Chapter Twelve
Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
POV: Bilal
Aku umur sembilan tahun dan aku tidak nyasar.
Aku harus bilang itu duluan karena semua orang dewasa yang menceritakan kejadian ini selalu bilang aku nyasar, padahal tidak. Aku tahu persis di mana aku. Aku di halte depan indomaret besar, tiga halte dari rumah, dan aku tahu jalan pulangnya.
Masalahnya cuma uangku hilang.
Aku bawa lima ribu buat naik angkot dan uangnya jatuh entah di mana, mungkin di sekolah, mungkin di jalan, dan aku tidak bisa jalan kaki karena jauh dan sudah gelap dan Mama kerja sampai jam sembilan dan HP-ku dipegang Mama karena aku nakal minggu lalu.
Jadi aku duduk di halte.
Aku tidak menangis. Aku cuma bernapasnya agak aneh.
Ada tiga orang di halte itu dan tidak ada yang tanya apa-apa. Satu ibu main HP. Satu bapak tidur. Satu mbak-mbak juga main HP. Aku duduk di ujung dan mengetuk-ngetukkan sepatu ke lantai halte lima puluh kali karena kalau sampai lima puluh biasanya ada yang datang.
Sampai lima puluh tidak ada yang datang.
Aku mulai lagi dari satu.
Waktu hitunganku sampai dua puluh tiga, ada orang berdiri di depanku.
Aku mendongak.
Hoodie. Headset gede di leher.
“Om Hoodie!”
“Bilal.”
Om Hoodie tahu namaku. Aku tidak pernah bilang namaku ke Om Hoodie. Aku baru sadar itu waktu sudah besar.
“Kok di sini?”
“Uangku ilang.”
Om Hoodie melihat aku. Lalu melihat halte. Lalu melihat jam di HP-nya yang layarnya retak parah.
“Mama kamu di mana?”
“Kerja.”
“Sampe jam berapa?”
“Sembilan.”
“Sekarang jam tujuh.”
“Iya.”
Om Hoodie diam sebentar. Lalu dia duduk di halte, di sebelahku, dengan jarak satu orang.
“Om nungguin?” tanyaku.
“Angkot.”
“Aku nggak punya uang, Om.”
“Om punya.”
Aku senang sekali sampai aku ketawa dan ketawaku bunyinya aneh karena tadi napasku aneh, dan Om Hoodie tidak bilang apa-apa soal itu. Dia cuma mengeluarkan permen dari kantongnya dan menaruhnya di kursi halte di antara kami.
Aku ambil.
“Om.”
“Hm.”
“Kenapa Om selalu punya permen?”
“Ada aja.”
“Om beli di mana?”
“Warung.”
“Warung mana?”
“Yang ada permennya.”
Aku ketawa lagi. Om Hoodie itu lucu tapi dia sendiri kayaknya nggak tahu kalau dia lucu.
Angkotnya lama. Om Hoodie akhirnya bilang, “Jalan aja. Lewat depan.”
Kami jalan lewat jalan besar, yang ada lampunya semua, yang ada rukonya, yang ramai. Aku tanya kenapa nggak lewat gang yang lebih deket dan Om Hoodie bilang, “Gelap.”
Aku bilang aku nggak takut gelap.
Om Hoodie bilang, “Om takut.”
Aku ketawa sampai batuk.
Sepanjang jalan aku ngomong terus. Aku cerita soal Ardi yang bohong, soal ulangan Matematika yang aku dapat enam puluh, soal Mama yang katanya mau beliin sepeda kalau naik kelas, soal kucing miring, soal semuanya.
Om Hoodie jawab semuanya. Pendek-pendek, tapi jawab.
Itu yang aku suka dari Om Hoodie. Orang dewasa lain kalau aku ngomong, mereka bilang “iya iya” sambil main HP. Om Hoodie nggak main HP sama sekali. HP-nya retak, jadi mungkin memang nggak bisa dipakai. Tapi tetap saja.
“Om.”
“Hm.”
“Om kerja apa?”
“Servis.”
“Servis apa?”
“Yang rusak.”
“Semua yang rusak?”
Om Hoodie mikir agak lama. “Yang bisa.”
Kami lewat depan tukang bakso dan aku melambatkan jalan tanpa sengaja, dan Om Hoodie berhenti.
“Laper?”
“Nggak.”
“Bilal.”
“...Iya.”
Kami makan bakso di depan tukang bakso di pinggir jalan besar, berdiri, karena kursinya penuh. Om Hoodie cuma pesan satu.
“Om nggak makan?”
“Udah tadi.”
Aku waktu itu percaya.
Rumahku di kos-kosan Melati, lantai satu, pintu nomor empat. Kami sampai jam delapan kurang.
Dan di depan kos, sedang berdiri Bu Sri.
Bu Sri itu tetangga sebelah kamar kami dan Bu Sri itu, kata Mama, orangnya baik tapi mulutnya duluan.
Waktu Bu Sri lihat aku jalan dari arah jalan besar sama orang dewasa yang tidak beliau kenal, Bu Sri langsung berdiri dan suaranya naik.
“BILAL!”
“Iya, Bu.”
“Kamu dari mana?!”
“Dari halte.”
“Sama siapa?!”
“Sama Om Hoodie.”
Bu Sri melihat Om Hoodie. Dari atas ke bawah. Hoodie, headset, celana kerja yang kotor, sepatu yang jebol dikit di depan.
Dan muka Bu Sri berubah.
Aku ingat mukanya sampai sekarang. Aku waktu itu tidak mengerti kenapa. Aku baru mengerti waktu SMP.
“Mas siapa ya?”
“Saya—“
“Mas kenal Bilal dari mana?”
“Bu, Om Hoodie itu—“
“Bilal, kamu masuk.”
“Bu, tapi—“
“MASUK.”
Aku tidak masuk. Aku berdiri di situ dan aku mulai menangis, yang mana memalukan sekali karena aku sudah kelas empat, tapi aku tidak bisa berhenti.
Ibu-ibu lain keluar. Tiga, empat orang. Ibu kos keluar. Semua bertanya bersamaan.
Dan Om Hoodie berdiri di situ, di tengah lima ibu-ibu yang menatap dia seperti dia maling, dan Om Hoodie tidak bilang apa-apa.
Tidak satu kata pun.
Dia tidak marah. Dia tidak menjelaskan. Dia cuma berdiri dan menunggu, seperti orang yang sudah pernah berdiri seperti itu sebelumnya dan tahu bahwa menjelaskan tidak ada gunanya.
Aku yang teriak.
“OM HOODIE BAYARIN AKU BAKSO!”
Semua orang diam.
“UANGKU ILANG! AKU DI HALTE DARI JAM ENAM! NGGAK ADA YANG NANYAIN! OM HOODIE YANG NANYAIN!”
Aku ingat aku teriak sangat keras dan ingusku keluar dan itu sangat memalukan.
Bu Sri membuka mulut.
Dan dari arah pintu gang, ada suara.
“Bu Sri.”
Kak Dayana.
Kak Dayana yang punya kafe, yang selalu ngasih aku potongan cheesecake yang gagal, berdiri di mulut gang masih pakai celemek, napasnya agak cepat seperti habis jalan buru-buru.
“Neng Dayana, ini ada—“
“Aku kenal dia, Bu.”
Semua kepala menoleh.
“Kenal gimana?”
“Dia pelanggan kafe aku. Tiap hari.” Kak Dayana jalan mendekat. Suaranya tenang sekali. Terlalu tenang. “Dia yang benerin lampu ujung blok yang mati tiga tahun. Dia yang benerin pintu kafe aku. Dia yang tiap pagi ngasih makan kucing di gang belakang Bu Ratih.”
“Ya tapi kan—“
“Bu Sri kenal aku dari aku SD, kan.”
“...Iya.”
“Bu Sri percaya sama aku?”
Bu Sri diam.
Dan Kak Dayana menoleh ke Om Hoodie, dan aku lihat sesuatu di muka Kak Dayana yang waktu itu aku tidak mengerti sama sekali.
Om Hoodie tidak melihat Kak Dayana. Om Hoodie melihat ke bawah, ke sepatunya yang jebol.
“Bu,” kata Om Hoodie akhirnya, ke Bu Sri, dengan suara datar seperti biasa. “Maaf ya.”
Dan itu membuat semua orang lebih diam lagi.
Bu Sri jadi tidak enak. Ibu-ibu lain jadi tidak enak. Ibu kos bilang sesuatu tentang keripik. Ada yang menawarkan minum. Ada yang bilang “duduk dulu, Mas.”
Om Hoodie bilang, “Nggak usah dibales.”
Terus dia pulang.
Mama pulang jam sembilan lewat dan sudah tahu semuanya karena grup WhatsApp lebih cepat dari angkot.
Mama memelukku lama sekali dan minta maaf berkali-kali padahal Mama tidak salah apa-apa, dan besoknya Mama mencari Om Hoodie ke bengkel dan membawa rendang.
Om Hoodie menerima rendangnya. Kata Koh Ateng, dia bilang terima kasih empat kali.
Yang aku pikirkan sampai sekarang bukan itu.
Yang aku pikirkan adalah waktu Bu Sri teriak-teriak, Om Hoodie tidak membela dirinya sama sekali.
Aku tanya Kak Dayana beberapa hari kemudian, waktu ambil cheesecake gagal.
“Kak, kenapa Om Hoodie nggak ngomong apa-apa waktu itu?”
Kak Dayana memandang keluar jendela lama sekali.
“Kakak juga lagi mikirin itu, Bilal,” katanya.
Terus Kak Dayana ngasih aku dua potong, padahal biasanya satu.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang reading
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin