Chapter Thirteen
Namanya
POV: Alina
Cerita Bu Sri sampai ke grup WhatsApp dalam waktu dua belas menit, dan versi yang sampai bukan versi yang benar.
Aku tahu versi yang benar karena Bilal menceritakannya ke aku sendiri, dua kali, dengan gerakan tangan, sambil makan cheesecake gagal.
Versi grup WhatsApp bilang: ada laki-laki tidak dikenal membawa anak kos Melati pulang malam-malam.
Titik. Itu saja. Tidak ada halte. Tidak ada uang hilang. Tidak ada bakso. Tidak ada jalan besar yang terang.
Kalimat itu, dilepas ke tiga puluh dua orang tanpa satu pun kata tambahan, berubah bentuk dalam waktu dua hari.
Kak Dayana mengetik pelurusan sepanjang lima paragraf di grup. Bu Ratih mengetik pembelaan yang lebih panjang lagi dan sebagian besar hurufnya kapital. Pak Har mengunggah catatan bukunya, entri demi entri, empat puluh satu kebaikan yang tercatat sejak bulan lalu.
Sebagian orang percaya.
Sebagian tidak.
Dan begitulah cara Blok C bekerja.
Hari Sabtu, jam sepuluh pagi, di pasar.
Aku sedang mengantre di lapak ayam untuk Kak Dayana waktu aku dengar suara laki-laki naik satu oktaf dari arah lorong sayur.
Aku hafal nada itu. Semua perempuan hafal nada itu. Nada laki-laki yang sedang merasa dirinya sedang membela sesuatu.
Aku menoleh.
Ada empat orang berdiri melingkar. Tiga bapak-bapak dan satu orang berdiri di tengah.
Hoodie. Headphone di leher.
Aku meninggalkan antrean.
“—makanya saya tanya baik-baik, Mas. Baik-baik kan saya nanyanya.”
“Iya, Pak.”
“Anak saya tiap pulang sekolah lewat sini.”
“Iya, Pak.”
“Jadi jangan salah paham.”
“Nggak, Pak.”
Yang membuat darahku naik bukan bapak-bapaknya.
Yang membuat darahku naik adalah cara dia menjawab.
“Iya, Pak.” “Iya, Pak.” “Nggak, Pak.” Datar, sabar, tanpa satu pun bantahan, seperti orang yang sudah pernah berdiri di posisi itu berkali-kali dalam hidupnya dan sudah tahu bahwa membantah cuma memperpanjang.
Dia tidak marah. Dia tidak sakit hati. Dia cuma menunggu selesai.
Dan itu jauh lebih membuatku ingin membakar seluruh pasar daripada kalau dia menangis.
“Pak.”
Empat kepala menoleh.
“Neng, ini bukan urusan—“
“Bapak tanya baik-baik ya?”
“Ya iya, saya kan cuma—“
“Bapak nanya baik-baik sambil ngerubungin orang berempat di tengah pasar?”
Bapak itu membuka mulut.
Dan aku, karena tinggiku seratus lima puluh delapan sentimeter dan tiga bapak-bapak itu semuanya lebih tinggi dariku dan aku sedang sangat, sangat marah dan tidak bisa dilihat dari belakang lapak, melakukan hal yang setelah itu akan dibahas di Blok C sampai lebaran.
Aku naik ke punggung Alfa.
Aku ingin menjelaskan mekanismenya karena banyak yang salah menceritakan.
Aku tidak melompat seperti di film. Aku menarik bahunya, naik dengan satu kaki di kantong belakang celananya — yang mana aku minta maaf — dan menopang diri di bahunya sampai kepalaku lebih tinggi dari semua orang di lorong sayur itu.
Dan orang itu, tanpa satu detik pun ragu, memindahkan kedua tangannya ke belakang untuk menahan kakiku supaya tidak jatuh.
Refleks. Murni refleks. Seperti dia menangkap kardus, seperti dia menangkap kertasku di trotoar.
Ada sesuatu yang jatuh di lorong sayur pagi itu, dan bukan aku.
“HALO SEMUANYA!” teriakku.
Seluruh pasar berhenti.
“YANG MAU NANYA-NANYA BAIK-BAIK, NANYA SAMA AKU AJA!”
“Neng—“
“NAMA AKU ALINA! ADIKNYA DAYANA KAFE SEPULUH MENIT! BAPAK-BAPAK KENAL KAKAK AKU KAN?”
Ada yang mengangguk. Beberapa orang mengangguk. Kakakku kenal semua orang.
“ORANG INI TIGA MINGGU LALU NGEBENERIN TALI TAS AKU DI TROTOAR TERUS PERGI SEBELUM AKU SEMPET BILANG MAKASIH!”
“Neng, turun dulu—“
“DIA YANG BENERIN LAMPU UJUNG BLOK!”
Dari arah lapak bunga, terdengar suara yang sangat familiar dan sangat keras.
“BETUL! IBU SAKSINYA!”
“DIA YANG NGASIH MAKAN KUCING DI GANG BELAKANG!”
“BETUL! ITU JUGA IBU SAKSINYA!”
“DIA YANG—“
“Alina.”
Suara dari bawah. Datar. Pelan sekali dibanding semua yang terjadi.
“Turun.”
“BELUM SELESAI.”
“Berat.”
Seluruh lorong sayur meledak.
Aku ingin mati. Aku benar-benar ingin mati di antara kangkung dan sawi. Tapi aku juga tertawa, sampai hampir jatuh betulan, dan tangannya mencengkeram lebih kuat supaya aku tidak jatuh, dan aku turun dengan muka semerah cabai di lapak sebelah.
Bapak-bapak yang tadi sudah tidak tahu harus bagaimana. Salah satunya menggaruk kepala dan bilang “ya saya kan cuma nanya” untuk kelima kalinya.
Dan dari ujung lorong, sambil membawa kantong plastik penuh mur, muncul Koh Ateng.
“ADA APA INI RIBUT-RIBUT.”
“Koh, ini—“
“Alfa. Ngapain kamu di sini.”
Hening.
“Beli sarapan, Koh.”
“Jam sepuluh?”
“Iya.”
“Kamu belum sarapan sampe jam sepuluh?”
“Iya.”
Koh Ateng menoleh ke bapak-bapak itu dengan tatapan yang, kata orang, sudah membuat tiga orang pindah kontrakan.
“Ini anak kerja sama saya empat tahun. Empat tahun. Ada yang mau tanya-tanya lagi?”
Tidak ada.
“Bagus. Alfa, jalan.”
Dan dia jalan.
Aku sempat mengejar sepuluh langkah.
“Alfa!”
Dia berhenti. Berbalik.
Dan mukanya — ini yang membuat aku berdiri diam di tengah lorong — mukanya sama sekali tidak berubah. Tidak lega, tidak malu, tidak terganggu. Sama persis seperti waktu dikerubungi empat orang lima menit lalu.
“Kamu nggak marah?”
“Sama siapa?”
“Sama bapak-bapak tadi.”
Dia berpikir sebentar. “Nggak.”
“Kok bisa nggak?”
“Anaknya lewat sini tiap hari.”
Dan dia bilang itu seperti itu penjelasan yang lengkap, seperti kalau anakmu lewat sini tiap hari maka kamu berhak mengerubungi orang berempat di pasar, seperti dia sedang membela bapak yang barusan mempermalukan dia di depan umum.
“Alfa, itu nggak—“
“Alina.”
“Apa.”
“Ayamnya belum dibayar.”
Aku menoleh ke belakang. Ibu penjual ayam sedang berdiri di lapaknya menatapku dengan tangan di pinggang.
Waktu aku berbalik lagi, dia sudah jalan.
Aku berdiri di lorong sayur pasar Blok C dengan kantong ayam yang belum dibayar dan satu kata berputar di kepalaku.
Alfa.
Namanya Alfa.
Tiga minggu. Tiga minggu aku memburu orang ini, bolos kelas, meneriaki keponakan Koh Ateng, menggandeng lengannya di depan lima belas orang, naik ke punggungnya di depan seluruh pasar —
dan aku baru tahu namanya dari mulut bosnya.
Aku lari pulang ke kafe. Beneran lari. Ayamnya aku bayar dulu, aku bukan penjahat, tapi setelah itu aku lari.
Bel pintu berbunyi tak.
“KAK!”
Kak Dayana mengangkat kepala dari mesin kopi.
“Kenapa? Ayamnya mana?”
“Kak, aku tahu namanya!”
“Nama siapa?”
“ORANGNYA! Yang hoodie! Tadi di pasar ada ribut-ribut terus Koh Ateng dateng terus manggil dia—“
“Alfa.”
Kafe itu diam.
Kakakku menyadari apa yang barusan keluar dari mulutnya sekitar setengah detik setelah keluar. Aku tahu karena aku melihat mukanya berubah.
Aku menaruh kantong ayam itu di konter.
“Kak.”
“Alina—“
“Kakak tahu namanya.”
“Aku—“
“Dari kapan?”
Kak Dayana membuka mulut. Menutup. Melihat ke laci kasir, cepat sekali, gerakan mata yang mungkin tidak akan disadari orang lain.
Aku menyadarinya.
“Dari kapan, Kak?”
Dan kakakku, yang tidak pernah bisa berbohong tanpa jadi terlalu rapi, meletakkan lap di konter dengan sangat rapi.
“Enam minggu.”
Aku menghitung.
Enam minggu itu sebelum lampu jalan menyala.
Enam minggu itu sebelum tali tasku putus.
Enam minggu itu sebelum aku bahkan tahu orang ini ada.
“Kak.”
“Alina, dengerin dulu.”
“Kakak tahu namanya enam minggu.”
“Iya.”
“Dan waktu aku tanya ‘Kakak kenal orang yang pakai hoodie sama headset gede’, Kakak bilang ‘banyak yang pakai hoodie’.”
Kakakku tidak menjawab.
Aku berdiri di kafe milik keluarga kami dengan kantong ayam di antara kami berdua, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh satu tahun, aku tidak tahu harus bilang apa ke kakakku sendiri.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya reading
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin