Chapter Eight
Lima Belas Saksi
POV: Alina
Aku menemukannya hari Rabu, jam empat sore, di perempatan depan pasar, dan aku menemukannya dengan cara paling tidak heroik yang bisa dibayangkan: aku sedang membeli cilok.
Aku sedang memegang tusuk, mulut penuh, saus di sudut bibir.
Dan dia lewat di depanku dalam jarak dua meter.
Hoodie. Headphone terpasang penuh di telinga. Jalan pelan, kepala bergerak ke kiri dan ke kanan seperti orang sedang membaca papan pengumuman yang tidak ada.
Aku menelan cilok itu tanpa mengunyah. Aku hampir mati. Itu bukan lebay, aku serius batuk selama enam detik.
“Mas!”
Tidak menoleh. Ya tentu saja tidak menoleh, headphone-nya menutup seluruh dunia.
“MAS!”
Tukang cilok menoleh. Dua ibu-ibu menoleh. Seorang anak kecil di boncengan motor menoleh.
Dia tidak.
Jadi aku melakukan apa yang menurutku waktu itu adalah keputusan paling logis di dunia, dan yang setelahnya akan dibahas di Blok C selama kurang lebih empat bulan.
Aku lari. Aku menyusul. Dan aku menarik lengannya.
Dia berhenti.
Berbalik. Melepas headphone-nya ke leher dengan satu gerakan.
Dan menatapku.
Dari dekat, dalam kondisi tidak melawan matahari, mukanya ternyata... biasa. Aku sudah tiga minggu membangun sesuatu di kepalaku dan yang berdiri di depanku ini cuma orang. Capek, kurus, alisnya tebal sebelah, ada satu jerawat kecil di dagu.
Dan aku, dengan penuh kesiapan mental dan tiga versi kalimat pembuka yang sudah aku latih di kamar mandi, berkata:
“Peniti.”
Hening.
“...Peniti?”
“Kamu ngasih aku peniti.”
Dia melihat tanganku yang masih memegang lengannya.
Aku tidak melepaskannya. Aku ingin mencatat ini dengan jujur karena nanti akan ada yang bertanya, dan jawabannya adalah: aku sadar sepenuhnya, aku tahu persis apa yang sedang aku lakukan, dan aku tidak melepaskannya.
“Di pasar,” lanjutku. “Tas aku putus. Barangnya jatuh semua. Kamu ngasih peniti terus pergi.”
“Oh.”
“’Oh’?”
“Iya.”
“Cuma ‘oh’?”
Dia berpikir sebentar. Kelihatan sekali dia berpikir, seperti orang mencari kata yang lebih panjang untuk menyenangkan aku.
“Talinya kuat?”
Aku hampir menangis di perempatan depan pasar karena pertanyaan tentang tali tas.
“Kuat,” kataku. “Kuat banget.”
“Bagus.”
Dan dia mulai berbalik untuk lanjut jalan.
Untuk lanjut jalan. Setelah tiga minggu. Setelah aku bolos satu kelas, meneriaki keponakan Koh Ateng, dan hampir tersedak cilok.
“Eh eh eh—“ Aku memegang lengannya lagi. Kali ini dua tangan. “Nggak boleh.”
“Nggak boleh apa?”
“Nggak boleh pergi gitu aja terus.”
Dia melihat tanganku. Lalu melihat aku. Lalu melihat lampu penyeberangan.
“Aku mau nyebrang.”
“Aku juga.”
“Ya udah.”
“Ya udah gimana?”
“Nyebrang.”
Dan dia jalan ke perempatan.
Sambil aku masih menempel di lengannya.
Aku ingin menjelaskan sesuatu di sini, untuk pembelaan diriku sendiri, meskipun tidak ada yang menuntut.
Perempatan depan pasar Blok C itu tidak punya zebra cross yang benar. Yang ada cuma cat pudar dan satu lampu yang menurut warga sekitar lebih merupakan saran daripada peraturan. Menyeberang di situ memang butuh keberanian atau kebodohan.
Jadi menggandeng lengan orang waktu menyeberang adalah tindakan keselamatan.
Itu pembelaanku dan aku akan bawa sampai mati.
Yang tidak bisa aku bela adalah bagian setelahnya, yaitu bahwa kami sudah sampai seberang dan aku masih menggandeng, dan kami sudah jalan tiga puluh meter dan aku masih menggandeng, dan aku mulai bicara.
Banyak.
“Nama kamu siapa?”
“Kenapa?”
“Ya orang nanya nama.”
“Buat apa?”
“BUAT APA?” Aku menoleh ke ibu-ibu yang kebetulan sejajar dengan kami di trotoar. “Bu, denger nggak? Ditanya nama, dia tanya buat apa.”
Ibu itu, yang sama sekali tidak kenal aku dan tidak minta dilibatkan, menjawab dengan sangat lancar, “Ya jawab aja, Mas.”
“Nah!”
Dia diam.
Kami jalan sepuluh meter lagi.
“Kamu kalau jalan selalu pakai itu?” Aku menunjuk headphone di lehernya dengan dagu, karena kedua tanganku sedang sibuk memegang lengannya.
“Iya.”
“Lagi dengerin apa?”
Dia tidak menjawab.
“Halo?”
“Nggak apa-apa.”
“Nggak apa-apa gimana? Lagu apa?”
“Nggak ada.”
“Nggak ada lagu?”
“Iya.”
Aku berhenti jalan. Karena aku berhenti dan tanganku masih di lengannya, dia ikut berhenti, sedikit tertarik ke belakang.
“Terus kamu pakai buat apa?”
Dia melihat ke arah pasar. Ke arah suara — klakson, tukang parkir, ibu-ibu menawar, radio dari lapak ikan, tiga percakapan sekaligus.
“Berisik,” katanya.
“Ya semua orang juga—“
“Bukan berisik yang itu.”
Aku menunggu penjelasan.
Tidak ada penjelasan. Tidak pernah ada penjelasan. Aku sudah mulai belajar itu dalam waktu enam menit.
Kami jalan sepuluh meter lagi.
“Alina,” kataku akhirnya. “Aku Alina.”
“Oh.”
“Sekarang kamu.”
Dia melihat ke depan. Rahangnya bergerak sedikit.
Dan waktu dia mau membuka mulut, ada suara dari arah gang.
“OM HOODIEEEE!”
Tiga anak. Lari. Kecepatan penuh.
Yang paling depan, anak laki-laki bersandal jepit beda warna, menabrak kaki Alfa dengan gaya orang menabrak tembok dan langsung menempel di situ.
“Om! Om! Ardi bilang Om bohong!”
“Om nggak bohong.”
“Ardi bilang permen kemarin—“ Anak itu berhenti. Matanya naik ke tanganku yang masih melingkar di lengan orang yang dia panggil Om Hoodie.
Semua anak berhenti bicara.
Serentak.
Tiga pasang mata memandang ke bawah, ke lengan, ke tanganku.
Lalu ke atas, ke mukaku.
Lalu ke muka Alfa.
Lalu kembali ke tanganku.
“OOOOOOOO—“
“Bilal,” kataku.
“—OOOOOOOOO—“
“BILAL.”
Anak-anak itu lari sambil berteriak. Berteriak sesuatu yang tidak bisa aku tulis di sini karena aku masih punya harga diri, dan mereka lari ke arah pasar, ke arah tempat paling ramai di seluruh Blok C, ke arah tiga puluh dua anggota grup WhatsApp yang sedang belanja sore.
Aku menoleh ke belakang.
Tukang cilok. Dua ibu-ibu. Ibu di boncengan motor. Bapak parkir. Ibu-ibu tadi yang menyuruh dia menjawab. Anak SMA di depan minimarket. Petugas galon. Ibu kos Melati. Dan entah berapa lagi.
Aku menghitung ulang tiga hari kemudian, waktu grup WhatsApp sudah meledak dan cerita itu sudah punya empat versi, dan angkanya berhenti di lima belas.
Lima belas orang.
Aku melepaskan lengannya. Akhirnya.
“Maaf,” kataku, dan mukaku panas sekali sampai aku yakin kelihatan dari satelit.
Dia tidak kelihatan terganggu sama sekali. Dia merapikan lengan hoodie-nya yang kusut karena diremas selama empat puluh meter, memasang headphone-nya kembali, dan bilang:
“Hati-hati nyebrang.”
Lalu jalan.
Dan aku berdiri sendirian di trotoar dengan jantung yang tidak masuk akal, saus cilok masih di sudut bibir yang tidak ada satu pun orang baik hati memberitahuku, dan satu kesadaran yang datang terlambat sekitar empat menit.
Dia belum menyebut namanya.
Dia belum menyebut namanya dan aku masih tidak tahu apa-apa dan aku sudah menggandeng lengannya sepanjang empat puluh meter di depan lima belas saksi.
Aku berdiri di situ mungkin dua menit penuh.
Lalu aku berbalik dan jalan pulang lewat rute paling memutar yang ada, supaya tidak lewat depan pasar, supaya tidak lewat tukang cilok, supaya tidak lewat siapa pun yang tadi.
Rute memutar itu lewat depan lapak bunga Bu Ratih.
Bu Ratih sedang memegang HP.
Bu Ratih mengangkat kepala waktu aku lewat, menatap aku dari ujung rambut sampai sandal, dan tersenyum dengan cara yang membuat seluruh tubuhku dingin.
“Sore, Neng.”
“Sore, Bu.”
“Baru dari mana?”
“Dari pasar, Bu.”
“Sendirian?”
“...Sendirian, Bu.”
Bu Ratih mengangguk-angguk. Lalu menunduk ke HP-nya lagi.
Ibu itu mengetik. Cepat sekali. Ibu-ibu lima puluh tahun tidak seharusnya bisa mengetik secepat itu.
HP-ku bergetar.
Grup keluarga. Dari kakakku.
Kak Dayana: Alina.
Kak Dayana: Kamu di mana.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi reading
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin