Chapter Twenty Two
Yang Tidak Setara
POV: Irvan
Setelah Bu Clara dibawa pergi oleh Nyonya Santoso, aku kembali ke meja keluarga dan duduk di sebelah Lily.
Lily sudah tertidur di kursinya dengan kepala bersandar di lengan Oma dan pita merah bata yang sudah miring. Oma sedang mengobrol dengan tiga ibu-ibu seusianya tentang cara membuat tulisan bergerak di video. Darren di meja sebelah, dikelilingi dua perempuan muda yang tertawa terlalu keras mendengar ceritanya. Opa di meja utama, dikelilingi pria-pria berjas yang membungkuk sedikit setiap kali bicara padanya.
Aku duduk sendirian dengan tuksedo tiga bulan gaji dan dasi kupu-kupu yang kubeli sendiri, dan tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku.
Dari seberang ruangan, aku melihat Bu Clara. Dia berdiri di dekat pilar marmer dengan Nyonya Santoso dan seorang pria muda berjas biru tua yang tinggi, rapi, dan tersenyum dengan gigi yang terlalu putih. Anak teman Nyonya Santoso, yang baru pulang dari Harvard. Dia bicara dengan tangan yang bergerak lancar, seperti orang yang terbiasa presentasi di depan investor. Bu Clara mendengarkan dengan wajah sopan dan segelas air putih di tangan.
Pria itu memegang lengannya sebentar untuk menekankan sesuatu. Bu Clara tidak menarik lengannya, tapi dia juga tidak tersenyum.
Aku mengalihkan pandangan.
Gaun merah bata. Rambut yang disanggul longgar. Leher jenjang yang telanjang. Belahan di sisi kiri yang memperlihatkan kakinya setiap kali dia melangkah. Di sebelah pria berjas biru tua dari Harvard, dia terlihat seperti foto sampul majalah bisnis.
Di sebelahku, di bangku minimarket, dia terlihat seperti... aku tidak tahu. Seperti sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Aku berdiri dan pergi ke toilet.
Toilet pria di lantai ballroom Hotel Mulia lebih mewah dari kontrakanku dulu. Marmer putih, keran emas, handuk kecil yang digulung rapi di keranjang rotan, dan wangi pengharum ruangan yang mahal. Aku membasuh wajah dengan air dingin dan menatap pantulanku di cermin.
Pria di cermin itu tampan. Aku tidak biasa berpikir begitu tentang diriku sendiri, tapi malam ini, di cermin dengan lampu yang dirancang untuk membuat semua orang terlihat bagus, aku bisa melihatnya. Rahang yang dicukur. Rambut yang disisir rapi. Tuksedo yang dijahit tangan oleh penjahit tua yang sudah menjahit untuk tiga generasi keluarga Moris.
Tapi pria di cermin itu bukan aku. Pria di cermin itu kostum.
Aku melepas kacamata dan mengusap mata. Tanpa kacamata, pria di cermin itu buram. Lebih mirip aku.
Aku keluar dari toilet dan berjalan kembali ke ballroom lewat koridor samping yang lebih sepi. Koridor itu melewati sebuah ruang tunggu kecil dengan sofa beludru dan cermin besar, tempat tamu-tamu perempuan merapikan riasan. Pintunya terbuka sedikit.
Aku mendengar suara Nyonya Santoso.
Aku tidak berniat menguping. Aku berniat terus berjalan. Tapi aku mendengar namaku. Bukan namaku. Hoodie-ku.
“...si hoodie itu. Kalian lihat, kan?”
Aku berhenti.
“Lihat, Jeng. Ganteng juga ternyata kalau pakai tuksedo.”
“Ganteng, iya.” Nyonya Santoso tertawa kecil. Tawa yang manis seperti sirup. “Tapi tuksedonya Pak Liem, kan? Kelihatan dari jahitannya. Liem cuma jahit buat keluarga Moris sama tiga keluarga lain. Yang bayar siapa, coba?”
Tawa dari beberapa perempuan lain. Tiga, mungkin empat.
“Freelance,” kata suara lain. “Katanya freelance IT. Kerja di minimarket. Minimarket, Jeng.”
“Ya ampun.”
“Clara itu memang dari dulu aneh. Dulu Reza, setidaknya S2 Wharton. Keluarganya jelas. Sekarang?” Nyonya Santoso berhenti, seolah menikmati jeda itu. “Sekarang dia beli pacar.”
Aku berdiri di koridor. Aku tidak bergerak. Aku menahan napas.
“Beli?”
“Ya apa lagi namanya? Pria muda, nggak punya apa-apa, tiba-tiba tinggal di rumah Hendra Moris. Pakai tuksedo Liem. Diajak ke pesta. Dikenalin ke semua orang.” Suara Nyonya Santoso turun, jadi lebih akrab, lebih berbisa. “Simpanan berhoodie. Itu istilah yang pas, kan?”
Tawa meledak. Keras. Sampai ada yang tersedak.
“Simpanan berhoodie! Ya ampun, Jeng Santi, jahat!”
“Bukan jahat, jujur.” Nyonya Santoso terdengar senang. “Coba pikir. Janda. Anak lima tahun. Nggak punya ayah. Di sekolah dibully, kabarnya. Terus apa yang dilakukan orang kaya kalau anaknya butuh sesuatu?”
“Dibeli?”
“Dibeli.” Nyonya Santoso tertawa lagi. “Clara nggak butuh suami. Dia butuh status. Buat anaknya. Buat pesta-pesta kayak gini. Supaya nggak ada lagi yang ngomongin dia janda ditinggal. Dan pria itu...” Dia berhenti. “Pria kayak gitu mah senang-senang aja. Tinggal di Pondok Indah, makan enak, dipakein tuksedo. Nanti kalau Clara udah bosan, atau udah nemu yang selevel, ya dibuang. Kayak hoodie-nya.”
“Kasihan juga, ya.”
“Kasihan apanya? Dia dapat untung. Semua orang dapat untung. Clara dapat status, anaknya dapat papa, pria itu dapat duit.” Suara botol parfum disemprotkan. “Namanya juga transaksi.”
Transaksi.
Aku berbalik dan berjalan. Tidak ke ballroom. Ke arah yang berlawanan. Ke pintu kaca di ujung koridor yang menuju taman hotel.
Taman hotel sepi dan gelap, diterangi lampu-lampu kecil di antara semak-semak dan pohon kamboja. Ada kolam dangkal dengan air mancur kecil yang berbunyi pelan. Ada bangku batu di bawah pohon besar.
Aku duduk di bangku itu. Tuksedo Pak Liem kusut di bagian punggung. Dasi kupu-kupu yang kubeli sendiri terasa seperti tali di leherku. Aku melepasnya dan menggenggamnya.
Simpanan berhoodie.
Aku sudah pernah dihina. Waktu kecil, anak-anak di kampung memanggilku “anak Om”, karena yang datang ke rapat sekolah Om Darto, bukan bapakku. Waktu kuliah, aku kerja paruh waktu di warnet dan beberapa teman sekelas memanggilku “operator”. Di kantor pertamaku di Jakarta, seorang manajer memanggilku “anak daerah” di depan klien.
Aku tidak pernah peduli. Kata-kata itu tidak pernah benar. Aku bukan anak Om. Aku bukan operator. Anak daerah itu cuma deskripsi, bukan hinaan.
Tapi simpanan berhoodie terasa berbeda.
Karena ada bagian dari kata itu yang benar.
Aku memang tinggal di Pondok Indah. Aku memang makan enak. Aku memang dipakein tuksedo. Aku memang menandatangani kontrak. Aku memang dibayar setiap bulan. Setengah, tapi tetap dibayar. Dan aku memang ada di sana untuk satu alasan: karena anaknya butuh papa, dan dia bisa membayarnya.
Clara nggak butuh suami. Dia butuh status.
Aku mengingat sebelas hari terakhir. Ciuman di pipi. Roti segitiga. Pesan suara. Pita meteran di dadaku. Di ruangan ini ada tiga ratus orang, dan aku cuma lihat satu.
Semuanya dimulai setelah aku terbukti berguna. Setelah perawat bilang aku papa yang baik.
Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Dan itu yang paling menakutkan. Bukan karena Nyonya Santoso bilang begitu. Tapi karena aku sendiri sudah bertanya hal yang sama tiga malam lalu, di depan map krem, dan Nyonya Santoso baru saja menjawabnya dengan suara yang manis seperti sirup.
Aku mengeluarkan ponsel. Pukul sembilan lewat empat puluh. Aku menelepon Ibu.
Ibu mengangkat pada dering ketiga. Di latar belakang ada suara televisi, sinetron malam, dan suara mesin jahit yang berhenti.
“Le? Tumben telepon malam-malam. Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma kangen.”
“Kangen?” Ibu tertawa. “Kamu nggak pernah bilang kangen. Kamu sakit?”
“Nggak, Bu. Sehat.”
“Suaramu kok aneh.”
“Lagi di luar, Bu. Anginnya kenceng.”
“Di mana?”
Aku menatap kolam dangkal dan air mancur kecil, lampu-lampu di semak, dan gedung hotel yang menjulang di belakangku dengan jendela-jendela yang bersinar.
“Di acara klien, Bu. Pesta.”
“Pesta? Kamu ke pesta? Pakai baju apa? Kemeja batik yang Ibu jahitin?”
Kemeja batik itu tergantung di lemari kamar sayap timur. Satu-satunya pakaian yang kubawa dari Yogya yang masih terlihat layak.
“Pakai jas, Bu. Dipinjemin.”
“Oalah. Pasti ganteng.” Ibu terdengar senang. “Foto, Le. Kirim ke Ibu. Nanti Ibu pamerin ke Om Darto.”
Aku tidak menjawab.
“Le?”
“Iya, Bu. Nanti saya kirim.”
Ibu diam sebentar. Di latar belakang, sinetron berganti ke iklan. Suara jingle sabun cuci.
“Le,” kata Ibu pelan. “Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Kamu itu dari kecil kalau bilang ‘nggak apa-apa’ dua kali, berarti ada apa-apa.”
Aku menutup mata. Aku menekan telapak tangan ke dahi. Air mancur di kolam terus berbunyi.
“Bu,” kataku. “Ibu dulu pernah ngerasa nggak pantas nggak? Buat sesuatu?”
“Nggak pantas gimana?”
“Kayak... ada di tempat yang bukan tempat Ibu. Terus semua orang lihat. Terus Ibu tahu mereka benar.”
Ibu tidak menjawab lama. Aku mendengar dia menghela napas. Aku mendengar kursi berderit, seperti dia duduk.
“Le,” katanya akhirnya. “Kamu ngomong soal klienmu? Atau soal anak klienmu? Atau soal mamanya anak klienmu?”
Aku membeku.
“Ibu nggak bodoh, Le. Kamu telepon Ibu seminggu sekali, dan tiap telepon kamu cerita soal Neng Lily. Neng Lily bisa gambar kucing bawa koper. Neng Lily nggak mau makan wortel. Neng Lily demam, kamu nggak tidur. Terus kamu nyebut mamanya. Nggak sering. Tapi tiap nyebut, suaramu beda.”
“Bu...”
“Kayak suara Om Darto dulu. Tiap nyebut nama kamu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Ibu nggak tahu kamu di sana jadi apa, Le,” lanjut Ibu. Suaranya lembut, tapi ada sesuatu di bawahnya. Sesuatu yang lelah, seperti benang yang sudah terlalu sering ditarik. “Kamu bilang proyek. Ibu percaya. Tapi Ibu mau bilang satu hal. Kalau kamu ngerasa nggak pantas di suatu tempat, jangan buru-buru pergi. Tanya dulu sama orang yang ngajak kamu ke sana. Tanya, aku pantas nggak? Jangan tanya sama orang lain.”
“Kenapa, Bu?”
“Soalnya Om-mu dulu nggak nanya.” Suara Ibu pecah sedikit di ujung kalimat. “Om-mu dulu langsung pergi. Pikirnya dia tahu jawabannya. Ternyata dia salah.”
Aku menatap dasi kupu-kupu di tanganku.
“Salah gimana, Bu?”
Ibu tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya berkata, “Pulang, Le. Kapan-kapan. Ibu mau lihat kamu. Om Darto juga.”
“Iya, Bu.”
“Jangan ‘iya, Bu’ doang. Beneran pulang.”
“Beneran, Bu.”
“Ya wis. Kirim fotonya. Yang pakai jas.”
Telepon ditutup.
Aku duduk di bangku batu dengan ponsel di satu tangan dan dasi kupu-kupu di tangan satunya. Aku tidak mengirim foto. Aku tidak punya foto yang ingin kukirim. Foto pria dengan tuksedo tiga bulan gaji, yang dibayar oleh perempuan yang, menurut Nyonya Santoso, sedang melakukan transaksi.
Aku menunduk. Aku menekan mata dengan punggung tangan.
Tidak ada air mata. Hanya tekanan di belakang mata, seperti ada yang mau keluar tapi tidak diizinkan. Tanganku gemetar. Aku mengepalkannya, dan dasi kupu-kupu itu kusut di dalam genggamanku.
Om-mu dulu nggak nanya. Om-mu dulu langsung pergi.
Aku tidak tahu kenapa kalimat itu membuat dadaku sesak. Om Darto pergi karena bapakku pulang. Itu yang benar. Itu yang masuk akal. Pengganti tidak dibutuhkan saat yang asli kembali.
Ternyata dia salah.
Aku tidak mengerti. Dan aku tidak ingin mengerti. Tidak malam ini.
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.
Lampu-lampu di semak-semak berkedip sekali, lalu stabil lagi. Musik jaz dari ballroom terdengar samar-samar di balik kaca. Seseorang tertawa di kejauhan.
Lalu aku mendengar langkah kaki.
Heels. Di jalan setapak batu. Cepat. Tidak teratur. Seperti orang yang sedang berlari dengan sepatu yang tidak dirancang untuk berlari.
Aku mengangkat kepala.
Di ujung jalan setapak, di bawah lampu taman, berdiri seseorang dengan gaun merah bata. Sanggulnya sudah lepas sebagian. Satu tangannya memegang ujung gaun supaya tidak terinjak. Dadanya naik-turun, napasnya terengah.
Dia menatapku.
Aku tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas dari jarak itu, dalam cahaya redup. Tapi aku bisa melihat dia tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana, di ujung jalan setapak, memandangiku di bangku batu dengan dasi kupu-kupu yang kusut di tanganku.
Lalu dia melepas heels-nya.
Satu. Lalu satunya lagi. Dia meninggalkannya di jalan setapak, di bawah lampu taman, dan berjalan ke arahku dengan kaki telanjang di atas batu yang dingin.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara reading
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres