Chapter Two
Proyek P.A.P.A.
POV: Clara
Pukul enam lima belas pagi, Pak Karto sudah berdiri di samping mobil dengan kemeja batik yang disetrika sampai kaku. Dia sudah menyetir untuk keluarga Moris sejak aku SMP. Rambutnya sekarang lebih banyak putihnya daripada hitamnya, tapi dia masih memanggilku “Non” dengan nada yang sama seperti waktu aku menangis karena nilai ulangan matematikaku delapan.
“Pagi, Non. Si Neng masih sarapan?”
“Masih dibujuk Bi Inah makan telur.” Aku menyerahkan tas Lily padanya. “Pak, aku mau tanya.”
“Siap, Non.”
“Siapa Om Kacamata?”
Pak Karto menjatuhkan tas Lily.
Tas itu mendarat di paving dengan bunyi pelan, kotak bekal di dalamnya berderak. Pak Karto memungutnya dengan kecepatan yang tidak wajar untuk pria enam puluh dua tahun.
“Om... siapa, Non?”
“Om Kacamata. Kata Lily, kemarin dia menangis di minimarket sebelah sekolah bersama Om Kacamata.”
“Oh. Ooh. Itu.” Pak Karto mengelap tas yang tidak kotor. “Itu... orang baik, Non. Sering duduk di minimarket. Kerja pakai laptop. Neng suka ngobrol sama dia kalau Bapak telat jemput.”
“Pak Karto sering telat?”
“Jarang, Non! Jarang sekali. Cuma kalau macet di Fatmawati. Atau kalau ada galian. Atau kalau lampu merahnya lama.” Dia berhenti. “Jadi kadang-kadang, Non.”
Aku menatapnya. Pak Karto menatap ban mobil.
“Pak, Lily ngobrol dengan pria asing, dan aku baru tahu tadi malam?”
“Bukan asing, Non. Bu Ratna kenal. Gurunya Neng. Katanya orang itu pernah benerin wifi sekolah gratis. Duduknya juga persis di depan pagar, kelihatan dari pos satpam. Bapak juga pernah ngobrol. Orangnya sopan. Pakai celana tidur, tapi sopan.”
“Celana tidur.”
“Motif kotak-kotak, Non.”
Aku ingin bertanya lebih banyak. Tapi Lily muncul di pintu dengan kuncir dua yang miring dan sisa telur di pipi, lalu ponselku berbunyi dengan nama Sinta di layar. Pukul enam dua puluh. Jadwal hari ini sudah mulai menagihku.
“Nanti kita bahas lagi, Pak.”
“Siap, Non.” Dari cara Pak Karto menghembuskan napas, aku tahu dia berharap “nanti” itu tidak pernah datang.
Aku mencatatnya. Aku selalu mencatat hal-hal seperti itu.
Pukul sembilan tepat, Sinta berdiri di depan layar ruang rapat kecil di lantai dua puluh tiga. Pintunya dikunci. Tirainya diturunkan. Di meja ada dua gelas kopi dan sepiring kue lapis legit yang entah dari mana.
Layar menampilkan slide pertama dengan latar biru tua dan huruf emas:
PROYEK P.A.P.A.
Pendamping Anak, Pengganti Ayah
Rahasia — Hanya untuk Direktur
Di pojok kanan bawah ada logo. Logo yang dia buat sendiri, siluet pria menggandeng anak kecil di bawah payung.
“Kamu tidur jam berapa, Sin?”
“Tidur itu konsep yang relatif, Bu.” Dia menekan clicker. “Mari kita mulai.”
Slide dua: Latar Belakang Masalah. Ada diagram lingkaran berjudul “Penyebab Kesedihan Lily” dengan satu segmen merah besar bertuliskan “Kenzo (dan Ibunya)”.
“Sinta, ini tidak perlu.”
“Konteks penting, Bu. Investor selalu minta konteks.”
“Aku bukan investor.”
“Hari ini Ibu klien.” Klik. “Slide tiga. Kriteria Kandidat.”
Daftarnya panjang, dan sebagian besar kutulis sendiri tengah malam. Sinta menambahkan beberapa poin dengan huruf miring:
- Tidak alergi anak kecil
- Tidak alergi kucing (antisipasi Pak Mentega)
- Lolos tes Opa (catatan: belum ada manusia yang lolos tes Opa)
- TIDAK MENGINCAR BU CLARA (sangat sulit, lihat lampiran statistik)
“Lampiran statistik apa?”
“Nanti, Bu. Itu sensitif.” Klik. “Saya sudah menyaring dua puluh tiga profil dari jaringan kita, agensi talenta, dan satu kenalan dari grup arisan tante saya. Tiga kandidat terbaik menunggu di ruang tamu lantai dua puluh dua.”
Aku menaruh gelas kopi. “Mereka di sini? Sekarang?”
“Efisiensi, Bu. Ibu yang mengajari saya.”
Kandidat Pertama: Bayu Sasmita, 32 tahun, aktor teater.
Dia masuk dengan kemeja linen putih yang terbuka dua kancing dan rambut yang sengaja dibuat berantakan. Dia tidak duduk di kursi yang disediakan. Dia berdiri di tengah ruangan seperti ada lampu sorot di atasnya.
“Bu Clara.” Dia membungkuk dalam. “Saya sudah membaca brief-nya. Saya siap menjadi ayah.”
“Terima kasih, Pak Bayu. Silakan duduk.”
“Izinkan saya menunjukkan pendekatan saya dulu, Bu.”
Sebelum aku sempat menjawab, dia berlutut di lantai, merentangkan tangan ke arah kursi kosong di sebelahku, lalu berkata dengan suara bergetar, “Nak. Anakku. Maafkan Ayah yang terlambat. Ayah... ayah tersesat di dunia yang kejam, tapi hati Ayah selalu... selalu... di sini.”
Dia memukul dadanya. Air matanya jatuh. Air mata sungguhan. Aku terkesan dan ngeri di saat bersamaan.
Sinta mencatat sesuatu. Aku melirik tabletnya: Kemampuan menangis: 10/10. Risiko Lily trauma: 10/10.
“Pak Bayu,” kataku, “anak saya lima tahun.”
“Anak lima tahun juga berhak atas drama, Bu.”
“Terima kasih atas waktunya.”
Dia pergi sambil masih mengusap air mata. Di ambang pintu, dia berbalik. “Bu Clara, kalau posisi ayah tidak jadi, saya juga bisa jadi paman yang misterius.”
Kandidat Kedua: Rendy Hartawan, 29 tahun, model komersial.
Rendy tampan dengan cara yang seperti dicetak pabrik. Rahangnya tegas, kulitnya sempurna, dan senyumnya sudah terpasang sebelum dia melewati pintu. Dia duduk, menyilangkan kaki, lalu menatapku terlalu lama.
“Bu Clara. Wah. Saya kira Ibu... lebih tua.”
“Kenapa?”
“Direktur, kan biasanya...” Dia memberi isyarat samar di sekitar wajahnya. “Nggak secantik ini.”
Sinta mengetik keras-keras. Aku tidak perlu melihat untuk tahu apa yang dia tulis.
“Pak Rendy, posisi ini untuk anak saya. Pertanyaan pertama: apa yang Bapak tahu tentang anak lima tahun?”
“Oh, saya suka anak-anak. Saya punya keponakan.” Dia tersenyum. “Omong-omong, Bu, kalau kerja sama ini jalan, kira-kira boleh nggak saya bikin konten? Nggak usah sebut nama, cuma vibe aja. ‘Day in my life jadi papa sambung CEO.’ Engagement-nya pasti gila.”
“Kontraknya mengandung klausul kerahasiaan.”
“Oh, bisa diatur, Bu. Blur wajah.”
“Terima kasih atas waktunya.”
“Bu,” dia berdiri tapi tidak beranjak, “di luar urusan ini, boleh saya minta nomor pribadi Ibu? Buat ngopi aja. Santai.”
Sinta sudah berdiri dan membukakan pintu sebelum aku menjawab. Senyumnya yang sangat profesional itu lebih mengancam daripada satpam mana pun.
Setelah pintu tertutup, Sinta berkata, “Ini yang saya maksud dengan lampiran statistik, Bu.”
Kandidat Ketiga: Yusuf Rahmadi, 38 tahun, staf senior divisi keuangan Moris Investment.
“Kandidat internal?” Aku menatap Sinta.
“Keamanan data, Bu. Beliau sudah menandatangani NDA perusahaan. Duda tanpa anak. Rajin. Tidak pernah terlambat. Tidak punya akun media sosial. Rekam jejak bersih.”
Pak Yusuf masuk dengan langkah kaku, seperti orang yang dipanggil ke kantor kepala sekolah. Kemejanya biru muda, dasinya diikat terlalu kencang, dan keringat membasahi pelipisnya, padahal pendingin ruangan disetel dua puluh derajat.
“Se-selamat pagi, Bu Direktur.”
“Pagi, Pak Yusuf. Silakan duduk.”
Dia duduk di tepi kursi. Kakinya bergetar di bawah meja.
“Pak Yusuf sudah dijelaskan Sinta, apa yang kami cari?”
“Sudah, Bu. Sudah. Jadi... ayah. Untuk putri Ibu.” Dia menelan ludah. “Mohon maaf sebelumnya, Bu. Saya sangat menghormati keputusan Ibu. Saya... saya siap menjalankan tugas apa pun yang diberikan perusahaan.”
“Ini bukan tugas perusahaan, Pak. Ini pribadi.”
“Ba-baik, Bu.” Keringatnya bertambah. “Jadi, dalam kapasitas pribadi, apakah saya... apakah saya harus... menggandeng tangan Ibu?”
“Kadang-kadang, di depan sekolah.”
Pak Yusuf pucat. Pucat sungguhan, seperti darah turun dari wajahnya sekaligus.
“Menggandeng tangan Bu Direktur,” bisiknya. “Di depan umum.”
“Pak Yusuf, Bapak baik-baik saja?”
“Saya... Bu, mohon maaf, bolehkah saya minta air?”
Sinta memberinya segelas. Dia minum sampai habis, lalu meletakkan gelas dengan tangan gemetar.
“Bu Clara,” katanya. “Saya sudah bekerja di sini dua belas tahun. Setiap kali Ibu lewat di lantai dua puluh, kami semua pura-pura mengetik. Kemarin Ibu bilang ‘selamat pagi’ ke saya di lift, dan saya... saya salah menginput angka jurnal sampai tiga kali.” Dia menghela napas panjang. “Saya tidak sanggup, Bu. Mohon maaf. Kalau saya harus menggandeng tangan Ibu, saya takut pingsan di depan anak Ibu. Dan itu bukan contoh ayah yang baik.”
Aku menatapnya. Dia menatap meja. Itu jawaban paling jujur yang kudengar sepagi ini.
“Terima kasih, Pak Yusuf. Terima kasih atas kejujurannya.”
“Terima kasih, Bu.” Dia berdiri, membungkuk, dan hampir menabrak pintu kaca. “Laporan kuartal saya kirim sore ini, Bu. Tidak akan ada salah input.”
Pintu tertutup. Ruangan hening.
Sinta perlahan menutup tabletnya. “Bu, saya mengakui hari ini tidak berjalan sesuai proyeksi.”
Aku bersandar ke kursi dan memijat pelipis. “Satu menangis. Satu mau membuat konten. Satu mau pingsan.”
“Sebenarnya, Bu, statistik dua puluh tiga profil lainnya tidak jauh berbeda. Tujuh mengincar Ibu. Enam mengincar uang. Lima bertanya apakah kompensasinya termasuk mobil. Tiga tidak suka anak kecil tapi bilang ‘bisa belajar’. Dan dua,” dia berhenti, “dua menanyakan apakah Pak Hendra punya cucu perempuan lain yang lebih muda.”
“Sinta, kamu serius mau aku mendengar ini?”
“Transparansi, Bu.”
Aku memandang ke luar jendela. Jakarta terlihat abu-abu dari lantai dua puluh tiga. Mobil-mobil kecil berjalan lambat di jalan yang padat, dan di suatu tempat di bawah sana, Lily sedang duduk di kelas, mungkin di dekat Kenzo.
“Aku bodoh, ya,” kataku. “Menyewa ayah. Seperti menyewa gedung untuk acara.”
“Tidak, Bu.”
“Sinta.”
“Sedikit, Bu,” akunya. “Tapi yang bodoh bukan niatnya. Yang bodoh caranya.”
Aku menoleh.
Sinta memainkan ujung tabletnya, tiba-tiba tidak terlihat seperti sekretaris yang punya logo untuk segala hal.
“Bu, saya pernah jadi anak yang dibully karena bapak saya kerja jadi sopir angkot. Bukan karena tidak punya, tapi karena punya yang ‘kurang keren’. Dan yang bikin saya berhenti sedih bukan karena bapak saya berubah jadi keren. Tapi karena bapak saya datang ke sekolah, jemput saya, gendong saya di depan semua orang, terus bilang, ‘Ini anak Bapak yang paling pintar se-Jakarta Timur.’” Dia tersenyum kecil. “Saya nggak butuh bapak yang keren, Bu. Saya butuh bapak yang milih saya.”
Aku diam.
“Mungkin kita salah mulai, Bu. Kita mencari orang yang cocok untuk Ibu, untuk keluarga Moris, untuk kontrak. Harusnya kita cari orang yang sudah dipilih Lily.”
“Lily belum memilih siapa-siapa.”
“Yakin, Bu?”
Aku ingat. Kepala Lily di bahuku. Om Kacamata punya susu stroberi dua. Satu buat aku.
“Tidak mungkin,” kataku. “Itu orang asing di minimarket.”
“Yang pernah membetulkan wifi sekolah gratis, kata Pak Karto.”
“Kamu tahu soal itu?”
“Pak Karto menelepon saya tadi pagi, Bu. Beliau panik. Katanya Ibu menatap beliau seperti menatap auditor.” Sinta berhenti. “Beliau minta saya membantu menjelaskan. Tapi beliau juga tidak mau menjelaskan semuanya. Katanya ada hal yang takut beliau sampaikan.”
Aku menyipitkan mata. “Hal apa?”
“Itu yang beliau takut sampaikan, Bu.”
Siang itu aku membatalkan rapat pukul tiga dengan tim riset. Aku membatalkan telepon pukul empat dengan konsultan dari Hong Kong. Aku bilang pada Sinta aku sakit kepala, dan Sinta memandangku dengan wajah orang yang tahu persis aku berbohong, tapi tetap menyusun ulang semuanya tanpa protes.
“Pak Karto?” tanyanya.
“Tidak. Aku yang jemput.”
TK Pelangi Kecil ada di jalan kecil di belakang kawasan perkantoran Cilandak. Gedungnya dua lantai, dicat kuning dan biru muda, dengan mural pelangi yang mulai pudar di tembok depan. Tepat di sebelahnya ada minimarket dua puluh empat jam dengan logo yang sudah kukenal seumur hidup. Di teras minimarket itu ada dua bangku besi dan satu meja kecil yang catnya mengelupas.
Aku datang dua puluh menit lebih awal. Aku parkir di seberang jalan, di bawah pohon ketapang, karena entah kenapa aku tidak ingin langsung turun.
Anak-anak keluar pukul tiga lewat lima belas dengan tas warna-warni. Para ibu, pengasuh, dan beberapa ayah menjemput di gerbang. Aku melihat Bu Vanya dengan kacamata hitam besar dan tas yang harganya mungkin setara mobil Pak Karto, menarik tangan Kenzo tanpa menoleh ke kiri atau kanan.
Lily keluar paling akhir. Dia selalu paling akhir, karena dia selalu harus pamit ke semua mainan di kelas.
Tapi dia tidak menunggu di gerbang. Dia melambai pada seorang guru muda yang pasti Bu Ratna, lalu berlari kecil ke arah minimarket.
Ke arah bangku besi.
Di bangku itu duduk seorang pria.
Dari seberang jalan, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Yang kulihat hanya hoodie abu-abu yang sudah pudar, celana panjang motif kotak-kotak biru tua yang jelas celana tidur, sandal jepit, dan laptop terbuka di meja kecil. Rambutnya hitam dan berantakan, seperti baru bangun atau seperti tidak pernah sempat disisir. Cahaya sore memantul di sesuatu di wajahnya.
Kacamata.
Lily melompat ke bangku di sebelahnya. Pria itu menutup laptop, bukan melipatnya setengah, tapi menutupnya penuh, seolah apa pun yang ada di layar bisa menunggu. Dia mengambil sesuatu dari kantong plastik di bawah meja dan menyerahkannya pada Lily.
Susu kotak. Warna merah muda.
Lily bicara. Tangannya bergerak ke mana-mana, menggambar sesuatu di udara, kemudian menunjuk ke arah sekolah dan membuat wajah cemberut yang dilebih-lebihkan. Pria itu mendengarkan dengan kepala sedikit miring. Dia tidak mengecek ponsel, tidak melirik jam. Dia hanya mendengarkan.
Lalu dia mengatakan sesuatu.
Dan Lily tertawa.
Bukan tawa sopan, bukan tawa yang dia berikan pada Opa saat Opa berusaha melucu. Lily tertawa sampai membungkuk, sampai kakinya menendang-nendang udara dan susu kotaknya hampir jatuh. Tawa yang tidak pernah kudengar sejak... aku tidak ingat sejak kapan.
Pria itu ikut tertawa. Dari seberang jalan pun aku bisa melihat bahunya berguncang.
Aku duduk di mobil dengan tangan di setir. Mesinnya masih menyala. Pendingin udaranya berembus dingin di wajahku.
Aku menghabiskan satu pagi mewawancarai tiga pria untuk peran yang ternyata sudah terisi, oleh orang yang tidak pernah melamar.
Aku mematikan mesin.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A. reading
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres