← Nggak Usah Dibales

Chapter Twenty Three

Ember

POV: Alina

Perjanjian itu bertahan enam hari.

Bukan karena aku melanggar. Aku ingin itu dicatat, digarisbawahi, dan diakui di depan pengadilan mana pun.

Aku patuh. Aku patuh sempurna. Aku masak hari Selasa, Kamis, Sabtu. Aku tidak pura-pura kebetulan. Aku menyingkirkan empat baju kuningku ke kardus di bawah kasur tanpa pernah tahu kenapa.

Yang menghancurkan perjanjian itu adalah sebuah ember.


Hari Selasa sore, jam empat, di depan kafe.

Kak Dayana sedang di dalam. Aku di luar, menyapu teras, karena kesetnya sudah tidak sanggup dan daun dari pohon depan ruko jatuh terus.

Alfa datang dari selatan, seperti biasa, jam empat lewat tiga menit.

“Alfa!”

Dia melepas headphone-nya. “Alina.”

“Hari ini hari Selasa.”

“Iya.”

“Kamu tahu hari Selasa itu hari apa?”

“Selasa.”

“Alfa.”

“Hari kamu masak.”

Aku hampir menjatuhkan sapu.

“Kamu inget?”

“Selasa, Kamis, Sabtu.”

Aku berdiri di teras kafe dengan sapu di tangan dan tidak bisa bicara selama sekitar tiga detik penuh, yang buat aku adalah rekor.

“Kamu ngitung?”

“Nggak ngitung. Beda rasanya.”

“HAH?”

“Punya kamu lebih asin.”

“ALFA.”

“Enak, kok.”

“KAMU BILANG ASIN.”

“Enak,” ulangnya, dengan nada yang sepenuhnya tidak berubah, seolah pengulangan adalah bentuk klarifikasi.

Aku memukul lengannya dengan gagang sapu. Pelan. Dia tidak menghindar sama sekali, karena orang ini tidak pernah menghindar dari apa pun, yang mana adalah masalah yang akan menjadi sangat relevan dalam kurang lebih empat puluh detik.


Di teras kafe itu ada ember.

Ember pel. Biru. Isinya air setengah, karena Kak Dayana baru mengepel bagian dalam dan menaruhnya di luar untuk dibuang nanti.

Ember itu ada di posisi yang sebenarnya cukup wajar — di pinggir, dekat tiang teras, di tempat yang tidak menghalangi siapa pun yang berjalan normal.

Yang tidak wajar adalah aku memindahkannya lima menit sebelumnya karena aku mau menyapu bagian itu.

Aku memindahkannya ke tengah.

Dan aku lupa memindahkannya kembali.

Aku ingin sangat jelas soal ini: aku lupa. Tidak ada rencana. Tidak ada satu pun bagian dari otakku yang mempertimbangkan penempatan ember sebagai strategi romantis, dan siapa pun yang bilang sebaliknya bisa berhadapan dengan aku.


Yang terjadi:

Aku memukul lengannya dengan gagang sapu.

Dia mundur setengah langkah — bukan menghindar, cuma bergeser, karena ada motor lewat di belakangnya dan orang ini selalu bergeser untuk motor.

Tumitnya kena bibir ember.

Dan Alfa, yang selama dua bulan aku lihat menangkap kardus, menangkap kertas, menangkap kakakku dari jarak enam meter, akhirnya menemukan satu benda di dunia yang tidak bisa dia tangani.

Dia jatuh ke depan.

Aku ada di depan.

Aku mengangkat tangan — refleks, untuk menahan — dan yang terjadi berikutnya terjadi dalam waktu yang tidak sampai satu detik dan aku memutarnya di kepalaku sekitar empat ribu kali sejak saat itu.

Tangannya menahan tiang teras. Itu menyelamatkan kami berdua dari jatuh.

Tapi kepalanya tidak ikut berhenti.

Dan bibirnya kena pipiku.


Sebelah kiri. Di bawah tulang pipi. Sekitar dua sentimeter dari sudut mulut.

Hangat, dan sedikit kering, dan sangat, sangat sebentar.

Dan lalu dia sudah berdiri tegak lagi.


Blok C berhenti berputar.

Aku tahu jumlah saksinya karena aku menghitungnya kemudian, dari rekaman ingatan, sambil berbaring di kasur menatap langit-langit jam dua pagi.

Sembilan.

Dua ibu-ibu di trotoar seberang. Tukang parkir. Bapak-bapak di motor yang berhenti di lampu. Dua anak kos yang lewat sambil membawa galon. Bilal — tentu saja Bilal, Bilal ada di setiap kejadian penting dalam hidupku — dan dua temannya.

Dan Kak Dayana, di dalam kafe, di balik jendela, memegang nampan.

Sembilan.


Alfa melepas tangannya dari tiang.

Dia mengelap telapak tangannya di celana. Dua kali. Seperti orang yang baru selesai memindahkan barang.

Lalu dia melihat ke bawah, ke ember, dengan alis berkerut sedikit.

Dan dia bilang:

“Siapa yang naruh ember di situ?”

Aku membuka mulut.

Tidak ada suara yang keluar. Aku tidak yakin ada udara di paru-paruku.

“Alina.”

“...Hm.”

“Ini bahaya. Kalau ada anak lari terus kesandung, kepalanya kena semen.”

Dan dia mengangkat ember itu.

Dia mengangkat ember pel kafe kakakku, membawanya ke pinggir teras, meletakkannya rapat ke tiang di posisi yang tidak menghalangi jalur siapa pun, lalu berdiri dan menilai penempatannya sebentar sebelum masuk ke dalam kafe.

Untuk memesan kopi susu.


Pipiku panas selama dua jam.

Bukan malu. Ya, malu, tapi bukan cuma malu. Ada satu titik di pipi kiriku yang untuk sisa sore itu terasa seperti punya suhu sendiri, dan setiap kali aku ingat aku harus berhenti mengerjakan apa pun yang sedang aku kerjakan.

Grup meledak dalam empat menit.

Aku tahu empat menit karena aku melihat jam waktu HP-ku bergetar untuk pertama kalinya.

Bilal (via HP ibunya): TANTE ALINA DICIUM OM HOODIE
Ibu Kos Melati: BILAL HP MAMA JANGAN DIPAKE
Bu Ratih: APA
Bu Ratih: APA????
Bu Ratih: DI MANA
Tukang parkir (Pak Ijang add): depan kafe bu
Bu Ratih: IBU BARU AJA LEWAT SITU 10 MENIT LALU
Bu Ratih: IBU PULANG KECEPETAN
Pak Har: Mohon jangan disebarkan. Ini urusan pribadi.
Bu Ratih: PAK HAR JANGAN SOK NETRAL IBU TAU BAPAK PENASARAN
Pak Har: Saya memang penasaran Bu. Tapi tetap tidak boleh disebarkan.

Aku mematikan HP-ku dan menaruhnya di laci dan tidak menyentuhnya sampai malam.

Bilal menghadangku waktu aku keluar buang sampah jam setengah enam.

“Tante Alina.”

“Bilal, kamu yang ngirim ke grup ya.”

“Iya.”

“Bilal.”

“Habis Om Hoodie nyium Tante.”

“Itu nggak sengaja.”

Bilal menatapku dengan mata anak sembilan tahun yang sudah menyaksikan seluruh kejadian dari jarak empat meter dan tidak menemukan satu pun alasan untuk berbohong.

“Ya emang nggak sengaja,” katanya. “Aku juga nulisnya nggak sengaja.”

“Kamu nulisnya ‘DICIUM OM HOODIE’ pakai huruf kapital semua.”

“HP Mama emang gitu.”

Aku menyerah dan memberinya seribu untuk beli es.

Dia lari. Lalu berbalik dari jarak sepuluh meter dan berteriak, ke seluruh Blok C:

“TANTE! MUKA TANTE MASIH MERAH!”

“BILAL!”

Dia sudah hilang di gang.


Yang paling aku ingat dari sore itu bukan pipinya.

Yang paling aku ingat adalah waktu aku masuk ke kafe sepuluh menit kemudian, masih dengan sapu di tangan, masih dengan muka yang aku yakin merah total.

Kak Dayana ada di belakang konter.

Kakakku sedang membuat kopi susu. Gerakannya normal. Wajahnya normal. Suaranya normal waktu bilang, “Alina, sapunya ditaruh.”

“Iya, Kak.”

“Terasnya udah?”

“Udah.”

“Ya udah.”

Dan kakakku menyelesaikan kopi itu, menaruhnya di nampan, dan menyerahkan nampan itu ke aku.

“Anterin.”

“Kak—“

“Selasa jam kamu.”

Dan kakakku berbalik ke wastafel.

Aku berdiri di belakang konter memegang nampan.

Punggung kakakku lurus sekali.

Aku mengantar kopi itu ke meja pojok. Aku bilang sesuatu yang lucu. Alfa menjawab pendek. Semuanya berjalan seperti biasa dan aku tertawa dua kali dan tidak ada satu pun bagian dari sore itu yang terasa benar.

Jam tujuh, waktu aku masuk ke belakang untuk mengambil gelas, aku membuka kulkas.

Perjanjian itu masih menempel di pintu dalam.

Pasal 7 ayat 5: Yang tidak sengaja tidak dihitung.

Aku membacanya cukup lama sampai dingin kulkas kena muka.

Lalu aku menutup pintunya.

Karena aku tahu satu hal yang tidak tertulis di mana pun di kertas itu.

Yang tidak sengaja memang tidak dihitung.

Tapi orang yang menghitungnya tetap menghitung.