← Nggak Usah Dibales

Chapter Nine

Jangan Dibangunin

POV: Dayana

Aku tahu jadwalnya sekarang. Aku tidak berencana tahu. Otakku yang mencatat sendiri tanpa minta izin.

Senin dan Rabu dia lewat depan kafe jam setengah delapan pagi, ke arah selatan, jalan cepat. Selasa dan Kamis lebih siang. Jumat tidak lewat sama sekali. Sabtu dia lewat dua kali, pagi dan sore, dan yang sore itu selalu lebih pelan.

Aku menyadari aku punya data selengkap itu pada hari Kamis, sambil menuang susu, dan aku hampir menumpahkannya ke lantai karena saking ngerinya.

Ini bukan aku. Aku tidak begini.

Aku dua puluh lima tahun, aku punya kafe yang harus tutup buku tiap akhir bulan, aku punya adik yang tagihan kuliahnya jatuh tempo minggu depan, dan aku punya kulkas display yang bunyinya makin lama makin mirip ambulans.

Aku tidak punya waktu untuk hafal jadwal orang yang belum aku tahu namanya.

Dan tetap saja, hari Kamis itu, waktu jam delapan lewat dan dia belum lewat, aku mengelap jendela bagian dalam selama sebelas menit.


Dia datang jam sembilan malam.

Bukan jam biasanya. Kafe sudah sepi — Kamis malam memang selalu sepi — dan tinggal satu meja yang isinya dua mahasiswa yang sudah tiga jam pesan satu es teh.

Pintu terbuka. Tidak ada bunyi, karena pintuku tidak lagi berbunyi, karena dia.

Dan dia kelihatan hancur.

Bukan hancur yang dramatis. Hancur yang biasa: mata merah, bahu turun, hoodie basah di bagian bahu karena entah hujan di daerah mana, dan jalan yang biasanya pelan-mengamati sekarang cuma pelan.

“Kak.”

“Mas.”

“Kopi.”

“Mas udah makan?”

Dia berpikir. Dia benar-benar berpikir. Itu jawabannya.

“Duduk,” kataku.

Aku membuatkan kopi dan aku juga membuatkan nasi goreng, yang mana tidak ada di menu kafeku, karena kafeku menjual kopi dan dessert dan bukan warung. Aku membuatnya dari nasi sisa makan siangku sendiri dan dua telur yang seharusnya untuk cheesecake besok.

Aku menaruhnya di meja pojok tanpa bilang apa-apa.

“Kak, aku nggak—“

“Nggak usah dibayar.”

Dia melihat aku.

“Aku ngutip kalimat Mas,” kataku. “Berarti sah.”

Dia diam beberapa detik. Lalu, sangat pelan, sudut mulutnya bergerak lagi. Kali ini agak lebih jauh dari yang di hari Selasa.

Dia makan. Cepat sekali. Terlalu cepat untuk orang yang bilang “aku nggak”—

Aku kembali ke belakang konter dan mengelap sesuatu supaya tidak kelihatan sedang menonton.


Dua mahasiswa itu pulang jam sepuluh. Aku mulai menaikkan kursi ke meja, mematikan lampu bagian depan, mengumpulkan gelas.

Waktu aku sampai ke meja pojok, dia sudah tidur.

Duduk. Kepala di lipatan lengan, di atas meja. Headphone masih di leher. Piring sudah kosong dan disusun rapi dengan sendok di atasnya, menghadap ke arah yang sama, seperti orang yang pernah bekerja di tempat yang mengharuskan begitu.

Aku berdiri di sebelah meja itu dengan nampan di tangan.

Prosedur normal: bangunkan. Kafe tutup jam sebelas. Aku sudah membangunkan puluhan orang dalam tiga tahun terakhir dan tidak pernah merasa bersalah sekali pun.

Aku menaruh nampannya di meja sebelah.

Aku duduk.

Bukan di kursinya. Di kursi meja seberang, dua meter jauhnya, dengan lampu depan sudah mati dan cuma lampu konter yang menyala, dan aku duduk di kafe ibuku jam sepuluh malam sambil menonton orang asing tidur.

Aku ingin mencatat, untuk pertanggungjawabanku sendiri, bahwa aku sadar itu aneh.

Dari dekat, wajahnya berbeda waktu tidur. Semua orang begitu, aku tahu. Tapi orang ini berbedanya jauh, karena waktu bangun dia sama sekali tidak punya ekspresi, dan waktu tidur dia punya. Alisnya berkerut. Rahangnya mengunci. Jari-jarinya bergerak sedikit.

Orang ini bermimpi. Dan mimpinya kelihatan berat.

Ada empat plester di tangannya sekarang. Kemarin tiga.

Ada bekas hitam panjang di lengan bawahnya yang aku tidak tahu bekas apa, di antara bekas-bekas kecil lain yang aku juga tidak tahu.

Ada kerah hoodie yang sobek sedikit di bagian dalam dan dijahit ulang dengan benang warna berbeda, dijahit sendiri, karena tidak ada tukang jahit yang tega mengeluarkan jahitan sejelek itu.

Aku memandangi jahitan itu terlalu lama dan tiba-tiba dadaku sakit dengan cara yang tidak masuk akal.


“Kamu ngapain sih,” bisikku ke diriku sendiri.

Tidak ada yang menjawab, syukurlah.

Aku berdiri. Aku menyalakan kembali lampu konter yang tadi hampir aku matikan. Aku mengambil kain lap dan mengelap meja-meja yang sudah bersih, sangat pelan, tanpa bunyi.

Jam sepuluh lewat empat puluh, HP-nya bergetar di meja. Layarnya retak parah — retak yang bentuknya seperti jaring, jenis yang sudah lama dibiarkan.

Aku tidak melihat isinya. Aku ingin mencatat itu juga, karena aku sangat ingin melihat, dan aku tidak melihat.

Yang aku lihat cuma nama yang muncul di layar, karena hurufnya besar dan aku berdiri terlalu dekat.

KOH ATENG

Lalu layarnya mati sendiri.

Jam sebelas lewat sepuluh dia masih tidur.

Jam sebelas lewat empat puluh juga.

Aku mengirim pesan ke Alina bahwa aku pulang telat karena tutup buku. Adikku membalas dengan stiker beruang. Aku merasa jadi orang paling tidak jujur di Blok C.

Jam dua belas kurang lima, aku mengambil jaketku dari gantungan di belakang pintu.

Aku berdiri di sebelah meja itu dengan jaket di tangan selama waktu yang cukup lama untuk membuat aku malu seumur hidup.

Lalu aku menaruhnya di punggungnya. Pelan. Cuma disampirkan, tidak menyentuh, tidak apa-apa.

Dia tidak bangun.

Aku berdiri di situ.

“Mas.”

Tidak ada jawaban.

“Mas.”

Napasnya tetap sama.

Dan karena dia tidur, dan karena kafe sudah gelap, dan karena tidak ada satu pun makhluk hidup di Blok C yang bisa mendengar aku, aku bilang hal yang tidak akan pernah aku bilang ke orang yang sedang bangun.

“Aku lihat, kok.”

Suaraku sendiri terdengar aneh di kafe kosong.

“Lampunya. Pintunya. Kucingnya. Anak-anak.” Aku menarik napas. “Mas kira nggak ada yang lihat, kan.”

Dia bergerak sedikit. Aku hampir mati berdiri.

Lalu napasnya kembali teratur.

“Aku lihat, kok,” kataku sekali lagi, lebih pelan, ke orang yang tidak akan pernah mendengarnya.


Dia bangun jam dua belas lewat dua puluh, tiba-tiba, dengan cara orang yang terbiasa bangun sendiri tanpa alarm.

Dia melihat sekeliling. Melihat kafe yang sudah gelap. Melihat jaket di punggungnya.

Melihat aku, yang sedang duduk di belakang konter pura-pura menghitung struk.

“Kak.”

“Hm.”

“Jam berapa?”

“Setengah satu.”

Dia berdiri terlalu cepat dan hampir menjatuhkan kursi. “Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Kafenya—“

“Udah tutup dari tadi.”

“Kak, maaf.”

“Mas.” Aku menaruh struk-struk itu. “Duduk lagi lima menit. Aku belum selesai.”

Aku sudah selesai sejak jam sebelas.

Dia duduk lagi.

Dan selama lima menit itu tidak ada yang bicara sama sekali, dan aku menghitung struk yang sudah aku hitung tiga kali, dan itu adalah lima menit paling tenang yang aku punya dalam tiga tahun terakhir.

Waktu dia mengembalikan jaketku di depan pintu, dia berhenti sebentar.

“Kak.”

“Ya?”

Dia membuka mulut.

Lalu menutupnya.

“Makasih nasi gorengnya.”

“Sama-sama.”

Dia keluar. Aku mengunci pintu. Aku berdiri di balik kaca dan melihat dia jalan ke selatan di bawah lampu nomor tujuh, dengan headphone yang tidak menyala terpasang di telinga.

Aku baru sadar di jalan pulang.

Dia hampir bilang sesuatu tadi. Dan yang keluar bukan itu.

Aku memikirkan itu sampai jam dua pagi, dan aku harus bangun jam empat, dan aku tidak menyesal sedikit pun.