Chapter Sixteen
Lantai Basah
POV: Dayana
Hujan mulai hari Selasa dan tidak berhenti selama enam hari.
Bukan hujan deras. Hujan yang menyebalkan — rintik terus, tidak pernah cukup besar untuk dijadikan alasan, tidak pernah berhenti cukup lama untuk mengeringkan apa pun.
Dan kafeku punya masalah dengan hujan: pintu depan menghadap ke arah yang salah, jadi setiap orang yang masuk membawa air.
Lantai depan basah dari jam sepuluh pagi sampai tutup. Aku mengepel empat kali sehari dan empat kali sehari lantainya basah lagi dalam waktu dua puluh menit. Aku menaruh keset. Kesetnya jenuh. Aku menaruh keset kedua. Sama saja.
Hari Kamis aku menempel kertas di pintu: HATI-HATI LANTAI LICIN.
Adikku melihat kertas itu dan bilang, “Kak, tulisannya kayak surat kaleng.”
“Ganti sana kalau bisa.”
Dia menggambar orang jatuh di bawah tulisannya. Gambarnya jelek sekali. Pelanggan jadi lebih hati-hati, jadi aku biarkan.
Alfa datang hari Jumat jam empat lewat, dan dia basah seluruhnya.
Bukan setengah basah. Basah yang artinya orang ini jalan kaki dari selatan tanpa payung dan tanpa berteduh sekali pun.
“Mas—“
“Alfa,” kata adikku dari meja tiga, tanpa mengangkat kepala dari nampan.
Aku melirik adikku. Adikku tersenyum ke nampannya.
“...Alfa,” kataku. “Mana payungnya?”
“Nggak punya.”
“Nggak berteduh?”
“Nanti telat.”
“Telat ke mana? Ke sini?”
Dia tidak menjawab, yang mana adalah jawaban.
Aku mengambil handuk kecil bersih dari belakang dan menyodorkannya. Dia menerimanya, bilang terima kasih, mengelap kepalanya tiga kali, lalu melipat handuk itu jadi kotak sempurna dan meletakkannya di meja.
Tiga kali. Rambutnya masih basah total.
“Alfa.”
“Hm.”
“Itu handuk, bukan tisu.”
“Cukup, kok.”
Adikku lewat di belakangku sambil membawa gelas kotor dan bergumam, cukup keras untuk aku dengar dan tidak cukup keras untuk yang lain, “Sabar, Kak.”
Aku menginjak kakinya. Dia jalan terus tanpa berubah ekspresi. Kami sudah lumayan ahli.
Kafe penuh sore itu. Hujan selalu membuat kafe penuh; orang butuh alasan untuk tidak pulang.
Jam enam kurang, aku sedang mengantar tiga gelas sekaligus ke meja empat, di nampan, dengan tangan kanan.
Aku sudah melakukan ini ribuan kali. Aku bisa melakukannya sambil menghitung kembalian.
Yang aku tidak perhitungkan adalah anak kecil yang lari dari meja dua ke arah jendela.
Aku menghindar. Refleks. Satu langkah ke kiri.
Ke lantai yang baru saja dilewati empat orang dengan sepatu basah.
Aku ingin mencatat bahwa yang aku pikirkan pertama kali bukan tubuhku. Yang aku pikirkan adalah tiga gelas di nampan dan bahwa kalau ini jatuh aku rugi seratus dua puluh ribu ditambah gelas.
Aku tidak sempat memikirkan hal kedua.
Karena kaki kananku pergi ke satu arah dan tubuhku ke arah lain, dan lantai kafeku miring, dan dunia jadi diagonal.
Lalu berhenti.
Ada tangan di punggungku dan ada tangan di pinggangku.
Aku setengah berdiri, setengah miring, dengan berat badan yang seluruhnya ditopang oleh lengan seseorang, dan nampan di tangan kananku entah bagaimana masih rata.
Tiga gelas itu tidak tumpah setetes pun.
Aku tahu itu karena aku melihatnya. Aku melihat tiga gelas es kopi susu berdiri tegak di nampan sekitar dua puluh sentimeter dari lantai, dan otakku memutuskan untuk memproses informasi itu duluan sebelum memproses apa pun yang lain.
Lalu aku memproses yang lain.
Tangannya di pinggangku. Telapak penuh, jari terbuka, di atas celemek dan di bawah rusuk. Menahan seluruh berat badanku.
Wajahnya sekitar dua puluh sentimeter dari wajahku.
Hoodie-nya basah. Rambutnya basah. Ada satu tetes air di rahangnya yang bergerak turun sambil aku menonton.
Kafe itu tidak diam. Kafe itu ramai. Ada empat belas orang, ada suara sendok, ada hujan.
Aku tidak mendengar satu pun dari semuanya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Empat.
“Kak.”
Suaranya pelan sekali dari jarak sedekat itu.
“Ya,” kataku, dan suaraku bukan suaraku.
“Gelasnya.”
“...Apa?”
“Gelasnya masih di tangan Kakak.”
Aku melihat ke nampan.
Iya. Iya, masih.
Dia menegakkan aku pelan-pelan. Satu tangan lepas dari punggungku. Tangan yang di pinggang lepas terakhir, dan aku merasakan setiap sentimeter perpindahannya seperti orang merasakan air surut.
Aku berdiri sendiri.
Aku memegang nampan dengan tiga gelas.
Kafe kembali punya suara.
“Kakak nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Lantainya licin.”
“Iya.”
“Bahaya.”
“Iya.”
Dia melihat ke lantai. Lalu ke keset yang sudah jenuh di depan pintu. Lalu ke arah pintu itu sendiri, ke arah engselnya, ke arah ambangnya.
“Kak.”
“Hm.”
“Ambang pintunya kurang tinggi.” Dia jongkok di depan pintu, di tengah kafe yang penuh, dan menempelkan telapaknya ke lantai seperti orang mengukur. “Airnya masuk ke dalam sama angin. Kalau dikasih list karet sama talang kecil di luar, keringnya lebih cepet.”
Aku berdiri di tengah kafeku dengan nampan berisi tiga gelas es kopi susu milik meja empat yang sudah menunggu enam menit.
“Alfa.”
“Ya.”
“Kamu baru aja nangkep aku.”
“Iya.”
“Terus sekarang kamu ngukur pintu.”
Dia berdiri. Dia melihat aku dengan ekspresi orang yang tidak menemukan kontradiksi apa pun dalam dua kalimat itu.
“Kan lantainya masih licin.”
Aku mengantar tiga gelas itu ke meja empat.
Aku minta maaf ke meja empat. Meja empat bilang tidak apa-apa. Meja empat kelihatan sangat terhibur oleh seluruh kejadian itu dan salah satunya, seorang ibu-ibu, menatapku dengan senyum yang aku pura-pura tidak lihat.
Aku kembali ke konter dan membutuhkan waktu sekitar empat puluh detik sebelum tanganku cukup stabil untuk memegang gelas.
Ada satu hal yang tidak bisa aku lepaskan dari kepala.
Waktu aku jatuh, dia sedang duduk di meja pojok. Menghadap jendela. Membelakangi seluruh ruangan.
Jarak meja pojok ke tempat aku terpeleset itu enam meter. Ada tiga meja di antaranya. Ada empat belas orang.
Dia sampai sebelum aku menyentuh lantai.
Aku menghitungnya berkali-kali malam itu dan angkanya tidak pernah masuk akal, dan satu-satunya penjelasan yang tersisa adalah bahwa dia sudah berdiri sebelum aku terpeleset.
Bahwa dia sudah berdiri waktu anak kecil itu mulai lari.
Adikku menabrakku di belakang konter lima menit kemudian.
“Kak.”
“Jangan.”
“Empat detik.”
“Alina.”
“Aku ngitung,” bisik adikku, dengan wajah yang tidak marah sama sekali dan justru itu yang bikin aku ingin menghilang. “Empat detik, Kak. Empat.”
“Ambilin gelas.”
“Kakak beruntung banget lantainya licin.”
“ALINA.”
Dia kabur ke belakang sambil tertawa.
Dan aku berdiri di belakang konter dengan tangan yang masih ingat bentuk telapak orang lain di pinggangnya, sambil menonton laki-laki basah kuyup di depan pintu kafeku sedang menjelaskan ke Pak Ijang — yang kebetulan lewat dan berhenti karena Pak Ijang selalu berhenti — soal talang kecil dan list karet.
Pak Ijang mengangguk-angguk seolah mengerti.
Alfa menggambar sesuatu di udara dengan jari.
Aku memandanginya lebih lama dari yang seharusnya, lalu menunduk ke mesin kopi.
Hari Senin, waktu aku buka kafe jam lima pagi, ada list karet terpasang rapi di bawah ambang pintu.
Aku tidak melihat siapa pun memasangnya.
Aku tidak perlu.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah reading
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin