← Nggak Usah Dibales

Chapter Seven

Satu Ekor

POV: Bu Ratih

Orang bilang ibu banyak omong. Ibu tidak menyangkal.

Tapi ada perbedaan besar antara banyak omong dan tidak bisa menyimpan rahasia, dan ibu sudah lima puluh tahun hidup dengan perbedaan itu. Ibu bisa menyimpan rahasia. Ibu cuma memilih tidak, kalau menurut ibu rahasianya bagus.

Dan yang ibu lihat hari Selasa itu adalah rahasia yang sangat, sangat bagus.


Lapak bunga ibu ada di mulut gang belakang, sebelah tempat sampah blok, yang sebenarnya bukan lokasi yang bagus untuk jualan bunga tapi sewanya paling murah dan ibu sudah dua belas tahun di situ.

Karena tempat sampah itu, gang belakang punya kucing. Banyak. Ibu tidak pernah menghitung karena menghitung kucing itu pekerjaan orang tidak punya kerjaan.

Yang ibu tahu, ada satu yang paling jelek.

Kucing kecil, warnanya campur-campur seperti keset, sebelah matanya menutup terus, dan jalannya miring karena kaki belakangnya ada yang tidak beres. Anak-anak kos memanggilnya bermacam-macam. Ibu memanggilnya Si Miring, karena ibu tidak kreatif.

Si Miring tidak bisa rebutan. Kalau ada yang buang nasi, Si Miring datang paling akhir dan pulang paling kosong. Ibu sudah beberapa kali kasih kepala ikan, tapi selalu direbut yang lain, dan ibu bukan tipe orang yang mau berkelahi dengan kucing sebelum jam tujuh pagi.

Hari Selasa itu, jam setengah tujuh, ibu sedang mengikat mawar waktu ada bayangan lewat mulut gang.

Ibu tidak menoleh. Banyak yang lewat.

Yang bikin ibu menoleh adalah bayangan itu mundur.

Orang jalan, lewat, lalu mundur tiga langkah. Berhenti. Menoleh ke dalam gang.

Ibu mengintip dari balik ember.

Anak muda. Hoodie. Headset gede di leher. Tinggi kurus, mukanya capek, jenis anak muda yang kalau lewat depan lapak ibu tidak akan pernah beli bunga sampai kiamat.

Dia melihat ke bawah, ke arah tempat sampah.

Si Miring sedang di situ. Berdiri di pinggir, jauh dari yang lain, seperti biasa.

Anak muda itu berdiri diam sekitar sepuluh detik.

Ibu kira dia mau mengusir. Banyak yang begitu.

Lalu dia jongkok, membuka tasnya, dan mengeluarkan bungkus plastik — bekas nasi, kelihatannya, yang sudah dia makan setengah — dan menaruhnya di tanah.

Bukan di tengah. Di pojok, dekat tembok, di tempat yang cuma bisa dijangkau kalau kamu jalan miring dan kecil.

Kucing-kucing yang lain langsung datang. Tentu saja langsung datang.

Dan anak muda itu — ini bagian yang ibu ceritakan ke sembilan orang dalam dua hari — merentangkan satu tangannya seperti palang pintu kereta api dan menahan empat ekor kucing sekaligus sambil bilang, dengan suara datar sekali:

“Bukan buat kalian.”

Kucingnya jelas tidak mengerti. Kucingnya tetap maju. Dia tetap menahan.

Sampai Si Miring selesai makan.

Setelah itu dia berdiri, menepuk celananya, memasukkan bungkus plastik kosong ke tasnya sendiri — ke tasnya sendiri, bukan ke tempat sampah yang jaraknya satu meter, dan ibu sampai sekarang tidak paham kenapa — lalu jalan lagi.

Ibu keluar dari balik ember.

Sebelum ibu sempat memanggil, ada dua anak kos lewat mulut gang, yang besar mungkin kelas empat, yang kecil belum sekolah.

Yang besar langsung berhenti.

“OM HOODIE!”

Anak muda itu menoleh.

“Om, kucingnya udah dikasih makan?”

“Udah.”

“Yang miring juga?”

“Yang miring duluan.”

Anak itu mengangguk puas, seperti baru saja menerima laporan keuangan yang memuaskan, lalu menarik adiknya pergi.

Ibu berdiri di situ dengan mulut terbuka.

Yang miring duluan.

Anak itu tahu. Anak kelas empat yang tiap hari lewat gang ini tahu ada urusan kucing miring, dan ibu — yang lapaknya persis di situ, yang setiap hari melihat semuanya, yang mengaku hafal seluruh isi Blok C — baru tahu pagi ini.

Berarti sudah lama.

Berarti sudah lama sekali, dan cuma anak-anak yang ngeh.

“Mas!”

Dia menoleh.

“Itu kucing kenapa?”

“Kakinya.”

“Bukan, maksud ibu—“ Ibu berhenti. “Ya udah. Sini, Mas. Ambil bunga.”

“Nggak usah, Bu.”

“Ambil. Gratis.”

“Nggak usah dibales.”

Dia bilang begitu, lalu memasang headsetnya, lalu pergi.

Ibu berdiri di depan lapak dengan setangkai mawar putih di tangan dan mulut setengah terbuka, dan butuh sekitar satu menit sebelum ibu mengeluarkan HP.


Ibu mengirim ke grup jam tujuh kurang.

Bu Ratih: ASSALAMUALAIKUM
Bu Ratih: IBU LIAT ORANGNYA
Pak Ijang: Siapa bu
Bu Ratih: YANG BENERIN LAMPU
Pak Har: Mohon disampaikan secara terstruktur Bu. Waktu, tempat, ciri.
Bu Ratih: Pak har ini kayak polisi aja
Pak Har: Saya memang bagian keamanan Bu.
Bu Ratih: 06.30 gang belakang. anak muda. hoodie. headset gede. tinggi kurus.
Bu Ratih: NGASIH MAKAN KUCING
Pak Ijang: Ya kucing mah banyak yg ngasih makan bu
Bu Ratih: PAK IJANG DENGERIN DULU
Bu Ratih: dia nahan 4 kucing pake tangan biar yg cacat kebagian
Bu Ratih: PAKE TANGAN PAK
Pak Ijang: ...
Koh Ateng: Bu ratih
Bu Ratih: Apa koh
Koh Ateng: Hoodie sama headset gede itu
Koh Ateng: Banyak
Bu Ratih: Ibu tau koh tp ini beda
Koh Ateng: Beda gimana
Bu Ratih: Ibu tawarin bunga gratis dia nolak

Grup itu diam selama empat menit penuh.

Empat menit. Di grup yang biasanya dua ratus pesan sehari.

Lalu:

Pak Ijang: Nolak bunga gratis?
Bu Ratih: NOLAK
Pak Ijang: Ya ampun


Yang tidak ibu kirim ke grup ada dua.

Yang pertama: waktu ibu bilang “gratis”, anak muda itu melihat ke arah bunganya sebentar. Sebentar sekali. Dan mukanya bukan muka orang yang tidak mau. Mukanya muka orang yang sedang menghitung sesuatu dan hasilnya tidak cukup.

Ibu jualan bunga dua belas tahun. Ibu hafal muka orang yang ingin tapi tidak bisa.

Ibu juga hafal, sebenarnya, muka orang yang menolak karena gengsi. Bedanya tipis tapi ada. Yang gengsi menolak sambil tersenyum. Yang tidak mampu menolak sambil buru-buru.

Anak itu buru-buru.

Dan ibu tidak akan menuliskan itu di grup mana pun, karena ada hal-hal yang kalau dikirim ke tiga puluh dua orang akan berubah jadi kasihan, dan kasihan itu barang yang paling tidak enak diterima orang.

Jadi besoknya ibu cuma menaruh satu tangkai mawar putih di atas tumpukan kardus di mulut gang, tanpa bilang apa-apa ke siapa pun.

Sorenya mawar itu hilang.

Dan tiga hari kemudian, roda ember bunga ibu yang sudah oblak sejak tahun lalu — yang bunyinya kretek kretek sampai ibu hafal iramanya — tiba-tiba tidak bunyi lagi.

Ibu tidak pernah memanggil tukang.

Ibu tidak pernah bilang apa-apa ke siapa pun soal roda itu.

Yang kedua: sorenya ibu lewat depan kafe Neng Dayana untuk menagih setoran arisan, dan lewat jendela ibu lihat anak muda itu duduk di meja pojok.

Dan ibu lihat Neng Dayana menyerahkan cangkir ke tangannya dari balik konter, padahal biasanya anak itu selalu mengantar ke meja, ibu tahu karena ibu sudah ribuan kali diantar ke meja.

Ibu berhenti jalan.

Ibu berdiri di depan jendela kafe selama beberapa detik, memegang ember bunga, seperti orang gila.

Lalu ibu jalan lagi, karena roda ember ibu memang tidak bisa berhenti di tanjakan.

Tapi ibu ingat.

Ibu ingat semuanya.

Dan malam itu, sebelum tidur, ibu membuka HP, membuka kontak, dan menatap nama-nama perempuan Blok C yang belum menikah sambil berpikir sangat, sangat keras.