← Papa Pinjaman

Chapter Twenty Nine

Papa Beneran

POV: Clara

Surat itu datang hari Rabu, dua hari setelah gerbang sekolah, di atas kertas tebal berkop biro hukum di kawasan Kuningan.

Sinta meletakkannya di mejaku dengan dua tangan, seperti meletakkan sesuatu yang bisa meledak. Dia tidak membuat lelucon. Dia tidak memberi nama krisis. Dia hanya berdiri di depan mejaku dengan wajah yang sangat pucat.

Aku membacanya.

Bahasanya sopan. Sangat sopan. Klien kami, Saudara Reza Adhitama, dengan itikad baik, bermaksud menjalin kembali hubungan dengan putrinya, Lilyana Moris. Klien kami memohon diberikan akses kunjungan secara berkala. Klien kami bersedia mengikuti ketentuan yang dianggap wajar oleh pihak ibu. Klien kami menghormati peran ibu sebagai pemegang hak asuh.

Di halaman terakhir, nama Lily ditulis dengan benar. Lilyana. Bukan Lilia.

Aku menatap nama itu lama. Lima tahun lalu, di surat cerai, dia menulisnya salah. Sekarang dia menulisnya benar.

Aku tidak tahu kenapa itu yang paling menyakitkan.


Pak Burhan, pengacara keluarga Moris sejak Opa masih memimpin perusahaan dari satu kantor kecil di Kota, duduk di sofa ruanganku dengan kacamata tebal dan wajah yang sudah melihat terlalu banyak perceraian.

“Secara hukum, Bu Clara,” katanya pelan, “hak asuh ada di Ibu. Itu jelas. Saudara Reza melepaskannya dalam perceraian. Tapi hak berkunjung...” Dia melepas kacamatanya. “Hak berkunjung itu hak anak, Bu. Bukan hak orang tua. Pengadilan melihatnya begitu.”

“Dia meninggalkan Lily lima tahun.”

“Saya tahu, Bu.”

“Dia nggak pernah nanya. Sekali pun.”

“Saya tahu.” Pak Burhan menghela napas. “Tapi kalau dia mengajukan gugatan akses, dan Ibu menolak sepenuhnya, hakim akan bertanya kenapa. Dan kalau jawabannya ‘karena saya marah’, itu tidak cukup. Hakim akan melihat seorang ayah yang ingin kembali, dan seorang ibu yang menghalangi.” Dia memakai kacamatanya lagi. “Saran saya, Bu, kunjungan dengan pengawasan. Di rumah Ibu. Dengan Ibu hadir. Dengan jadwal yang Ibu tentukan. Kalau dia melanggar, kita punya dasar. Kalau dia tidak melanggar...”

“Kalau dia nggak melanggar?”

Pak Burhan menatapku lama. “Kalau dia tidak melanggar, Bu, mungkin dia memang ingin kembali.”


Aku menemui Reza di Kafe Seduh Sembilan hari Kamis sore.

Aku yang memilih tempatnya. Kafe kecil di dekat kantor, dengan meja-meja kayu dan tanaman gantung dan barista bertato yang membuat kopi terlalu pahit. Kafe tempat, menurut SOP Sinta versi tiga koma dua, aku pertama kali bertemu Irvan waktu sistem pembayarannya mati. Pertemuan yang tidak pernah terjadi.

Aku memilihnya karena aku butuh tempat yang terasa seperti milik Irvan. Meskipun itu bohong.

Pemilik kafe, perempuan empat puluhan dengan kerudung pastel, mengenaliku begitu aku masuk. Dia tersenyum lebar dan mendekat ke mejaku.

“Bu Clara! Ya ampun. Mas IT-nya nggak ikut?”

Aku butuh dua detik untuk mengingat. Adik ipar tante Sinta.

“Hari ini nggak, Bu.”

“Oh, sayang sekali. Mas-nya baik banget waktu benerin sistem kami.” Dia mengedipkan mata. “Tanggal dua belas Februari. Saya ingat.”

Dia tidak ingat. Tidak ada yang terjadi tanggal dua belas Februari. Tapi dia mengatakannya dengan begitu yakin sampai aku hampir percaya.

Reza datang lima menit kemudian. Tanpa mantel. Kemeja biru muda dengan lengan digulung, celana abu-abu, jam tangan yang sama. Dia sudah menyesuaikan diri dengan cuaca Jakarta. Dia selalu cepat menyesuaikan diri.

Dia duduk di seberangku. Dia tersenyum. Senyum Lily.

“Terima kasih udah mau ketemu,” katanya.

“Pak Burhan yang sarankan.”

“Pak Burhan masih hidup?” Dia tertawa kecil. “Dia yang ngurus surat nikah kita.”

Aku tidak tertawa.

Reza berhenti tertawa. Dia memesan kopi hitam tanpa gula. Kopi yang sama dengan pesananku. Dulu, waktu kami masih kuliah, dia yang mengajariku minum kopi tanpa gula. Gula itu buat orang yang takut rasa asli, katanya.

Aku sudah minum kopi tanpa gula selama sembilan tahun. Tiga minggu terakhir, aku menambahkan satu sachet susu kental manis ke dalamnya. Karena Irvan bilang kopi tanpa gula itu seperti hidup tanpa hari Minggu.

“Clara,” kata Reza. “Aku tahu nggak ada yang bisa aku bilang buat memperbaiki lima tahun.”

“Betul.”

“Aku nggak minta dimaafkan.”

“Bagus. Karena aku nggak akan.”

Dia menunduk. Dia memutar cangkir kopi di atas meja, pelan, dengan jari-jari panjangnya. Kebiasaan lama. Dia selalu memutar sesuatu kalau sedang gugup. Pulpen. Gelas. Cincin kawin kami, dulu.

“Aku lihat surat cerai kita bulan lalu,” katanya. “Aku buka arsip lama waktu pindah apartemen di Toronto. Aku baca lagi.” Dia berhenti. “Aku salah nulis nama dia. Lilia.”

Aku tidak bicara.

“Aku nggak tahu nama dia yang bener. Aku nggak pernah buka foto yang kamu kirim waktu dia lahir. Aku lihat notifikasinya, aku tahu itu foto dia, dan aku nggak buka. Aku takut.” Dia mengangkat kepala. Matanya merah. “Lima tahun, Clara. Aku nggak pernah lihat foto anakku sendiri karena aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kalau aku lihat, aku harus pulang. Dan kalau aku pulang, aku harus ngaku aku gagal.”

Aku menatapnya. Pria yang dulu kukagumi karena dia tidak pernah takut apa pun. Yang mengajariku minum kopi tanpa gula. Yang naik ke atap gedung kampus di tengah hujan untuk menyatakan cinta.

“Gagal apa?”

Reza tidak menjawab. Dia menatap cangkirnya. Lalu dia bertanya hal lain.

“Laki-laki itu. Irvan.”

“Kenapa?”

“Lily manggil dia apa?”

Aku ragu. Lalu aku menjawab, karena itu bukan rahasia, dan karena seluruh TK Pelangi Kecil sudah tahu.

“Om Kacamata.”

Reza mengangguk pelan. Dia menyesap kopinya. Lalu dia meletakkan cangkirnya di atas meja, sangat hati-hati, seperti meletakkan bidak di papan catur.

“Om,” katanya. “Bukan Papa.”

Aku merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungku.

“Jadi,” lanjut Reza dengan suara yang tetap lembut, tetap hangat, “posisinya masih kosong.”


Aku tidak ingat berdiri. Aku hanya ingat berada di luar kafe, di trotoar, dengan tas di tangan dan napas yang terlalu cepat. Pemilik kafe memanggil namaku dari pintu. Aku tidak menoleh.

Posisinya masih kosong.

Dia mengatakannya dengan nada yang sama seperti mengatakan aku salah nulis nama dia. Dengan penyesalan yang tulus. Dengan mata merah. Dan itu yang membuatku ingin berteriak di tengah trotoar Jakarta, karena dia tidak jahat. Dia tidak pernah jahat. Dia hanya selalu, selalu menempatkan dirinya di tengah cerita. Bahkan dalam penyesalannya.

Aku takut. Aku gagal. Aku salah nulis. Aku mau kembali.

Aku. Aku. Aku.

Di kepalaku, suara lain. Suara yang serak dan pelan, dari lantai rumah sakit jam empat pagi.

Nggak apa-apa. Nanti mereka bangun.


Kunjungan pertama dijadwalkan hari Minggu, pukul sepuluh pagi, di rumah keluarga Moris. Dua jam. Dengan pengawasan.

Aku memberitahu keluarga di meja makan hari Sabtu malam.

Oma meletakkan sendoknya dengan bunyi keras. “Laki-laki itu? Masuk ke rumah ini?”

“Hak berkunjung, Oma. Pak Burhan bilang...”

“Oma nggak peduli Pak Burhan bilang apa.” Oma, yang seumur hidupku tidak pernah meninggikan suara kecuali untuk TikTok, menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Dia tinggalin kamu di bandara. Hamil. Oma yang nemenin kamu malam itu. Oma yang lihat kamu duduk di kamar mandi jam dua pagi, nggak nangis, cuma duduk. Oma...”

“Lusiana,” kata Opa pelan.

Oma berhenti. Dia menutup mulut dengan tangan.

Darren menusuk ayamnya dengan garpu. Keras. “Gue nggak mau di rumah.”

“Kamu harus di rumah, Dar.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kamu nggak di rumah, dia kira kita takut.” Opa melipat serbetnya. Rapi. Empat lipatan. “Keluarga Moris tidak takut pada siapa pun. Kita akan duduk di ruang tamu. Kita akan sopan. Kita akan menyajikan teh.”

“Teh, Opa?”

“Teh. Dan Bi Inah akan membuat sambal.”

Bi Inah, di pintu dapur, mengangguk perlahan dengan wajah seorang jenderal yang menerima perintah perang.

Di ujung meja, Irvan tidak bicara. Dia memotong roti Lily jadi segitiga. Lily tidak memakannya. Lily menatap piringnya dengan kening berkerut, dan tidak bicara sepanjang makan malam.

Setelah makan malam, aku mencari Irvan. Dia sudah masuk ke kamarnya. Pintunya tertutup. Aku mengetuk.

“Rotterdam,” katanya dari dalam.

Aku tidak mengetuk lagi.


Reza datang tepat pukul sepuluh. Dia membawa buket bunga lili putih untukku, yang kuterima dengan dua jari dan langsung kuserahkan pada Bi Inah. Dia membawa sekotak kue dari toko roti Prancis di Senopati untuk Oma, yang diterima Oma dengan senyum paling dingin yang pernah kulihat di wajahnya. Dia membawa sebotol anggur merah untuk Opa, yang diterima Opa tanpa melihat labelnya.

Dan dia membawa sesuatu yang kecil, dibungkus kertas kado bergambar kucing, untuk Lily.

Kami duduk di ruang tamu. Opa di sofanya, sofa yang tidak boleh diduduki siapa pun. Oma di sebelahnya. Darren berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada. Aku di kursi berlengan. Reza di sofa panjang di seberang.

Lily duduk di pangkuan Irvan.

Irvan duduk di ujung sofa panjang, jauh dari Reza, dengan Lily di pangkuannya. Kaus putih, celana panjang. Tanpa hoodie, karena hoodie-nya ada padaku. Aku tidak memakainya hari ini. Aku menyimpannya di kamar, terlipat, karena aku tidak mau Reza melihatnya.

Aku tidak tahu kenapa.

Bi Inah menyajikan teh. Lalu dia menyajikan sepiring tahu goreng dan semangkuk kecil sambal terasi. Sambal itu berwarna merah tua, hampir hitam. Aku bisa mencium pedasnya dari seberang ruangan.

“Silakan, Mas,” kata Bi Inah pada Reza dengan senyum paling manis yang pernah kulihat di wajahnya. “Sambal spesial.”

Reza mencolek tahu ke sambal itu dan memakannya. Tiga detik kemudian, wajahnya berubah merah. Lima detik kemudian, dia batuk. Sepuluh detik kemudian, matanya berair dan dia meraih teh dengan tangan gemetar.

Bi Inah kembali ke dapur dengan langkah yang sangat puas.

Darren terbatuk-batuk di dekat jendela. Aku tahu itu bukan batuk.

Oma, dari sofanya, mengangkat ponsel. “Oma cuma rekam buat kenang-kenangan, ya, Mas Reza. Kan ini pertemuan bersejarah.”

“Oh... tentu, Bu,” kata Reza, masih mengusap mata.

“Oma,” kata Oma. “Eh, jangan. Tante. Panggil Tante aja.” Dia tersenyum. “Oma itu buat yang udah jadi keluarga.”

Di ujung sofa, Irvan menunduk. Aku melihat bahunya bergerak sedikit. Aku tidak tahu apakah dia menahan tawa atau sesuatu yang lain.


Reza membuka pembicaraan dengan Lily. Dia mencondongkan tubuh ke depan, siku di lutut, dengan suara lembut yang membuat investor merasa nyaman.

“Lily. Ini buat kamu.” Dia mengulurkan kado bergambar kucing itu.

Lily menatap kado itu. Lalu mendongak ke Irvan.

Irvan tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk kecil. Lily mengulurkan tangan dan mengambil kado itu. Dia membukanya pelan-pelan, dengan hati-hati, seperti yang diajarkan Irvan untuk membuka bungkus nasi kucing.

Di dalamnya, sebuah kotak musik. Kayu, dengan ukiran kucing di tutupnya. Reza membukanya untuk Lily, dan sebuah melodi keluar. Lagu tidur yang tidak kukenal, lembut dan berdenting.

“Ini dari Kanada,” kata Reza. “Kata penjualnya, lagunya lagu tidur buat anak-anak. Kalau kamu nggak bisa tidur, putar ini.”

Lily mendengarkan melodi itu. Dia menatap kucing ukiran di tutupnya. Lalu dia berkata, pelan, “Aku udah punya Pak Mentega.”

“Pak Mentega?”

“Kucing. Dia bawa koper.”

Reza menatapnya, bingung. Lalu dia tersenyum. “Kucing yang bawa koper? Ke mana?”

“Liburan. Isinya ikan asin sama sandal cadangan.”

Aku melihat Irvan menutup matanya sebentar.

“Wah,” kata Reza. “Pinter. Siapa yang bikin cerita itu?”

Lily tidak menjawab. Dia menoleh ke Irvan.

Dan Irvan melakukan sesuatu yang membuatku ingin berdiri dan menghentikannya.

Dia menurunkan Lily dari pangkuannya. Pelan. Dia meletakkannya di sofa, di tengah, di antara dirinya dan Reza. Lebih dekat ke Reza.

“Neng,” katanya pelan. “Coba kenalan dulu sama Papa. Om di sini.”

Lily menatapnya. Mata besar. Bingung.

“Om nggak ke mana-mana,” katanya. “Cuma ambil minum.”

Dia berdiri. Dia tidak menatapku. Dia berjalan keluar dari ruang tamu, melewati ruang makan, ke arah pintu kaca yang menuju teras belakang.

Aku melihatnya dari balik jendela. Dia berjalan ke tangga teras. Dia duduk di anak tangga, sendirian, menghadap kolam ikan koi. Punggungnya membelakangi rumah.

Dia tidak mengambil minum.


Di ruang tamu, tanpa Irvan, Lily awalnya diam. Dia duduk di sofa dengan kotak musik di pangkuan dan menatap pintu kaca tempat Irvan menghilang.

Lalu Reza mengeluarkan uang koin dari saku kemejanya. Dia menunjukkannya pada Lily. Dia menggenggamnya. Dia membuka genggamannya.

Koinnya hilang.

Lily menatap tangan kosong itu. Matanya melebar.

Reza mengulurkan tangan ke telinga Lily, dan menarik koin itu dari balik telinganya.

Lily tertawa.

Tawa kecil, kaget, tidak sengaja. Tawa yang keluar sebelum dia sempat memutuskan apakah dia mau tertawa. Dan ketika dia tertawa, pipinya terangkat tinggi, matanya menyipit di ujung, dan senyumnya lebar.

Senyum Reza.

Di wajah anakku. Menatap wajah Reza. Dua senyum yang sama persis, di dua wajah yang berhadapan, untuk pertama kalinya.

Oma berhenti merekam. Darren melepaskan tangannya dari dadanya. Opa meletakkan cangkir tehnya.

Aku menoleh ke jendela.

Di teras belakang, Irvan tidak lagi membelakangi rumah. Dia sudah berbalik. Dia duduk di anak tangga dan menatap ke dalam, melalui pintu kaca, ke ruang tamu. Ke Lily yang tertawa dengan senyum yang bukan dari Clara, dan bukan dari dia.

Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Tenang. Sangat tenang.

Lalu dia berbalik lagi menghadap kolam ikan.


Reza pergi pukul dua belas tepat. Dia berpamitan pada Opa dengan jabat tangan, pada Oma dengan bungkukan sopan, pada Darren yang tidak menjabat tangannya. Pada Lily, dia berjongkok dan bertanya, “Minggu depan aku boleh dateng lagi?”

Lily menatap kotak musik di tangannya. Lalu dia menoleh ke pintu kaca, ke teras belakang.

“Om Kacamata mana?”

“Om di belakang, Sayang,” kataku.

Lily tidak menjawab Reza. Dia berlari ke teras belakang.

Reza berdiri. Dia menatapku. Dia tidak terlihat kecewa. Dia terlihat seperti orang yang sabar. Orang yang tahu dia punya waktu.

“Minggu depan,” katanya padaku. “Kalau boleh.”

Aku tidak menjawab.


Malam itu, aku mengetuk pintu kamar Irvan. Dia membukanya.

Aku berdiri di ambang pintu dengan hoodie abu-abunya, yang akhirnya kupakai lagi setelah Reza pergi. Dia berdiri di depanku dengan kaus putih dan wajah yang lelah.

“Lily seneng tadi,” katanya sebelum aku sempat bicara. “Trik koin.”

“Kamu keluar.”

“Biar mereka kenalan.”

“Kamu nggak harus keluar.”

“Clara.” Dia tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke lesung pipi. “Itu papanya. Mereka perlu kenalan. Tanpa saya di tengah.”

“Kamu bukan di tengah. Kamu...”

Aku berhenti. Aku tidak tahu kata apa yang harus menyusul. Kamu bagian dari ini. Kamu keluarga. Kamu yang Lily pilih.

Kamu yang aku pilih.

“Mapnya,” kataku. “Udah kamu baca?”

Dia diam. Lalu menggeleng. “Belum.”

Aku menatapnya. Aku bisa mengatakannya sekarang. Pasal sembilan udah kuhapus. Kamu nggak perlu mundur. Nggak ada pasal yang nyuruh kamu pergi. Aku bisa mengatakannya di ambang pintu ini, dalam lima detik, dan semuanya akan jelas.

Tapi aku ingin dia membacanya sendiri. Aku ingin dia membuka map itu dan melihat Pasal 9: DIHAPUS dengan matanya sendiri, dan memilih sendiri. Aku tidak mau memaksanya tinggal. Aku tidak mau jadi perempuan yang menahan pria dengan kata-kata. Aku sudah pernah menahan pria dengan kata-kata, di pintu kedatangan bandara. Dan dia tetap tidak turun dari pesawat.

Aku ingin dia memilih.

“Baca, ya,” kataku. “Secepatnya.”

“Iya.”

Aku berjinjit dan mencium pipinya.

Dia tidak memerah.

Aku kembali ke kamarku dan berbaring dengan hoodie-nya. Di meja samping ranjang, dua gambar krayon Lily. Yang lama, dengan ruang kosong. Yang baru, dengan sosok berkacamata retak yang tersenyum miring ke kiri.

Aku memandangi yang baru lama sekali.

Senyum yang digambar Lily di wajah Om Kacamata miring ke kiri. Hanya satu garis melengkung. Tapi dia menggambarnya dengan tepat.

Tadi siang, di ruang tamu, Lily tertawa dengan senyum yang lain. Senyum lebar yang membuat pipinya terangkat tinggi. Senyum yang tidak pernah dia gambar di wajah siapa pun, karena dia tidak pernah tahu itu senyum siapa.

Sekarang dia tahu.