Chapter Two
Peniti
POV: Alina
Ada tiga hal yang aku tahu tentang diriku sendiri, dan aku sudah berhenti melawan ketiganya.
Satu, aku tidak bisa bangun pagi. Dua, aku selalu yakin masih sempat padahal tidak. Tiga, setiap kali aku terlambat, semesta menambahkan satu bencana kecil supaya kejadiannya lengkap.
Hari itu bencananya adalah tali tas.
Aku sedang setengah berlari di trotoar depan pasar, jam sembilan lewat dua puluh, kelas Metodologi mulai jam sembilan tiga puluh dan dosennya termasuk spesies yang mengunci pintu. Aku sudah menghitung. Kalau aku lari sampai halte, naik angkot, turun di gerbang belakang, aku masih bisa masuk dengan sisa waktu empat puluh detik.
Perhitunganku bagus. Tali tasku tidak.
Bunyinya ptak. Kecil sekali. Untuk hal sekecil itu, akibatnya kelewat dramatis.
Tasku jatuh miring, resletingnya yang memang sudah lama tidak bisa dipercaya membuka sendiri, dan seluruh isi hidupku tumpah ke trotoar depan pasar. Dompet. Botol minum. Powerbank. Charger. Kotak pensil. Tiga puluh delapan lembar fotokopi jurnal yang baru aku ambil kemarin dan langsung diambil alih oleh angin.
Aku berlutut di tengah trotoar sambil mengejar kertas dengan kedua tangan seperti orang menangkap ayam.
Dan Blok C, seperti biasa, sibuk sendiri.
Bukan jahat. Cuma sibuk. Ada ibu-ibu yang melangkahi kertasku sambil menelepon. Ada bapak-bapak yang bilang “hati-hati, Neng” tanpa berhenti jalan, yang secara teknis adalah sebuah kontribusi. Ada tukang sayur yang mengelakkan gerobaknya dengan sangat lihai supaya tidak melindas dompetku, lalu lanjut.
Aku sudah pasrah. Kelas hilang. Jurnal hilang. Martabat hilang. Aku sedang menghitung berapa persen dari nilai akhirku yang barusan diterbangkan angin ke arah lapak ayam potong.
Lalu ada tangan di depan mukaku.
Aku mendongak. Tidak sempat lihat wajahnya — matahari jam sembilan pagi persis di belakang kepalanya dan aku cuma dapat siluet. Yang aku dapat cuma tangannya.
Tangan itu memegang peniti.
Peniti. Bukan kata-kata, bukan “butuh bantuan, Mbak”, bukan uluran untuk membantuku berdiri. Cuma satu peniti perak, disodorkan dengan cara orang menyerahkan kunci ke tukang parkir.
Aku menerimanya karena bingung, bukan karena mengerti.
Dia lalu jongkok, mengumpulkan enam lembar kertasku yang tersangkut di kaki meja lapak, menyusunnya jadi tumpukan rapi — rapi, padahal urutannya jelas sudah hancur — dan menaruhnya di atas tasku. Setelah itu dia berdiri dan jalan.
Jalan. Begitu saja.
“Eh—Mas!”
Punggungnya sudah delapan meter.
“MAS! MAKASIH!”
Dia mengangkat satu tangan setinggi bahu. Tidak menoleh. Tidak melambai, cuma... mengangkat. Seperti orang yang sedang bilang sudah, sudah pada sesuatu yang tidak penting.
Lalu dia belok dan hilang di antara lapak.
Aku masih jongkok di trotoar dengan peniti di tangan dan tiga puluh dua lembar jurnal di pangkuan, dan aku baru sadar satu hal.
Peniti itu tidak dia beli. Tidak ada waktu untuk membeli. Dia menyodorkannya dalam waktu kurang dari lima detik sejak berhenti.
Artinya peniti itu sudah ada di sakunya sejak pagi.
Siapa yang jalan ke mana-mana bawa peniti?
Aku duduk di trotoar itu lebih lama dari yang seharusnya. Tukang sayur yang tadi menghindari dompetku lewat lagi, kali ini dari arah berlawanan, dan melirik aku dengan tatapan orang yang mulai khawatir.
“Kenapa, Neng?”
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Kehilangan?”
Aku menggeleng. Itu bohong, secara teknis. Aku memang kehilangan sesuatu pagi itu. Aku cuma belum tahu apa.
Aku berdiri, memasang peniti itu ke tali tasku — dan tali itu, yang tadi menyerah pada berat tiga puluh delapan lembar fotokopi, tiba-tiba kuat sekali. Aku sampai mengetesnya dua kali dengan cara menarik-narik seperti orang gila di depan lapak ayam.
Tidak lepas.
Aku sampai kampus dengan tas yang menggantung miring dan hati yang jauh lebih miring lagi.
Aku telat empat belas menit. Pintu terkunci. Aku duduk di koridor sampai kelas berikutnya sambil memandangi tali tasku yang sekarang disatukan oleh satu peniti perak dan tidak bergerak sedikit pun sepanjang hari.
“Lo kenapa?” Reza duduk di sebelahku dan menaruh dua roti. “Muka lo kayak abis diputusin.”
“Talinya putus.”
“Ya beli baru.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Terus?”
Aku menunjuk peniti itu. Reza melihatnya, lalu melihat aku, lalu melihat peniti itu lagi dengan ekspresi orang yang sedang mempertimbangkan apakah pertemanan kami masih layak dilanjutkan.
“Peniti.”
“Iya.”
“Lo galau gara-gara peniti.”
“Ada orang yang ngasih.”
“Terus?”
“Terus dia pergi.”
Reza mengunyah rotinya pelan-pelan. “Cakep?”
“Nggak tahu. Nggak keliatan mukanya.”
“Jadi lo naksir siluet.”
“Aku nggak bilang naksir.”
“Lo belum bilang. Tapi lo bakal bilang.” Dia menunjuk mukaku dengan roti. “Muka lo lagi ngerakit alasan.”
Aku menendang kakinya. Dia ketawa dan hampir jatuh dari kursi, dan aku merasa jauh lebih baik, dan itu sepenuhnya tidak menyelesaikan apa pun.
“Serius deh,” katanya, setelah selesai membenarkan posisi duduknya. “Lo mau nyari orangnya?”
“Nyari gimana. Aku nggak tau mukanya.”
“Ciri-ciri?”
“Tinggi.”
“Oke.”
“Kurus.”
“Oke.”
“Tangannya ada plester.”
Reza berhenti mengunyah. “Itu doang?”
“Itu doang.”
“Alina.” Dia menaruh rotinya dengan cara yang sangat dramatis. “Di kota ini ada berapa juta orang tinggi kurus berplester.”
“Dia lewat pasar Blok C jam setengah sepuluh pagi.”
“Nah itu baru—“ Reza berhenti. Matanya menyipit. “Kok lo inget jamnya.”
Aku minum dari botol yang bahkan tidak ada isinya.
Reza bersandar ke tembok dengan senyum yang aku tidak suka sama sekali.
“Nggak usah dilanjut,” kataku.
“Aku belum ngomong.”
“Muka kamu udah.”
Karena Reza salah. Aku tidak naksir siluet.
Aku cuma tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana orang itu menyusun kertasku jadi rapi. Kertas yang urutannya sudah kacau. Yang mau aku masukkan asal-asalan ke tas juga tidak akan ada bedanya. Dia tetap merapikannya.
Dan dia sudah jalan lagi sebelum aku sempat membuka mulut.
Orang tidak begitu. Orang menolong sambil menunggu. Sedikit, sebentar, satu detik saja — untuk terima kasih, untuk dilihat, untuk apa pun. Aku tidak pernah menganggap itu jelek. Aku juga begitu. Kalau aku menolong orang, aku ingin dicatat.
Dia tidak menunggu apa-apa.
Itu yang bikin aku duduk di koridor selama satu setengah jam sambil memutar ulang lima detik yang sama.
Sorenya aku mampir ke kafe, karena aku selalu mampir ke kafe, karena kalau aku tidak mampir Kak Dayana akan menganggap aku mati.
Kafe sepi. Kakakku sedang berdiri di belakang konter, tidak mengerjakan apa-apa, memandang keluar jendela ke arah ujung blok.
“Kak.”
Dia kaget. Beneran kaget, sampai sendoknya bunyi.
“Kamu ngapain ngelamun?”
“Nggak ngelamun.”
“Ngelamun.”
“Ngecek stok.”
“Stoknya di luar jendela?”
Kak Dayana menatapku dengan tatapan kakak yang artinya diam atau kamu tidak dapat cheesecake, dan aku diam, karena cheesecake.
Aku duduk di kursi favoritku dan menaruh tas di meja. Kakakku melirik tali tasku sekilas — dia selalu memperhatikan hal-hal kecil begitu, dari dulu — lalu kembali menyeduh.
“Talinya kenapa?”
“Putus tadi pagi.”
“Terus itu peniti dari mana?”
Aku membuka mulut.
Dan entah kenapa, aku menutupnya lagi.
Aku tidak tahu kenapa. Aku menceritakan segalanya ke Kak Dayana. Nilai jelek, dosen menyebalkan, Reza yang menyebalkan dengan cara berbeda, semuanya. Aku tidak punya rahasia dari kakakku dan aku tidak pernah mau punya.
Tapi sore itu aku bilang, “Nemu di jalan.”
“Nemu peniti di jalan.”
“Blok C ajaib, Kak.”
Kak Dayana mendengus, lalu meletakkan es kopi di depanku tanpa aku pesan, karena dia memang begitu.
Malamnya, sebelum tidur, aku melepas peniti itu dari tali tasku dan menjahit talinya benar-benar pakai benang.
Lalu penitinya aku masukkan ke dompet, di slot yang biasanya untuk kartu.
Aku bilang ke diriku sendiri itu supaya tidak hilang.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti reading
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin