← Nggak Usah Dibales

Chapter Twenty Two

Delapan Kali

POV: Bu Ratih

Blok C ini kalau sudah bergerak, bergeraknya tidak bisa direm.

Ibu tahu karena ibu yang biasanya menyalakan.

Yang menyalakan kali ini bukan ibu. Yang menyalakan adalah daftar Pak Har, dan Bu Sri yang menangis di pengajian hari Jumat, dan cerita Bilal soal bakso yang beredar sampai ke RT sebelah dengan bumbu tambahan bahwa Alfa tidak ikut makan.

Bagian tidak ikut makan itu bukan bumbu. Itu memang benar. Ibu cek sendiri ke tukang baksonya.

Dan begitu Blok C tahu ada orang yang tidak ikut makan, Blok C berubah jadi sesuatu yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun, termasuk oleh orang yang tidak ikut makan itu.


Hari Senin, jam tujuh pagi.

Ibu sedang membuka terpal lapak waktu Alfa lewat mulut gang seperti biasa.

“Mas!”

Dia berhenti.

Ibu menyodorkan bungkusan.

“Apa ini, Bu?”

“Nasi uduk.”

“Bu, saya—“

“Ibu masak kebanyakan.”

Itu bohong. Ibu masak persis segitu sejak jam lima pagi dan ibu bangun lebih awal dari biasanya untuk melakukannya. Tapi “ibu masak kebanyakan” adalah kalimat yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di Indonesia, dan ibu tahu itu, dan ibu memakainya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Dia menerimanya.

“Makasih, Bu.”

“Sama-sama.”

“Nggak usah dibales.”

Ibu berkedip. “Mas, ini ibu yang ngasih.”

Dia diam sebentar. Kelihatannya menyadari sesuatu.

“...Iya,” katanya. “Maaf.”

Lalu pergi.

Ibu berdiri di lapak dan tertawa sendirian selama sekitar satu menit sampai ada yang beli bunga.


Yang ibu tidak tahu waktu itu: bungkusan ibu adalah nomor satu dari delapan.

Ibu baru tahu jumlah lengkapnya malam harinya, dari grup, dan urutannya kira-kira begini.

Nomor dua, jam delapan lewat: Pak Wisnu, di depan ruko kelontong, satu dus mi instan.

Pak Wisnu: Saya kasih satu dus. Dia gak mau. Saya bilang ini dus yg dia pungut di jalan bulan lalu.
Pak Wisnu: Dia diem
Pak Wisnu: Terus dia bilang “nggak usah dibales”
Pak Wisnu: SAYA YG BALES PAK
Pak Har: Diterima?
Pak Wisnu: Diterima. Setengah dus. Setengahnya dia titip balik ke saya buat kos melati.

Nomor tiga, jam sepuluh: Ibu Kos Melati, tiga bungkus lauk.

Nomor empat, jam sebelas: Nenek Sum.

Ini yang paling ibu suka.

Nenek Sum itu umurnya tujuh puluh empat dan galaknya minta ampun dan dulu pernah diseberangkan Alfa di depan indomaret waktu Nenek Sum mau menyeberang untuk memarahi tukang parkir. Sejak hari itu Nenek Sum jadi pembela Alfa nomor satu di Blok C dan tidak menerima diskusi.

Nenek Sum menghadang Alfa di trotoar dengan tongkat.

“Duduk.”

“Nek—“

“DUDUK.”

Alfa duduk di bangku semen depan pasar dan Nenek Sum menyuapinya bubur.

Menyuapi. Dengan sendok. Di depan umum. Laki-laki dua puluh enam tahun.

Ada yang memfoto. Fotonya beredar di grup dalam waktu sebelas menit dan sampai sekarang masih dipakai sebagai stiker.

Nomor lima, jam satu siang: Bu Sri.

Bu Sri datang ke bengkel membawa rendang dan berdiri di depan pintu selama empat menit sebelum berani masuk. Koh Ateng yang cerita.

Kata Koh Ateng, Bu Sri minta maaf sampai menangis dan Alfa cuma bilang “iya, Bu” dan “nggak apa-apa, Bu” dan akhirnya “nggak usah dibales, Bu”, dan Bu Sri malah tambah menangis, dan Koh Ateng akhirnya menyuruh keduanya keluar dari bengkelnya karena ada pelanggan.

Nomor enam, jam tiga: anak-anak kos Melati, patungan, es teh gelas plastik satu.

Satu. Untuk satu orang. Hasil patungan lima anak.

Kata Bilal, mereka mengumpulkan uang sisa jajan selama tiga hari.

Nomor tujuh, jam lima: Pak Broto.

Ya. Pak Broto. Yang di grup bilang “pasti ada maunya”.

Pak Broto tidak mengirim apa pun ke grup soal ini dan tidak pernah membahasnya sekali pun. Ibu tahu karena ibu melihatnya sendiri dari lapak: Pak Broto berhenti di depan Alfa di trotoar, menyodorkan sesuatu yang dibungkus koran, tidak bicara lebih dari lima detik, lalu pergi cepat-cepat.

Isinya sandal.

Sandal baru. Ukurannya pas.

Ibu tidak pernah menulis itu di grup dan tidak akan pernah, karena ada hal-hal yang kalau ditulis akan rusak.

Nomor delapan, jam tujuh malam: Kafe Sepuluh Menit.

Ibu kebetulan lewat.

Ibu melihat Neng Alina menaruh piring nasi goreng di meja pojok dan langsung berbalik sebelum sempat ditolak, dan ibu melihat Neng Dayana di belakang konter pura-pura tidak melihat, dan ibu melihat piring itu kosong dua puluh menit kemudian.

Delapan kali. Dalam satu hari.

Dan menurut hitungan ibu — ibu menghitung dari cerita semua orang — kalimat “nggak usah dibales” keluar delapan kali juga.

Ke ibu. Ke Pak Wisnu. Ke Ibu Kos. Ke Nenek Sum, yang membalas dengan “DIEM, MAKAN.” Ke Bu Sri. Ke anak-anak kos. Ke Pak Broto, yang sudah keburu jalan. Dan ke Neng Alina, yang menjawab, kata Neng Alina sendiri, “bukan nanya.”


Yang membuat ibu tidak bisa tidur malam itu bukan delapan-delapannya.

Yang membuat ibu tidak bisa tidur adalah yang ibu lihat jam delapan malam, waktu ibu mendorong ember pulang lewat gang belakang.

Alfa sedang jongkok di sana.

Dan di depannya ada semua barang hari itu, dibuka satu-satu, dan dia sedang membaginya.

Nasi uduk ibu, sudah dimakan setengah. Sisanya di piring kertas, dipecah jadi tiga.

Lauk Ibu Kos Melati, dipindahkan ke dua bungkus, dan ibu tahu persis dua bungkus itu untuk siapa karena besok paginya ibu lihat Bilal dan adiknya makan dari bungkus yang sama.

Mi instan, setengah dus, sudah ditandai pakai spidol dengan tulisan KOS MELATI.

Rendang Bu Sri — ini yang bikin ibu berhenti mendorong ember — masih utuh, belum disentuh, dimasukkan ke tas.

Dan es teh gelas plastik hasil patungan lima anak itu ada di tangannya, sudah setengah habis, satu-satunya yang dia minum sendiri sampai habis di tempat.

Kucing-kucing mengelilinginya.

Dia menyisihkan sedikit untuk mereka juga.

Ibu berdiri di mulut gang dengan ember bunga dan roda yang tidak berbunyi dan tidak bisa bergerak sama sekali selama mungkin satu menit.

Lalu ibu pulang lewat jalan lain.


Ibu buka HP jam sepuluh malam. Grup masih ramai. Semua orang membahas foto Nenek Sum menyuapi bubur.

Ibu mengetik sesuatu.

Ibu menghapusnya.

Ibu mengetik lagi.

Ibu menghapusnya lagi.

Akhirnya yang ibu kirim cuma:

Bu Ratih: Bsk ibu masak lg
Pak Ijang: Kebanyakan lagi bu?
Bu Ratih: Iya pak
Pak Ijang: Kebetulan sekali ya bu
Bu Ratih: Iya pak kebetulan

Dan besoknya ibu masak lebih banyak lagi.

Ibu tahu sebagian akan berakhir di kos Melati dan sebagian di gang belakang dan sebagian di perut kucing.

Ibu tetap masak.

Karena orang seperti itu tidak akan pernah minta apa-apa, dan satu-satunya cara membalasnya adalah dengan mengalahkan dia dalam permainan yang dia sendiri ciptakan.

Ada satu hal lagi yang ibu simpan sendiri.

Waktu ibu berdiri di mulut gang malam itu, sebelum ibu pergi lewat jalan lain, ibu sempat melihat Alfa mengeluarkan rendang Bu Sri dari tas.

Dia membukanya. Menciumnya. Menutupnya lagi.

Lalu memasukkannya kembali ke tas tanpa makan sesuap pun.

Ibu sempat berpikir dia mau menyimpannya untuk besok.

Tapi tiga hari kemudian ibu lewat bengkel dan melihat wadah rendang itu — wadah plastik merah, ibu hafal wadah Bu Sri karena Bu Sri sudah dua belas tahun pakai wadah yang sama — ada di rak kecil di belakang meja kerja, masih tertutup, masih penuh.

Ibu tidak tanya.

Tapi ibu jadi mikir: ada orang yang menerima maaf, dan ada orang yang menyimpan maaf karena belum tahu harus diapakan.

Ibu belum pernah bertemu yang kedua sebelum ini.