← Nggak Usah Dibales

Chapter Twenty One

Jam Dua Pagi

POV: Dayana

Kulkas display itu mati hari Rabu jam delapan malam.

Bukan mati pelan-pelan. Mati total, sekali, dengan bunyi tuk yang justru terdengar tenang setelah tiga tahun berbunyi seperti ambulans.

Aku berdiri di depannya selama sekitar sepuluh detik menunggu bunyinya kembali.

Tidak kembali.

Di dalam kulkas itu ada empat loyang cheesecake, dua botol besar susu, satu wadah krim, dan bahan untuk besok pagi. Nilainya, kalau aku hitung cepat, sekitar delapan ratus ribu.

Delapan ratus ribu itu setara dengan dua hari penuh kafe ini beroperasi tanpa satu pun gelas pecah.

Aku menelepon tukang servis kulkas yang biasa. Tidak diangkat. Jam delapan malam, wajar.

Aku menelepon yang kedua. “Besok siang ya, Mbak.”

Besok siang berarti semuanya sudah habis.

Aku berdiri di kafe kosong jam delapan lewat lima belas dengan telepon di tangan dan mulai menghitung berapa banyak yang bisa aku selamatkan kalau aku bawa pulang naik motor bolak-balik.

Lalu aku membuka kontak dan mencari SERVIS JAYA — nomor yang aku simpan tiga tahun lalu waktu memperbaiki mesin kopi dan tidak pernah aku pakai lagi.

Aku menatap nomor itu.

Aku ingin mencatat dengan jujur, untuk pertanggungjawabanku sendiri: aku menatap nomor itu selama dua menit penuh, dan bukan karena aku ragu apakah ini pantas.

Karena aku tahu persis siapa yang akan datang.

Aku menekan panggil.


Koh Ateng yang mengangkat. Suaranya seperti orang yang sudah tidur.

“Halo.”

“Koh, maaf malam-malam. Ini Dayana, kafe—“

“Kulkas?”

Aku berkedip. “Kok tahu?”

“Bunyinya udah dari kapan tau, Neng. Saya tiap lewat denger.”

“Koh, ini besok pagi saya—“

“Iya iya. Bentar.”

Terdengar suara Koh Ateng menjauh dari telepon dan meneriakkan satu nama ke arah entah di mana, dengan volume yang sama sekali tidak perlu ditinggikan.

“ALFA. KAFE SEPULUH MENIT. KULKAS.”

Lalu telepon ditutup.

Tanpa tarif. Tanpa perjanjian jam. Tanpa “nanti kami cek dulu.”

Aku berdiri di kafe kosong dengan HP di tangan dan jantung yang berdetak dengan cara yang tidak berhubungan sama sekali dengan delapan ratus ribu.


Dia datang dua puluh menit kemudian dengan hoodie dan tas dan satu kardus kecil berisi entah apa.

“Kak.”

“Alfa. Maaf ya, malem-malem—“

“Mana?”

Aku menunjuk kulkas.

Dia jongkok di depannya dan sejak saat itu tidak bicara lagi selama sekitar empat puluh menit.

Aku menawarkan kopi. Dia bilang nanti. Aku menawarkan makan. Dia bilang nanti. Aku duduk di kursi meja empat dan menonton punggung hoodie di depan kulkas display kafeku dan menyadari bahwa aku tidak punya satu pun hal yang perlu dikerjakan.

Jam sepuluh dia bilang, “Kompresornya.”

“Parah?”

“Nggak. Reley sama satu kapasitor.”

“Bisa malem ini?”

“Kapasitornya di bengkel.”

“Bengkelnya buka?”

Dia melihat aku dengan ekspresi yang aku sudah mulai bisa baca.

“Aku punya kuncinya.”


Dia pulang-pergi ke bengkel dua kali malam itu.

Yang pertama karena salah ukuran. Yang kedua karena Koh Ateng menyimpan kapasitor di tempat yang, kata Alfa, “cuma Koh Ateng yang ngerti.”

Aku menawarkan mengantar naik motor. Dia bilang tidak usah, dekat.

Jaraknya delapan ratus meter. Bolak-balik dua kali berarti tiga koma dua kilometer, jalan kaki, jam sebelas malam.

Aku memindahkan empat loyang cheesecake ke kulkas rumah lewat Alina, yang datang naik motor dengan piama dan sandal dan wajah orang yang baru bangun dan sangat, sangat tertarik pada situasi.

“Kak.”

“Angkut.”

“Kak, ini jam netral apa jam Kakak?”

“Alina, angkut.”

“Karena kalau ini darurat kan berarti nggak—“

“ALINA.”

Adikku mengangkut loyang itu sambil tersenyum ke arah yang salah dan pulang, dan sebelum pergi dia berhenti di pintu dan bilang, sangat pelan, cuma ke aku:

“Pasal 1, Kak.”

Lalu dia pergi.

Aku berdiri di kafe dan tidak tahu harus merasa apa.


Kulkasnya hidup jam satu lewat empat puluh lima.

Bunyinya kembali. Tapi bukan bunyi ambulans. Bunyi dengung biasa, halus, yang aku belum pernah dengar dari kulkas itu seumur hidupku.

“Bunyinya beda.”

“Karetnya juga aku ganti.”

“Karet apa?”

“Karet pintu. Yang lama udah keras. Makanya dingin bocor terus, makanya kompresornya kerja terus, makanya jebol.”

Aku menatap kulkas itu.

“Alfa.”

“Hm.”

“Berarti bunyi ambulans selama tiga tahun itu—“

“Karetnya.”

“Tiga tahun.”

“Iya.”

Aku duduk di kursi terdekat dan menutup muka dengan dua tangan dan mengeluarkan suara yang mungkin tawa, mungkin bukan.

Tiga tahun aku hidup dengan bunyi itu. Tiga tahun aku mengira itu bagian dari kafe ini, seperti pintu yang berbunyi, seperti lantai yang licin kalau hujan, seperti lampu ujung blok yang mati.

Semuanya bisa dibetulkan.

Semuanya cuma butuh ada satu orang yang berhenti dan melihat.


Kami keluar jam dua kurang lima.

Aku mengunci pintu. Dia berdiri di trotoar sambil memasukkan obeng ke tas.

Blok C jam dua pagi itu sunyi total. Tidak ada motor. Tidak ada orang. Bahkan anjing di ruko ujung juga diam.

Cuma ada lampu jalan nomor tujuh, menyala kuning, mendengung pelan.

“Alfa.”

“Ya.”

“Berapa?”

“Kapasitornya tiga puluh dua ribu. Reley lima belas. Karetnya—“

“Ongkosnya.”

Dia diam.

“Alfa.”

“Kak.”

“Aku nggak nanya boleh apa nggak.”

“Kak, ini bukan—“

“Kamu jalan kaki tiga koma dua kilometer malem-malem.” Suaraku keluar lebih keras dari yang aku mau di jalan yang sesunyi itu. “Kamu kerja dari jam delapan malem sampe jam dua pagi. Besok kamu masuk jam berapa?”

“Delapan.”

“Delapan.”

“Iya.”

Aku menatapnya di bawah lampu jalan itu.

Dan aku sadar aku sedang marah, dan aku sadar marahku tidak masuk akal, dan aku sadar aku tidak bisa berhenti.

“Kenapa sih,” kataku.

“Kenapa apa?”

“Kenapa kamu gitu terus.”

Dia tidak menjawab.

Dan aku berdiri di trotoar jam dua pagi dengan kunci kafe di tangan dan seluruh badan capek dan mata panas, dan aku melakukan sesuatu yang sudah aku pikirkan berminggu-minggu dan tidak pernah sekali pun aku rencanakan akan benar-benar terjadi.

Aku melangkah satu langkah ke samping.

Dan menyandarkan kepalaku ke bahunya.


Dia tidak bergerak.

Itu yang aku ingat paling jelas. Dia tidak menegang, tidak mundur, tidak menoleh. Dia berdiri di situ dengan tas di tangan seperti orang yang menerima cuaca.

Bahunya keras dan hoodie-nya bau logam dan sedikit oli dan sabun cuci murah.

Aku menutup mata.

Aku tidak menangis. Aku ingin mencatat itu. Aku cuma menutup mata di bawah lampu jalan nomor tujuh, jam dua pagi, di blok yang sedang tidur.

“Kak.”

“Sebentar.”

Dan dia diam.

Dia tidak bertanya kenapa, tidak bertanya ini apa, tidak menyuruh aku berdiri. Dia berdiri di situ dan membiarkan seorang perempuan yang baru dia kenal dua bulan menaruh kepalanya di bahunya di tengah trotoar kosong, karena perempuan itu bilang sebentar.

Aku menghitung dalam hati. Aku tidak bermaksud menghitung. Otakku yang mencatat sendiri, seperti selalu.

Dua belas detik.

Lalu aku berdiri tegak dan merapikan rambutku dan berkata, dengan suara yang aku usahakan senormal mungkin:

“Pulang, sana. Besok masuk jam delapan.”

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak nggak apa-apa?”

Aku menoleh ke arahnya.

Dan orang ini — orang yang tidak pernah bertanya balik, yang tidak pernah penasaran, yang tidak pernah sekali pun menanyakan apa pun tentang aku dalam dua bulan — sedang menatapku dengan alis berkerut sedikit di bawah lampu jalan yang dia nyalakan sendiri.

“Nggak apa-apa,” kataku.

“Oh.”

“Kamu tanya.”

“Hm?”

“Nggak. Nggak apa-apa.”

Dia mengangguk. Memasang headphone-nya. Mengangkat satu tangan setinggi bahu.

Lalu jalan ke selatan.

Aku berdiri di bawah lampu nomor tujuh sampai dia hilang di tikungan, dan setelah itu aku berdiri di situ agak lama lagi.

Sampai rumah jam setengah tiga. Alina sudah tidur di sofa dengan TV menyala dan mulut terbuka.

Aku menyelimutinya.

Lalu aku duduk di lantai di samping sofa itu selama beberapa menit, memandangi wajah adikku yang tidur, dengan dua belas detik masih menempel di bahuku.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasa seperti orang jahat.