← Nggak Usah Dibales

Chapter Ten

Orang yang Sama

POV: Alina

Kakakku menyembunyikan sesuatu, dan aku tahu itu karena dia terlalu rajin.

Itu polanya sejak dulu. Waktu SMA, waktu dia nilainya jelek dan tidak berani bilang ke ibu, rumah kami paling bersih di seluruh RT selama dua minggu. Waktu dia putus dengan cowok kampusnya — yang mana aku baru tahu enam bulan kemudian dari orang lain — dia mengecat ulang pagar.

Minggu itu Kak Dayana mengelap etalase dua kali sehari, mengganti susunan meja, dan mulai memanggang cheesecake matcha yang tidak ada satu pun orang di Blok C pernah minta.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kakak ngelap etalase lagi.”

“Kotor.”

“Kakak ngelap jam sepuluh tadi.”

“Kotor lagi.”

Aku menyandarkan dagu ke konter dan mengamati kakakku dari jarak empat puluh sentimeter, dan kakakku dengan sangat tenang memindahkan lapnya ke bagian etalase yang tertutup kepalaku.


Sabtu sore kafe ramai dan aku bantu-bantu, yang artinya aku memegang nampan dan menghalangi jalan.

Jam empat lewat, aku sedang mengantar es kopi ke meja empat waktu aku dengar bel pintu — yang sekarang cuma tak — dan aku mengangkat kepala.

Nampanku miring dua puluh derajat.

Es kopi itu selamat karena refleks bapak-bapak di meja empat, yang menangkapnya dengan satu tangan sambil bilang “hop”, dan yang kemudian menerima permintaan maaf paling panjang dalam sejarah kafe ini.

Karena yang masuk adalah orangnya.

Hoodie. Headphone. Tinggi. Kurus.

Dia jalan ke meja pojok tanpa melihat aku sama sekali, karena tentu saja tidak melihat aku, karena dia tidak pernah melihat siapa pun dengan cara yang normal.

Aku berbalik ke konter dengan nampan kosong dan jantung di tenggorokan.

Dan aku melihat kakakku.

Kak Dayana sudah berdiri di posisi mesin kopi. Sudah. Padahal belum ada pesanan. Tangannya sudah memegang gelas dan matanya sudah di arah meja pojok, dan ada sesuatu di wajahnya yang aku belum pernah lihat seumur hidup — dan aku sudah melihat wajah kakakku selama dua puluh satu tahun, di pemakaman ibu, di ruang tunggu rumah sakit, di malam-malam dia menghitung uang di meja dapur.

Aku belum pernah lihat yang ini.

Nampan di tanganku turun.

“Kak.”

“Hm?”

“Itu siapa.”

“Pelanggan.”

“Kak.”

“Alina, ambilin gelas.”

Aku tidak mengambil gelas.

Aku berdiri di sebelah kakakku di belakang konter, di kafe milik keluarga kami, sambil menonton kakakku membuat kopi susu tanpa ditanya mau pesan apa.

Tanpa ditanya.

Dia hafal pesanannya.


Aku mendekat ke meja pojok karena aku tidak bisa menahan diri, karena aku memang tidak pernah bisa menahan diri, itu sudah tercatat di semua rapor SD-ku.

“Halo.”

Dia mengangkat kepala.

Dan — ini bagian yang harus aku akui — dia mengenali aku. Langsung. Tidak ada jeda.

“Peniti,” katanya.

“Alina.”

“Alina.”

Namaku dari mulutnya terdengar seperti nama orang lain. Datar total, tanpa nada, seperti orang menyebutkan merek.

Aku duduk di kursi seberangnya tanpa diminta.

“Kamu sering ke sini?”

“Lumayan.”

“Sejak kapan?”

Dia berpikir. “Nggak tahu.”

“Kok nggak tahu.”

“Nggak dihitung.”

Di belakangku, aku dengar bunyi gelas ditaruh agak keras di konter.

Aku menoleh. Kakakku sedang menghadap mesin kopi, punggungnya lurus sekali.

“Itu kakak aku,” kataku.

Dia melihat ke arah konter. “Iya.”

“Kamu udah kenal?”

“Belum.”

“Belum kenal?”

“Belum tahu namanya.”

Aku hampir tertawa. Aku hampir bilang sama dong, aku juga belum tahu nama kamu — dan aku sudah membuka mulut untuk bilang itu, kalimatnya sudah di ujung lidah, ini kesempatan sempurna.

Lalu kakakku datang membawa kopi.

“Kopi susunya,” kata Kak Dayana.

Dan dia menaruhnya di meja. Di meja, bukan diserahkan ke tangan. Dengan jarak yang benar. Dengan nada pelayan yang benar. Sempurna, profesional, dingin.

Terlalu sempurna.

Dan orang di depanku bilang, “Makasih, Kak.”

Kak.

Bukan Mbak.

Aku melihat ke kakakku. Kakakku sedang melihat ke meja. Dan selama satu detik yang sangat pendek, sebelum dia berbalik ke konter, aku melihat rahangnya bergerak.

Aku duduk di situ dengan seluruh isi kepalaku menyusun ulang tiga minggu terakhir dalam waktu sekitar empat detik.

Ngelap etalase dua kali sehari.

Cheesecake matcha yang tidak ada yang minta.

“Kakak kenal orang yang suka pakai hoodie sama headset gede?” — dan sendok yang berhenti.

Pintu kafe yang tiba-tiba tidak berbunyi lagi setelah setahun setengah.

Oh.

Oh.


Dia pulang jam enam. Aku yang mengantar tagihannya ke meja karena aku memaksa, dan aku berdiri di situ sambil menunggu dia mengeluarkan uang, dan aku sempat melihat isi dompetnya lebih lama dari yang sopan.

Isinya tipis sekali.

Dia membayar pas. Selalu pas, kata kakakku nanti. Orang yang membayar pas itu bukan orang yang kebetulan punya uang pas; itu orang yang sudah menghitung sebelum masuk.

Waktu dia keluar, dia berhenti di ambang pintu dan menoleh ke arah engselnya. Membuka. Menutup. Sekali.

Puas, kelihatannya. Lalu pergi.

Aku berdiri di situ memegang nampan kosong.

Ada bagian dari diriku yang ingin lari keluar dan bertanya namanya sekali lagi, keras-keras, di tengah trotoar, sampai dia terpaksa menjawab.

Ada bagian lain yang tahu persis kenapa aku tidak melakukannya.

Kakakku ada di belakang konter.


Kami menutup kafe berdua malam itu. Kami tidak bicara sampai kursi terakhir naik ke meja.

“Kak.”

“Hm.”

“Yang tadi.”

“Kenapa.”

“Kakak hafal pesenannya.”

Kak Dayana melanjutkan menyapu.

“Aku hafal pesanan semua pelanggan tetap.”

“Pak Ijang pesen apa?”

Sapunya berhenti setengah detik.

“Kopi hitam.”

“Pak Ijang nggak minum kopi, Kak. Pak Ijang darah tinggi.”

Kakakku menegakkan punggung dan menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku umur enam tahun, kakakku yang duluan mengalihkan pandangan.

“Alina.”

“Kak, aku nggak marah.”

“Aku juga nggak—“

“Kakak juga nggak apa-apa,” kataku, mengambil alih kalimatnya, karena kalau aku tidak mengambil alih maka salah satu dari kami akan mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik. “Nggak ada yang salah. Nggak ada apa-apa. Ya kan?”

“Ya.”

“Ya.”

Kami menyapu lantai yang sama dari dua arah berbeda dan bertemu di tengah dan tidak ada yang mengangkat kepala.

“Dia yang benerin pintunya, ya,” kataku.

Sapu kakakku berhenti.

“Iya.”

“Kenapa nggak cerita?”

Kak Dayana melihat ke pintu itu. Lama.

“Nggak tahu,” katanya akhirnya, dan itu adalah kalimat paling jujur yang keluar dari mulut kakakku dalam sebulan terakhir. “Aku nggak tahu, Alina. Aku beneran nggak tahu kenapa aku nggak cerita.”

Aku menaruh sapuku.

“Kak.”

“Apa.”

“Dia yang ngasih aku peniti.”

Kafe itu diam sekali. Kulkas display berbunyi seperti ambulans, seperti biasa.

“...Peniti yang kamu bilang nemu di jalan?”

“Iya.”

“Yang kamu simpen di dompet?”

Aku menoleh cepat. “Kakak tahu?”

“Aku yang nyuciin dompet kamu waktu kena tumpahan, Alina.”

Kami berdiri di kafe kosong berhadapan, dua bersaudara, dengan sapu di tangan masing-masing.

Dan aku tahu, dan kakakku tahu, dan kami berdua tahu bahwa yang barusan terjadi adalah kami sama-sama sadar kami sedang membicarakan orang yang sama.

Kak Dayana menarik napas panjang.

“Kamu mau cheesecake?”

“Mau.”

Kami makan cheesecake matcha yang tidak ada satu pun orang di Blok C pernah minta, di kafe yang sudah tutup, jam sebelas malam, dan tidak membahas apa pun lagi sampai pulang.