengan suara, dengan bahu berguncang, dengan wajah yang kusembunyikan di kerah tuksedonya.

Dia tidak bicara. Dia tidak bertanya kenapa. Dia hanya memelukku. Satu tangan di punggungku, satu tangan di kepalaku, seperti dia memeluk Lily di malam badai. Dan dia menepuk punggungku. Dua kali. Pelan.

Seperti Lily menepuk punggungku malam itu. Karena Lily belajar dari dia.


Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Cukup lama sampai kerah tuksedonya basah dan riasanku pasti sudah hancur.

Waktu akhirnya aku mengangkat kepala, dia menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Matanya merah di balik kacamata yang miring. Dia membetulkan kacamatanya sendiri. Lalu dia mengangkat tangan dan menyeka pipiku dengan ibu jarinya.

“Riasan Ibu,” katanya.

“Clara.”

“Riasan... Clara.” Dia tersenyum. Kecil, miring ke kiri, dengan lesung pipi yang akhirnya kembali. “Luntur. Kayak panda.”

Aku tertawa di tengah sisa tangisan. Tawa basah dan jelek dan tidak anggun.

“Kamu merusak momen.”

“Maaf. Saya programmer. Kami nggak ngerti momen.”

“Kamu ngerti.” Aku memegang pergelangan tangannya yang masih di pipiku. “Kamu ngerti lebih dari siapa pun.”

Dia menatapku. Lama. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya, sesuatu yang dia timbang, seperti pion hitam di atas papan catur Opa.

“Clara,” katanya pelan. “Saya mau tanya satu hal.”

“Tanya.”

Dia membuka mulut.

Aku menunggu. Aku bisa melihat pertanyaannya ada di sana, di ujung lidahnya. Aku bisa melihatnya di matanya: sesuatu yang besar, sesuatu yang dia takutkan. Sesuatu yang mungkin ada hubungannya dengan kata transaksi dan status dan apa pun yang dia dengar di koridor itu.

Lalu dia menutup mulut.

“Nggak jadi,” katanya.

“Irvan...”

“Nanti aja.” Dia tersenyum lagi. Tapi senyum kali ini tidak sampai ke matanya. “Nggak penting.”

Aku ingin mendesaknya. Aku ingin memegang kerahnya dan bilang tanya, apa pun itu, tanya sekarang. Tapi dia sudah membungkuk, memungut dasi kupu-kupu dari jalan setapak batu, dan membersihkannya dari debu dengan telapak tangan.

“Dasinya kotor,” katanya.

“Nanti dicuci.”

“Ini sutra. Nggak bisa dicuci sembarangan.”

“Kamu tahu soal sutra?”

“Ibu saya penjahit.” Dia memasukkan dasi itu ke saku tuksedonya. “Saya tahu soal kain lebih banyak dari soal perempuan.”

Dia berjalan ke ujung jalan setapak, ke tempat aku meninggalkan heels-ku, dan memungutnya. Dia kembali, berjongkok di depanku, dan memegang pergelangan kakiku.

“Kaki Clara dingin,” katanya. “Pakai.”

Dia memasangkan heels itu di kakiku. Satu, lalu satunya lagi. Dengan hati-hati, seperti memasang infus di tangan anak kecil. Aku berpegangan di bahunya supaya tidak jatuh.

Di atas kepalanya, aku menatap langit. Tidak ada bintang di atas Jakarta. Hanya awan jingga yang memantulkan lampu kota.

Aku tidak peduli. Aku tidak butuh bintang.


Kami kembali ke ballroom dengan tangan bergandengan. Riasanku sudah kuperbaiki seadanya di toilet perempuan, dengan bantuan Sinta yang menunggu di depan pintu dengan kotak riasan darurat, dan yang tidak bertanya apa pun. Rambutku sudah kugerai sepenuhnya karena sanggulnya tidak bisa diselamatkan. Kerah tuksedonya masih basah di satu sisi.

Nyonya Santoso melihat kami masuk. Dia melihat tangan kami. Dia melihat rambutku yang tergerai dan kerah tuksedo yang basah.

Aku menatapnya lurus dari seberang ruangan. Aku tidak tersenyum. Aku tidak mengangguk. Aku hanya menatapnya, sampai dia yang mengalihkan pandangan lebih dulu.

Lalu aku berjalan ke meja keluarga, membungkuk di atas Lily yang masih tertidur di lengan Oma, dan mencium keningnya.

Lalu aku menoleh ke Irvan, berjinjit di depan tiga ratus tamu, dan mencium pipinya.

Oma memekik. Darren tersedak minumannya. Opa menurunkan gelasnya dan menatap kami dari kepala meja.

Irvan berdiri kaku dengan wajah merah sampai ke rambut.

“Clara,” bisiknya. “Di depan semua orang.”

Aku tersenyum. Aku merapikan kerah tuksedonya yang basah, meskipun tidak ada yang bisa dirapikan.

“Aku bilang aku jalan di sebelah kamu,” kataku. “Aku nggak bilang aku jalan diam-diam.”

Di kepala meja, Opa mengangkat gelasnya sedikit. Ke arah kami. Tanpa kata-kata.

Lalu dia meminumnya.