Chapter Twenty Nine
Bus
POV: Alina
Aku merusak charger laptopku sendiri hari Jumat malam.
Aku ingin mencatat ini dengan jujur karena aku sudah cukup lelah berbohong pada diri sendiri: aku menekuk kabel itu di satu titik yang sama berkali-kali sampai lampunya kedip-kedip, lalu aku duduk memandanginya dengan perasaan bersalah selama sekitar sepuluh menit.
Charger itu harganya dua ratus ribu.
Waktu berdua di bus dua jam pulang-pergi harganya, menurut perhitunganku malam itu, jauh lebih dari dua ratus ribu.
Aku bilang ke Alfa hari Sabtu pagi.
“Alfa, chargerku rusak.”
“Bawa sini.”
“Nggak bisa dibenerin.”
“Belum dilihat.”
“Udah aku lihat.”
“Kamu bisa lihat?”
“...Nggak.”
“Bawa sini.”
Aku membawanya ke bengkel dengan perasaan seperti orang yang membawa barang bukti ke tempat kejadian perkara.
Alfa membukanya di meja kerja dalam waktu empat menit.
Dan aku berdiri di sana menonton dia memeriksa hasil kejahatanku sendiri sambil berkeringat.
“Kabelnya putus di dalem.”
“Oh ya?”
“Aneh.”
“Aneh gimana?”
“Putusnya cuma di satu titik.” Dia mengangkat kabel itu ke arah lampu. “Biasanya kalau kabel rusak, dia rusak di deket colokan. Ini di tengah.”
Aku menelan ludah.
“Mungkin kegencet kasur.”
Alfa menatap kabel itu beberapa detik lagi.
“Mungkin,” katanya.
Dan sampai sekarang aku tidak yakin apakah orang itu percaya atau tidak, dan menurutku dia sendiri juga tidak yakin, dan itu adalah salah satu dari sedikit hal di dunia yang membuat aku senang bahwa Alfa tidak pernah bertanya balik.
“Bisa diganti?”
“Kabelnya nggak ada di sini. Harus ke Cikini.”
“Cikini itu jauh?”
“Satu jam. Bus.”
“Kamu bisa nemenin?”
Alfa melihat aku.
“Besok Minggu,” katanya. “Bengkel tutup.”
“Ya makanya.”
Dia diam sebentar.
“Ya udah.”
Dan aku keluar dari bengkel itu dan jalan sepuluh meter dengan wajah datar dan setelah itu aku lari.
Kakakku sudah tahu sebelum aku sempat bicara.
“Alina.”
“Kak, ini urusan charger.”
“Chargernya rusak kenapa?”
“Kegencet kasur.”
Kakakku menaruh lap.
“Kasur kamu ada di lantai.”
“Iya.”
“Chargernya kegencet lantai?”
“Kak—“
“Alina.”
Aku menyerah dan menutup muka dengan dua tangan dan kakakku menghela napas panjang sekali.
“Pasal 6?” tanyaku dari balik tangan.
“Pasal 6 itu soal datang pura-pura kebetulan. Ini bukan.”
“Berarti sah?”
Kakakku mengambil lapnya lagi dan mulai mengelap konter yang sudah bersih.
“Sah,” katanya.
Dan cara kakakku mengucapkan kata itu membuat aku merasa jauh lebih buruk daripada kalau dia marah.
Kami berangkat Minggu jam delapan pagi.
Bus jam segitu penuh tapi tidak sesak. Kami dapat dua kursi di belakang, di sisi kiri, dekat jendela.
Aku di jendela. Alfa di lorong.
Dia memakai hoodie yang sama, headphone di leher, tas selempang di pangkuan.
“Alfa.”
“Hm.”
“Kamu sering naik bus?”
“Nggak.”
“Nggak pernah ke mana-mana?”
“Jalan kaki.”
“Ke Cikini jalan kaki?”
“Nggak. Ke Cikini bus.”
“Berarti kamu naik bus.”
“Ya kalau ke Cikini.”
Aku menyandarkan kepala ke jendela dan tersenyum ke arah kaca supaya dia tidak lihat.
Percakapan di bus itu adalah percakapan terpanjang yang pernah aku punya dengan Alfa dan totalnya mungkin tujuh belas kalimat dari pihaknya.
Aku menanyakan hal-hal yang tidak penting supaya bisa menanyakan satu hal yang penting.
“Kamu punya barang yang paling kamu suka nggak?”
“Obeng.”
“Obeng?”
“Yang ketiga dari kiri di tas. Ujungnya udah tumpul tapi enak dipegang.”
“Bukan itu maksudku.”
“Terus?”
“Barang yang... ya, yang berarti.”
Alfa memandang ke depan.
“Nggak ada.”
“Beneran nggak ada?”
“Barang mah barang.”
Aku menoleh ke arahnya.
Dan aku tahu dia bohong, dan aku tahu dia tidak tahu bahwa aku tahu, dan aku duduk di bus itu dengan rahasia yang berat sekali di dada.
Karena aku ingin sekali bilang: aku tahu soal radionya, aku tahu soal nenekmu, aku tahu soal utang tiga ratus dua puluh ribu yang tidak pernah ada.
Dan aku tidak bilang.
Karena kalau aku bilang, itu artinya aku mengambil sesuatu dari dia yang tidak dia berikan ke aku.
Aku tidur di bahunya di kilometer entah berapa.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak tidur. Aku sengaja. Aku menunggu bus itu melewati jalan yang agak bergelombang, aku memiringkan kepala perlahan-lahan seperti orang yang benar-benar mengantuk, dan aku menaruhnya di bahunya.
Lalu aku menutup mata dan tidak tidur sedetik pun selama dua puluh tiga menit.
Bahunya keras. Hoodie-nya bau sabun cuci murah dan sedikit logam. Bus itu bergoyang dan setiap kali bergoyang kepalaku bergeser sedikit dan setiap kali bergeser aku harus menahan diri untuk tidak tersenyum.
Dan Alfa tidak bergerak sama sekali.
Bukan tidak bergerak karena kaku. Tidak bergerak dengan sengaja — aku tahu bedanya karena di menit kelima ada penumpang yang mau lewat dan Alfa menarik kakinya ke dalam tanpa menggeser bahunya sedikit pun.
Di menit kedua belas, tangannya bergerak.
Aku menahan napas.
Dia mengambil tasnya dari pangkuan, memindahkannya ke sisi lorong, dan menaruh lengannya di pembatas kursi sehingga posisi bahunya jadi lebih rata.
Lalu diam lagi.
Aku hampir menangis di bus jurusan Cikini jam sembilan pagi hari Minggu.
Kami turun di kilometer entah berapa dan jalan kaki ke pasar komponen.
Tempat itu seperti kota kecil yang isinya cuma barang elektronik. Lorong sempit, kios menumpuk, kabel menggantung di mana-mana, dan bau yang sangat spesifik yang tidak bisa aku jelaskan.
Alfa berubah di tempat itu.
Bukan berubah besar. Tapi jalannya jadi lebih cepat. Kepalanya tetap bergerak memindai tapi dengan cara yang berbeda — bukan mencari yang rusak. Mencari yang dia butuhkan.
Dia menawar. Dia menawar dengan sangat serius, untuk kabel charger seharga tiga puluh lima ribu, sampai jadi dua puluh delapan.
“Alfa, tujuh ribu doang.”
“Tujuh ribu itu satu bungkus makan kucing setengah.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Aku menghilang lima belas menit.
Aku bilang mau ke toilet. Aku tidak ke toilet.
Aku masuk ke lorong paling belakang, ke kios yang menjual barang bekas dan komponen lama, dan aku mengeluarkan HP-ku dengan foto yang aku ambil diam-diam di bengkel Koh Ateng hari Kamis.
Foto bagian belakang radio itu. Ada tulisan seri di situ.
“Bang, ada trafo yang ini nggak?”
Abang kios itu melihat fotonya. Lalu melihat aku. Lalu melihat fotonya lagi.
“Ini radio tahun berapa, Neng?”
“Nggak tahu.”
“Ini barang lama banget.”
“Ada nggak?”
“Nggak ada.” Dia menggeleng. “Di sini nggak ada. Di seluruh pasar ini juga nggak ada.”
“Di mana ada?”
“Neng, ini bukan soal di mana.” Dia menyerahkan HP-ku kembali. “Barang kayak gini itu nunggu. Ada orang bongkar radio tua terus jual komponennya. Bisa besok, bisa nggak pernah.”
“Kalau saya titip nomor?”
Abang itu menatapku agak lama.
“Buat siapa sih, Neng?”
Aku membuka mulut.
Dan aku tidak bisa menjelaskannya tanpa menceritakan seluruhnya, jadi aku bilang:
“Buat orang yang nggak tahu saya lagi nyariin.”
Abang kios itu mengangguk pelan-pelan, seperti orang yang sudah sering mendengar kalimat semacam itu, lalu mengambil buku catatan dan pulpen.
“Nomornya berapa?”
Di bus pulang, Alfa yang tidur.
Aku tidak menyadarinya sampai kepalanya jatuh ke depan sekali dan dia bangun sendiri.
Lalu jatuh lagi.
Lalu dia menyandarkannya ke kaca jendela di sisi lorong, yang mana bukan jendela, yang mana cuma tiang, dan kepalanya terus bergeser turun setiap kali bus mengerem.
Aku menonton itu selama sekitar lima menit sambil memegang kantong plastik berisi kabel charger seharga dua puluh delapan ribu.
Lalu aku menepuk bahuku sendiri dua kali.
“Sini.”
Dia membuka mata setengah. “Hm?”
“Sini,” ulangku. “Aku udah pinjem punya kamu dua puluh tiga menit.”
Dia menatapku selama beberapa detik dengan mata orang yang belum sepenuhnya bangun.
“Kamu ngitung?”
“Iya.”
“Oh.”
Lalu dia menyandarkan kepalanya ke bahuku dan tidur betulan dalam waktu kurang dari tiga puluh detik.
Aku duduk sangat tegak selama lima puluh dua menit sampai bus sampai Blok C, dengan bahu yang mati rasa dan senyum yang tidak bisa aku hilangkan dari muka.
Dan tepat sebelum turun, HP-ku bergetar.
Grup keluarga. Dari kakakku.
Kak Dayana: Alina.
Kak Dayana: Kalian di mana?
Kak Dayana: Jangan pulang lewat depan pasar.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus reading
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin