← Nggak Usah Dibales

Chapter Three

Info Ruko Blok C

POV: Pak Har

Empat puluh satu tahun aku hidup di kawasan ini dan dua belas tahun aku menjaganya. Ada dua hal yang aku pegang sebagai prinsip profesional.

Pertama: keamanan itu bukan soal kekuatan, tapi soal pencatatan.

Kedua: kalau ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, jangan buru-buru bilang tidak ada apa-apa. Bilang saja belum terdata.

Maka pagi itu, waktu aku keluar pos dan melihat lampu jalan nomor tujuh masih menyala dalam kondisi terang benderang jam enam pagi — padahal seharusnya sudah mati sendiri oleh sensor, kalau sensornya ada, yang mana aku tidak yakin — aku langsung ambil buku.

Bukunya bersampul cokelat. Di depannya aku tulis pakai spidol: CATATAN AKTIVITAS MENCURIGAKAN — BLOK C.

Entri hari itu aku tulis rapi:

Selasa. 06.02. Lampu jalan no. 7 dalam kondisi menyala. Terakhir menyala tahun 2019 (perkiraan). Tidak ada laporan perbaikan dari kelurahan. Tidak ada kendaraan dinas terpantau. Status: belum terdata.

Aku baca ulang. Aku tambahkan satu baris.

Catatan: siapa.


Jam delapan aku mulai penyelidikan lapangan, yang dalam istilah awam berarti aku jalan ke lapak Bu Ratih dan pesan kopi.

“Pak Har, ibu mau tanya.”

“Silakan, Bu. Dalam kapasitas apa?”

“Kapasitas apa gimana?”

“Ibu tanya sebagai warga, atau sebagai saksi?”

Bu Ratih menatapku lama sekali. “Sebagai orang yang penasaran, Pak.”

“Itu tidak ada di formulir.”

“Yaudah saksi.”

“Nah.” Aku membuka buku. “Silakan.”

Keterangan Bu Ratih aku catat sebagai berikut. Sekitar pukul lima dini hari, saksi mendengar bunyi logam berulang dari arah utara. Saksi menduga aktivitas pencurian. Saksi tidak keluar untuk memeriksa karena, dalam kalimat saksi sendiri, “ya kan ibu sendirian, Pak, masa ibu yang ngecek.”

Aku catat semuanya. Termasuk bagian terakhir, karena keterangan saksi harus utuh.

“Terus Ibu tanya ke siapa lagi?”

“Ke Neng Dayana. Kafe kan paling depan.”

Aku mengangkat pena. “Dan?”

“Katanya kucing.”

“Kucing.”

“Kucing setengah kuintal, Pak.”

Aku menulis: Keterangan pemilik kafe: kucing. Bobot tidak wajar. Perlu klarifikasi.


Klarifikasi tidak berjalan sesuai rencana.

Jam sepuluh aku masuk kafe. Neng Dayana sedang mengelap gelas. Anak itu aku kenal dari dia masih SD, dari sebelum ibunya meninggal, dari zaman kafe itu masih warung nasi. Dia anak yang sopan, tenang, dan tidak pernah bisa berbohong tanpa jadi terlalu rapi.

Pagi itu dia terlalu rapi.

“Neng, semalam ada yang lewat depan nggak?”

“Banyak, Pak.”

“Yang bawa alat.”

“Alat apa?”

“Ya alat.” Aku menggerakkan tangan. “Yang buat manjat.”

“Bapak curiga ada maling?”

“Bapak curiga ada yang benerin.”

Dia berhenti mengelap gelas. Cuma sebentar. Setengah detik, mungkin kurang. Kalau aku bukan orang yang dua belas tahun kerjaannya memperhatikan orang lewat, aku tidak akan lihat.

“Bagus dong, Pak, kalau ada yang benerin.”

“Bagus. Tapi tetap harus terdata.”

“Kenapa harus terdata?”

“Karena,” kataku, dan di titik itu aku sadar aku tidak punya lanjutan yang bagus, “kalau tidak terdata, nanti kalau orangnya kenapa-kenapa, tidak ada yang tahu.”

Neng Dayana menatapku.

Lalu dia menaruh gelasnya, mengambil piring, memotong cheesecake, dan menaruhnya di depanku.

“Gratis, Pak.”

Aku makan cheesecake itu. Enak sekali. Aku pulang ke pos tanpa satu pun informasi tambahan dan baru sadar tiga jam kemudian bahwa aku barusan disuap.

Aku tulis di buku:

Pemilik kafe kooperatif. Sangat kooperatif. Terlalu.


Grup itu aku buat jam empat sore.

Namanya INFO RUKO BLOK C. Aku masukkan tiga puluh dua orang. Deskripsi grup aku isi: Grup resmi informasi keamanan dan kebersihan lingkungan Blok C. Dilarang jualan.

Dalam sembilan menit, ada empat orang jualan.

Dalam dua belas menit, topiknya sudah bergeser dan tidak pernah kembali.

Bu Ratih: Pak har jd lampu itu siapa yg benerin??
Pak Ijang: Kelurahan kali
Bu Ratih: Kelurahan mana ada jam 5 pagi pak
Koh Ateng: Ada orang baik
Bu Ratih: Ada orang baik jam 5 pagi manjat tiang?? Ngeri koh
Pak Ijang: Serem sih
Bu Ratih: Jgn2 bukan orang
Koh Ateng: Bu
Bu Ratih: Ibu cuma bilang jgn2

Jam tujuh malam grup itu sudah dua ratus enam belas pesan. Aku baca semuanya, karena itu tugas admin, dan karena tidak ada yang lain untuk dilakukan di pos.

Ibu Kos Melati: Anak2 saya bilang lampu itu nyala dari jam 6 sore
Pak Ijang: Berarti otomatis
Bu Ratih: Kalau otomatis kenapa 3 taun ga otomatis pak
Pak Ijang: ...
Koh Ateng: Sudahlah nyala ya syukur
Bu Ratih: Koh ateng ini org nya ga penasaran
Koh Ateng: Saya penasaran sama tagihan bengkel bu

Ada yang mengirim stiker kucing. Empat belas kali. Aku tidak tahu siapa dan aku memilih tidak menyelidiki.

Lalu Bu Ratih mengirim satu pesan yang membuat aku duduk tegak.

Bu Ratih: Eh td pagi ada yg liat orang jongkok di depan pasar bantuin anak kuliahan yg tasnya putus ga? Kata tukang sayur
Pak Ijang: Ga liat
Bu Ratih: Katanya ngasih peniti trus kabur
Pak Ijang: Kabur?
Bu Ratih: Ya pergi gitu aja pak

Aku membuka buku cokelatku dan menambahkan entri kedua hari itu.

Selasa. Sekitar 09.20. Lokasi: trotoar depan pasar. Subjek tidak dikenal membantu warga (perempuan, mahasiswa) yang tasnya rusak. Meninggalkan lokasi tanpa identitas.

Catatan: benerin lagi.

Aku memandangi dua entri itu bersebelahan.

Lampu. Tas.

Dua-duanya rusak. Dua-duanya dibetulkan. Dua-duanya ditinggalkan tanpa nama.

Aku menutup buku pelan-pelan.

Aku membiarkan mereka. Sampai batas tertentu, spekulasi warga adalah bentuk kewaspadaan.

Sampai malam, teori yang masuk ada enam. Aku catat semuanya di buku, dengan penilaian objektif:

  1. Petugas PLN misterius. — Tidak masuk akal. PLN tidak pakai sandal.
  2. Anak kelurahan yang mau maju pilkades. — Belum musim.
  3. Orang yang bernazar. — Mungkin. Tidak bisa dibuktikan.
  4. Bukan orang. — Bu Ratih. Tidak saya catat serius, tapi saya catat.
  5. Konten. — Menurut keponakan Pak Ijang. Tapi tidak ada video yang beredar. Kalau konten, harusnya sudah beredar.
  6. Maling yang salah sasaran. — Ditolak. Maling tidak memperbaiki.

Semua teorinya lemah. Aku tahu itu.

Yang mengganggu aku bukan teorinya.

Yang mengganggu aku adalah wajah Neng Dayana waktu aku bilang kata “benerin”. Anak itu tahu sesuatu. Dan dia memilih memberi aku cheesecake daripada memberi aku keterangan.

Dua belas tahun, aku hafal orang yang menyembunyikan sesuatu karena takut.

Neng Dayana tidak menyembunyikan karena takut.

Dia menyembunyikan karena melindungi.

Aku menutup buku dan menyandarkan punggung ke kursi pos. Di luar, lampu nomor tujuh menyala kuning terang, dan di bawahnya ada dua anak kos yang sedang duduk makan bakso, di tempat yang tiga hari lalu terlalu gelap untuk didatangi siapa pun.

Aku menuang kopi.

Aku juga menyiapkan senter, jaket, dan termos kecil. Kalau ada yang bertanya besok, aku akan bilang ini prosedur standar peningkatan kewaspadaan.

Sebenarnya bukan.

Sebenarnya aku cuma ingin tahu bagaimana rupa orang yang memanjat tiang listrik jam lima pagi untuk memperbaiki sesuatu yang tidak ada satu pun manfaatnya buat dia, lalu pergi sebelum ada yang sempat berterima kasih.

Dua belas tahun aku menjaga blok ini. Dua belas tahun aku mencatat orang yang mengambil.

Belum pernah sekali pun aku mencatat orang yang menaruh.

Besok pagi aku bangun jam empat.