← Nggak Usah Dibales

Chapter Forty One

Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin

POV: Bu Ratih

Tiga tahun itu cepat sekali kalau kamu jualan bunga.

Ibu masih di lapak yang sama, di mulut gang yang sama, sebelah tempat sampah yang sama. Rodanya masih tidak berbunyi. Ibu belum pernah sekali pun memanggil tukang.

Yang berubah tidak banyak dan ibu akan mencatatnya sekalian.

Neng Alina lulus dua tahun lalu dan sekarang kerja di kantor di seberang jembatan, pulang jam enam, dan masih mampir ke kafe tiap sore memakai celemek meskipun sudah punya gaji sendiri.

Neng Dayana buka satu meja lagi di teras dan menambah satu pegawai, anak perempuan lulusan SMK, dan sekarang kafe itu buka sampai jam dua belas hari Sabtu.

Bilal sudah SMP. Suaranya sudah pecah dan dia sangat malu soal itu dan ibu tidak akan membahasnya lagi.

Nenek Sum tujuh puluh tujuh dan masih galak dan masih menyeberang untuk memarahi orang.

Kucingnya empat belas.

Ivan — anak Koh Ateng yang dulu itu — kerja di bengkel motor di blok sebelah sekarang. Utangnya sudah lunas dua tahun lalu, dicicil, dan dia masih tidak berani lewat depan bengkel pamannya. Ibu lihat dia sekali beli bunga untuk ibunya dan ibu tidak menaikkan harga.

Dan Alfa masih di Servis Jaya, sekarang namanya sudah ada di plang, ditulis kecil di bawah nama Koh Ateng.

Selebihnya sama saja.


Yang tidak sama adalah hari Minggu itu.

Ibu sedang menutup terpal jam empat sore waktu HP ibu bergetar.

Bilal: BU RATIH
Bilal: BU RATIH LIAT KE JALAN CEMPAKA
Bu Ratih: Kenapa
Bilal: OM ALFA PAKE KEMEJA

Ibu meninggalkan terpal itu setengah terpasang.


Ibu ingin menjelaskan kenapa satu kalimat itu bisa menggerakkan setengah Blok C dalam waktu empat menit.

Dalam enam tahun ibu mengenal anak itu, ibu sudah melihat dia memakai tiga hoodie. Tiga. Abu-abu, abu-abu tua, dan satu yang biru sampai warnanya menyerah.

Ibu belum pernah, sekali pun, melihat dia memakai kemeja.

Ibu juga belum pernah melihat rambutnya disisir.

Jadi waktu ibu sampai di mulut Jalan Cempaka jam empat lewat lima, dan melihat anak itu jalan dari arah selatan dengan kemeja biru muda dan rambut disisir ke samping dan sebuah bingkisan di tangan — bingkisan, dibungkus kertas, ada pitanya — ibu berhenti di trotoar dan mengeluarkan HP.

Bu Ratih: DIA BAWA BINGKISAN
Pak Ijang: Bawa apa bu
Bu Ratih: BINGKISAN PAK
Pak Ijang: Isinya apa
Bu Ratih: IBU BELUM BUKA PAK IBU BUKAN MALING
Pak Har: Mohon jangan berkerumun.
Bu Ratih: PAK HAR BAPAK DI MANA SEKARANG
Pak Har: Saya di depan warung Bu Yati.
Bu Ratih: ITU DEPAN RUMAHNYA PAK
Pak Har: Saya sedang beli rokok.
Pak Har: Saya tidak merokok. Tapi saya sedang beli rokok.

Dalam sebelas menit, Jalan Cempaka mendadak jadi tempat paling sibuk di kota.

Pak Wisnu tiba-tiba perlu mengecek pagar. Ibu Kos Melati tiba-tiba menyapu trotoar yang sudah bersih. Empat anak kos duduk di tembok pembatas dan pura-pura main HP. Bilal berdiri di seberang jalan tanpa pura-pura apa pun karena Bilal tidak pernah pura-pura.

Dan Nenek Sum keluar dengan kursi plastik, diletakkan di depan pagarnya, lalu duduk menghadap rumah Neng Dayana seperti orang menonton pertandingan.


Anak itu berhenti di depan pintu.

Ibu berdiri di seberang jalan, tujuh meter, di balik tiang. Ibu tidak akan berbohong soal itu.

Dia berdiri di depan pintu selama mungkin dua puluh detik tanpa mengetuk.

Lalu dia memindahkan bingkisan dari tangan kanan ke tangan kiri, mengelap telapak kanannya ke celana — dua kali, seperti biasa, kebiasaan itu tidak pernah hilang — dan mengetuk.

Tiga kali. Pelan.

Ibu mendengar bunyi dari dalam. Suara Neng Alina berteriak sesuatu. Suara kursi.

Pintu terbuka.

Dan dari tujuh meter ibu melihat wajah Neng Dayana berubah dalam waktu satu detik, dari wajah orang yang membuka pintu hari Minggu sore, jadi wajah orang yang tidak tahu harus bagaimana.

“Kak.”

“...Alfa.”

“Aku boleh masuk?”

Neng Alina muncul di belakang kakaknya dan berhenti total, dan bahkan dari tujuh meter ibu bisa lihat anak itu langsung menutup mulutnya dengan dua tangan.

Mereka masuk. Pintunya ditutup.

Dan sekitar dua puluh orang di Jalan Cempaka berdiri di posisinya masing-masing tanpa satu pun yang bergerak.


Ibu tidak dengar apa yang terjadi di dalam.

Ibu dapat ceritanya dari Neng Alina, dua hari kemudian, di kafe, sambil beliau menangis dan tertawa bergantian dengan cara yang membuat ibu ikut menangis dua kali.

Katanya begini.

Anak itu masuk. Duduk di kursi. Menaruh bingkisan di meja. Meletakkan kedua tangannya di paha seperti anak SD yang dipanggil ke ruang guru.

Lalu menunduk dan berkata:

“Aku mau minta izin.”

Dan Neng Dayana, yang sudah berdiri di dapur untuk mengambil minum, berhenti dengan gelas di tangan.

Dan Neng Alina, yang duduk di sofa seberang, berhenti bernapas.

Rumah itu — kata Neng Alina — benar-benar sunyi total selama sekitar tiga detik.

Lalu:

“Gentengnya bocor.”

“...Hah?”

“Yang di atas dapur. Yang deket talang.” Anak itu masih menunduk. “Dari luar keliatan. Airnya ngumpul di satu titik. Kalau dibiarin, tahun depan plafonnya turun.”

Neng Alina bilang beliau menjerit.

Beneran menjerit. Ibu percaya, karena ibu mendengarnya dari trotoar seberang.


Yang ibu lihat sendiri adalah yang terjadi setelahnya.

Jam lima kurang, pintu itu terbuka lagi.

Mereka bertiga keluar ke halaman. Anak itu di depan, kedua Neng di belakang, dan anak itu langsung berdiri di sudut halaman sambil mendongak ke atap seperti orang yang memang datang untuk itu dan tidak mengerti kenapa semua orang ribut.

“Alfa.”

“Hm.”

“Kamu pake kemeja.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan anak itu bilang, sambil tetap memandangi atap:

“Kalau ke rumah orang harus rapi.”

Neng Alina duduk di teras dan menutup muka dengan dua tangan.

Dan Neng Dayana berdiri di halaman dan tertawa dengan cara orang yang sudah kehabisan cara lain untuk bertahan.


Yang terakhir ini ibu dengar sendiri, jelas, dari tujuh meter, karena Jalan Cempaka sudah sunyi total dan tidak ada satu pun kendaraan lewat.

Neng Dayana bertanya, pelan:

“Alfa, tiga tahun kamu ke kafe tiap hari.”

“Iya.”

“Kenapa baru sekarang ke rumah?”

Anak itu menurunkan pandangannya dari atap.

Dan berdiri di halaman itu, dengan kemeja biru muda dan rambut yang sudah mulai berantakan lagi karena angin, dia bilang:

“Radionya udah nyala.”

Ibu tidak mengerti waktu itu. Ibu baru mengerti seminggu kemudian dari Koh Ateng.

Trafo itu datang tiga minggu sebelumnya. Ada kios di Cikini yang menyimpan nomor telepon selama tiga tahun dan akhirnya menelepon, dan yang mereka telepon bukan Alfa.

Neng Alina yang mengambilnya. Neng Alina yang membawanya ke Koh Ateng. Dan Koh Ateng yang menaruhnya di meja kerja anak itu, di atas nota lama yang sudah menguning, dan berkata: “Utang kamu lunas.”

Anak itu mengerjakannya selama dua minggu.

Dan radio nenek yang tidak menyala selama enam tahun menyala hari Rabu jam sebelas malam di bengkel Servis Jaya, dan menurut Koh Ateng anak itu duduk di lantai bengkel sampai jam empat pagi mendengarkan siaran subuh dari stasiun yang bahkan tidak jelas.

Empat hari kemudian dia beli kemeja.


“Alfa.”

“Ya.”

“Kamu ngerti nggak sih kenapa kita semua bengong?”

Dan anak itu — yang enam tahun lalu memanjat tiang lampu jam lima pagi dan bilang “rusak” ke perempuan yang menjatuhkan kunci di trotoar — memandang dua orang di halaman itu.

Lalu ke arah pagar, ke arah dua puluh orang yang sama sekali tidak menyamar dengan baik.

Lalu kembali ke mereka berdua.

“Kak.”

“Hm.”

“Tiga tahun lalu Kakak nggak nanya soal plester di jempol aku.”

Neng Dayana tidak bergerak.

“Dan aku jawab,” katanya. “Padahal Kakak nggak nanya.”

“...Iya.”

“Aku mikirin itu tiga tahun.”

Halaman itu sunyi.

“Alina.”

“Iya?”

“Kamu berhenti di detik ketiga.”

Ibu melihat Neng Alina mengangkat kepalanya dari dua tangannya.

“Aku ngitung juga,” kata anak itu.

Dan lalu dia bilang hal terakhir, dan ibu mendengarnya dari seberang jalan, dan ibu menuliskannya di catatan HP ibu malam itu supaya ibu tidak lupa satu kata pun:

“Aku dulu mikir kalau aku diem terus, nggak ada yang ilang. Ternyata nggak gitu.”

Dia menepuk celananya, dua kali, seperti orang yang baru selesai memindahkan barang.

“Aku juga lihat, kok.”


Ibu pulang ke lapak setelah itu karena terpal ibu masih setengah terpasang dan mendung.

Ibu tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Ibu bersumpah. Ibu tidak tahu dan ibu tidak akan menebak-nebak dan ibu sudah cukup tua untuk mengerti bahwa ada hal-hal yang bukan urusan orang lain.

Yang ibu tahu, hari Selasa berikutnya genteng rumah itu tidak bocor lagi.

Dan yang ibu tahu juga, dua bulan setelah itu, Neng Alina masih memakai celemek di kafe tiap sore, dan Neng Dayana masih membuat kopi susu setengah sendok lebih manis, dan anak itu masih datang jam empat lewat tiga menit dan duduk di meja pojok.

Semuanya sama.

Dan semuanya sama sekali tidak sama, dan siapa pun yang pernah masuk ke kafe itu bisa merasakannya dalam waktu dua menit meskipun tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang pernah menjelaskan apa-apa ke siapa pun.

Blok C berhenti bertanya sekitar tahun lalu.


Satu hal terakhir.

Waktu ibu jalan pulang sore itu, ibu lewat depan kontrakan pintu biru di ujung gang.

Lampu di depan pintunya sudah menyala. Sudah lama, sebenarnya; ibu lupa sejak kapan.

Dan motor yang selama bertahun-tahun tertutup terpal dengan ban belakang kempes itu sekarang tidak tertutup terpal.

Bannya baru.

Ibu berdiri di situ sekitar lima detik, lalu lanjut mendorong ember bunga ibu yang rodanya tidak berbunyi, pulang lewat gang tempat empat belas ekor kucing menunggu jam setengah lima pagi.

Ibu tidak bilang ke siapa-siapa soal motor itu.

Ada hal-hal yang kalau ditulis di grup akan rusak.