← Nggak Usah Dibales

Chapter Thirty Seven

Aku Nggak Mau Tahu

POV: Alina

Kakakku memberitahuku hari Senin pagi, jam enam, sebelum kafe buka.

Kami sedang berdiri berdua di dapur kafe. Kakakku sedang memotong bawang untuk nasi goreng — Senin, jadwalnya — dan aku sedang menuang kopi untuk diri sendiri.

“Alina.”

“Hm.”

“Aku ke kontrakan dia semalem.”

Aku menaruh teko.

Dan aku bilang, tanpa berpikir, dengan suara yang keluar sendiri:

“Aku nggak mau tahu.”

Kakakku berhenti memotong.

“Alina—“

“Kak, pasal dua belas.”

Dapur itu diam. Cuma ada suara kompor dan kulkas yang berdengung halus.

“Aku yang minta,” kataku. “Tiga minggu lalu. Di depan pintu rumah. Aku yang minta duluan dan Kakak bilang boleh.”

“Aku tahu.”

“Jadi aku nggak mau tahu.”

Kakakku menaruh pisaunya.

Dan kakakku menoleh ke aku dengan mata yang sudah merah sejak sebelum bawangnya dipotong, dan aku tahu itu karena aku hafal muka kakakku.

“Alina, aku harus bilang.”

“Kenapa harus?”

“Karena kalau aku nggak bilang, aku curang.”

Aku memandangi cangkir di tanganku.

Dan aku tahu kakakku benar, dan aku benci bahwa kakakku benar, dan aku benci lebih lagi bahwa aku sudah tahu jawabannya sejak semalam waktu aku pura-pura tidur di sofa dan merasakan kakakku duduk di lantai di sebelahku selama dua puluh menit.

“Ya udah,” kataku. “Bilang.”

“Alina—“

“Bilang, Kak. Sekali. Terus jangan diulang.”

Kakakku menarik napas.

“Aku nyium dia.”

Aku mengangguk.

Aku minum kopiku.

Dan aku bilang, “Oke.”


Yang menyakitkan bukan kalimatnya.

Aku sudah menyiapkan diri untuk kalimat itu selama tiga bulan. Aku sudah membayangkannya. Aku sudah tahu bentuknya.

Yang menyakitkan adalah aku tidak marah.

Aku berdiri di dapur kafe hari Senin jam enam pagi dengan kopi di tangan dan menunggu marah itu datang, dan marah itu tidak datang, dan aku menunggu lagi, dan tetap tidak datang.

Yang datang cuma satu hal.

Lega.

Lega karena kakakku akhirnya melakukan sesuatu. Lega karena orang yang tiga tahun bangun jam empat dan menghitung uang dan tidur akhirnya keluar rumah jam sepuluh malam untuk sesuatu yang bukan kewajiban.

Dan lega itu jauh lebih menyakitkan daripada marah, karena marah itu punya bentuk dan bisa diteriakkan dan bisa selesai.

Lega itu cuma duduk di dada dan tidak ke mana-mana.


“Alina.”

“Hm.”

“Kamu marah?”

“Nggak.”

“Alina.”

“Kak, aku beneran nggak marah.” Aku menaruh cangkirku. “Itu masalahnya.”

Kakakku menatapku.

“Kalau aku marah kan enak,” kataku. “Aku bisa bantingin pintu. Aku bisa nggak masuk kafe tiga hari. Kakak bisa minta maaf, aku bisa nggak maafin, terus dua minggu lagi kita baikan sambil makan cheesecake.”

“Alina—“

“Tapi aku nggak marah, Kak. Aku malah seneng.” Suaraku mulai bergetar dan aku membiarkannya. “Aku seneng buat Kakak. Aku seneng banget. Dan aku juga pengen banget itu aku.”

Kakakku menyeberangi dapur.

“Jangan,” kataku.

Kakakku berhenti.

“Kak, jangan meluk aku sekarang. Nanti aku nangis dan kafe buka dua puluh menit lagi.”

Dan kakakku, yang mengenalku dua puluh satu tahun, tidak memelukku.

Kakakku kembali ke talenan dan melanjutkan memotong bawang, dan aku minum kopiku sampai habis, dan kami membuka kafe tepat waktu.


Aku pergi ke kampus hari itu dan tidak masuk satu pun kelas.

Aku duduk di koridor yang sama seperti tiga bulan lalu, tempat aku duduk sambil memandangi peniti di tali tas.

Reza menemukan aku jam sebelas.

“Lo kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Reza duduk. Menaruh dua roti, seperti selalu.

“Peniti?”

“Rez.”

“Sori.”

Kami duduk diam sekitar lima menit, yang mana adalah rekor untuk Reza.

“Rez.”

“Hm.”

“Waktu gue tolak lo,” kataku. “Lo marah nggak?”

Reza mengunyah pelan.

“Marah.”

“Beneran?”

“Ya iyalah marah.” Dia mengangkat bahu. “Dua hari. Gue nggak bales chat lo dua hari, inget nggak?”

“Gue kira lo lagi sibuk.”

“Gue lagi ngambek, Alina. Gue dua puluh tiga tahun dan gue ngambek.”

Aku tertawa, dan tawanya keluar aneh karena ada air mata di tengahnya.

“Terus?”

“Terus hari ketiga gue mikir.” Reza menyandarkan punggung ke tembok. “Gue mikir, kalau gue maksa, gue bisa dapet lo.”

“Rez—“

“Gue serius. Gue kenal lo tiga semester. Gue tau lo gampang kasihan.” Dia menoleh ke aku. “Kalau gue nangis di depan lo, kalau gue bilang gue nggak bisa hidup tanpa lo, kalau gue bikin lo ngerasa bersalah — lo bakal luluh. Lo pasti luluh.”

Aku tidak menjawab, karena dia benar.

“Dan gue bakal dapet lo,” katanya. “Terus lo bakal sama gue karena kasihan. Selama tiga tahun. Terus lo bakal sadar. Terus lo bakal benci gue.”

Reza menggigit rotinya.

“Jadi gue nggak maksa,” katanya. “Bukan karena gue baik. Karena gue itung-itungan.”

Aku menyeka mata dengan lengan.

“Rez.”

“Hm.”

“Lo tau nggak lo lagi ngomongin apa sekarang?”

“Gue tau persis gue lagi ngomongin apa,” katanya. “Gue udah tau dari tiga bulan lalu. Gue nunggu lo nanya.”


Aku pulang jam empat sore dan tidak ke kafe.

Aku ke gang belakang.

Bukan ke kontrakannya. Ke mulut gang, ke lapak Bu Ratih, dan aku duduk di kursi plastik yang biasanya untuk pembeli.

“Neng Alina.”

“Bu.”

Bu Ratih melihat mukaku dan langsung meletakkan gunting bunganya.

“Duduk.”

“Aku udah duduk, Bu.”

“Ya udah, diem.”

Dan Bu Ratih tidak bertanya apa-apa selama sekitar sepuluh menit. Beliau cuma melanjutkan mengikat mawar sambil sesekali melirik.

Yang mana, untuk Bu Ratih, adalah bentuk pengorbanan yang luar biasa.

“Bu.”

“Hm.”

“Ibu pernah kalah nggak?”

Bu Ratih mengikat satu tangkai lagi.

“Sering.”

“Terus gimana?”

“Ya kalah.”

“Bu.”

“Neng, ibu lima puluh tahun.” Beliau menaruh mawarnya. “Ibu kalah dari umur dua puluh. Ibu kalah waktu ibu mau kuliah. Ibu kalah waktu ibu mau punya toko beneran, bukan lapak di sebelah tempat sampah.”

Aku menunduk.

“Tapi Neng,” katanya, “ibu nggak pernah kalah karena ibu nggak nyoba.”

Aku mengangkat kepala.

“Itu bedanya,” kata Bu Ratih. “Kalah itu nggak apa-apa. Nyesel itu yang nggak bisa dibenerin.”

Dan Bu Ratih mengambil satu tangkai mawar putih dan menyodorkannya ke aku.

“Gratis.”

“Bu, nanti mati empat hari.”

“Neng.”

“Maaf, Bu.”


Aku pulang jam enam dan kakakku sudah di rumah, di dapur, memasak.

Aku berdiri di ambang pintu dapur.

“Kak.”

“Hm.”

“Aku mau nagih.”

Kakakku mematikan kompor.

Dan kakakku berbalik menghadap aku, dan aku tahu kakakku tahu persis apa yang aku maksud, karena kakakku sudah menunggu ini sejak malam di depan pintu biru waktu aku bilang aku bakal nagih ini suatu hari dan Kakak nggak boleh nolak.

“Kapan?” tanya kakakku.

“Besok.”

Kakakku menyandarkan pinggangnya ke meja dapur.

“Alina.”

“Kak, Kakak nggak boleh nolak.”

“Aku nggak nolak.”

“Terus?”

Kakakku menatapku cukup lama.

“Aku cuma mau bilang satu hal,” katanya. “Dan aku mau kamu dengerin sampe abis.”

“Iya.”

“Kalau kamu ngelakuin ini buat ngalahin aku, jangan.”

“Kak—“

“Dan kalau kamu ngelakuin ini buat ngebuktiin sesuatu ke aku, juga jangan.”

Aku berdiri di ambang pintu dapur.

“Kak.”

“Ya.”

“Aku ngelakuin ini karena tiga bulan lalu ada orang ngasih aku peniti di trotoar terus pergi sebelum aku sempet bilang makasih,” kataku. “Dan aku ngejar dia sampe sekarang. Dan aku belum pernah sekali pun ngomong yang sebenernya ke dia.”

Kakakku tidak bergerak.

“Aku cuma mau ngomong, Kak. Sekali. Terus udah.”

Dan kakakku mengangguk.

“Ya udah,” kata kakakku.

Dan besoknya, hari Selasa, jam empat lewat tiga menit, orang itu lewat depan kafe seperti biasa.