← Nggak Usah Dibales

Chapter Thirty Four

Empat Detik

POV: Alina

Ada yang berubah pada Alfa setelah hari Rabu itu, dan yang berubah adalah dia jadi lebih sering diam.

Bukan diam yang biasa. Diam yang berbeda.

Dia tetap datang ke kafe. Tetap jam empat, tetap meja pojok, tetap kopi susu setengah sendok lebih manis. Tapi dia jadi lebih sering melihat ke jendela dan lebih jarang menjawab.

Dan dia mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Dia mulai menghindari orang.

Bukan menghindar yang kasar. Kalau ada rombongan di trotoar, dia menyeberang lebih awal. Kalau ada yang memanggil dari lapak, dia mengangkat tangan tapi tidak berhenti. Bu Ratih menawarkan makanan hari Kamis dan dia bilang sudah makan, dan itu pertama kalinya dalam tiga bulan dia menolak makanan Bu Ratih.

Aku menyadarinya hari Jumat.

Kakakku menyadarinya hari Kamis.

“Alina.”

“Hm.”

“Dia lagi mundur.”

Aku menoleh dari nampan.

“Mundur gimana?”

“Kayak aku,” kata kakakku, sambil menyeka konter. “Persis kayak aku.”


Hari Sabtu sore, jam lima, kafe agak ramai.

Alfa di meja pojok. Aku mengantar kopinya.

“Alfa.”

“Alina.”

“Besok Minggu.”

“Iya.”

“Kamu mau ke mana?”

“Nggak ke mana-mana.”

“Kamu selalu ke gang jam setengah lima pagi.”

“Iya.”

“Terus abis itu?”

Dia diam.

“Alfa, abis itu kamu ngapain seharian?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Nggak ngapa-ngapain itu apa?”

“Ya di kontrakan.”

“Ngapain?”

Dan dia bilang, tanpa nada apa pun, tanpa merasa dia sedang mengatakan sesuatu yang berat:

“Duduk.”

Aku berdiri di sebelah mejanya memegang nampan kosong.

“Dari jam berapa sampe jam berapa?”

“Alina—“

“Dari jam berapa sampe jam berapa, Alfa?”

“Sampe Senin.”


Aku masuk ke belakang konter dan berdiri di sebelah kakakku dan tidak bisa bicara selama sekitar satu menit.

“Kak.”

“Aku denger.”

“Kak, dia—“

“Aku denger, Alina.”

Kakakku sedang mengelap gelas dengan cara yang terlalu pelan.

“Tiga tahun dia di Blok C,” kataku. “Tiga tahun. Dan hari Minggu dia duduk di kontrakan dari jam setengah lima pagi sampe Senin.”

“Aku tahu.”

“Kak, kita ngapain aja selama ini?”

Kakakku meletakkan gelasnya.

“Kita jatuh cinta sama dia,” katanya. “Itu aja. Kita nggak pernah nanya dia butuh apa.”

Kafe itu berisik dan penuh dan aku berdiri di belakang konter dengan nampan kosong dan merasa sangat, sangat kecil.


Aku memutuskan sesuatu hari itu, jam lima lewat empat puluh, di belakang konter, sambil memegang nampan kosong.

Aku tidak akan memikirkannya dulu.

Aku sudah memikirkannya selama tiga bulan. Aku sudah menyusun kalimat di kamar mandi, aku sudah menulis draf di notes HP, aku sudah menghapus semuanya. Setiap kali aku memikirkannya, aku ciut, dan setiap kali aku ciut, satu hari lewat.

Jadi aku tidak memikirkannya.

Aku menaruh nampan itu di konter dan jalan keluar dari belakang konter dan menyeberangi kafe.

Kafe penuh. Ada tujuh meja terisi. Ada Bu Ratih di meja dua yang sudah tidak minum es tehnya sejak sepuluh menit lalu karena sedang memandangi HP-nya.

Dan ada kakakku di belakang konter.

Aku sampai di meja pojok.

“Alfa.”

Dia mengangkat kepala.

Dan aku memeluknya.


Dari samping, dari posisi duduknya, dengan kedua lenganku melingkar di bahunya dan pipiku di rambutnya.

Kafe berhenti.

Aku tahu kafe berhenti karena aku bisa mendengarnya berhenti — tujuh meja, semua sendok, semua percakapan, semuanya hilang sekaligus seperti seseorang menekan tombol.

Alfa tidak bergerak.

Aku menghitung dalam hati.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Dan aku tidak melepas.

Lima. Enam. Tujuh.

“Alina.”

Suara kakakku dari belakang konter. Pelan. Tidak marah.

Delapan.

“Alina.”

Sembilan.

Aku melepaskannya di hitungan sebelas dan berdiri tegak dan berbalik menghadap kakakku, dan seluruh kafe menonton.

“Sebelas,” kataku.

Kakakku menatapku.

“Aku tahu,” kataku. “Aku ngitung. Aku nggak lupa. Aku sengaja.”

Dan aku menoleh ke bawah, ke Alfa, yang duduk di kursinya dengan kopi susu setengah habis dan wajah yang sepenuhnya tidak bisa aku baca.

“Alfa.”

“Hm.”

“Kamu nggak lihat aku, ya?”

Dia menatapku.

Dan kali ini — untuk pertama kalinya sejak aku bertanya kalimat itu tiga bulan lalu di kafe yang sepi jam setengah enam sore — dia tidak menjawab “lihat”.

Dia tidak menjawab apa-apa.

Dia melihat aku selama sekitar tiga detik penuh dan lalu dia menunduk ke mejanya.

Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada jawaban mana pun.


Bu Ratih pulang tanpa membayar dan tanpa pamit dan aku yakin beliau tidak sadar sedang berjalan.

Kafe kembali punya suara sekitar dua menit kemudian, dengan cara yang sangat canggung, dengan semua orang bicara satu setengah oktaf lebih tinggi dari biasanya.

Alfa pulang jam enam. Dia bilang terima kasih di pintu, seperti biasa.

Aku tidak mengantarnya.


Kami menutup kafe jam sebelas dan tidak bicara sama sekali sampai kursi terakhir naik ke meja.

Lalu kakakku bilang:

“Sebelas detik.”

“Iya.”

“Pasal 7 ayat 2.”

“Iya.”

“Alina.”

“Kak, aku nggak minta maaf.”

Kakakku berdiri di tengah kafe dengan sapu di tangan.

“Aku nggak minta maaf,” ulangku, dan suaraku sudah mulai bergetar dan aku benci itu. “Aku ngelanggar dan aku sengaja dan aku bakal ngelanggar lagi kalau perlu.”

“Kenapa?”

“Karena dia lagi mundur, Kak.” Aku menaruh nampan di meja terlalu keras. “Karena dia duduk di kontrakan dari Minggu pagi sampe Senin. Karena hari Rabu tujuh puluh orang berdiri di depan bengkel dan yang aku lihat di muka dia itu bukan terharu, Kak. Itu takut.”

Kakakku tidak membantah.

“Dan aku nggak tahu harus ngapain,” kataku. “Aku nggak bisa benerin apa-apa. Aku bukan dia. Aku nggak ngerti mesin, aku nggak ngerti orang, aku cuma bisa berisik.”

“Alina.”

“Jadi aku peluk.” Aku menyeka mukaku dengan lengan. “Itu doang yang aku punya, Kak. Aku peluk aja.”

Kafe itu diam.

Kakakku menyandarkan sapunya ke meja dan jalan ke belakang konter dan membuka kulkas.

Aku mendengar bunyi kertas.

Waktu dia kembali, perjanjian itu ada di tangannya. Sudah agak menguning di pinggir. Ada bekas lipatan dan bekas jari.

“Kak?”

Kakakku memegang kertas itu dengan dua tangan.

Dan menyobeknya.

Sekali. Di tengah. Lalu menaruh dua potongan itu di meja pojok.

“Kak—“

“Pasal 7 udah nggak ada gunanya,” katanya. “Pasal 3 juga. Pasal 5 juga, sekarang kamu boleh pakai baju kuning.”

“KAK—“

“Alina.” Kakakku menoleh, dan matanya merah tapi suaranya tenang sekali. “Kita bikin perjanjian itu buat ngatur siapa dapet berapa. Buat ngatur menit, jadwal, detik.”

Dia menunjuk dua potongan kertas di meja.

“Dan orangnya lagi tenggelem.”

Aku berdiri di tengah kafe dan tidak bisa bicara.

“Kita udah tiga bulan rebutan giliran,” kata kakakku. “Dan nggak ada satu pun dari kita yang pernah nanya dia lagi nggak apa-apa apa nggak.”

Kakakku mengambil satu potongan kertas dan membaliknya.

Pasal 11 masih utuh di potongan itu. Tulisannya sendiri. Apa pun yang terjadi, kami tetap kakak-adik.

Dia menyerahkannya ke aku.

“Yang ini disimpen,” katanya.

Dan aku memegang setengah lembar kertas sobekan buku stok di kafe yang sudah tutup jam setengah dua belas malam, dan aku menangis dengan cara yang sangat jelek, dan kakakku memelukku dan tidak menghitung berapa detik.