← Papa Pinjaman

Chapter Thirteen

Jam Tiga Pagi

POV: Clara

Aku terbangun pukul dua lewat empat puluh tujuh karena mimpi yang tidak bisa kuingat, dengan perasaan yang terlalu kukenal.

Perasaan jatuh dari tempat tinggi. Perasaan menunggu telepon yang tidak berdering.

Aku duduk di ranjang dalam gelap dan meraih ponsel. Kesalahan. Aku tahu itu kesalahan bahkan saat jariku menyentuh layar, tapi aku tetap melakukannya, seperti orang yang tahu tidak boleh menggaruk luka tapi tetap menggaruk.

Satu notifikasi dari aplikasi profesional yang jarang kubuka. Seorang teman kuliah, yang sekarang bekerja di Kanada, membagikan sebuah unggahan. Selamat untuk kolega kami, Reza Adhitama, atas pengangkatannya sebagai Vice President of Strategic Partnerships!

Di bawahnya ada foto.

Reza berdiri di depan gedung kaca dengan salju tipis di latar belakang. Jas abu-abu, dasi biru. Rambutnya lebih pendek dari yang kuingat. Wajahnya lebih tirus. Senyumnya sama persis. Senyum yang sama yang kulihat setiap kali Lily tertawa, dan yang tidak pernah bisa kupisahkan dari wajah anakku.

Lima tahun. Dia tidak pernah bertanya soal Lily. Tidak sekali pun. Tapi dia punya waktu untuk berfoto di depan gedung kaca dengan salju.

Aku mematikan ponsel dan melemparnya ke ujung ranjang.

Tenggorokanku kering. Dadaku sesak. Kamarku terlalu gelap dan terlalu sunyi, dan suara AC terlalu keras.

Aku turun ke dapur.


Lampu dapur menyala.

Bukan lampu utama yang terang. Hanya lampu kecil di atas meja dapur, lampu gantung dengan kap kuning yang biasanya dipakai Bi Inah untuk memotong sayur di pagi buta. Cahayanya hangat dan redup, menerangi satu lingkaran kecil di atas meja kayu panjang.

Di tengah lingkaran itu, Irvan.

Dia duduk di kursi tinggi dengan laptop terbuka, headset di satu telinga, dan kacamata yang merosot sedikit di hidungnya. Hoodie abu-abu. Celana tidur motif awan. Kakinya telanjang, bertumpu di palang kursi. Di sebelah laptopnya ada cangkir kopi sachet yang sudah setengah dingin, kotak susu stroberi yang sudah kosong, dan sepiring biskuit kelapa yang tinggal remah.

Dia sedang mengetik dengan cepat, bibirnya bergerak tanpa suara, seperti orang yang berdoa atau menghitung. Di layar, baris-baris kode bergerak turun.

Dia tidak melihatku. Aku berdiri di ambang pintu dapur dan memandanginya.

Aku sudah melihat pria ini di bangku minimarket, di ruang rapatku, di meja makan Opa, di aula TK dengan kursi plastik hijau. Tapi aku belum pernah melihatnya seperti ini: sendirian, di tengah malam, bekerja untuk orang-orang di benua lain. Keningnya sedikit berkerut. Tidak ada senyum miring, tidak ada lesung pipi. Hanya konsentrasi penuh, seperti pisau yang diasah.

Dia tidak terlihat seperti Om Kacamata. Dia terlihat seperti seseorang yang sangat, sangat pintar, dan tidak peduli apakah ada yang tahu.

Lalu dia menguap. Menguap lebar sekali, sampai kacamatanya merosot lebih jauh dan hampir jatuh. Dia menangkapnya di detik terakhir dengan refleks yang mengagumkan, memasangnya lagi, lalu menggaruk kepala sampai rambutnya berdiri di dua arah berbeda.

Pisau itu kembali jadi Om Kacamata.

Aku tertawa pelan. Tidak sengaja.

Dia mendongak. Matanya melebar di balik lensa.

“Bu?” Dia melepas headset. “Kok bangun?”

“Haus.” Aku berjalan ke dalam lingkaran cahaya kuning. “Kamu?”

“Rotterdam. Deploy jam tiga. Mereka suka deploy pas orang Indonesia tidur.”

“Kasihan.”

“Saya udah biasa.”

Aku mengambil gelas dari rak dan mengisinya dengan air. Aku minum sambil berdiri, bersandar di meja dapur di seberangnya. Dia memandangiku dari balik laptop, lalu memandang laptopnya, lalu memandangiku lagi.

“Ibu nggak apa-apa?”

“Kenapa?”

“Mata Ibu merah.”

Aku tidak menjawab. Aku menaruh gelas di meja.

Dia menutup laptop.

Tidak setengah. Penuh. Persis seperti waktu Lily datang ke bangku minimarket.

“Rotterdam?” tanyaku.

“Rotterdam bisa nunggu lima menit.” Dia turun dari kursi tinggi. “Ibu mau makan?”

“Jam tiga pagi?”

“Jam tiga pagi itu jam makan paling jujur, Bu. Nggak ada yang lihat.”


Dia membuat mi instan.

Aku duduk di kursi tinggi yang tadi dia tempati, dengan lutut ditekuk ke dada dan kaus oversized yang kutarik menutupi kaki, memandanginya bergerak di dapur Bi Inah seolah dapur itu miliknya. Dia tahu di mana panci kecil disimpan. Dia tahu di mana Bi Inah menyembunyikan stok mi instan, di belakang kaleng tepung, di rak paling atas, tempat yang bahkan aku tidak tahu.

“Bi Inah kasih tahu kamu?”

“Bi Inah nyembunyiinnya dari Darren. Tapi Darren tahunya dari saya.”

“Kamu mengadu?”

“Saya barter. Darren kasih tahu password wifi tamu yang lebih cepat.”

Dia memecahkan telur ke dalam panci dengan satu tangan. Tangan yang sama yang tadi mengetik kode dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dia mengaduk pelan, lalu memotong daun bawang dengan pisau Bi Inah, lalu menaburkan cabai rawit yang dia ambil dari kulkas.

“Pedas?”

“Aku orang Moris. Pedas itu golongan darah kami.”

Dia tersenyum miring ke kiri. Lesung pipi.

Mi itu disajikan dalam satu mangkuk besar. Satu. Dengan dua garpu.

“Cuma satu mangkuk?” tanyaku.

“Mangkuk kecilnya di rak atas. Saya takut bangunin Bi Inah kalau buka lemarinya. Pintunya bunyi.”

“Kita makan dari mangkuk yang sama.”

“Kalau Ibu keberatan, saya...”

“Aku nggak bilang keberatan.”

Kami makan dari mangkuk yang sama, di bawah lampu kuning, di jam tiga pagi. Uapnya naik ke wajah kami. Kacamatanya berembun, dan dia melepasnya, meletakkannya di meja di sebelah laptop.

Dia makan dengan cepat, seperti orang yang terbiasa makan sendirian di depan layar. Aku makan dengan lambat. Setelah beberapa suap, dia berhenti dan menggeser mangkuk sedikit ke arahku, sehingga telurnya ada di sisiku.

“Telurnya buat Ibu.”

“Kamu yang masak.”

“Makanya saya yang nentuin telurnya buat siapa.”

Aku memotong telur itu jadi dua dengan garpu. Setengah untukku, setengah kudorong ke sisinya.

“Aku yang punya dapur,” kataku. “Aku yang nentuin telurnya dibagi.”

Dia memandangi telur setengah itu. Lalu memandangku. Tanpa kacamata, matanya tidak fokus, sedikit sayu, dan jauh lebih lembut dari yang seharusnya diizinkan untuk seorang pria di jam tiga pagi.

“Ibu keras kepala,” katanya.

“Direktur. Deskripsi pekerjaan.”


“Reza,” kataku.

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Mi sudah habis. Mangkuk kosong di antara kami. Lampu kuning berdengung pelan. Nama itu keluar begitu saja, seperti batu kecil yang jatuh dari saku.

Irvan tidak bertanya siapa. Dia diam dan menunggu.

“Ayahnya Lily. Aku lihat fotonya tadi. Dia dipromosikan. Di Kanada.” Aku memutar garpu di antara jariku. “Dia kelihatan baik-baik saja. Bahagia, mungkin.”

“Ibu... masih...”

“Nggak.” Aku menjawab terlalu cepat. Aku menarik napas dan menjawab lagi, lebih pelan. “Nggak. Bukan itu. Aku nggak kangen dia. Aku cuma... marah. Masih. Setelah lima tahun.”

“Marah itu boleh, Bu.”

“Aku marah bukan karena dia pergi.” Garpu di tanganku berhenti berputar. “Aku marah karena dia nggak pernah nanya. Sekali pun. Soal Lily. Apa dia sehat. Siapa namanya. Wajahnya kayak siapa. Dia pergi waktu aku hamil tiga bulan. Dia bilang cuma dua bulan, pulang sebelum perutku besar, lalu kita berangkat sama-sama. Aku nungguin di bandara waktu pesawat yang katanya dia naiki mendarat. Dia nggak ada di pesawat itu.”

Irvan tidak bergerak.

“Aku melahirkan Lily sendirian. Opa di Tokyo. Pak Karto nungguin di luar ruang bersalin empat belas jam. Aku kirim foto Lily ke Reza waktu dia umur satu hari. Terbaca. Nggak dibalas.” Aku menatap mangkuk kosong. “Setahun kemudian pengacaranya datang bawa surat cerai. Di surat itu, nama Lily ditulis salah. Lilia. Bukan Lilyana.”

Aku berhenti. Aku tidak pernah menceritakan bagian terakhir itu pada siapa pun. Bahkan pada Sinta.

Irvan mengulurkan tangan di atas meja. Dia tidak menyentuhku. Dia meletakkan tangannya di meja kayu, di dekat tanganku, telapak menghadap ke atas. Seperti waktu dia meminta setengah gambar dari Kenzo di gerbang sekolah. Terbuka. Menunggu.

Aku meletakkan tanganku di atas tangannya.

“Ayah saya juga pergi,” katanya pelan. “Waktu saya tiga tahun. Saya nggak inget mukanya. Ibu bilang dia pergi ke Kalimantan, kerja tambang. Nggak pernah kirim kabar.”

Aku menunggu.

“Terus waktu saya sepuluh tahun, dia pulang.” Ibu jarinya bergerak sedikit, mengusap punggung tanganku, satu kali. “Dua tahun di rumah. Terus pergi lagi.”

“Kenapa?”

“Nggak tahu. Saya nggak pernah nanya. Saya nggak mau tahu.” Dia tersenyum tipis, tanpa lesung pipi. “Saya cuma tahu, kalau ada orang pergi, biasanya ada yang lebih penting di tempat lain. Dan yang ditinggal nggak termasuk yang penting.”

“Itu nggak benar.”

“Mungkin.” Dia menatap tanganku di atas tangannya. “Tapi rasanya begitu.”

Ada sesuatu yang dia tidak ceritakan. Aku bisa merasakannya, seperti ruang kosong di gambar keluarga Lily. Ruang yang ditinggalkan untuk seseorang. Tapi aku tidak bertanya. Jam tiga pagi punya aturan sendiri, dan salah satunya adalah kau tidak memaksa pintu yang belum mau dibuka.


Aku mengambil kacamatanya dari meja.

Dia mengerjap ke arah tanganku. “Bu?”

“Berembun.” Aku menarik ujung kausku dan membersihkan lensanya. Pelan. Hati-hati di bagian yang retak. Seperti di parkiran TK kemarin sore.

“Ibu udah bersihin kemarin.”

“Berembun lagi.”

“Karena mi.”

“Aku tahu.” Aku terus membersihkan, meskipun lensanya sudah bersih. “Kamu tahu nggak, kamu kelihatan lain tanpa kacamata.”

“Lain gimana? Jelek?”

“Lebih muda. Kayak anak kuliahan yang nyasar ke dapur orang kaya.”

“Saya memang nyasar ke dapur orang kaya.”

“Tapi kamu nggak kelihatan kayak orang nyasar.” Aku mengangkat kacamata itu ke arah cahaya, memeriksanya, meskipun tidak ada yang perlu diperiksa. “Kamu kelihatan kayak orang yang tahu jalan pulang.”

Dia diam.

Aku tidak mengembalikan kacamatanya. Aku memegangnya di pangkuan, di atas lututku yang tertekuk, dan menatapnya dari seberang meja.

“Bu, kacamata saya...”

“Nanti.”

“Saya nggak bisa lihat Ibu.”

“Bagus,” kataku. “Jadi kamu nggak bisa lihat aku merah.”

Dia berhenti bernapas. Aku melihatnya. Dadanya yang naik-turun di balik hoodie tiba-tiba berhenti di tengah jalan.

“Ibu... merah?”

“Kamu nggak bisa lihat. Jadi kamu nggak akan pernah tahu.”

“Bu Clara...”

“Aku juga nggak akan bilang.”

Dia mencondongkan tubuh ke depan, sedikit, menyipitkan mata, mencoba melihatku. Wajahnya mendekat ke lingkaran cahaya kuning. Aku bisa melihat bulu matanya, lebih panjang dari yang pantas untuk seorang pria. Bekas lecet samar di tulang pipinya, sisa jatuh di trotoar waktu menyelamatkan Lily. Lesung pipi yang tidak muncul karena dia sedang tidak tersenyum. Dia sedang berusaha keras melihat.

Dan dia sudah sangat dekat.

Aku mencondongkan tubuh juga. Sedikit. Cukup untuk membuat lingkaran cahaya kuning itu menyempit di antara kami.

“Sekarang kelihatan?” bisikku.

“Masih buram.”

“Yang mana yang buram?”

“Semuanya.” Suaranya serak. “Kecuali...”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Matanya berhenti di satu titik di wajahku. Aku tahu titik mana. Di dekat sudut bibir kiri. Satu titik gelap kecil yang tidak bisa kututupi dengan apa pun.

“Kecuali?”

“Kecuali yang itu,” katanya. “Yang itu selalu kelihatan.”

Jantungku melakukan sesuatu yang tidak ada di laporan kesehatan tahunan mana pun.

Aku mengangkat kacamatanya dan memasangkannya kembali di wajahnya. Pelan. Dari depan. Gagangnya kususupkan ke balik telinganya yang panas, satu per satu. Lensanya jatuh tepat di depan matanya, dan untuk sesaat dia berkedip-kedip, menyesuaikan diri, lalu melihatku dengan jelas.

Aku merah. Aku tahu aku merah. Aku bisa merasakan panasnya dari pipi sampai telinga.

Dan sekarang dia bisa melihatnya.

Dia menatapku. Aku menatapnya balik. Tidak ada yang berkedip.

“Ternyata,” katanya pelan, “Ibu memang merah.”

“AC,” kataku. “Fluktuatif.”

Dia tertawa. Tawa yang ditahan, bahu yang berguncang, kepala yang menunduk sampai dahinya hampir menyentuh meja. Aku ikut tertawa. Kami tertawa di jam tiga pagi di dapur Bi Inah seperti dua orang bodoh, dengan suara yang ditahan-tahan supaya tidak membangunkan siapa pun, dan itu justru membuat tawanya lebih sulit dihentikan.


Laptopnya berbunyi. Rotterdam.

Dia mengusap mata dan membuka laptop dengan wajah menyesal. “Maaf, Bu. Deploy-nya...”

“Kerja.” Aku turun dari kursi tinggi. “Aku tidur.”

“Selamat tidur, Bu.”

Aku berjalan ke kulkas dan membukanya. Di rak paling bawah, sejajar dengan tinggi anak lima tahun, berjajar susu kotak stroberi yang dibeli Bi Inah untuk Irvan. Mungkin dua puluh kotak.

Aku mengambil satu.

“Itu punya Lily, Bu,” kata Irvan dari balik laptop, tanpa menoleh.

“Ini punya kamu. Bi Inah belinya buat kamu.”

“Ibu nggak suka susu stroberi.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Ibu nggak pernah minum. Dari hari pertama saya di sini.”

Aku menusuk sedotan ke kotak itu dan menyedotnya. Manis. Terlalu manis. Rasa buatan, seperti permen karet yang dicairkan. Rasa yang sama sekali tidak cocok untuk perempuan tiga puluh tahun yang minum kopi hitam tanpa gula setiap pagi.

“Hm,” kataku.

Irvan menoleh. “Gimana?”

Aku menyedotnya lagi. Aku memandanginya dari ambang pintu dapur, dengan kotak susu merah muda di tangan, kaus oversized, dan rambut yang berantakan.

“Ternyata enak,” kataku.

Dia menatapku lama. Lalu dia tersenyum, miring ke kiri, dengan lesung pipi, dan kembali ke laptopnya tanpa berkata apa-apa.

Aku naik ke kamar. Aku berbaring di ranjang dengan susu kotak di tangan dan lampu tidur mati.

Aku tidak mengambil ponsel lagi. Aku tidak melihat foto gedung kaca dan salju itu lagi.

Aku hanya menyedot susu stroberi sampai habis, pelan-pelan, di dalam gelap, sampai kotaknya kempis dan berbunyi.

Lalu aku tidur sampai pagi tanpa mimpi.