Chapter Nineteen
Sembilan Ekor
POV: Dayana
Aku bangun jam empat setiap hari selama tiga tahun dan tidak pernah sekali pun keluar rumah sebelum jam setengah lima.
Hari Sabtu itu aku keluar jam sepuluh menit lewat empat.
Aku bilang ke diriku sendiri aku mau lihat kucingnya.
Itu benar. Itu juga tidak lengkap. Tapi aku sudah cukup lelah berdebat dengan diri sendiri, jadi aku ambil jaket dan jalan ke gang belakang.
Gang belakang jam empat pagi itu dingin dan bau dan sunyi, dan lapak bunga Bu Ratih ditutup terpal biru yang basah.
Aku berdiri di mulut gang dan menunggu.
Aku menunggu dua puluh menit dan mulai merasa seperti orang paling bodoh di Blok C.
Lalu ada langkah dari arah selatan.
Aku mundur ke balik tembok, yang mana adalah tindakan paling memalukan yang pernah aku lakukan dalam dua puluh lima tahun hidupku, dan aku akan membawanya sampai mati.
Alfa lewat mulut gang. Berhenti. Mundur tiga langkah, seperti biasa. Masuk.
Dan aku mengintip dari balik tembok seperti anak SMP.
Kucingnya ada sembilan.
Aku menghitungnya dua kali karena aku tidak percaya yang pertama.
Sembilan ekor, semua ukuran, semua warna, berkumpul di sekitar tumpukan kardus dekat tempat sampah dengan cara yang tidak bisa disebut kebetulan. Mereka menunggu. Mereka tahu jamnya.
Alfa berhenti di depan mereka dan berdiri diam beberapa detik.
Lalu dia bilang, ke sembilan ekor kucing, di gang belakang, jam setengah lima pagi:
“Kok nambah.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Kemarin delapan.”
Salah satu kucing mengeong.
“Yang mana yang baru?”
Kucing itu mengeong lagi.
Alfa jongkok, membuka tasnya, mengeluarkan dua bungkus plastik, dan mulai menuang di lima titik berbeda — bukan satu tumpukan, lima titik, dengan jarak yang jelas sudah dia hitung. Yang paling ujung, di pojok dekat tembok, di tempat yang cuma bisa dijangkau kalau kamu kecil dan jalannya miring.
Si Miring — aku tahu namanya dari Bu Ratih, seluruh Blok C tahu namanya dari Bu Ratih — datang paling akhir, seperti biasa, dan langsung ke pojok.
Dan Alfa duduk di tanah dengan punggung ke tembok dan menonton mereka makan.
Tidak melakukan apa-apa. Tidak main HP. Tidak berdiri. Cuma duduk di gang bau jam setengah lima pagi menonton sembilan ekor kucing makan, sambil sesekali menggeser satu ekor yang mencoba curang.
Aku berdiri di balik tembok selama enam menit.
Dan pada menit keempat aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku aneh.
Ini bukan kebaikan.
Kebaikan itu punya penonton, bahkan kalau penontonnya cuma diri sendiri. Kebaikan itu terasa. Orang yang sedang berbuat baik tahu dia sedang berbuat baik.
Orang di gang itu tidak sedang merasa apa-apa.
Buat dia ini bukan amal. Ini jadwal.
Dia bangun, dia kerja, dia jalan, dia kasih makan kucing jam setengah lima, sama seperti aku membuka kafe jam lima. Tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang menganggap ini istimewa.
Dan itu — entah kenapa — membuat aku ingin duduk di tanah dan menangis di gang bau itu.
Yang tidak aku rencanakan adalah keluar dari balik tembok.
Yang terjadi adalah kakiku kesemutan dan aku bergerak dan sandalku bunyi.
Sembilan ekor kucing lari serentak.
Alfa menoleh.
Dan aku berdiri di mulut gang, jam empat lewat empat puluh dua pagi, memakai jaket di atas piama, tanpa satu pun penjelasan yang masuk akal untuk keberadaanku di tempat itu.
“Kak.”
“Pagi.”
“Pagi.”
Hening.
“Kakak ngapain?”
Otakku menawarkan enam kebohongan. Semuanya buruk.
“Ngeliatin kucing.”
“Oh.”
Dan dia menerimanya. Begitu saja. Tanpa satu pun pertanyaan lanjutan, tanpa curiga, tanpa menggoda, karena orang ini memang tidak pernah bertanya balik dan aku baru menyadari betapa aku bergantung pada fakta itu.
Dia bergeser sedikit di tembok.
Aku duduk.
Di tanah. Di gang belakang. Dengan jarak satu setengah meter. Jam empat lewat empat puluh tiga pagi.
Kucing-kucing itu kembali satu-satu.
“Sembilan,” kataku.
“Iya.”
“Kemarin delapan.”
Dia menoleh ke aku. “Kakak ngitung?”
“Kamu yang ngitung. Aku denger.”
Dia diam sebentar.
“Kakak dari tadi di situ?”
“Nggak.”
“Oh.”
Kami menonton sembilan ekor kucing makan.
Salah satu yang paling besar — hitam, gemuk, mukanya seperti orang yang tidak pernah salah — mulai bergerak ke arah pojok.
Alfa mengangkat satu tangan. Kucing itu berhenti.
“Dia ngerti?” tanyaku.
“Nggak.”
“Tapi berhenti.”
“Dia bosen aja.”
Kucing hitam itu duduk, menatap Alfa selama sekitar empat detik, lalu berbaring di tanah dengan gaya menyerah total.
Aku menahan tawa sampai bahuku bergetar.
“Kakak kedinginan?”
“Nggak.”
“Kakak gemeteran.”
“Aku ketawa, Alfa.”
Dia melihat aku. Lalu melihat kucing hitam itu. Lalu kembali ke aku, seolah sedang mencari bagian yang lucunya.
Dia tidak menemukannya, kelihatannya. Tapi sudut mulutnya naik sedikit.
Dan aku memutuskan itu cukup.
“Alfa.”
“Hm.”
“Kamu tahu nggak kenapa nambah terus?”
“Nggak.”
“Nggak curiga?”
“Curiga apa?”
Aku menoleh ke arahnya. Dia benar-benar tidak tahu. Dia duduk di situ dengan alis sedikit berkerut, benar-benar sedang memikirkan pertanyaanku, benar-benar tidak punya jawabannya.
“Alfa. Kucing itu ngomong sama kucing lain.”
“Kucing nggak ngomong.”
“Ya bukan ngomong—“ Aku menghela napas. “Kalau di satu tempat ada makanan tiap hari jam setengah lima, kucing lain bakal tahu. Terus dateng. Terus ngajak temennya.”
Alfa memandang sembilan ekor kucing itu.
Aku bisa melihat informasi itu masuk. Aku bisa melihat momen persisnya.
“Oh.”
“Iya.”
“Berarti gara-gara aku.”
“Ya.”
Dia diam agak lama.
“Nanti kalau nambah terus gimana?”
“Ya nambah terus.”
“Berat.”
“Iya.”
“Sebungkus dua belas ribu.”
Aku menoleh cepat.
Dia mengatakannya bukan sebagai keluhan. Datar, seperti biasa, seperti orang menyebutkan cuaca. Tapi dia mengatakannya.
Dan aku duduk di gang belakang dengan sembilan ekor kucing di depanku dan angka dua belas ribu di kepalaku dan dompet tipis yang aku lihat di Bab entah kapan, dan bakso satu porsi untuk Bilal, dan bunga gratis yang ditolak, dan hoodie dengan jahitan jelek di kerah dalam.
“Alfa.”
“Hm.”
“Kalau ada yang bantuin, gimana?”
“Nggak usah.”
“Aku nggak nanya boleh apa nggak.”
Dia menoleh ke aku.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu di wajahnya yang bukan datar dan bukan bingung.
Kelihatan seperti orang yang sedang menahan pintu.
“Kak.”
“Ya.”
“Nggak usah.”
Dua kata. Sama datarnya seperti biasa.
Dan entah kenapa terdengar seperti permohonan.
Aku pulang jam lima kurang dan membuka kafe telat sebelas menit untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Alina masih tidur waktu aku berangkat dan sudah bangun waktu aku pulang malamnya, dan dia menatapku dari sofa dengan tatapan penyelidik.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak keluar jam empat pagi.”
“Ngecek stok.”
“Stok di gang belakang?”
Aku masuk kamar dan menutup pintu, dan aku dengar adikku berteriak dari ruang depan:
“KAK, ITU CURANG! ITU JAM KOSONG! JAM KOSONG NGGAK ADA DI KESEPAKATAN!”
Aku bersandar di pintu kamar.
Adikku benar.
Dan besok pagi, di kafe, kami akan membicarakannya — dan aku sudah tahu bagaimana adikku menyelesaikan sesuatu, dan aku sudah takut duluan.
Yang tidak aku ceritakan ke siapa pun:
Hari Senin, sebungkus makanan kucing dua belas ribu muncul di balik terpal lapak Bu Ratih.
Hari Rabu, sebungkus lagi.
Aku tidak pernah bilang ke Bu Ratih.
Bu Ratih tidak pernah bertanya.
Dan hari Sabtu berikutnya, waktu aku lewat gang belakang jam sebelas malam, ada dua bungkus kosong di tempat sampah dan sembilan ekor kucing yang kenyang, dan aku berdiri di situ dengan perasaan yang tidak punya nama.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor reading
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin