← Nggak Usah Dibales

Chapter Thirty Eight

Berani Nggak

POV: Alina

Aku tidak menyiapkan apa-apa.

Aku ingin mencatat itu, karena aku menyiapkan segalanya seumur hidup dan tidak satu pun berhasil. Aku menyiapkan kalimat pembuka di kamar mandi tiga bulan lalu dan yang keluar adalah “peniti”. Aku menyiapkan pidato di koridor kampus dan yang keluar adalah “nggak apa-apa”.

Jadi hari Selasa itu aku tidak menyiapkan apa-apa.

Aku cuma memakai baju kuning.

Kakakku melihatnya waktu aku masuk kafe jam tiga dan tidak berkomentar sama sekali, tapi aku lihat sudut mulutnya bergerak, dan itu cukup.


Alfa datang jam empat lewat tiga menit.

Kafe agak ramai. Ada empat meja terisi. Bu Ratih di meja dua — beliau selalu di meja dua sekarang, sejak kejadian sebelas detik, dan aku curiga beliau memindahkan jadwal hidupnya.

Dan ada tiga anak menempel di kaca jendela luar, karena Selasa sore anak-anak kos Melati pulang les.

“Alfa.”

“Alina.”

Dia melihat bajuku.

Berhenti sebentar. Melihat lagi.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kuning.”

“Iya.”

“Kamu nggak pernah pake kuning.”

Aku berdiri di tengah kafe memegang nampan kosong.

“Kamu inget aku nggak pernah pake kuning?”

Dia sudah setengah jalan ke meja pojok. Dia berhenti.

“Dulu pernah,” katanya. “Terus berhenti. Bulan keempat.”

“Bulan keempat?”

“Ya bulan keempat aku ke sini.”

Dan dia duduk di meja pojok seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku berdiri di tengah kafe cukup lama sampai kakakku harus mengambil nampan dari tanganku.


Aku mengantar kopinya jam empat lewat sepuluh.

Dan aku duduk di kursi seberangnya tanpa diminta, seperti selalu, dan aku menaruh kedua tanganku di meja.

“Alfa.”

“Hm.”

“Aku mau nanya sesuatu dan kamu harus jawab jujur.”

“Iya.”

“Kamu nggak lihat aku, ya?”

Dia mengangkat kepala.

Ini ketiga kalinya aku bertanya kalimat itu ke orang ini.

Yang pertama, tiga bulan lalu, dia menjawab “lihat” dan menunjuk kursi dan salah topik total.

Yang kedua, minggu lalu, di kafe yang penuh, setelah sebelas detik, dia tidak menjawab sama sekali dan menunduk ke mejanya.

Yang ketiga, dia menatapku selama sekitar empat detik.

Lalu dia bilang:

“Lihat.”

“Alfa—“

“Kamu nggak suka udang,” katanya.

Aku berhenti.

“Kamu selalu naruh gelas di sebelah kiri. Kamu pegang nampan pake dua tangan padahal kakak kamu satu tangan, karena tangan kanan kamu pernah kenapa-kenapa, aku nggak tahu kenapa, tapi kamu selalu ngangkat yang berat pake kiri.”

Kafe itu masih berisik. Ada sendok dan ada suara Bu Ratih dan ada anak-anak menempel di kaca.

Aku tidak mendengar satu pun.

“Kamu ngomong keras kalau di depan orang banyak dan pelan kalau berdua,” lanjutnya. “Kamu ketawa dua kali. Yang pertama beneran, yang kedua buat nutupin yang pertama.”

“Alfa.”

“Kamu masak lebih asin dari kakak kamu karena kamu ngerasa kalau nggak berasa artinya kamu nggak usaha.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Dan tiga bulan lalu kamu jongkok di trotoar depan pasar ngejar tiga puluh delapan lembar kertas,” katanya. “Dan nggak ada yang berhenti. Enam orang lewat. Aku ngitung.”

Aku menangis di kafe kakakku sendiri jam empat lewat lima belas sore di depan empat meja yang terisi.

“Alina.”

“...Iya.”

“Aku lihat kamu,” katanya. “Aku lihat semuanya.”

Dia memandang ke mejanya.

“Aku cuma nggak tahu itu artinya apa.”


Dan di situlah aku memutuskan.

Bukan karena marah. Bukan karena kalah. Bukan karena kakakku.

Karena orang di depanku baru saja menyebutkan tujuh hal tentang aku yang bahkan Reza tidak tahu, dan menutupnya dengan mengatakan dia tidak tahu itu artinya apa.

Aku menyeka mukaku dengan lengan baju kuningku.

“Alfa.”

“Hm.”

“Berani nggak?”

Dia mengangkat kepala. “Berani apa?”

Dan aku bilang, dengan suara paling ringan yang bisa aku palsukan, dengan nada bercanda yang sudah tiga bulan aku pakai sebagai perisai:

“Berani nggak kamu cium aku.”


Kafe berhenti.

Tiga anak di jendela menempel lebih rapat. Bu Ratih menjatuhkan sedotannya. Di belakang konter, aku dengar air keran mati.

Alfa menatapku.

“Ini bercanda?” tanyanya.

Dan itu — pertanyaan itu, dari orang yang tidak pernah bertanya balik apa pun selama tiga bulan — yang menghancurkan seluruh perisaiku dalam satu detik.

“Iya,” kataku.

“Alina.”

“...Nggak.”

Aku menaruh kedua tanganku di meja.

“Nggak, Alfa. Ini bukan bercanda.” Suaraku sudah tidak ringan lagi dan aku sudah tidak berusaha. “Ini nggak pernah bercanda. Tiga bulan aku ketawa terus biar keliatan bercanda dan itu nggak pernah bercanda sekali pun.”

Dia tidak bergerak.

“Aku suka kamu,” kataku. “Dari trotoar. Dari peniti. Dari sebelum aku tahu nama kamu.”

Kafe itu sunyi total.

“Dan aku tahu soal kakak aku,” lanjutku, karena kalau aku berhenti sekarang aku tidak akan bisa mulai lagi. “Aku tahu. Aku nggak marah. Aku nggak minta kamu milih. Aku nggak minta kamu ngapa-ngapain.”

Aku menarik napas.

“Aku cuma nggak mau seumur hidup jadi orang yang nggak pernah bilang.”


Alfa berdiri.

Aku pikir dia akan pergi. Aku bersumpah, selama satu detik penuh, aku pikir dia akan mengambil tasnya dan pergi dan aku akan duduk di kafe kakakku dengan baju kuning dan empat meja yang menonton.

Dia tidak mengambil tasnya.

Dia berjalan mengitari meja dan berhenti di sebelah kursiku.

“Alina.”

Aku mendongak.

“Berdiri.”

Aku berdiri.

Dan dia menunduk dan menciumku, di tengah kafe Sepuluh Menit, hari Selasa jam empat lewat dua puluh sore, di depan empat meja yang terisi dan tiga anak yang menempel di jendela dan Bu Ratih yang sudah tidak bernapas sejak tiga menit lalu.


Kaku. Salah. Sangat hati-hati.

Sama persis seperti yang kakakku ceritakan tanpa pernah aku minta, dan aku tahu itu karena aku memikirkannya kemudian dan menyadari bahwa aku dan kakakku mendapat hal yang sama persis.

Dan itu, entah kenapa, adalah hal paling adil yang pernah terjadi pada kami berdua.

Tangannya tidak menyentuh aku sama sekali. Dua-duanya menggantung di sisi badannya seperti orang yang tidak tahu harus menaruhnya di mana.

Aku yang memegang lengannya.

Dan aku menghitung, karena aku selalu menghitung, karena itu yang aku dan kakakku lakukan seumur hidup.

Aku berhenti di detik ketiga.

Karena di detik ketiga aku sadar aku sedang mencuri sesuatu dari orang yang tidak tahu dia sedang memberikannya.

Aku menarik diri.


Alfa berdiri di situ.

Wajahnya tidak bergerak. Sistemnya mati total, seperti biasa. Aku menghitung sekitar delapan detik sebelum dia berkedip.

“Alfa.”

“...Ya.”

“Kamu nggak apa-apa?”

Dia melihat sekeliling. Ke empat meja. Ke Bu Ratih. Ke tiga anak di jendela. Ke kakakku di belakang konter.

Lalu kembali ke aku.

“Alina.”

“Iya.”

“Kopinya belum aku minum.”

Dan aku tertawa. Aku tertawa keras sekali di tengah kafe dengan muka basah dan lipstik yang sudah entah di mana, dan Bu Ratih ikut tertawa dengan suara yang lebih mirip menangis, dan tiga anak di jendela mulai menggedor kaca sambil berteriak sesuatu yang tidak bisa aku tulis.

“Ya udah, diminum.”

“Iya.”

Dan dia duduk kembali di meja pojok dan meminum kopinya yang sudah dingin sampai habis.


Aku masuk ke belakang konter setelah itu.

Kakakku sedang berdiri menghadap wastafel, keran masih mati, tangan masih basah.

Aku berdiri di sebelahnya.

Kami tidak bicara sekitar satu menit.

“Tiga detik,” kataku.

“Aku nggak ngitung.”

“Bohong.”

“Aku bohong.”

Aku menyandarkan kepala ke bahu kakakku.

“Kak.”

“Hm.”

“Punya Kakak berapa?”

“Alina.”

“Aku nggak nanya buat menang. Aku nanya buat berhenti nanya.”

Kakakku menyalakan keran.

“Nggak aku itung,” katanya. “Itu satu-satunya yang nggak pernah aku itung seumur hidup aku.”

Aku menutup mata.

“Kak.”

“Ya.”

“Kita udah selesai, ya.”

Kakakku mencuci gelas yang sudah bersih.

“Iya,” katanya. “Kayaknya udah.”

Dan di meja pojok, orang yang tidak mengerti apa pun sedang menghabiskan kopi susu setengah sendok lebih manis dan memandang keluar jendela, ke arah lampu jalan nomor tujuh yang belum menyala karena hari belum cukup gelap.