Chapter Thirty Five
Yang Aku Susun Semalaman
POV: Dayana
Aku tidak tidur hari Sabtu malam.
Bukan tidak bisa. Tidak mau. Ada bedanya dan aku sudah cukup tua untuk tahu bedanya.
Aku duduk di meja dapur dari jam satu sampai jam empat pagi dengan buku stok dan pulpen, dan yang aku tulis bukan stok.
Aku menyusun kalimat.
Draf pertama, jam satu lewat.
Alfa, aku mau berhenti.
Aku menyobeknya sebelum selesai menulis kalimat kedua, karena aku tahu persis itu bohong. Aku tidak mau berhenti. Aku tidak pernah mau berhenti. Kalau aku menulis kalimat itu dan mengucapkannya di depan orangnya, aku akan jadi orang yang persis seperti yang adikku takutkan di lantai ruang depan jam tiga pagi.
Draf kedua, jam dua kurang.
Alfa, aku mau ngasih ini ke Alina.
Aku menyobek yang ini lebih cepat.
Karena itu bukan cuma bohong. Itu penghinaan. Ke adikku, ke diriku, ke orang yang sedang kami bicarakan seperti dia barang di rak.
Draf ketiga, jam dua lewat empat puluh.
Alfa, aku nggak bakal nanya apa-apa lagi.
Aku memandangi yang ini lama sekali.
Ini yang paling dekat. Ini yang paling jujur dari ketiganya.
Dan aku tetap menyobeknya, karena aku sadar kalimat itu bukan pamit.
Kalimat itu ancaman yang dibungkus jadi kebaikan. Artinya: aku akan diam sampai kamu tidak tahan dan akhirnya bicara duluan.
Aku menaruh pulpen dan menyandarkan kepala ke meja dapur jam tiga pagi.
Aku memikirkan semua yang aku tahu tentang orang itu.
Bukan yang aku rasakan. Yang aku tahu.
Dia bangun sebelum jam setengah lima. Dia jalan kaki ke mana-mana. Dia makan sekali, kadang dua kali. Dia bekerja dari jam delapan sampai kadang jam sembilan malam. Dia menyisihkan dua belas ribu untuk makanan kucing dari gaji yang aku curigai tidak sampai dua juta.
Dia hafal sebelas asal-usul luka di tangannya sendiri.
Dia hafal kamera nomor tiga menghadap ke mana dari DVR yang mati dua tahun.
Dia hafal jadwal masak dua bersaudara yang tidak pernah memberi tahu dia ada jadwal.
Dia hafal semuanya.
Dan hari Minggu dia duduk di kontrakan dari jam setengah lima pagi sampai Senin.
Aku mengangkat kepala dari meja dapur.
Aku sudah salah selama tiga bulan.
Aku dan adikku dan seluruh Blok C, kami semua salah, dan kami salah dengan cara yang sama.
Kami semua bertanya: kenapa dia begitu?
Lampu, kucing, kardus, talang, kucing miring yang digigit dua kali. Kenapa. Apa motifnya. Nazar, wali, trauma, nenek, kalimat nenek.
Tidak ada satu pun dari kami yang bertanya pertanyaan yang benar.
Pertanyaan yang benar bukan kenapa dia membetulkan segalanya.
Pertanyaan yang benar adalah: kenapa dia harus pergi setelahnya.
Aku menulis di halaman baru, jam tiga lewat dua puluh, dan yang aku tulis bukan draf kalimat lagi.
Lampu — dia manjat, dia benerin, dia pergi. Nggak nunggu nyala.
Pintu kafe — benerin, pergi. Nggak nunggu aku bilang apa-apa.
Tas Alina — kasih peniti, jalan. Nggak nunggu makasih.
Kardus Pak Wisnu — pungutin, pergi.
Talang kos Melati — nggak ada yang tahu siapa.
List karet pintu — nggak ada yang lihat masang.
Roda ember Bu Ratih — Bu Ratih nggak pernah manggil tukang.
Makanan kucing — jam setengah lima. Sebelum ada orang bangun.
Aku memandangi daftar itu.
Semuanya sama.
Dia tidak pernah, sekali pun, ada di tempat waktu hasilnya kelihatan.
Bukan karena dia rendah hati. Bukan karena dia tidak mau dipuji.
Karena kalau dia ada di sana waktu lampunya menyala, akan ada orang yang bilang terima kasih.
Dan kalau ada orang yang bilang terima kasih, ada sesuatu yang mulai.
Dan kalau ada sesuatu yang mulai, ada sesuatu yang bisa berhenti.
Aku menutup buku stok itu jam empat kurang dan duduk di dapur dengan tangan di atas sampulnya.
“Karena kalau orang baik sama aku, terus aku kebiasaan, terus mereka berhenti— terus aku harus belajar lagi dari awal.”
Dia sudah memberitahuku. Di gang belakang, jam sepuluh malam, dengan sembilan ekor kucing yang sudah pergi satu-satu.
Aku mendengarnya waktu itu. Aku bahkan menceritakannya ke adikku malam itu juga.
Tapi aku belum benar-benar mengerti sampai jam empat pagi hari Minggu itu, di meja dapur, sambil memandangi daftar delapan baris.
Orang itu tidak takut ditolak.
Orang itu takut diterima.
Karena ditolak itu sudah dia kenal. Ditolak itu keadaan normal. Ditolak itu tidak perlu dipelajari lagi dari awal.
Yang belum pernah dia punya, dan yang karena itu paling menakutkan, adalah punya sesuatu.
Aku mengerti sesuatu yang lain juga malam itu, dan yang ini yang membuat aku akhirnya menangis di meja dapur jam empat kurang sepuluh.
Kalau itu benar, maka semua yang kami lakukan tiga bulan terakhir — aku, Alina, Bu Ratih, Pak Har, tujuh puluh orang di depan bengkel hari Rabu — semuanya membuat keadaannya lebih buruk.
Kami memberi dia lebih banyak.
Kami memberi dia makanan, catatan, pembelaan, amplop, pelukan sebelas detik di kafe penuh.
Kami menumpuk hal-hal yang bisa hilang di atas orang yang seumur hidup mengatur dirinya supaya tidak punya apa-apa yang bisa hilang.
Tidak heran dia mundur.
Dia tidak sedang menolak kami.
Dia sedang panik.
Aku mandi jam empat lewat dan membuka kafe telat lagi, untuk ketiga kalinya dalam tiga tahun.
Alina bangun jam sembilan dan datang jam sebelas dengan mata bengkak dan setengah lembar kertas di saku belakang celananya. Aku tahu karena aku melihat ujungnya.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak nggak tidur.”
“Nggak.”
“Kakak nulis apa semalem?”
Aku menoleh ke adikku.
Dan aku hampir bercerita. Aku sudah membuka mulut.
Lalu aku ingat pasal kedua belas yang tidak pernah kami tulis, yang diminta adikku sendiri di depan pintu rumah kami tiga minggu lalu.
Kalau suatu hari giliran Kakak, aku juga nggak mau tahu.
“Stok,” kataku.
Adikku menatapku beberapa detik.
Lalu dia mengangguk dan mengambil celemek.
“Iya,” katanya. “Stok.”
Dan adikku tahu aku bohong dan aku tahu adikku tahu, dan kami berdua memilih membiarkannya, dan itu adalah bentuk kasih sayang paling aneh yang pernah aku terima seumur hidup.
Hari Minggu itu Alfa tidak datang ke kafe.
Dia tidak pernah datang hari Minggu.
Aku menutup kafe jam sembilan malam karena Minggu selalu sepi, dan aku mengunci pintu, dan aku berdiri di bawah lampu jalan nomor tujuh dengan kunci di tangan selama beberapa menit.
Aku tidak punya kalimat.
Tiga jam menyusun kalimat di meja dapur dan aku tidak punya satu pun.
Yang aku punya cuma satu hal yang aku tahu pasti.
Kalau aku menunggu sampai aku punya kalimat yang benar, aku akan menunggu selamanya. Karena orang itu tidak pernah mengerti apa pun lewat kalimat.
Aku memasukkan kunci ke saku.
Dan aku jalan ke arah selatan, ke gang belakang, ke pintu biru yang lampunya mati.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman reading
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin