← Nggak Usah Dibales

Chapter Five

Salah Orang

POV: Alina

Aku punya rencana. Rencananya jelek, tapi aku punya.

Ciri-ciri yang aku punya cuma empat: tinggi, kurus, tangan berplester, dan — ini yang baru aku ingat tiga hari kemudian, waktu sedang mandi dan hampir jatuh karena saking kagetnya — headphone.

Headphone besar. Model lama, hitam, jenis yang menutup seluruh telinga. Aku ingat karena waktu dia jongkok mengumpulkan kertasku, benda itu menggantung di lehernya dan hampir menyentuh trotoar.

Dan hoodie. Abu-abu. Tudungnya tidak dipakai, cuma menggantung.

Aku keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah dan langsung mengetik semuanya di notes HP seperti orang menyusun berkas perkara.

TERSANGKA
— tinggi, kurus
— hoodie
— HEADPHONE GEDE
— tangan plester
— punya peniti di saku (?)
— jalan kaki, lewat pasar Blok C pagi

Aku baca ulang. Lalu aku hapus kata TERSANGKA dan ganti jadi ORANGNYA.

Lalu aku hapus lagi dan biarkan kosong, karena keduanya sama-sama memalukan.


Hari pertama aku bolos satu kelas.

Itu bukan pencapaian, aku tahu. Tapi aku sudah menghitung dan Metodologi punya toleransi tiga kali absen, dan aku sudah pakai satu, jadi secara teknis aku masih punya modal.

Aku duduk di warung bubur seberang pasar dari jam delapan sampai jam sebelas. Pesan satu mangkuk. Menghabiskannya dalam dua belas menit. Sisanya aku menatap trotoar seperti orang menunggu jodoh, yang mana, oke, iya.

Jam sembilan lewat empat aku melihatnya.

Hoodie. Headphone besar. Tinggi.

Aku berdiri terlalu cepat sampai kursi plastikku jatuh ke belakang.

“MAS!”

Dia berbalik.

Bapak-bapak. Umur sekitar lima puluh. Headphone-nya oranye menyala dan di dadanya ada tulisan besar DRIVER. Beliau menatapku dengan penuh harap dan mengeluarkan HP.

“Atas nama siapa, Neng?”

“...Nggak, Pak. Maaf. Salah.”

“Yakin? Bapak udah standby di sini dari tadi.”

“Yakin, Pak.”

“Kalau butuh, chat aja ya.”

“Iya, Pak.”

Aku duduk lagi. Ibu warung bubur menatapku. Aku memesan es teh yang tidak aku butuhkan.


Salah orang yang kedua terjadi hari Sabtu dan itu jauh lebih buruk.

Kali ini semuanya cocok. Hoodie abu-abu. Headphone hitam besar. Tinggi, kurus, jalan pelan sambil melihat ke mana-mana.

Aku mengikutinya dari jarak sepuluh meter selama satu setengah blok, dengan jantung yang tidak wajar, sambil menyusun kalimat pembuka di kepala. Mas, makasih ya penitinya. Terlalu datar. Mas! Yang di pasar! Terlalu heboh. Halo. Terlalu—

Dia berhenti di depan minimarket. Aku juga berhenti, sangat tidak natural, di depan tiang.

Dia melepas headphone-nya.

Dan yang keluar dari mulutnya, ke arah temannya yang baru datang, adalah:

“Anjir lo lama banget, gue udah mau UTS.”

Anak SMA. Kelas dua, mungkin. Dari dekat lehernya masih ada bekas seragam.

Aku berbalik dan jalan ke arah berlawanan dengan kecepatan yang membuat sandalku bunyi.


Yang ketiga adalah keponakan Koh Ateng, dan yang ini masuk ke sejarah keluargaku.

Karena aku sudah dua kali gagal, aku jadi lebih agresif. Aku melihat hoodie, aku melihat headphone, dan tanpa verifikasi apa pun aku menepuk pundak orangnya dari belakang.

“Mas! Peniti!”

Orang itu berbalik dengan wajah kaget luar biasa dan berteriak, “APA?!”

Sangat keras. Karena, ternyata, headphone-nya memang menyala, dan volumenya sedang di posisi merusak pendengaran.

“PENITI!” aku ikut teriak, karena panik.

“PENITI KENAPA?”

“MAS YANG NGASIH!”

“NGASIH APA?”

Enam orang menonton. Termasuk Koh Ateng, yang keluar dari bengkelnya sambil memegang solder dan berkata, dengan volume yang tidak perlu ditinggikan sama sekali:

“Ivan. Lepas headset lo. Malu-maluin.”

Aku pulang hari itu dengan rasa ingin mengubur diri di taman blok.

Malamnya Koh Ateng mengirim pesan ke Kak Dayana — bukan ke aku, ke kakakku, karena orang tua di blok ini selalu lapor ke kakakku seolah aku titipan negara — dan Kak Dayana membacakannya keras-keras di meja makan.

“’Neng, adiknya tadi teriak-teriak di depan bengkel soal peniti. Sehat kan?’”

Aku menaruh kepala di meja.

“Kamu ngapain sih?”

“Nyari orang.”

“Orang apa?”

“Orang,” kataku, ke permukaan meja.

Kak Dayana diam agak lama. Waktu aku mengangkat kepala, dia sedang memandangi piringnya sendiri dengan ekspresi yang aku tidak bisa baca sama sekali, yang mana aneh, karena aku bisa membaca semua ekspresi kakakku sejak umur enam tahun.

“Kalau ketemu,” katanya akhirnya, “jangan langsung dipegang.”

“Kak, aku bukan anak kecil.”

“Kamu megang keponakan Koh Ateng.”

“Itu kecelakaan.”

“Kamu megang pundaknya sambil teriak peniti.”

“Kak.”


Hari Minggu aku menyerah.

Bukan menyerah yang gagah. Menyerah yang duduk di bangku semen depan pasar jam empat sore sambil makan es krim seharga lima ribu dan mempertanyakan seluruh pilihan hidup.

Blok C sore-sore itu ramai. Anak-anak kos main sepeda. Ibu-ibu belanja terakhir. Bau gorengan dari empat arah berbeda.

Lalu ada ribut-ribut di ujung.

Bukan ribut yang bahaya. Ribut yang tinggi — suara anak kecil, banyak, semuanya bicara bersamaan.

Aku menoleh.

Ada lima anak, mungkin enam, mengerubungi satu orang di tengah trotoar seperti kerumunan semut mengerubungi remah. Yang di tengah itu berdiri diam sambil diserbu dari empat sisi.

“OM HOODIEEE!”
“Om! Om! Layangan aku putus!”
“Om, kemarin Om janji!”
“Om nggak janji, kamu yang ngomong sendiri!”
“OM PERMEN MANA?”

Dan orang itu — tinggi, kurus, hoodie abu-abu, headphone besar tergantung di leher — dengan sangat tenang memasukkan tangan ke kantong hoodie-nya dan mengeluarkan segenggam permen, lalu membagikannya satu-satu sambil menghitung.

“Satu.”

“Om, aku dua.”

“Satu.”

“Kemarin Bilal dua.”

“Bilal bohong.”

“BILAL BOHONG!”

“AKU NGGAK BOHONG!”

Aku duduk di bangku semen itu dengan es krim meleleh ke jariku dan tidak bergerak sama sekali.

Ada ibu-ibu di sebelahku, sedang menunggu jemputan, yang ikut menonton kejadian itu sambil mengipasi diri dengan struk belanja.

“Tiap sore,” katanya, ke arah umum.

“Maaf, Bu?”

“Anak-anak itu. Tiap sore nyegat.” Ibu itu mengipas lagi. “Kasihan sih Masnya.”

“Kasihan kenapa?”

“Ya diserbu terus. Tiap hari.”

Aku melihat ke trotoar lagi. Dan aku tidak tahu ibu itu melihat apa, tapi yang aku lihat bukan orang yang diserbu.

Yang aku lihat adalah orang yang berjalan lebih pelan waktu mendekati gang tempat anak-anak biasa main.

Pelan sekali. Seperti memberi kesempatan.

Lalu pura-pura kaget waktu dicegat.

Dia jongkok. Mengambil layangan dari salah satu anak, memutar-mutar benangnya, mengikat sesuatu dalam waktu sekitar sepuluh detik, lalu menyerahkannya kembali.

Anak itu lari tanpa bilang apa-apa.

Empat anak lainnya juga lari. Sekaligus. Ke arah yang berbeda-beda, seperti bubar rapat.

Dan dia berdiri sendirian di trotoar, memasang headphone-nya kembali ke telinga, dan lanjut jalan.

Aku tidak memanggil.

Aku tidak tahu kenapa aku tidak memanggil. Aku sudah bolos satu kelas, menghina tiga orang tidak bersalah, dan berteriak “PENITI” di depan enam saksi — dan waktu orangnya benar-benar ada di depan mata, jaraknya dua belas meter, aku cuma duduk.

Mungkin karena dia sedang tidak sendirian tadi.

Mungkin karena aku baru sadar sesuatu yang bikin dadaku aneh: anak-anak itu tahu dia. Mereka hafal kantongnya. Mereka menagih janji. Mereka berani bohong ke dia.

Anak-anak di Blok C sudah kenal dia entah sejak kapan.

Dan tiga puluh dua orang dewasa di grup WhatsApp masih sibuk berdebat apakah dia hantu.

Es krimku jatuh ke tanah. Aku membelinya lagi.

Waktu aku sampai kafe, Kak Dayana sedang menata cheesecake di etalase dan langsung menoleh begitu bel berbunyi.

“Kamu dari mana?”

“Jalan.”

“Jalan tiga hari?”

Aku duduk di kursi favoritku dan menaruh dagu di meja.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak kenal orang yang suka pakai hoodie sama headset gede?”

Sendok di tangan kakakku berhenti.