← Nggak Usah Dibales

Chapter Eighteen

Verifikasi

POV: Alina

Teori Bu Ratih berkembang jadi sesuatu yang tidak bisa dikendalikan siapa pun, termasuk Bu Ratih.

Awalnya cuma “jangan-jangan bukan orang” — dilempar iseng di grup, dua bulan lalu, waktu belum ada yang tahu apa-apa.

Setelah catatan Pak Har keluar, teori itu bangkit dari kubur.

Bu Ratih: Ibu bkn mau nakut2in ya
Bu Ratih: Tp coba pikir
Bu Ratih: 41 kali nolong. Ga mau dibayar. Ga mau dikasih apa2. Ga pernah minta apa2.
Bu Ratih: ITU MANUSIA??
Pak Ijang: Bu ratih tolong
Bu Ratih: Ibu cuma nanya pak

Dan yang membuat semuanya lebih buruk: Blok C ini punya lima belas ibu-ibu yang sangat suka pertanyaan semacam itu.

Dalam empat hari, ada tiga versi yang beredar.

Versi satu: Alfa itu wali. Versi ini dibawa oleh ibu-ibu pengajian dan sangat populer.

Versi dua: Alfa itu orang yang bernazar setelah selamat dari kecelakaan besar. Versi ini punya detail yang berbeda-beda tergantung siapa yang menceritakan; kecelakaannya kadang bus, kadang tabrakan motor, dan satu kali kapal.

Versi tiga adalah versi Bu Ratih dan aku tidak akan menuliskannya karena kalau ditulis nanti dipercaya.

Aku mendengar semuanya karena aku di kafe setiap sore dan kafe adalah tempat semua rumor Blok C mampir untuk beristirahat.

Dan yang bikin aku panas bukan rumornya.

Yang bikin aku panas adalah bahwa tidak ada satu pun dari tiga versi itu yang isinya dia orang biasa.

Semua versi bikin dia jadi sesuatu. Wali, orang bernazar, atau makhluk. Tidak ada yang mau menerima kemungkinan paling sederhana, yaitu ada laki-laki dua puluh enam tahun kurus yang tinggal di kontrakan sempit dan makan sekali sehari dan berjalan pulang tanpa payung dan memungut kardus orang di tengah jalan karena dia memang begitu.

Orang lebih gampang percaya keajaiban daripada percaya orang baik.

Aku sempat bertanya ke Koh Ateng, sekali, waktu beli lakban di bengkel.

“Koh, Alfa itu orangnya gimana sih?”

Koh Ateng tidak mengangkat kepala dari solderannya.

“Neng nanya apa?”

“Ya... latar belakangnya.”

“Tanya sendiri.”

“Dia nggak pernah jawab, Koh.”

Koh Ateng meletakkan solder. Melepas kacamata. Mengelapnya dengan ujung kaos.

“Neng,” katanya. “Kalau anak itu mau cerita, dia cerita. Kalau saya yang cerita, itu namanya saya jualan cerita orang.”

“Koh—“

“Lakbannya lima belas ribu.”

Aku pulang membawa lakban dan tidak membawa apa-apa lagi.


Hari Kamis, jam setengah lima sore, Bu Ratih mampir ke kafe.

Beliau selalu mampir jam dua, jadi jam setengah lima itu berarti beliau datang untuk sesuatu.

“Neng Dayana.”

“Bu Ratih.”

“Es teh.”

“Yang dipotong mawar bulan lalu itu, Bu?”

“Neng.” Bu Ratih menaruh tasnya. “Mawarnya bagus.”

“Mawarnya mati empat hari, Bu.”

“Itu salah air.”

Aku menaruh es teh Bu Ratih dan duduk di kursi seberangnya tanpa diminta, karena aku mencium sesuatu.

“Neng Alina.”

“Iya, Bu.”

“Kamu deket sama Mas itu, ya.”

Nah.

“Deket gimana, Bu?”

“Ya deket.” Bu Ratih menyedot es tehnya. “Kamu naik ke punggungnya di pasar.”

“Itu situasional, Bu.”

“Situasional.”

“Iya, Bu. Ada bapak-bapak berempat—“

“Neng.” Bu Ratih menaruh gelasnya dan mencondongkan badan, dan aku sudah tahu sebelum beliau membuka mulut bahwa yang keluar berikutnya akan jadi masalah. “Waktu kamu megang dia, gimana rasanya?”

Aku berkedip.

“...Bu?”

“Anget nggak?”

“BU RATIH.”

“Ibu nanya serius!”

“Bu, itu manusia!”

“Ya itu yang ibu mau pastiin!”

Dari belakang konter, kakakku menjatuhkan sendok.


Dan tepat pada momen itu — karena hidupku memang disusun oleh seseorang yang punya selera humor buruk — pintu kafe berbunyi tak.

Kami bertiga menoleh serentak.

Alfa berdiri di ambang pintu, basah setengah karena gerimis, dengan headphone di leher dan tas selempang dan wajah orang yang baru saja pulang kerja dan tidak tahu dia sedang masuk ke ruang sidang.

“Sore.”

“Sore, Mas!” kata Bu Ratih, dengan nada satu setengah oktaf lebih tinggi dari nada beliau tiga detik sebelumnya.

Alfa jalan ke meja pojok.

Dan aku, dengan seluruh pertimbangan matang yang bisa dikumpulkan oleh mahasiswa semester lima dalam waktu satu koma dua detik, berdiri dari kursi, memotong jalannya di tengah kafe, dan mencubit pipinya.


Bukan cubitan sayang. Cubitan pemeriksaan. Dua jari, di pipi kiri, ditarik sedikit ke luar.

Alfa berhenti berjalan.

Dia tidak mundur. Dia tidak menepis. Dia berdiri di tengah kafeku dengan pipi dicubit oleh perempuan yang tingginya sebahunya, dan yang dia lakukan cuma menurunkan matanya ke arah tanganku dengan ekspresi bingung yang sangat, sangat sabar.

“Anget, Bu!” teriakku, tanpa melepaskan.

“HAH?”

“ANGET! ADA DAGINGNYA! KENYEL!”

“Ya Allah, Neng—“

“BU RATIH BILANG KAMU JANGAN-JANGAN BUKAN ORANG,” kataku ke Alfa, masih sambil mencubit.

Alfa memproses informasi itu selama sekitar dua detik.

Lalu dia bilang, dengan suara yang sepenuhnya datar dan tidak terganggu sama sekali karena pipinya sedang ditarik:

“Bukan.”

Bu Ratih menjatuhkan gelas es tehnya.

Beneran jatuh. Ke lantai. Pecah.

“MAS!”

“Bercanda, Bu.”

“MAS JANGAN GITU IBU JANTUNGAN!”

“Maaf, Bu.”

Dan aku — masih memegang pipinya, masih di tengah kafe, dengan pecahan gelas di lantai dan kakakku yang sudah keluar dari balik konter membawa sapu dan Bu Ratih yang mengipasi dirinya dengan struk belanja — aku melihat sesuatu.

Sudut mulutnya naik.

Naik beneran. Bukan setengah. Bukan yang harus dicari-cari.

Alfa tersenyum, di kafeku, sambil pipinya dicubit, dan itu adalah pertama kalinya aku melihatnya.

Tanganku turun sendiri.

“Alina.”

Suara kakakku dari belakang.

“Pecahannya.”

“Iya, Kak.”

Aku mengambil sapu. Aku menyapu pecahan gelas itu dengan sangat, sangat serius, seperti orang yang tidak sedang mengalami apa pun.


Bu Ratih pulang jam enam dalam kondisi yang, jujur, tidak terlalu stabil.

Sebelum keluar, beliau menahan lenganku di depan pintu.

“Neng.”

“Iya, Bu.”

“Ibu minta maaf ya, tadi ibu keterlaluan.”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Ibu tuh emang—“ Bu Ratih melambaikan tangan ke arah kepalanya sendiri, entah menjelaskan apa. “Ya gitu deh.”

“Iya, Bu.”

Beliau melirik ke dalam kafe, ke meja pojok, lalu kembali ke aku.

Dan beliau menepuk lenganku dua kali.

“Bagus, Neng.”

“Apanya, Bu?”

“Yang tadi. Cubit.” Beliau mengangguk dengan penuh keyakinan. “Terus aja gitu. Yang model gitu nggak ngerti kalau nggak dipegang.”

Lalu Bu Ratih pergi dengan ember bunganya yang rodanya tidak berbunyi, meninggalkan aku berdiri di ambang pintu dengan muka panas.

Aku masuk lagi.

Kakakku sedang berdiri di belakang konter, punggung lurus, mengelap gelas yang sudah kering.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak nggak marah?”

Kakakku terus mengelap.

“Aku nggak marah,” katanya.

Dan itu benar. Aku tahu itu benar. Kakakku tidak marah.

Tapi malam itu, waktu kami tutup dan pulang jalan kaki berdua, Kak Dayana tidak bicara sama sekali sampai belokan terakhir.

Lalu dia bilang, ke arah depan, tanpa menoleh:

“Aku nggak akan pernah bisa gitu.”

“Gitu gimana?”

“Yang kamu lakuin tadi.”

Aku menoleh ke kakakku.

“Kak—“

“Bukan sindiran,” katanya cepat. “Beneran bukan. Aku cuma... nggak bisa.”

Dan kami jalan sisa dua ratus meter dalam diam, dan aku tahu persis bahwa kalimat barusan bukan kekalahan.

Kalimat barusan adalah kakakku sedang menyusun sesuatu.