Chapter Four
Air Putih
POV: Dayana
Ada satu bunyi di kafe ini yang aku benci lebih dari apa pun, dan bunyi itu adalah engsel pintu.
Ngiiik.
Sudah begitu sejak bulan Maret. Setiap orang yang masuk, setiap orang yang keluar, setiap kali angin agak kencang. Aku sudah pakai minyak goreng, sudah pakai minyak kayu putih karena disuruh Bu Ratih dan itu jelas saran yang buruk, sudah ditawari tukang tapi tukangnya minta seratus lima puluh ribu untuk satu engsel dan aku memilih hidup dengan penderitaan.
Jadi kafeku punya soundtrack. Ngiiik. Empat puluh kali sehari.
Hari Kamis itu bunyi ke tujuh belas terdengar jam dua siang, di jam paling sepi, dan aku bahkan tidak mengangkat kepala.
“Sebentar ya,” kataku ke laci kasir.
Tidak ada jawaban.
Aku mengangkat kepala.
Dia berdiri di depan pintu.
Kaus abu-abu yang sama. Tas selempang yang sama. Rambut yang kelihatan seperti sudah lama tidak diajak berunding. Dia berdiri di sana dengan tangan masih di gagang pintu, dan dia tidak melihat aku sama sekali.
Dia melihat engselnya.
Aku menunggu. Dia menggerakkan pintu itu sedikit. Maju. Mundur. Ngiiik. Maju lagi.
“Mas.”
Dia menoleh, seperti baru sadar ruangan ini ada isinya.
“Mau pesan apa?”
Dia melihat ke papan menu di belakangku. Lama. Terlalu lama untuk orang yang akhirnya bilang:
“Air putih.”
“...air putih.”
“Boleh?”
“Boleh,” kataku, karena apa lagi yang mau aku bilang.
Dia duduk di meja paling pojok, yang paling dekat pintu, dan menaruh tasnya di kursi seberang seperti tas itu punya kursi sendiri. Aku menuang air putih ke gelas kaca yang bagus. Yang biasanya untuk pesanan lima puluh ribu ke atas. Aku bahkan menambahkan es tanpa ditanya dan aku menolak memikirkan kenapa.
Aku menaruhnya di mejanya.
“Makasih.”
“Mas ini yang kemarin, kan.”
Dia mengangguk. Tidak menyangkal, tidak menjelaskan, tidak menambahkan konteks. Cuma mengangguk, lalu minum airnya seperempat gelas dalam satu tarikan.
Aku berdiri di sana. Ini biasanya bagian di mana orang bilang sesuatu.
“Lampunya nyala.”
“Iya.”
“Semalaman.”
“Bagus.”
“Bapak-bapak satpam nyariin Mas.”
Dia berhenti sebentar. Lalu menaruh gelasnya.
“Marah?”
“Nggak.” Aku menggeleng. “Malah dibikinin teori. Ada enam.”
“Enam.”
“Salah semua.”
“Oh.”
Dan itu saja. Dia tidak bertanya teorinya apa. Tidak bertanya kenapa aku tahu. Tidak penasaran sedikit pun bahwa ada tiga puluh dua orang di satu grup WhatsApp sedang membicarakan dia sejak kemarin sore.
Aku kembali ke belakang konter dan pura-pura sibuk dengan mesin kopi yang tidak butuh disibukkan.
Selama dua puluh menit berikutnya dia duduk di sana dan tidak melakukan apa-apa. Tidak main HP. Tidak baca. Cuma duduk, menghadap jendela, dengan air putih yang tinggal separuh.
Aku sudah lama punya kebiasaan menebak pekerjaan orang dari cara mereka duduk di kafe. Anak kantor duduk miring, satu kaki siap berdiri. Mahasiswa menyebar barang seperti sedang pindahan. Ibu-ibu arisan menghadap satu sama lain dan tidak pernah menghadap meja.
Orang ini duduk seperti orang yang sedang menunggu sesuatu selesai. Bukan menunggu orang. Menunggu waktu lewat.
Bu Ratih lewat di depan jendela sambil mendorong ember bunganya. Beliau melihat ke dalam, melihat aku, melambai, lalu matanya bergeser ke meja pojok.
Aku menahan napas.
Beliau melihat punggung laki-laki itu selama mungkin dua detik, lalu lanjut mendorong embernya karena roda ember itu memang tidak bisa berhenti di tanjakan.
Aku baru mengeluarkan napas setelah beliau hilang di tikungan.
Lalu aku bertanya ke diriku sendiri kenapa aku menahan napas sama sekali.
Tiga orang masuk selama dua puluh menit itu.
Ngiiik.
Aku lihat bahunya bergerak sedikit. Bukan kaget. Lebih seperti orang yang mendengar sesuatu yang salah nadanya.
Ngiiik.
Bergerak lagi.
Orang ketiga masuk jam dua empat puluh, dan begitu pintu itu berbunyi untuk yang kedua kali dalam tiga detik, dia berdiri.
Aku pikir dia mau pulang.
Dia jalan ke pintu, membuka tasnya, mengeluarkan obeng dan sebotol kecil sesuatu yang bening, dan mulai membongkar engsel pintu kafeku.
“Mas—“
“Sebentar.”
“Mas, itu—“
“Bautnya kendur.”
Aku berdiri di tengah kafeku sendiri dengan lap di tangan sementara seorang laki-laki yang baru dua kali aku lihat seumur hidup sedang melepas engsel pintu ruko milik keluargaku, dan dua pelanggan di meja tengah berhenti mengobrol untuk menonton.
Butuh empat menit. Mungkin kurang.
Dia melepas engselnya, mengelap sesuatu dengan tisu yang dia ambil sendiri dari meja, meneteskan cairan itu tiga kali, memasang lagi, mengencangkan bautnya, lalu membuka dan menutup pintu itu enam kali berturut-turut.
Tidak ada bunyi.
Enam kali. Tidak ada bunyi sama sekali.
Salah satu pelanggan bertepuk tangan. Beneran bertepuk tangan. Yang satunya ikut, agak telat, dengan ekspresi orang yang tidak tahu kenapa dia bertepuk tangan.
Dia tidak menoleh ke arah mereka. Dia memasukkan obengnya kembali ke tas, mengambil gelas air putihnya, menghabiskannya sambil berdiri, dan menaruh gelasnya di konter.
“Udah.”
“Mas.”
“Ya.”
“Berapa?”
Dia melihat aku. Dan untuk pertama kalinya sejak dia masuk, ada sesuatu di wajahnya yang bergerak — bukan senyum, tidak sejauh itu. Cuma sedikit bingung, seperti aku baru saja menanyakan sesuatu dalam bahasa asing.
“Nggak usah dibales.”
Lalu dia keluar.
Pintunya menutup tanpa bunyi apa-apa, dan justru itu yang bikin aku kaget.
Aku baru sadar dua jam kemudian, waktu menghitung kas.
Air putih tidak masuk hitungan. Air putih memang tidak pernah masuk hitungan; air putih di kafe ini gratis dan selalu gratis.
Tapi bukan itu yang aku pikirkan.
Yang aku pikirkan adalah aku sama sekali tidak menanyakan namanya. Dua kali ketemu, dua kali dia mengerjakan sesuatu yang bukan urusannya, dan aku belum bertanya siapa dia.
Aku memikirkan itu sambil membereskan meja pojok.
Dua pelanggan yang tadi bertepuk tangan sudah pulang sejak lama, tapi sebelum keluar salah satunya sempat berhenti di konter.
“Mbak, itu tukangnya bisa dipanggil ke rumah nggak?”
“Bukan tukang, Mas.”
“Lho, tadi—“
“Iya. Tapi bukan tukang.”
Bapak itu mengangguk pelan dengan ekspresi orang yang jawabannya belum lengkap tapi terlalu sopan untuk bertanya lagi, lalu keluar. Pintunya tidak berbunyi dan dia berhenti sebentar di ambangnya, memegang gagangnya, membuka-tutup satu kali.
“Wah,” katanya. Lalu pergi.
Dan di meja pojok, di bawah gelas yang sudah kosong, ada kertas kecil.
Ukurannya seperti kartu nama, tapi bukan kartu nama. Kertas karbon tipis, biru pucat, jenis yang disobek dari buku bernomor. Ada tulisan tangan di atasnya, sudah agak pudar kena air dari embun gelas.
Aku memungutnya.
Aku berdiri di situ agak lama.
Lalu aku bawa ke belakang konter, aku buka laci kasir, dan aku selipkan di bawah nampan uang receh — tempat aku menaruh hal-hal yang belum aku putuskan mau diapakan.
Malamnya, sebelum menutup, aku membuka dan menutup pintu kafe satu kali.
Tidak ada bunyi.
Aku melakukannya sekali lagi.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih reading
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin