← Nggak Usah Dibales

Chapter Thirty Nine

Yang Aku Lihat

POV: Alfa

Nenek punya satu kalimat.

“Kalau lihat yang nggak beres, beresin.”

Nenek bilang itu waktu aku umur tujuh tahun, di depan pagar rumah orang, waktu aku berdiri memandangi anjing yang talinya nyangkut di roda sepeda dan aku tidak melakukan apa-apa karena aku takut dimarahi pemiliknya.

Nenek tidak menjelaskan lebih lanjut. Nenek tidak pernah menjelaskan apa pun lebih lanjut.

Nenek cuma melepas tali anjing itu sendiri, lalu jalan pulang, dan aku ikut di belakang.

Aku pikir waktu itu nenek sedang mengajari aku jadi orang baik.

Sekarang aku empat tahun lebih tua dari waktu nenek meninggal dan aku sudah mengerti bahwa bukan itu maksudnya.

Nenek tidak mengajari aku jadi orang baik.

Nenek sedang menjelaskan cara nenek bertahan hidup.


Aku tidak pandai bicara. Semua orang tahu itu.

Yang tidak orang tahu adalah aku dulu pandai bicara. Umur sembilan sampai sebelas aku bicara terus. Guru SD-ku menulis di rapor bahwa aku terlalu banyak bicara di kelas.

Yang terjadi antara umur sebelas dan dua belas adalah orang tuaku selesai.

Bukan meninggal. Selesai.

Ibuku pergi ke satu tempat dan ayahku ke tempat lain dan aku dititipkan ke nenek, dan aku bicara banyak sekali selama tiga bulan pertama, dan tidak ada satu pun dari yang aku katakan yang mengubah apa pun.

Jadi aku berhenti.

Bukan keputusan besar. Tidak ada malam di mana aku memutuskan. Aku cuma pelan-pelan sadar bahwa bicara itu tidak menghasilkan apa-apa, dan bahwa memperbaiki kran bocor menghasilkan kran yang tidak bocor.

Yang kedua lebih bisa diandalkan.


Headphone-nya rusak dari tahun kedua kuliah, yang mana adalah tahun aku berhenti kuliah.

Aku tidak pernah bilang ke siapa-siapa bahwa itu rusak.

Alina yang pertama tahu, di bus, dan dia bertanya kenapa masih dipakai dan aku bilang “berisik” dan dia bertanya berisik yang mana dan aku tidak menjawab.

Ini jawabannya.

Kalau aku pakai headphone, orang tidak menyapa.

Kalau orang tidak menyapa, aku tidak perlu menjawab.

Kalau aku tidak perlu menjawab, aku bisa melihat.

Itu saja. Tidak ada yang lebih dalam dari itu.

Tiga tahun terakhir aku jalan kaki ke mana-mana dengan benda rusak di telinga dan aku melihat seluruh Blok C setiap hari dua kali. Lampu mati. Talang miring. Kabel menggantung. Anak yang jalan terlalu pelan. Ibu-ibu yang menggeser ember dua kali sebelum mendorong. Kucing yang datang paling akhir.

Orang pikir aku tidak memperhatikan karena aku diam.

Aku diam supaya bisa memperhatikan.


Ini yang tidak pernah aku bilang ke siapa pun, dan yang aku sendiri baru bisa susun jadi kalimat setelah hari Selasa itu.

Kalau kamu membetulkan sesuatu dan pergi, tidak ada yang terjadi.

Lampunya menyala. Kamu tidak ada di sana. Selesai.

Kalau kamu membetulkan sesuatu dan tinggal, ada orang yang bilang terima kasih.

Lalu besoknya orang itu tersenyum waktu kamu lewat.

Lalu minggu depannya orang itu memanggil namamu dari seberang jalan.

Lalu suatu hari orang itu tidak memanggil.

Dan kamu berdiri di trotoar dan kamu tidak tahu apakah orang itu sedang buru-buru, atau sedang marah, atau sudah selesai denganmu, dan kamu memikirkannya sepanjang hari, dan kamu memikirkannya lagi malamnya, dan kamu tidak bisa membetulkannya karena tidak ada yang rusak.

Itu yang aku hindari.

Bukan orangnya. Bukan terima kasihnya.

Bagian setelahnya.


Aku sudah kebiasaan sejak lama.

Aku bilang itu ke Kak Dayana di kontrakan dan aku tidak berencana mengatakannya, dan setelah keluar aku duduk di lantai selama satu jam setelah dia pulang.

Bengkel tutup jam lima. Aku bilang ke Koh Ateng aku istirahat sore.

Aku mulai bohong hari kedelapan.

Hari pertama aku masuk kafe itu karena aku haus dan aku tidak punya uang untuk membeli minum, dan aku sudah menghitung bahwa kafe menyediakan air putih gratis, dan aku sudah menghitung berapa lama aku boleh duduk sebelum menjadi tidak sopan.

Aku menghitung dua puluh menit.

Aku duduk dua puluh menit.

Lalu engselnya berbunyi tiga kali dan aku tidak bisa duduk diam.

Hari kedelapan aku sadar aku sudah tidak haus dan aku tetap ke sana.


Orang bertanya kenapa aku selalu bawa permen.

Jawabannya tidak dalam. Nenek selalu punya permen di sakunya. Waktu nenek meninggal aku membereskan barangnya dan di kantong daster nenek ada empat permen jeruk.

Aku memakan satu.

Tiga sisanya aku simpan sampai meleleh dan menempel di plastik dan akhirnya harus dibuang, dan aku merasa sangat bodoh waktu membuangnya.

Minggu berikutnya aku beli permen.

Aku tidak memikirkan alasannya waktu itu. Aku baru memikirkannya sekarang.

Anak-anak menyerbu aku setiap sore di trotoar. Mereka pikir aku memberi mereka permen.

Sebenarnya mereka yang memberi aku alasan untuk membawanya.


Radionya tidak akan pernah selesai.

Aku tahu itu tahun kedua. Trafonya tidak diproduksi lagi dan aku sudah mencari di empat pasar dan aku sudah menitipkan nomor ke sembilan kios dan tidak ada satu pun yang menelepon.

Aku tetap mencari.

Koh Ateng bilang radio itu miliknya sekarang karena aku punya utang ongkos servis tiga ratus dua puluh ribu.

Aku tahu Koh Ateng bohong sejak tahun pertama.

Aku tahu karena aku yang menulis buku servis itu, dan aku tahu berapa tarif Koh Ateng, dan tidak ada satu pun pekerjaan di bengkel itu yang berharga tiga ratus dua puluh ribu.

Aku tidak pernah bilang.

Karena kalau aku bilang aku tahu, Koh Ateng harus mengembalikan radionya, dan kalau radionya ada di kontrakan aku akan memandanginya setiap malam, dan Koh Ateng sudah tahu itu empat tahun lalu sebelum aku tahu.

Jadi setiap tahun aku bertanya apakah utangku masih ada.

Dan Koh Ateng bilang masih.

Dan aku bilang “oh”.

Itu satu-satunya percakapan yang aku dan Koh Ateng punya tentang nenek dan kami berdua tahu itu dan tidak ada satu pun dari kami yang akan mengakuinya.


Hari Selasa jam empat lewat dua puluh, Alina berdiri di kafe dengan baju kuning dan berkata sesuatu, dan aku berdiri dan mengitari meja.

Aku tidak tahu kenapa aku berdiri.

Itu jujur. Itu satu-satunya hal dalam tiga bulan terakhir yang aku lakukan tanpa menghitung apa pun.

Dan hari Minggu sebelumnya, di kontrakan, Kak Dayana memegang wajahku dan bilang “aku lihat, kok” dan sistemku berhenti bekerja selama sepuluh detik.

Aku sudah memutar ulang dua-duanya berkali-kali.

Ini yang aku dapat.

Aku bisa lihat lampu mati dari seberang jalan. Aku bisa dengar karet kulkas dari suaranya. Aku bisa tahu kamera nomor tiga mengarah ke mana dari DVR yang mati dua tahun.

Aku bisa menyebutkan tujuh hal tentang Alina yang dia sendiri tidak tahu aku perhatikan.

Aku bisa menyebutkan dua puluh tentang Kak Dayana.

Aku melihat semuanya.

Dan aku tidak tahu harus diapakan.


Nenek bilang: kalau lihat yang nggak beres, beresin.

Aku sudah membetulkan lampu, pintu, kulkas, talang, roda, sepeda, kipas, setrika, rice cooker, DVR, dan sembilan ekor kucing yang bertambah terus karena aku tidak berhitung.

Empat puluh dua entri di buku Pak Har.

Dan dua orang di kafe Sepuluh Menit yang tidak rusak sama sekali.

Itu masalahnya.

Tidak ada yang rusak. Tidak ada yang perlu diberesin. Tidak ada satu pun bagian dari dua orang itu yang bisa aku pegang dan buka dan lihat isinya.

Nenek tidak pernah mengajari aku apa yang harus dilakukan kalau yang kamu lihat itu baik-baik saja.


Ban motorku kempes sejak sebelas bulan lalu.

Aku bisa memperbaikinya dalam empat puluh menit. Aku punya alatnya. Aku tahu di mana beli bannya.

Aku tidak melakukannya.

Aku memikirkan itu semalaman setelah hari Selasa, duduk di lantai kontrakan, dengan amplop dari tujuh puluh orang yang masih belum aku buka di rak.

Dan aku akhirnya mengerti kenapa.

Kalau motorku jalan, aku tidak lewat depan kafe.

Kalau aku tidak lewat depan kafe, aku tidak melihat.

Kalau aku tidak melihat, tidak ada yang perlu diberesin.

Dan kalau tidak ada yang perlu diberesin, aku tidak punya alasan untuk berhenti.


Aku membuka amplopnya jam dua pagi.

Isinya empat juta dua ratus enam puluh ribu, dalam pecahan yang berantakan, dengan satu kertas kecil di dalamnya, tulisan tangan Pak Har, dua baris:

Ini bukan dibales.
Ini dibayar.

Aku duduk di lantai kontrakanku dengan uang itu di pangkuan sampai jam tiga.

Lalu aku memasukkannya kembali ke amplop dan menaruhnya di rak, di sebelah wadah plastik merah yang sudah dicuci bersih.

Aku belum tahu mau diapakan.

Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak berencana mengembalikannya.