Chapter Forty
Satu Pasal
POV: Dayana
Kami tidak membicarakannya selama enam hari.
Bukan karena canggung. Kami sudah lewat canggung sekitar dua bulan lalu. Kami tidak membicarakannya karena kami berdua, terpisah, sedang sampai ke tempat yang sama, dan kami berdua tahu bahwa yang duluan bicara akan merusaknya.
Aku sampai duluan, hari Kamis, jam sebelas malam, sambil menutup kafe.
Yang membuatku sampai adalah hal yang sangat kecil.
Alfa datang jam empat lewat tiga menit, seperti biasa. Duduk di meja pojok. Aku mengantar kopi susu setengah sendok lebih manis.
Dan waktu aku menaruhnya, aku melihat tangannya.
Ada plester baru di ibu jari.
Dan aku membuka mulut untuk bertanya kenapa — refleks, kebiasaan, sudah dua bulan aku bertanya setiap kali ada plester baru.
Lalu aku menutupnya lagi.
Karena aku sadar, berdiri di sebelah meja pojok dengan nampan kosong di tangan, bahwa selama tiga bulan terakhir aku memperlakukan orang itu persis seperti dia memperlakukan Blok C.
Aku mencari yang rusak.
Aku mencari lukanya, kelaparannya, kesepiannya, hari Minggunya yang dihabiskan duduk di kontrakan dari jam setengah lima sampai Senin. Aku mengumpulkan semuanya seperti orang mengumpulkan bukti, dan setiap kali aku menemukan satu lagi, ada bagian dari diriku yang merasa lebih dekat.
Aku jatuh cinta pada orang yang membetulkan segalanya.
Dan yang aku lakukan tiga bulan ini adalah mencoba membetulkan dia.
Adikku sampai hari Jumat, dan dia sampai lewat jalan yang sama sekali berbeda, dan itu sebabnya aku yakin kami berdua benar.
Dia pulang kuliah jam lima dan langsung masuk ke belakang konter dan berdiri di sebelahku tanpa memakai celemek.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku salah.”
“Salah apa?”
“Aku kira aku ngejar dia.”
Aku menoleh.
“Aku kira aku ngejar dia tiga bulan,” katanya. “Peniti, pasar, punggung, cubit, sebelas detik. Aku kira aku lagi ngejar.”
“Terus?”
“Kak, hari Selasa dia nyebut tujuh hal tentang aku.” Adikku menatap ke arah meja pojok yang masih kosong. “Tujuh. Termasuk yang aku sendiri nggak sadar. Termasuk yang aku sembunyiin.”
“Iya.”
“Berarti dia nggak lari, Kak.”
Aku menaruh gelas yang sedang aku lap.
“Dia berdiri diem di satu tempat selama tiga bulan sambil ngeliatin aku,” kata adikku. “Dan aku lari-lari di sekitarnya sambil teriak-teriak dan mikir aku lagi ngejar sesuatu.”
Adikku menoleh ke aku dan matanya merah tapi dia tidak menangis.
“Yang ketinggalan itu bukan dia, Kak.”
Kami membicarakannya malam itu, di kafe, setelah tutup, di meja pojok.
“Kak, kalau kita maksa dia milih, apa yang terjadi?”
Aku sudah memikirkan itu selama enam hari, jadi aku punya jawabannya.
“Dia bakal milih.”
Adikku menoleh cepat. “Kakak yakin?”
“Aku yakin banget,” kataku. “Alina, orang itu nggak pernah nolak satu pun permintaan seumur hidupnya. Bu Ratih, Pak Har, Bilal, tujuh puluh orang di depan bengkel. Dia nggak pernah bilang nggak.”
“...Ya Allah.”
“Iya.”
“Kalau aku minta dia milih aku, dia bakal milih aku.”
“Iya.”
“Dan kalau Kakak yang minta, dia bakal milih Kakak.”
“Iya.”
Adikku menutup muka dengan dua tangan.
“Kak, itu jahat banget.”
“Iya.”
“Itu bukan milih. Itu nyuruh.”
Dan kami berdua duduk di meja pojok dengan kulkas yang berdengung halus di belakang kami, dan tidak ada satu pun dari kami yang perlu melanjutkan kalimat itu.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku nggak mau menang kayak gitu.”
“Aku juga nggak.”
“Tapi aku juga nggak mau ngalah.” Adikku menaruh tangannya di meja. “Kak, aku serius. Aku nggak mundur. Aku nggak bakal pura-pura aku nggak suka dia.”
“Aku juga nggak, Alina.”
“Terus kita gimana?”
Aku memandangi meja pojok itu. Meja yang sudah tiga bulan jadi tempat duduk orang yang tidak pernah memesan lebih dari satu gelas.
“Kita nggak ngapa-ngapain,” kataku.
“Kak—“
“Alina, dengerin.” Aku menoleh ke adikku. “Tiga bulan ini kita berdua ngatur. Kita bikin jadwal. Kita bikin pasal. Kita ngitung detik. Kita bikin materai bohongan.”
Adikku mendengus, basah, setengah tertawa.
“Dan orangnya nggak pernah tahu ada perjanjian,” lanjutku. “Nggak pernah tahu ada jadwal masak. Nggak pernah tahu ada yang ngitung.”
“Dia tahu jadwal masak, Kak.”
Aku berhenti.
“...Apa?”
“Dia hafal, Kak. Selasa Kamis Sabtu punya aku. Dia bilang punya aku lebih asin.”
Aku menaruh kepalaku di meja pojok dan tertawa sampai bahuku sakit.
Yang kami putuskan malam itu, dan yang kami tulis di kertas terakhir dari buku stok yang sama, cuma satu.
Bukan sebelas pasal. Bukan revisi. Bukan materai.
Adikku yang menulis. Tulisannya jelek dan aku membiarkannya.
PERJANJIAN KEDUA
Pasal 1 (satu-satunya).
Kami berdua tetap di sini. Nggak ada yang mundur, nggak ada yang maksa, nggak ada yang nagih.
Kalau suatu hari dia ngerti, dia yang ngomong duluan.
Kalau dia nggak pernah ngerti, ya udah.
Kami tetap kakak-adik.
Kami tidak menandatanganinya.
“Kak, nggak ditandatangan?”
“Yang pertama ditandatangan dan robek.”
“Bener juga.”
Adikku melipatnya dua kali dan menempelkannya di balik pintu kulkas, di tempat yang sama, dengan selotip yang sama.
Lalu dia menutup pintunya.
“Kak.”
“Hm.”
“Kalau lima tahun lagi dia masih nggak ngerti gimana?”
“Ya lima tahun lagi kita ngobrol lagi.”
“Kak.”
“Alina, aku dua puluh lima. Kamu dua puluh satu.” Aku mengambil tasku dari gantungan. “Kita punya waktu.”
Kami pulang jalan kaki, seperti selalu.
Lampu jalan nomor tujuh menyala kuning di belakang kami sepanjang jalan, seperti selalu, sejak pagi di bulan Maret waktu aku menjatuhkan kunci di trotoar.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak nggak takut?”
“Takut apa?”
“Takut nggak ada apa-apa.” Adikku menendang kerikil. “Takut sepuluh tahun lagi kita masih di kafe itu, masih ngantar kopi susu setengah sendok lebih manis, dan nggak pernah ada yang berubah.”
Aku memikirkannya sekitar dua puluh langkah.
“Nggak,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena dia udah berubah.”
Adikku menoleh.
“Alina, tiga bulan lalu orang itu ngasih kamu peniti terus jalan tanpa nengok,” kataku. “Minggu lalu dia berdiri dari kursinya sendiri, ngiterin meja, dan nyium kamu di depan empat meja penuh.”
Kami jalan beberapa langkah.
“Orang itu bergerak,” kataku. “Pelan banget. Tapi bergerak.”
Yang tidak aku ceritakan ke adikku malam itu, dan yang aku simpan sampai sekarang:
Hari Kamis sore, waktu aku menaruh kopi di meja pojok dan tidak jadi bertanya soal plester barunya, aku sempat berdiri di situ satu detik terlalu lama.
Dan Alfa mengangkat kepala.
“Kak.”
“Ya.”
“Kakak nggak nanya.”
Aku memegang nampan kosong.
“Nggak,” kataku.
Dia melihat tangannya sendiri. Lalu melihat aku.
“Kenapa?”
Dan aku bilang, “Nggak apa-apa. Nanti aja.”
Dia mengangguk dan kembali ke jendela.
Aku sudah jalan tiga langkah ke arah konter waktu dia bilang, ke arah jendela, tidak ke arah aku:
“Kena engsel. Pintu belakang kos Melati.”
Aku berhenti.
“Aku nggak nanya, Alfa.”
“Iya,” katanya. “Aku tahu.”
Dan dia meminum kopinya.
Aku berdiri di tengah kafeku sendiri memegang nampan kosong selama entah berapa lama, dan kemudian aku kembali ke belakang konter dan mencuci gelas yang sudah bersih, seperti yang selalu aku lakukan waktu aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Orang itu baru saja menjawab pertanyaan yang tidak aku ajukan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, dia yang memulai.
Dan dia tidak tahu itu artinya apa.
Dan aku tidak akan memberitahunya.
Karena kalau dia sampai sendiri, itu miliknya. Dan orang itu belum pernah punya apa-apa yang benar-benar miliknya seumur hidup.
Jadi aku menunggu.
Kami berdua menunggu.
Dan lampu jalan nomor tujuh menyala setiap malam di ujung Blok C, kuning dan sedikit berdengung, dinyalakan oleh orang yang tidak pernah berdiri di bawahnya untuk melihat hasilnya.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal reading
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin