← Papa Pinjaman

Chapter Eleven

Skakmat

POV: Irvan

Perpustakaan Opa Hendra Moris lebih mirip ruang sidang daripada perpustakaan.

Rak-rak kayu jati tinggi sampai langit-langit, penuh buku bersampul kulit yang punggungnya bertuliskan huruf emas. Karpet Persia merah tua. Lampu meja berkap hijau. Jam dinding antik yang detaknya terdengar seperti palu hakim. Dan di tengah ruangan, di atas meja kecil di antara dua kursi kulit berlengan, sebuah papan catur dari marmer hitam-putih dengan bidak-bidak yang terlihat lebih tua dari negara ini.

Kamis malam, pukul delapan kurang dua menit. Aku berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang kupakai untuk makan malam dan sepatu kulit cokelat yang sudah mulai membuat tumitku lecet.

“Masuk,” kata Opa tanpa menoleh.

Dia sudah duduk di kursi yang menghadap pintu. Tentu saja. Posisi yang bisa melihat siapa pun yang datang. Dia memakai kemeja batik cokelat tua dan kacamata baca, dan dia sedang menuang sesuatu dari teko porselen ke dua cangkir kecil.

“Teh,” katanya. “Bukan kopi. Kopi membuat orang terburu-buru.”

“Terima kasih, Pak.”

“Duduk.”

Aku duduk. Kursi kulit itu dingin dan terlalu empuk. Aku tenggelam sedikit lebih dalam dari yang kuharapkan, sehingga mataku sejajar dengan papan catur dan Opa terlihat lebih tinggi dari sebelumnya. Aku curiga itu disengaja.

“Putih atau hitam?”

“Terserah Bapak.”

“Saya tidak bertanya apa yang terserah saya. Saya bertanya apa yang kamu pilih.”

Aku menatap papan. “Hitam, Pak.”

Opa mengangkat alis sedikit. “Kenapa?”

“Putih jalan duluan. Saya lebih suka lihat dulu Bapak mau ke mana.”

Opa tidak menjawab. Dia memutar papan itu sehingga bidak putih ada di sisinya, lalu menggerakkan pion raja dua langkah ke depan.

Permainan dimulai.


Di balik pintu perpustakaan yang tidak sepenuhnya tertutup, aku mendengar bisik-bisik.

“Minggir, Dar, Oma nggak lihat.”

“Oma, jangan live! Jangan live!”

“Oma nggak live. Oma cuma rekam.”

“Nanti viral lagi!”

“Justru itu, Dar. Pengikut Oma harus tahu perkembangan.”

“Non Clara bilang jangan ganggu, Nya.”

“Bi Inah juga ngintip, kok.”

“Bibi mau antar kue.”

“Kuenya mana?”

“...Bibi lupa bawa.”

Opa menggerakkan kudanya. Dia tidak menoleh ke pintu. “Abaikan mereka. Mereka sudah melakukan ini sejak Darren SD.”

“Baik, Pak.”

“Clara tidak ikut mengintip?”

Aku berpikir. “Tidak, Pak. Saya rasa Bu Clara di kamarnya.”

“Hm.” Opa memandang papan. “Clara tidak pernah mengintip. Dia menunggu. Biasanya di ujung tangga, pura-pura membaca email.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku menggerakkan gajahku.


Opa bermain seperti dia berbicara: lambat, sedikit, dan setiap langkah berbobot. Dia tidak pernah menyerang lebih dulu. Dia membangun posisi, bidak demi bidak, sampai aku menyadari seluruh sisi kiriku sudah terkepung tanpa aku sempat melihat kapan itu terjadi.

Aku bermain seperti aku bekerja. Mencari celah. Mencari baris kode yang tidak terlindungi.

Di langkah kedua puluh, aku menemukannya. Benteng Opa di sisi kanan tidak dijaga. Kalau aku memindahkan menteriku ke sana, lalu mengorbankan satu kuda, dalam empat langkah aku bisa...

Aku berhenti.

Opa mengangkat mata dari papan. Dia melihat apa yang kulihat. Aku tahu dia melihatnya, karena sudut matanya bergerak, sangat sedikit, ke arah benteng itu.

“Kenapa berhenti?” tanyanya.

“Saya masih mikir, Pak.”

“Kamu sudah selesai berpikir tiga detik lalu. Sekarang kamu sedang memutuskan.”

Aku tidak menjawab.

“Memutuskan apakah kamu mau menang di rumah orang yang baru kamu kenal seminggu,” lanjut Opa dengan nada datar. “Atau kalah dengan sopan, supaya diundang lagi.”

Aku menatap papan. Menteriku. Benteng yang tidak dijaga.

Lalu aku menggerakkan pion kecil di sisi kiri. Langkah yang aman. Langkah yang tidak memenangkan apa pun.

Opa memandangiku lama. Lalu dia tersenyum. Aku belum pernah melihat Opa tersenyum. Senyumnya kecil, hanya di satu sudut bibir, dan aku tiba-tiba mengerti dari mana Bu Clara mendapat senyum yang sama.

“Kamu tahu kapan harus tidak lari,” katanya. “Darren cerita soal kiper.”

“Darren cerita ke Bapak?”

“Darren cerita ke semua orang. Dia kesal karena kalimat itu bagus dan bukan dia yang bilang.”


Langkah ketiga puluh. Opa mulai bicara lebih banyak, seolah permainan sudah cukup hangat untuk percakapan.

“Rumah ini dibangun tahun delapan puluh tujuh,” katanya sambil menggerakkan bentengnya. “Saya dan Lusiana. Waktu itu kami punya satu kantor kecil di Kota dan dua pegawai. Semua orang bilang kami gila membeli tanah di Pondok Indah.”

“Sekarang Bapak punya gedung di Sudirman.”

“Sekarang saya punya gedung di Sudirman,” Opa mengulangi, tanpa bangga. “Dan dua cucu yang sibuk, dan satu cicit yang dua minggu lalu menggambar keluarga tanpa papa.”

Tanganku berhenti di atas kudaku.

“Clara pikir saya tidak tahu,” kata Opa. “Saya tahu. Ratna, gurunya, adalah cucu teman saya. Semua yang terjadi di sekolah itu sampai ke saya. Termasuk seorang pria yang melompat dari bangku minimarket jauh sebelum itu.”

Aku menaruh kudaku di petak yang salah. Aku melihatnya sendiri setelah jariku melepaskannya, dan Opa juga melihatnya.

Opa tidak memakan kuda itu. Dia menggerakkan pion lain.

“Tanganmu gemetar,” katanya.

“Tehnya panas, Pak.”

“Kamu belum minum tehnya.”

Aku meminumnya. Tehnya dingin.


Langkah keempat puluh. Aku sudah kehilangan dua benteng, satu gajah, dan hampir seluruh harga diriku. Opa masih punya menteri, dua benteng, dan pion-pion yang maju pelan seperti pasukan yang tidak terburu-buru karena tahu kemenangan sudah milik mereka.

Satu pion hitamku, yang entah bagaimana selamat di tengah kekacauan, sudah sampai di baris ketujuh. Satu langkah lagi, dan dia sampai di ujung papan.

“Pion itu,” kata Opa, menunjuknya dengan ujung jari, “saya biarkan dari tadi.”

“Kenapa, Pak?”

“Karena saya penasaran kamu mau menjadikannya apa kalau sampai ujung.”

Dalam catur, pion yang mencapai ujung papan boleh berubah menjadi bidak apa pun. Hampir semua orang memilih menteri, bidak terkuat. Itu pilihan yang paling jelas.

“Menteri, Pak,” kataku. “Biasanya.”

“Biasanya,” ulang Opa. “Saya pernah bermain dengan seseorang yang selalu memilih menteri. Setiap kali. Tanpa berpikir.” Dia menyesap tehnya. “Dia bermain bagus. Terlalu bagus. Dia selalu tahu kapan harus mengorbankan bidaknya sendiri untuk menang. Bahkan ratunya.”

Aku tidak perlu bertanya siapa. Aku tahu dari cara suara Opa berubah. Tidak marah. Hanya lebih dingin, seperti ruangan yang AC-nya tiba-tiba dinaikkan.

“Suatu hari,” kata Opa, “dia mengorbankan sesuatu yang bukan bidak.”

Jam dinding berdetak. Satu. Dua. Tiga.

Di luar pintu, bisik-bisik sudah berhenti. Bahkan Oma diam.

“Jalankan pionmu,” kata Opa.

Aku menggerakkan pion itu ke ujung papan. Lalu aku mengambil bidak pengganti dari kotak di samping papan. Bukan menteri.

Kuda.

Opa memandangi kuda hitam kecil itu di ujung papan. Lalu memandangiku.

“Kuda,” katanya. “Bukan menteri.”

“Menteri nggak bisa nyelamatin raja saya dari posisi itu, Pak. Kuda bisa. Dia bisa lompat.”

Opa menatap papan. Lima detik. Sepuluh. Lalu dia melepas kacamata bacanya dan memijat pangkal hidung.

“Kamu kalah dalam enam langkah,” katanya. “Tapi kalau kamu pilih menteri, kamu kalah dalam tiga.”

“Iya, Pak.”

“Kamu memilih kalah lebih lambat.”

“Saya memilih masih bisa ngelindungin raja saya sedikit lebih lama, Pak.”

Opa memasang kacamatanya lagi. Dia tidak bicara lama. Lalu dia menggerakkan menterinya, dan enam langkah kemudian, persis seperti yang dia ramalkan, rajaku terkepung tanpa jalan keluar.

“Skakmat,” katanya.

“Selamat, Pak.”

Opa bersandar ke kursi kulitnya. Dia menatapku dari balik kacamata, dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk rumah ini, tatapannya tidak terasa seperti sedang menghitung harga.

“Kamu main bagus,” katanya, “untuk orang yang disewa.”

Darah di tubuhku berhenti mengalir.

Aku menatapnya. Opa menatapku balik dengan wajah tenang, sama sekali tidak berubah, seolah dia baru saja mengomentari cuaca.

Disewa. Dia bilang disewa.

Otakku berlari ke seratus arah sekaligus. Apakah dia tahu? Dari mana? Lily? Sinta? Kafe Seduh Sembilan? Atau “disewa” hanya kiasan, karena aku datang ke rumah ini sebagai orang luar yang “dipakai” untuk membuat Clara bahagia?

“Maaf, Pak?”

“Kamu main bagus,” ulang Opa, dengan nada yang persis sama, “untuk orang yang disewa oleh papan catur ini. Kamu baru pertama kali main di sini. Papannya berat. Bidaknya dingin. Biasanya orang baru kalah dalam dua puluh langkah.”

“Oh.”

“Kenapa? Kamu kira saya bilang apa?”

“Nggak, Pak. Saya kira... nggak.”

Opa mengumpulkan bidak-bidak satu per satu dan menatanya kembali di papan. Pelan. Teliti. Putih di sisinya, hitam di sisiku.

“Pion itu,” katanya tanpa melihatku, sambil meletakkan pion hitam kecil di barisnya, “yang saya biarkan sampai ujung. Pion itu bidak paling murah di papan. Semua orang menganggapnya bisa dikorbankan. Disewa, kalau kamu mau istilah yang lebih modern.” Dia menegakkan pion itu dengan ujung jarinya. “Tapi pion yang sampai ujung papan bisa menjadi apa saja.”

Dia mengangkat mata.

“Apa saja,” ulangnya. “Kalau dia tidak mundur di tengah jalan.”

Aku tidak bisa bicara.

Opa berdiri. Dia menepuk bahuku satu kali, seperti tepukan di bahu Oma saat makan malam, lalu berjalan ke pintu. Dia membukanya dengan satu tarikan. Oma, Darren, dan Bi Inah jatuh ke dalam, bertumpukan di atas karpet Persia.

“Kamis depan,” kata Opa, melangkahi mereka tanpa menunduk. “Jam delapan.”


Oma bangkit dengan ponsel masih di tangan, masih merekam. Darren bangkit sambil menggosok siku. Bi Inah bangkit dan langsung menghilang ke dapur, pura-pura tidak ada di sana.

“Nak Irvan,” kata Oma dengan mata berbinar, “kamu diajak lagi!”

“Diajak lagi, Oma?”

“Hendra nggak pernah ngajak orang main dua kali. Darren aja diajak sekali tahun dua ribu delapan belas, terus nggak pernah lagi.”

“Gue kalah dalam dua belas langkah,” gumam Darren. “Dan gue nangis.”

“Kamu tujuh belas tahun, Dar.”

“Tetap aja.”

Darren memandangiku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. Campuran antara curiga, kesal, dan sesuatu yang lain, sesuatu yang hampir terlihat seperti hormat.

“Lo sengaja kalah,” katanya.

“Nggak.”

“Lo lihat bentengnya di langkah dua puluh. Gue lihat muka lo.”

“Saya... nggak yakin itu bakal berhasil.”

“Lo yakin.” Darren menyipitkan mata. “Lo kiper. Kiper tahu kapan bolanya masuk.”

Dia pergi ke kamarnya tanpa menunggu jawaban. Tapi di tangga, dia menoleh dan berkata dengan nada yang jauh lebih rendah: “Sabtu. Futsal. Jam tujuh pagi. Lo kiper di tim gue.”


Bu Clara duduk di anak tangga paling atas.

Persis seperti yang Opa bilang. Laptop di pangkuan, layar terbuka, jari-jari di atas keyboard tapi tidak mengetik. Dia memakai kaus oversized abu-abu malam ini dan celana piyama bermotif garis-garis kecil. Rambutnya digerai, sedikit basah di ujung, seperti baru selesai mandi. Wangi sampo dan vanila turun dari puncak tangga dan menyambutku bahkan sebelum aku sampai di anak tangga ketiga.

Dia mengangkat mata dari laptop. Pura-pura terkejut, dan tidak meyakinkan sama sekali.

“Oh. Sudah selesai?”

“Ibu dari tadi di sini?”

“Aku baca email.”

“Layarnya mati, Bu.”

Dia menatap laptopnya. Layar itu memang gelap, mode tidur, mungkin sudah sepuluh menit. Dia menutupnya dengan pelan dan tidak berusaha membela diri.

“Kamu menang?” tanyanya.

“Kalah.”

“Bagus.” Dia meletakkan laptop di anak tangga. “Kalau kamu menang, Opa nggak akan ngajak lagi. Opa nggak suka kalah dari orang yang belum dia percaya.”

“Opa ngajak lagi. Kamis depan.”

Dia berhenti bergerak. Matanya melebar sedikit, lalu menyipit, seolah mencoba menghitung angka yang tidak cocok.

“Opa... ngajak lagi.”

“Katanya jam delapan.”

Bu Clara memandangiku lama. Lalu dia menepuk anak tangga di sebelahnya. Satu kali. Undangan.

Aku duduk. Tangganya sempit. Bahuku menyentuh bahunya, dan tidak ada ruang untuk menjauh kecuali aku mau duduk setengah menggantung di udara.

“Apa katanya?” tanyanya pelan.

Aku memikirkan pion yang sampai ujung papan. Tentang pria yang selalu memilih menteri dan tahu kapan harus mengorbankan ratunya. Tentang “disewa”, yang katanya hanya soal papan catur.

Aku memikirkan pasal sembilan.

“Katanya saya main bagus,” jawabku, “untuk orang baru.”

Dia tidak percaya. Aku bisa melihatnya dari cara dia memiringkan kepala, sedikit, persis seperti waktu dia pertama kali membaca angka kompensasi yang kupotong setengah. Tapi dia tidak menekan.

“Opa nggak pernah bilang orang main bagus,” katanya. “Seumur hidup aku, Opa cuma bilang dua hal soal catur. ‘Lagi’ atau ‘cukup’.”

“Tadi dia bilang dua-duanya nggak.”

“Terus?”

“Dia bilang ‘kamis depan’.”

Bu Clara tertawa pelan, tawa yang dia tahan di balik punggung tangan, tawa keempat yang kuhitung sejak aku datang ke rumah ini. Atau kelima. Aku mulai kehilangan hitungan, dan itu membuatku khawatir.

Lalu dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

Tidak ada alasan. Tidak ada Bu Vanya di jam dua belas. Tidak ada Opa yang mengawasi dari kepala meja. Tidak ada pasal lima yang bisa dipakai sebagai perisai. Hanya tangga yang sepi, lampu lorong yang temaram, dan kepala yang berat dan hangat di bahuku, wangi sampo dan vanila.

Aku berhenti bernapas.

“Aku capek,” katanya pelan, tanpa mengangkat kepala. “Rapat dari jam tujuh pagi. Jangan geser.”

“Saya... nggak geser, Bu.”

“Clara.”

“...Nggak geser.”

Dia tidak menyuruhku memanggil namanya lagi. Dia hanya diam, dengan kepala di bahuku, dan napasnya melambat.

Di bawah kami, di ujung lorong, aku melihat pintu perpustakaan yang terbuka sedikit. Lampu di dalamnya masih menyala. Di balik celah pintu itu, aku melihat Opa duduk di kursi kulitnya, sendirian, memandangi papan catur. Tangannya memegang satu bidak.

Pion hitam kecil.

Dia memutarnya pelan di antara jari-jarinya, lalu menaruhnya di ujung papan. Di baris terakhir.

Lalu dia mematikan lampu.