← Papa Pinjaman

Chapter Twenty Four

Pulang ke Yogya

POV: Irvan

“Kapan terakhir kamu pulang?”

Clara menanyakannya tiga hari setelah gala, di bangku minimarket, jam tiga sore, dengan susu kotak stroberi di tangan dan kepala bersandar di bahuku. Dia sudah tidak duduk di seberang meja lagi. Dia duduk di sebelahku, di bangku besi yang sempit, dan Mas Ucup sudah berhenti mengangkat papan nilai. Dia hanya menggeleng-geleng dari balik kaca seperti orang tua yang pasrah.

“Lebaran tahun lalu.”

“Setahun lebih.”

“Kerjaan.”

“Rotterdam libur hari raja. Singapura libur Imlek. Kamu kerja di dua negara yang liburnya beda-beda dan tetap nggak pulang setahun lebih.”

“Clara ngecek kalender Singapura juga?”

“Aku ngecek kalender semua negara yang pernah kamu sebut.” Dia menyedot susunya. “Kenapa nggak pulang?”

Aku tidak menjawab. Aku menatap gerbang TK di seberang, anak-anak yang mulai keluar dengan tas warna-warni.

“Karena Om Darto?” tanyanya.

Aku menoleh padanya. “Clara dari mana...”

“Kamu nyebut namanya dua kali. Sekali di dapur jam tiga pagi, waktu kamu cerita soal ayahmu. Kamu bilang ‘ayah saya pergi’, terus kamu berhenti, kayak mau nyebut nama orang lain, terus nggak jadi. Sekali lagi waktu Lily demam. Kamu bilang, ‘Dulu saya juga pernah demam kayak gini, dibawa ke puskesmas naik motor Om Darto.’” Dia mengangkat kepala dari bahuku dan menatapku. “Kamu nggak sadar, kan?”

Aku tidak sadar.

“Libur semester Lily minggu depan,” katanya. “Seminggu. Aku udah bilang Sinta kosongin jadwalku empat hari.”

“Buat apa?”

“Buat ke Yogya.” Dia tersenyum. “Aku, Lily, kamu.”


Lily menganggap kereta api adalah penemuan terbesar umat manusia.

Dia duduk di kursi dekat jendela dengan dahi menempel di kaca selama delapan jam perjalanan dari Gambir ke Tugu. Dia menghitung sawah. Dia menghitung sapi. Dia menghitung orang yang melambai di perlintasan kereta dan melambai balik pada semuanya. Dia bertanya kenapa rel kereta tidak lurus, kenapa kereta punya nama, kenapa kursinya bisa diputar, dan kenapa Om Kacamata tidur terus.

“Soalnya Om Kacamata semalem kerja,” kata Clara.

“Kerja sama orang Belanda?”

“Kerja sama orang Belanda.”

“Orang Belanda nggak pernah tidur, ya, Ma?”

“Orang Belanda tidur waktu kita bangun.”

Lily menatapku yang setengah tertidur di kursi seberang. “Om Kacamata kayak orang Belanda.”

Aku membuka satu mata. “Om orang Yogya, Neng.”

“Tapi tidurnya kayak orang Belanda.”

Clara tertawa. Dia duduk di sebelahku, bukan di sebelah Lily, dengan kaki disilangkan dan kepala bersandar di bahuku. Dia memakai kemeja linen putih yang lengannya digulung, celana panjang krem, dan sepatu kets putih. Tanpa lipstik merah bata. Rambutnya dikepang satu di samping, jatuh di bahu kanannya, dan diikat dengan karet rambut merah muda milik Lily. Dia terlihat seperti mahasiswi yang sedang liburan, bukan direktur yang meninggalkan rapat dewan direksi demi naik kereta ekonomi premium.

Aku yang minta kereta. Dia menawarkan pesawat. Pesawat satu jam, kereta delapan jam. Tapi aku bilang Lily belum pernah naik kereta, dan dia langsung setuju tanpa berdebat. Aku tidak bilang alasan sebenarnya: delapan jam memberiku waktu untuk menyiapkan diri.

Dia menggenggam tanganku di atas sandaran lengan. Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku. Sejak malam di taman hotel, dia tidak pernah lagi menunggu alasan untuk menggenggam tanganku.

“Kamu tegang,” katanya pelan, tanpa membuka mata.

“Nggak.”

“Jarimu dingin.”

“AC kereta.”

“Fluktuatif?”

“Sangat fluktuatif.”

Dia tersenyum dengan mata tertutup. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku, pelan, bolak-balik.

“Ibumu tahu aku ikut?”

“Tahu.”

“Tahu aku siapa?”

Aku diam.

Aku sudah menelepon Ibu seminggu lalu. Aku bilang aku pulang. Aku bilang aku bawa “teman”. Dan anaknya.

Ibu diam lama di telepon. Lalu dia bilang, Mamanya Neng Lily?

Aku bilang iya.

Ibu bilang, Ya wis. Ibu siapin kamar.

Hanya itu. Ibu tidak bertanya lagi. Ibu tidak perlu bertanya. Ibu selalu tahu.

“Tahu kamu mamanya Lily,” kataku.

“Cuma itu?”

“Sisanya,” aku menatap jari-jari kami yang saling mengunci, “saya belum cerita.”

Clara membuka mata. Dia menatapku dari bahuku, dari bawah, dengan mata almond yang sedikit mengantuk.

“Kamu mau cerita?”

“Saya nggak pernah bohong sama Ibu.”

“Kalau gitu cerita.”

“Semua? Kontraknya? Pasal-pasalnya?”

Clara diam sebentar. Lalu dia duduk tegak, melepaskan kepalanya dari bahuku, dan menatapku dengan serius.

“Irvan. Kamu syaratin ke aku, Lily nggak boleh dibohongi. Aku setuju. Aku nggak akan minta kamu bohongin ibumu.”

“Tapi kalau Ibu tahu, Ibu bakal mikir...”

“Mikir apa?”

Mikir bahwa anaknya disewa. Mikir bahwa anaknya dibayar untuk jadi papa anak orang lain. Mikir bahwa Nyonya Santoso benar.

“Nggak tahu,” kataku.

Clara menggenggam tanganku lebih erat. “Kalau gitu, kita cari tahu bareng.”


Rumah Ibu di Kotagede adalah rumah kecil satu lantai dengan cat hijau pucat yang mengelupas di beberapa tempat, teras dengan kursi rotan tua, dan papan kayu kecil di pagar bertuliskan “JAHIT — PERMAK — KEBAYA” dengan huruf yang dicat tangan. Di sebelahnya, dipisahkan hanya oleh gang sempit, ada bengkel motor dengan pintu rolling yang setengah terbuka, bau oli, dan papan nama berkarat: “BENGKEL DARTO — SERVICE SEGALA MOTOR”.

Aku berdiri di ujung gang dengan tas di bahu dan Lily di gendongan. Clara di sebelahku dengan koper kecil. Kami baru turun dari taksi bandara... bukan, dari taksi stasiun. Aku salah mengingat hal-hal kecil hari ini. Otakku tidak berfungsi dengan baik.

“Itu rumahmu?” tanya Clara pelan.

“Itu rumah Ibu.”

“Rumahmu juga.”

Aku tidak menjawab.

Pintu rumah terbuka sebelum kami sampai di pagar. Ibu keluar dengan daster batik cokelat, rambut yang sudah lebih banyak putihnya dari yang kuingat, dan kacamata baca di ujung hidung. Kacamata yang sama dengan yang dia pakai waktu aku SD, dengan bingkai yang sudah disolder dua kali.

Dia melihatku. Dia berhenti di teras.

“Le.”

“Bu.”

Aku menurunkan Lily. Aku berjalan ke teras. Ibu menunggu, tidak bergerak, sampai aku berdiri di depannya. Lalu dia memegang wajahku dengan kedua tangan, tangan yang kasar dan penuh bekas tusukan jarum, dan menatapku lama dari balik kacamata baca.

“Kurus,” katanya.

“Makan, Bu.”

“Makan kopi sachet.”

Di belakangku, aku mendengar Clara menahan tawa.

Ibu menoleh padanya. Lalu pada Lily, yang bersembunyi di balik kaki Clara dan mengintip dengan mata bulat.

Ibu melepaskan wajahku dan berjalan ke arah mereka. Dia berhenti di depan Clara. Dia menatapnya dari ujung kepala sampai sepatu kets putih, dengan mata seorang penjahit yang sudah mengukur ribuan tubuh. Bukan menilai harga. Menilai ukuran. Menilai jahitan.

Clara tidak bergerak. Dia berdiri tegak, dengan kepang di bahu dan karet rambut merah muda milik Lily, dan membiarkan dirinya diukur.

“Ayu,” kata Ibu akhirnya.

“Terima kasih, Bu.”

“Bukan cuma ayu. Tulang bahunya bagus. Cocok pakai kebaya.” Ibu memegang lengan Clara dan membaliknya sedikit, memeriksa panjang lengannya seperti memeriksa kain. “Lengan panjang. Pinggang kecil. Kamu pernah pakai kebaya?”

“Waktu nikah dulu, Bu.”

Hening sebentar. Aku menahan napas.

Ibu tidak berkedip. “Kebayanya siapa yang jahit?”

“Butik di Jakarta, Bu.”

“Pasti nggak pas di bahu.” Ibu melepaskan lengannya. “Butik Jakarta nggak pernah ngukur bahu dengan bener. Nanti Ibu ukur.”

Lalu Ibu berjongkok di depan Lily. Lutut tuanya berbunyi, krek, seperti lututku.

“Ini Neng Lily?”

Lily mengintip dari balik kaki Clara. Mengangguk.

“Yang gambar kucing bawa koper?”

Lily melangkah keluar sedikit. Matanya melebar. “Nenek tahu Pak Mentega?”

“Tahu, dong. Om Kacamata cerita terus.” Ibu tersenyum. Senyum yang miring ke kiri. Senyum yang sama dengan senyumku. “Nenek punya kain perca warna oranye. Mau Nenek jahitin Pak Mentega jadi boneka?”

Lily menatap Clara. Clara mengangguk. Lily menatap Ibu.

Lalu Lily melepaskan kaki Clara, berjalan ke arah Ibu, dan memeluk lehernya.

Ibu memeluknya balik. Dari atas bahu Lily, dia menatapku. Matanya berkaca-kaca di balik kacamata baca yang bingkainya disolder dua kali.


Rumah Ibu punya dua kamar. Kamar Ibu, dan kamarku.

Kamarku masih sama seperti waktu aku berangkat ke Jakarta sembilan tahun lalu. Kasur kapuk di atas ranjang besi, meja belajar kayu dengan komputer tabung yang sudah mati, poster pemain sepak bola yang warnanya sudah pudar, dan rak buku yang isinya buku pemrograman bekas dari pasar loak. Ibu sudah mengganti seprainya dengan yang baru, yang bermotif bunga-bunga merah muda, jelas dibeli khusus untuk tamu perempuan.

“Clara sama Lily tidur di sini,” kataku.

“Kamu?”

“Tikar di ruang tengah.”

Clara menatap kamar kecil itu. Dia menyentuh meja belajar kayu, menelusuri goresan-goresan di permukaannya dengan ujung jari. Goresan dari penggaris. Goresan dari kunci motor. Satu goresan berbentuk huruf I dan O, yang kuukir waktu umur sembilan tahun dengan obeng milik Om Darto.

“Ini kamu yang bikin?”

“Umur sembilan.”

“Kenapa I dan O?”

“Irvan Oktovan. Saya mau ngetes obeng baru.”

“Obengnya siapa?”

“Om Darto.”

Clara tidak bertanya lagi. Dia hanya menyentuh ukiran itu dengan ujung jarinya, pelan, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh.


Bengkel Om Darto buka sampai jam lima sore. Aku tahu, karena bengkel itu selalu buka sampai jam lima sore, sejak aku masih kecil dan duduk di atas ban bekas sambil menonton Om Darto membongkar mesin.

Aku tidak ke sana. Aku duduk di teras rumah Ibu, di kursi rotan tua, dan menatap pintu rolling yang setengah terbuka di seberang gang.

Lily yang ke sana.

Dia keluar dari rumah dengan boneka kucing oranye yang dijahit Ibu dalam dua jam, dengan mata dari kancing hitam dan kumis dari benang putih. Pak Mentega versi fisik pertama di dunia. Dia menunjukkannya pada semua orang: pada Ibu, pada Clara, pada tetangga sebelah yang kebetulan lewat, pada kucing liar yang sedang tidur di atas tembok. Lalu dia melihat bengkel di seberang gang.

“Om Kacamata, itu apa?”

“Bengkel, Neng.”

“Bengkel itu apa?”

“Tempat benerin motor.”

Lily menatap bengkel itu dengan mata berbinar. Di dalamnya, seorang pria dengan kaus oblong abu-abu yang penuh noda oli sedang berjongkok di samping motor bebek tua, memutar sesuatu dengan kunci inggris.

Om Darto.

Rambutnya sudah beruban seluruhnya. Tubuhnya lebih kurus dari yang kuingat. Punggungnya sedikit bungkuk, dan dia bergerak lebih lambat. Tapi tangannya masih sama. Tangan yang besar, kasar, dan hitam oleh oli yang tidak pernah hilang sepenuhnya.

Tangan yang dulu menggendongku di punggung di pasar malam.

“Om Kacamata, aku mau lihat!”

Sebelum aku sempat menjawab, Lily sudah berlari menyeberangi gang sempit dengan Pak Mentega di pelukan.

“Neng! Tunggu!”

Lily berhenti di ambang bengkel. Om Darto mendongak dari motor bebeknya.

Mereka saling menatap. Anak perempuan lima tahun dengan boneka kucing oranye dan kuncir dua. Pria tua dengan kaus oblong penuh oli dan kunci inggris di tangan.

“Siapa ini?” tanya Om Darto. Suaranya serak. Lebih serak dari yang kuingat.

“Aku Lily. Ini Pak Mentega. Om lagi benerin apa?”

Om Darto memandangi Lily. Lalu, di belakang Lily, di seberang gang, di teras rumah Ibu, dia melihatku.

Kami saling menatap. Lama. Di antara kami, gang sempit selebar dua meter, dan sembilan tahun, dan sesuatu yang lebih tua dari sembilan tahun.

Om Darto tidak tersenyum. Dia juga tidak mengalihkan pandangan. Dia hanya menatapku, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

Lalu dia kembali menatap Lily.

“Om lagi benerin rem,” katanya. “Remnya blong. Kalau nggak dibenerin, motornya nggak bisa berhenti.”

“Kayak aku kalau ngejar kucing?”

Om Darto berkedip. Lalu, perlahan, sudut bibirnya bergerak. Senyum kecil. Senyum yang kulihat ribuan kali waktu kecil.

“Iya,” katanya. “Kayak kamu kalau ngejar kucing.”

“Aku boleh bantu?”

“Tangannya nanti kotor.”

“Nggak apa-apa. Kata Om Kacamata, tangan kotor itu tanda kerja keras.”

Om Darto menatapku lagi dari seberang gang. Lebih lama kali ini.

Aku yang bilang itu pada Lily. Di bangku minimarket, waktu dia menangis karena tangannya kotor krayon dan Kenzo mengejeknya. Aku bilang tangan kotor itu tanda kerja keras.

Aku belajar kalimat itu dari Om Darto. Waktu aku sembilan tahun, di bengkel ini, dengan obeng baru dan huruf I dan O di meja belajar.

Om Darto meletakkan kunci inggris dan mengambil kain lap. Dia mengelap tangannya, lalu mengulurkan satu kunci kecil pada Lily.

“Pegang ini. Kalau Om bilang ‘kunci’, kasih ke Om.”

“Siap, Om!”

Lily masuk ke bengkel. Dia berjongkok di sebelah Om Darto, di samping motor bebek tua, dengan kunci kecil di satu tangan dan Pak Mentega di tangan lain. Om Darto kembali bekerja. Setiap beberapa menit, dia berkata “kunci”, dan Lily menyerahkan kunci itu dengan serius, seperti asisten dokter bedah.

Aku duduk di teras dan menonton mereka.

Clara keluar dari rumah dengan dua cangkir teh. Dia duduk di kursi rotan di sebelahku dan menyerahkan satu cangkir. Dia melihat ke seberang gang.

“Itu Om Darto?”

“Iya.”

“Lily langsung suka.”

“Iya.”

“Kamu nggak ke sana?”

Aku tidak menjawab. Aku menyesap teh. Teh tubruk, manis dan pekat, yang dibuat Ibu dengan gula batu. Rasanya sama dengan waktu aku kecil.

Clara tidak mendesak. Dia hanya duduk di sebelahku, dengan cangkir teh di tangan, dan meletakkan tangan satunya di atas lututku.


Malam itu, setelah Clara dan Lily tidur di kamarku, aku duduk di dapur bersama Ibu.

Dapur Ibu kecil dan sempit, dengan kompor dua tungku, lemari kayu tua, dan meja makan bundar yang taplaknya dijahit Ibu sendiri dari kain perca. Lampu neon di langit-langit berkedip sesekali.

Ibu menuang teh tubruk ke dua cangkir. Dia duduk di seberangku. Dia tidak bicara. Dia menunggu, seperti dia selalu menunggu, sejak aku kecil, sampai aku siap bicara.

“Bu,” kataku. “Aku mau cerita sesuatu.”

“Soal kontrakmu?”

Aku menatapnya.

Ibu menyesap tehnya. Kacamata bacanya berembun sedikit karena uap.

“Ibu nggak bodoh, Le,” katanya. “Kamu tiba-tiba pindah ke rumah klien. Klienmu punya anak kecil yang nggak punya bapak. Mamanya cantik, kaya, dan janda. Terus kamu telepon Ibu tiap minggu cerita soal anak itu kayak cerita soal anak sendiri. Ibu nggak perlu diceritain.”

“Ibu marah?”

“Kenapa Ibu harus marah?”

“Karena...” Aku menatap cangkir teh. “Karena saya dibayar. Buat jadi papa anak orang lain.”

Ibu meletakkan cangkirnya.

Dia menatapku dari seberang meja, dengan kacamata baca yang bingkainya disolder dua kali, dan mata yang sudah melihat anak laki-lakinya tumbuh dari bayi sampai sekarang.

“Le,” katanya pelan. “Ibu mau tanya. Kamu nemenin Neng Lily karena dibayar?”

“Nggak, Bu.”

“Kamu nggak tidur dua jam di rumah sakit karena dibayar?”

“Nggak.”

“Kamu bawa Neng Lily ke sini, ke rumah Ibu, ke kampung kecil ini, naik kereta delapan jam, karena dibayar?”

Aku tidak menjawab.

Ibu menghela napas. Dia melepas kacamata bacanya dan mengelap lensanya dengan ujung daster. Kebiasaan yang sama denganku. Aku baru sadar aku belajar kebiasaan itu dari dia.

“Kamu kayak Om-mu, Le,” katanya.

Aku membeku.

“Om-mu dulu juga begitu. Nemenin kamu bukan karena disuruh. Nggak ada yang bayar dia. Dia cuma... sayang. Terus dia pikir, sayang itu nggak cukup. Pikirnya, kamu butuh yang lebih dari sekadar sayang. Butuh yang asli.”

“Bu...”

“Ibu nggak mau cerita malam ini.” Ibu memakai kacamatanya kembali. “Itu cerita Om-mu. Bukan cerita Ibu. Kalau kamu mau tahu, tanya dia sendiri.”

“Saya nggak mau tahu, Bu.”

“Kamu mau tahu.” Ibu berdiri dan membawa cangkirnya ke bak cuci. “Kamu udah mau tahu dari umur sepuluh. Kamu cuma takut.”

Aku duduk di dapur yang sempit, di bawah lampu neon yang berkedip, dan tidak bisa membantah.


Aku tidak bisa tidur di atas tikar di ruang tengah.

Pukul satu pagi, aku bangun untuk mengambil air. Lampu dapur mati. Aku berjalan dalam gelap, menyusuri dinding dengan tangan, dan melewati lorong kecil antara ruang tengah dan dapur.

Di dinding lorong itu, ada sesuatu yang tergantung. Bingkai. Aku tidak ingat ada bingkai di sana.

Aku menyalakan senter ponsel.

Di dalam bingkai kayu yang sudah mengelupas, ada selembar kertas. Kertasnya kuning karena umur, pinggirnya sobek sedikit. Gambar krayon.

Rumah dengan atap merah. Matahari di pojok dengan sinar yang tidak rata. Tiga orang berdiri di depan rumah. Seorang perempuan dengan rambut dicepol dan gunting di tangan. Seorang anak laki-laki kecil dengan kacamata bulat. Dan di sebelah kiri, seorang pria tinggi dengan tangan yang diwarnai hitam semua, dari ujung jari sampai siku.

Di atas gambar, dengan huruf besar-kecil yang miring-miring, anak itu menulis: KELUARGAKU.

Dan di bawah pria dengan tangan hitam itu, dengan huruf yang lebih besar dan lebih ditekan, sampai krayonnya hampir menembus kertas:

BAPAK.

Aku ingat gambar itu. Aku menggambarnya waktu umur tujuh tahun. Untuk tugas sekolah. Hari Ayah.

Om Darto datang ke sekolah hari itu. Dengan kaus oblong penuh oli, karena dia langsung datang dari bengkel. Anak-anak lain menertawakan tangannya yang hitam. Aku tidak peduli. Aku memberikan gambar itu padanya di depan semua orang, dan dia menatapnya lama, lalu memelukku di tengah kelas dengan tangan hitamnya, sampai seragam putihku kotor oli di punggung.

Aku pikir gambar itu sudah dibuang. Aku pikir dia membuangnya waktu dia pergi.

Aku berdiri di lorong gelap dengan senter ponsel, menatap gambar yang kubuat dua puluh empat tahun lalu, dan merasakan tekanan di belakang mataku. Lebih kuat dari di taman hotel. Jauh lebih kuat.

Di belakangku, aku mendengar langkah kaki pelan. Kaki telanjang di lantai ubin yang dingin.

Aku tidak menoleh. Aku tahu siapa.

Clara berdiri di sebelahku. Dia melihat gambar itu. Dia melihat rumah dengan atap merah, matahari yang tidak rata, tiga orang di depan rumah. Dia melihat pria dengan tangan hitam.

Dia melihat kata BAPAK.

Dia tidak bicara. Dia hanya meletakkan kepalanya di bahuku dan menggenggam tanganku yang gemetar. Di lorong gelap rumah kecil di Kotagede. Di depan gambar keluarga seorang anak laki-laki berkacamata bulat yang, dua puluh empat tahun lalu, juga menyisakan ruang di sebelah kiri untuk seseorang.

Dan orang itu dulu datang. Lalu pergi. Lalu menyimpan gambarnya di dinding selama dua puluh empat tahun.