Chapter Twenty Five
Jam Tiga Pagi
POV: Alina
Kakakku mulai mundur di hari kelima cuci piring, dan dia melakukannya dengan sangat rapi, seperti dia melakukan semua hal.
Hari Senin — jadwal masaknya — Kak Dayana bilang, “Alina, kamu aja ya, aku ada stok opname.”
Hari Rabu, “Aku harus ke bank.”
Hari Jumat, “Kepalaku pusing dari pagi.”
Tiga alasan. Tiga alasan yang semuanya masuk akal, dikeluarkan dengan nada yang benar, oleh orang yang tidak pernah sekali pun bolos apa pun dalam tiga tahun.
Aku tidak protes. Aku masak. Aku mengantar. Aku tertawa di meja pojok dan Alfa menjawab pendek-pendek dan semuanya berjalan seperti biasa.
Hari Sabtu, kakakku pulang duluan jam delapan malam dan menyuruhku menutup kafe sendirian.
Sabtu.
Kafe paling ramai hari Sabtu. Kak Dayana tidak pernah pulang duluan hari Sabtu, bahkan waktu demam, bahkan waktu ibu masuk rumah sakit.
Aku menutup kafe sendirian jam sebelas dan berdiri di depan pintu memandangi lampu jalan nomor tujuh selama beberapa menit.
Lalu aku pulang, dan kakakku sudah tidur, dan aku duduk di ruang depan dengan lampu mati sampai jam tiga pagi.
Aku membangunkannya jam tiga lewat sepuluh.
“Kak.”
“Hmh.”
“Kak. Bangun.”
“Alina, ini jam berapa—“
“Kakak melanggar Pasal 1.”
Kakakku membuka mata.
Dan yang aku lihat di mata kakakku selama satu detik pertama — sebelum dia sempat memasang wajahnya — adalah orang yang sudah tahu dia ketahuan sejak hari Senin.
Kami duduk di lantai ruang depan. Lampu tidak dinyalakan. Cuma lampu dapur yang menyorot dari kejauhan, cukup untuk melihat bentuk, tidak cukup untuk melihat muka.
Aku sengaja tidak menyalakan lampunya. Kakakku lebih jujur dalam gelap.
“Aku nggak melanggar apa-apa.”
“Kak, Kakak bolos tiga jadwal masak dalam satu minggu.”
“Aku ada urusan.”
“Stok opname, bank, sama pusing.”
“Iya.”
“Kakak nggak pernah stok opname hari Senin. Kakak selalu stok opname hari Minggu malem karena kafe tutup jam sembilan.”
Kakakku diam.
“Dan bank tutup jam tiga, Kak. Jadwal masak jam enam.”
“Alina—“
“Dan Sabtu kemarin Kakak pulang duluan.”
Aku bisa mendengar kakakku menarik napas.
“Aku capek.”
“Kakak nggak pernah capek.”
“Aku manusia, Alina.”
“IYA MAKANYA.” Suaraku keluar terlalu keras untuk jam tiga pagi dan aku menurunkannya lagi. “Iya. Makanya. Kakak manusia. Terus kenapa Kakak selalu jadi orang yang mundur duluan?”
Kakakku tidak menjawab selama mungkin dua puluh detik.
Lalu dia bilang, sangat pelan:
“Karena aku lebih tua.”
“Itu bukan alasan.”
“Itu alasan yang aku punya.”
“Kak, itu bukan—“
“Alina, waktu ibu meninggal kamu tujuh belas dan aku dua puluh satu.”
Aku menutup mulut.
“Aku semester lima,” kata kakakku, ke arah lantai. “Aku bisa lanjut. Ada beasiswa. Aku bisa cari cara.”
“Kak.”
“Dan aku nggak lanjut, dan aku nggak pernah nyesel, dan aku nggak pernah ngungkit, dan sekarang aku ngungkit, dan itu artinya aku orang jelek.”
“Kak Dayana—“
“Dan yang bikin aku takut,” kakakku terus, dan suaranya mulai bergetar di ujung, “yang bikin aku takut itu bukan kamu. Kamu nggak pernah minta apa-apa. Kamu nggak tahu apa-apa waktu itu.”
“Terus apa?”
“Yang bikin aku takut itu aku udah kebiasaan.”
Ruang depan itu gelap dan dingin dan kulkas rumah kami juga berbunyi, meskipun tidak seperti ambulans.
“Aku udah kebiasaan ngalah, Alina,” katanya. “Sampe aku nggak bisa bedain lagi mana yang aku lakuin karena sayang, sama mana yang aku lakuin karena takut.”
“Takut apa?”
“Takut nyoba terus kalah.”
Aku menoleh ke kakakku dalam gelap.
“Kalau aku mundur duluan,” kata Kak Dayana, “aku nggak kalah. Aku ngalah. Itu beda. Itu lebih enak.”
Aku menangis duluan. Aku selalu menangis duluan, itu sudah jadi pembagian tugas kami sejak dulu.
“Kak, itu jahat banget.”
“Aku tahu.”
“Bukan ke aku. Ke Kakak sendiri.”
“Aku tahu.”
“Kakak curang.” Aku menyeka muka dengan lengan piama. “Kakak bikin aku jadi alasan Kakak nggak usah nyoba. Terus kalau nanti Kakak nggak dapet apa-apa, Kakak bisa bilang ‘ya kan aku ngalah buat Alina’, dan aku harus terima itu seumur hidup.”
Kakakku tidak membantah.
Itu yang paling menyakitkan. Kakakku tidak membantah sama sekali.
“Kak, aku nggak mau jadi alasan Kakak.”
“Alina.”
“Aku pengen kalah beneran,” kataku. “Kalau aku kalah, aku pengen kalah karena dia milih Kakak. Bukan karena Kakak nyerah duluan terus aku menang sendirian di lapangan kosong.”
Kakakku menutup muka dengan dua tangan.
Dan kakakku menangis. Beneran. Bukan yang matanya berair. Yang bahunya bergerak.
Aku belum pernah melihat kakakku menangis seperti itu sejak pemakaman ibu, dan aku duduk di lantai ruang depan jam tiga pagi dan tidak melakukan apa-apa selama beberapa detik karena aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
Lalu aku pindah dan duduk menempel di sebelahnya dan menaruh kepala di bahunya, dan kami berdua duduk di lantai seperti itu untuk waktu yang cukup lama.
Revisinya kami tulis jam empat kurang, di lantai, dengan pulpen yang tintanya hampir habis dan kertas dari belakang struk belanja.
REVISI PERTAMA PERJANJIAN
Pasal 1 diubah menjadi: Tidak ada yang boleh mundur. Mundur termasuk: bolos jadwal, pulang duluan, ngasih giliran ke pihak lain, dan bilang “kamu aja” dengan alasan yang kedengaran masuk akal.
Pasal 1 ayat 2 (baru). Pihak Pertama dilarang memakai Pihak Kedua sebagai alasan untuk tidak mencoba. Ini pelanggaran paling berat dan sanksinya bukan cuci piring.
Pasal 1 ayat 3 (baru). Sanksi pelanggaran ayat 2: Pihak Pertama harus bilang keras-keras, di depan Pihak Kedua, “Aku pengen dia.” Tiga kali.
“Kak, ini pasal terbaik yang pernah kita bikin.”
“Ini pasal terjahat yang pernah kita bikin.”
“Sama aja.”
Kakakku merebut pulpen dan menambahkan satu ayat lagi dengan tulisan yang sangat rapi meskipun jam empat pagi:
Pasal 1 ayat 4 (baru). Berlaku dua arah. Pihak Kedua juga dilarang mengalah demi Pihak Pertama. Termasuk diam-diam. Termasuk dengan cara yang kelihatan seperti kebaikan.
Aku membacanya.
“Kak, aku nggak—“
“Alina.”
“Aku belum ngapa-ngapain.”
“Belum,” kata kakakku. “Tapi kamu bakal.”
Dan aku tidak bisa membantah, karena kakakku sudah mengenal aku selama dua puluh satu tahun dan tahu persis bahwa aku sudah memikirkannya sejak hari Rabu.
Kami menandatangani revisi itu di lantai ruang depan jam empat kurang sepuluh, di atas gambar materai kedua yang aku gambar dengan tangan gemetar dan hasilnya lebih jelek dari yang pertama.
Lalu kakakku bangun dan ke dapur dan membuat mi instan untuk dua orang, karena jam empat pagi dan kami berdua sudah tidak mungkin tidur lagi.
Kami makan mi di lantai.
“Kak.”
“Hm.”
“Ayat tiga.”
“Alina, jangan.”
“Kakak udah melanggar ayat dua. Minggu ini. Tiga kali.”
“Ayat dua baru dibikin lima menit yang lalu.”
“Semangatnya berlaku surut.”
“Itu bukan gimana hukum bekerja.”
“KAK.”
Kakakku menaruh mangkuknya.
Dan di lantai ruang depan rumah kami, jam empat lewat lima pagi, kakakku yang tidak pernah bisa mengatakan apa pun tentang perasaannya sendiri selama tiga tahun berkata, dengan suara paling kecil yang pernah aku dengar:
“Aku pengen dia.”
“Lagi.”
“Alina—“
“Dua lagi, Kak.”
“Aku pengen dia.”
“Satu lagi.”
Kakakku menutup mata.
“Aku pengen dia.”
Dan aku menaruh mangkuk mi-ku di lantai dan memeluk kakakku dari samping sampai mi-nya hampir tumpah, dan kami berdua tertawa dengan cara orang yang sudah kehabisan air mata sejak setengah jam yang lalu.
Matahari terbit jam lima lewat.
Kafe buka telat dua puluh menit hari itu, untuk kedua kalinya dalam tiga tahun.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi reading
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin