Chapter Fifteen
Kampanye
POV: Alina
Reza menembakku hari Senin, di kantin, dengan cara paling Reza yang mungkin ada.
“Jadi gini.” Dia menaruh dua es teh. “Gue mau ngomong dan lo jangan motong.”
“Oke.”
“Gue suka sama lo.”
“Oke.”
“Gue bilang jangan motong.”
“Aku bilang oke doang.”
“Itu motong.”
Aku menutup mulut dengan dua tangan.
Reza menarik napas. “Gue suka sama lo dari semester dua. Gue nggak ngomong karena gue pikir kita temenan aja udah enak. Terus tiga minggu terakhir lo tiba-tiba jadi orang yang beda dan gue sadar kalau gue nggak ngomong sekarang gue bakal nyesel.”
Aku menurunkan tangan.
“Rez.”
“Dan gue tau jawabannya apa,” katanya cepat. “Gue tau. Gue cuma pengen dengerin langsung dari lo, bukan dari muka lo.”
Dan itu, jujur, hal paling dewasa yang pernah aku dengar dari orang yang tahun lalu memakan sembilan gorengan dalam satu duduk untuk taruhan lima puluh ribu.
“Nggak bisa, Rez.”
“Oke.”
“Maaf.”
“Nggak usah minta maaf, itu bikin lebih parah.”
“Oke.”
Kami minum es teh masing-masing selama sekitar tiga puluh detik.
“Peniti, ya?” katanya akhirnya.
“Rez.”
“Gue kalah sama peniti.”
“REZ.”
“Lima ratus rupiah, Alina. Gue tiga semester.” Dia menggeleng ke arah gelasnya. “Gue mau tau orangnya kayak apa.”
“Nggak bakal aku kasih tau.”
“Kenapa?”
“Karena kamu bakal bilang ‘gitu doang?’”
Reza menatapku lama.
“Gitu doang?” katanya, meskipun aku belum cerita apa-apa.
Aku menendang kakinya di bawah meja dan dia ketawa, dan setelah itu semuanya baik-baik saja, dan aku ingin mencatat itu karena tidak semua orang seberuntung aku punya teman seperti Reza.
Yang aku tidak ceritakan ke Reza: aku pulang hari itu dan menangis lima belas menit di kamar mandi.
Bukan karena Reza. Karena aku sadar aku baru saja menolak orang yang tahu ulang tahunku, tahu aku alergi udang, dan pernah menunggu aku dua jam di depan perpustakaan waktu hujan.
Demi orang yang sampai minggu lalu tidak tahu namaku.
Kampanyeku dimulai hari Selasa dan strateginya sederhana: ada terus.
Aku tidak punya strategi lain. Aku bukan Kak Dayana yang bisa diam dan menang. Aku cuma punya volume dan waktu luang.
Jadi setiap sore aku di kafe. Setiap sore aku pakai celemek. Setiap sore Alfa datang jam empat atau jam lima atau kadang jam sembilan malam kalau lembur, dan setiap sore aku yang mengantar kopinya.
“Kopi susu.”
“Makasih.”
“Sama-sama, Alfa.”
Aku memakai namanya setiap kali. Setiap kali. Sampai kata itu tidak lagi terasa seperti barang curian.
“Alfa, hari ini capek nggak?”
“Biasa.”
“Alfa, tangan kamu nambah lagi lukanya.”
“Iya.”
“Alfa, kamu makan siang nggak?”
“...Iya.”
“Bohong.”
“Iya.”
Aku menaruh piring nasi goreng di depannya dan berbalik sebelum dia sempat protes, dan aku tahu Kak Dayana melihat dari belakang konter, dan aku tahu Kak Dayana tahu nasi goreng itu ide siapa awalnya.
Kami tidak membahasnya secara langsung.
Kami membahasnya lewat hal-hal kecil yang konyol.
“Kak, gulanya kurang.”
“Itu udah standar.”
“Kak.”
“...Berapa?”
“Setengah sendok lagi.”
Kakakku menambahkan setengah sendok tanpa protes lebih lanjut, dan aku tahu — aku tahu persis — bahwa mulai besok kopi susu itu akan permanen lebih manis setengah sendok, dan bahwa kakakku tidak akan pernah mengakui siapa yang memberitahu.
Dan waktu Kak Dayana mulai memotong cheesecake dengan ukuran yang, bagaimana ya, tidak konsisten untuk satu meja tertentu, aku juga tidak berkomentar.
Sistemnya berjalan dengan cara yang aneh dan sopan dan sangat tidak nyaman.
Kami sudah membahasnya sekali dan itu cukup, dan sekarang kami menjalankannya, dan sistemnya berjalan dengan cara yang aneh dan sopan dan sangat tidak nyaman.
Kalau Alfa datang sore, itu jamku.
Kalau Alfa datang malam setelah aku pulang, itu jam kakakku.
Tidak ada yang menyepakati itu. Kami cuma melakukannya.
Hari Jumat, jam setengah enam, kafe sepi dan Kak Dayana sedang di belakang menghitung stok.
Alfa duduk di meja pojok, seperti biasa, menghadap jendela, seperti biasa.
Aku duduk di kursi seberangnya tanpa diminta, seperti biasa.
“Alfa.”
“Hm.”
“Kamu tahu nggak, kemarin ada yang nembak aku.”
Dia menoleh dari jendela. “Siapa?”
“Temen kuliah.”
“Terus?”
“Aku tolak.”
“Kenapa?”
Nah. Itu pertanyaan. Itu pertanyaan beneran, yang keluar dari mulut orang yang tiga minggu terakhir cuma bertanya “boleh?” dan “yang mana?”.
Jantungku melompat sampai ke rusuk.
“Menurut kamu kenapa?”
“Nggak tahu.”
“Tebak.”
“Nggak suka.”
“Ya iya, tapi kenapa nggak suka?”
Alfa berpikir. Sungguhan berpikir, dengan kerutan kecil di antara alis.
“Orangnya jelek?”
“ALFA.”
“Bukan?”
“Dia ganteng, kok! Cakep banget malah!”
“Oh.” Dia mengangguk pelan. “Berarti bau.”
Aku menaruh kepalaku di meja dan tidak mengangkatnya selama sepuluh detik penuh.
Dari belakang konter, aku dengar suara Kak Dayana batuk dengan cara yang sangat mencurigakan.
Aku mengangkat kepala.
Alfa masih menatapku, menunggu, benar-benar menunggu jawaban, dengan ekspresi orang yang baru saja mengeluarkan dua hipotesis paling masuk akal yang bisa dia susun dan sedang menunggu koreksi.
Dan sesuatu di dadaku patah sedikit.
Bukan patah yang sakit. Patah yang bikin nekat.
“Alfa.”
“Hm.”
“Kamu nggak lihat aku, ya?”
Dia diam.
Dia menatapku selama sekitar dua detik, dari jarak satu meja kafe, dengan cahaya sore masuk dari jendela ke separuh mukanya.
Dan dia bilang:
“Lihat.”
Aku menunggu.
“Kamu di sini,” lanjutnya. Dia menunjuk kursi. “Sekarang. Aku lihat.”
“...Alfa.”
“Kenapa?”
“Bukan itu maksud aku.”
“Terus?”
Aku membuka mulut.
Dan aku tidak bisa. Aku beneran tidak bisa. Aku sudah menggandeng lengannya di depan lima belas orang, aku sudah naik ke punggungnya di tengah pasar, aku sudah menolak Reza untuk orang ini —
dan waktu dia menatapku dan bertanya “terus?” dengan wajah paling polos di seluruh Blok C, aku ciut.
“Nggak apa-apa,” kataku.
“Oh.”
Dan dia kembali menghadap jendela.
Aku duduk di situ dengan dada penuh sesuatu yang tidak ada saluran keluarnya.
Di luar jendela, dua anak lewat sambil berlari. Salah satunya menggedor kaca dua kali dengan telapak tangan, tanpa berhenti, tanpa menoleh — semacam salam.
Alfa mengangkat satu tangan setinggi bahu.
Cara yang sama persis seperti waktu dia meninggalkan aku di trotoar depan pasar tiga minggu lalu.
Dan aku sadar sesuatu yang membuat perutku turun.
Itu bukan cara dia bilang sudah, sudah, tidak penting.
Itu satu-satunya cara dia bilang aku di sini.
Dan aku sudah salah membacanya selama tiga minggu.
Lalu aku dengar sesuatu dari arah konter.
Kak Dayana sedang berdiri di sana. Memegang buku stok. Tidak menulis apa-apa.
Kakakku melihat aku. Dan aku melihat kakakku.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, kami berdua tahu bahwa kami baru saja melihat hal yang sama.
Bukan penolakan. Bukan gengsi. Bukan main-main.
Orang itu benar-benar tidak mengerti.
Kak Dayana menunduk ke buku stoknya dan mulai menulis lagi.
Dan aku berbalik ke meja pojok, menopang dagu dengan dua tangan, dan berkata dengan suara paling manis yang aku punya:
“Alfa. Besok aku bawain bekal, ya.”
“Nggak usah.”
“Bukan nanya.”
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye reading
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin