← Nggak Usah Dibales

Chapter One

Lampu Nomor Tujuh

POV: Dayana

Jam lima pagi di Blok C itu punya suaranya sendiri. Rolling door ruko fotokopi yang belum dibuka. Sapu ijuk Pak Ijang dari ujung selatan. Satu motor lewat, lalu sepi lagi selama dua menit penuh.

Aku hafal semuanya. Sudah tiga tahun aku buka kafe ini sendirian setiap pagi, dan telingaku tahu kalau ada yang tidak pada tempatnya.

Pagi itu ada yang tidak pada tempatnya.

Bunyinya logam. Pelan, teratur, seperti orang mengetuk pipa dengan kuku. Aku berhenti di depan pintu kafe dengan kunci masih menggantung di tangan dan menoleh ke arah suara.

Ada orang di tiang lampu.

Bukan di bawah tiang lampu. Di tiang lampu. Tiga meter dari tanah, kedua kaki mengapit besi, satu tangan pegangan, satu tangan sibuk membuka sesuatu di kotak kabel yang sudah karatan sejak zaman ibuku masih hidup.

Kunci di tanganku jatuh.

Otakku butuh sekitar empat detik untuk menyusun teori. Semua teorinya buruk. Maling kabel. Orang mabuk. Orang yang mau melakukan sesuatu yang tidak ingin aku bayangkan jam lima pagi sebelum kopi.

Aku menoleh ke pos satpam. Pak Har ada di dalam. Kepalanya menempel di kaca, mulutnya terbuka, dan dari posisinya aku bisa bilang beliau sudah dalam kondisi itu sejak jam tiga.

Hebat. Keamanan Blok C.

“Pak Har,” panggilku. Pelan, karena aku juga tidak yakin mau membangunkan siapa pun.

Tidak ada respons.

Bunyi logam itu berhenti. Aku menoleh lagi, dan orang di tiang lampu itu sudah menoleh duluan.

Dia menatapku dari atas. Tenang sekali. Tenang dengan cara yang salah — orang normal yang ketahuan memanjat tiang lampu milik negara jam lima pagi mestinya punya ekspresi. Panik, malu, marah, apa saja. Dia tidak punya. Dia menatapku seperti aku yang sedang melakukan hal aneh.

“Mas,” kataku. Suaraku pecah sedikit. “Ngapain?”

Dia menunjuk kotak kabel dengan dagunya.

“Rusak.”

Lalu dia berbalik dan lanjut bekerja.

Aku berdiri di sana selama mungkin sepuluh detik dengan mulut setengah terbuka. Bukan karena takut. Karena aku tidak punya kalimat lanjutan. Tidak ada satu pun skenario di kepalaku yang berakhir dengan jawaban “rusak”, diucapkan dengan nada orang yang menyebutkan cuaca.

Aku memungut kunciku. Aku membuka pintu kafe. Aku menyalakan lampu, menaruh tas, mengikat rambut, dan menyalakan mesin kopi seperti biasa — kecuali aku melakukan semuanya sambil menoleh ke jendela setiap enam detik.

Dia masih di sana.

Aku mengeluarkan kursi ke teras, satu per satu, lebih lambat dari biasanya. Aku mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih. Kalau ada yang bertanya, aku sedang bekerja. Aku tidak sedang mengamati siapa pun.

Dari jarak sedekat itu aku bisa lihat dia lebih jelas. Kurus, tinggi, kaus abu-abu yang warnanya sudah menyerah. Tas selempang hitam menggantung menyilang di punggungnya, dan dari tas itu keluar sesuatu yang membuat teori maling kabel-ku runtuh sepenuhnya.

Obeng. Tang. Isolasi hitam. Senter kecil yang dia jepit di antara gigi supaya kedua tangannya bebas.

Maling kabel tidak membawa isolasi. Maling kabel tidak merapikan.

Aku menyeduh kopi untuk diriku sendiri dan berdiri di balik konter sambil memandangi punggung orang asing di tiang lampu, dan untuk pertama kalinya pagi itu aku sadar bahwa aku tidak takut sama sekali. Aku cuma penasaran. Dan itu, entah kenapa, terasa lebih berbahaya.

Jam lima empat puluh, bunyi logamnya berhenti untuk terakhir kali.

Dia turun. Tidak melompat, tidak buru-buru. Turun seperti orang turun dari tangga rumahnya sendiri. Begitu kakinya menyentuh trotoar, dia menepuk celananya dua kali, memasukkan obeng ke tas, dan menutup kotak kabel itu rapat-rapat.

Lalu dia berdiri diam di depan tiang, menengadah, dan memandangi lampu yang mati itu selama beberapa detik. Seperti sedang menunggu sesuatu.

Aku keluar sebelum sempat memutuskan untuk keluar.

“Mas.”

Dia menoleh.

Dari dekat, wajahnya biasa saja. Itu yang paling mengganggu. Tidak ada yang mencurigakan, tidak ada yang mengancam. Cuma orang yang kelihatan capek dengan cara yang sudah lama.

“Itu... punya PLN, kan?” tanyaku.

“Iya.”

“Terus Mas—“

“Mati dari lama.”

Dia bilang itu seperti kalimat itu menjelaskan segalanya. Bagi dia, mungkin iya.

Aku melirik tangannya. Ada tiga plester di sana, warnanya berbeda-beda, dan satu luka kecil di buku jari yang belum sempat diplester. Bukan luka baru pagi ini. Tangan itu sudah lama begitu.

“Nanti Mas kena marah.”

“Nggak ada yang tahu.”

“Aku tahu.”

Dia menatapku. Cukup lama untuk membuatku menyesali kalimat itu, lalu cukup singkat untuk membuatku menyesali penyesalannya.

“Oh,” katanya.

Cuma itu. Oh.

Lalu dia mengangguk sekali — bukan pada aku, lebih ke arah tiang lampu, seperti pamit ke besi — dan mulai berjalan ke selatan.

“Mas!”

Dia berhenti. Tidak berbalik penuh, cuma setengah.

Aku tidak tahu mau bilang apa. Otakku menawarkan tiga pilihan dan semuanya memalukan. Yang keluar akhirnya:

“Kopi?”

“Belum buka.”

“Buka.”

“Jam segini?”

“Aku yang punya.”

Dia diam sebentar. Untuk satu detik yang bodoh, aku benar-benar berharap.

“Nanti aja,” katanya.

Lalu dia pergi. Beneran pergi. Tanpa menoleh lagi, tanpa menambahkan apa-apa, dengan langkah orang yang sudah punya tujuan sejak tadi dan cuma mampir sebentar untuk mengurus lampu yang bukan urusannya.

Pak Har keluar dari pos empat menit kemudian sambil meregangkan badan.

“Pagi, Neng. Aman?”

“Aman, Pak.”

“Nggak ada yang aneh-aneh?”

Aku menoleh ke tiang lampu nomor tujuh. Kotak kabelnya tertutup rapi. Tidak ada satu pun jejak bahwa ada orang di sana empat puluh menit yang lalu.

“Nggak ada, Pak.”

Aku tidak tahu kenapa aku berbohong. Aku memikirkannya sepanjang pagi, di sela-sela sepuluh gelas kopi dan satu loyang cheesecake yang hampir gosong karena aku lupa timer.

Jam dua siang, Bu Ratih mampir. Beliau selalu mampir jam dua siang, selalu pesan es teh, dan selalu tidak membayar karena katanya sudah dipotong bunga mawar bulan lalu. Bunga mawar itu mati dalam empat hari.

“Neng, tadi pagi ada yang aneh nggak di depan?”

Tanganku berhenti di atas gelas.

“Aneh gimana, Bu?”

“Ibu kayak denger orang naik-naik gitu. Ngek-ngek besi.” Beliau memperagakan dengan tangan, entah memperagakan apa. “Ibu kira maling.”

“Mungkin kucing.”

“Kucing setengah kuintal?”

“Kucing sini besar-besar, Bu.”

Bu Ratih menyipitkan mata ke arahku selama tiga detik penuh. Beliau punya radar. Radarnya tidak akurat, tapi jangkauannya luas.

“Yaudah,” katanya akhirnya, sambil menyedot es tehnya sampai bunyi. “Kalau ada maling, laporin. Jangan disimpen sendiri.”

Aku mengelap konter yang sudah bersih.

“Iya, Bu.”


Kafe tutup jam sebelas malam.

Aku menurunkan rolling door setengah, mematikan lampu dalam, dan keluar sambil mencari kunci di dalam tas — dan berhenti di trotoar karena ada yang salah dengan bayanganku.

Bayanganku panjang. Jelas. Jatuh ke arah utara.

Aku menengadah.

Lampu jalan nomor tujuh menyala.

Lampu itu mati sejak aku SMA. Sudah tiga kali dilaporkan ke kelurahan, dua kali dijanjikan, nol kali diperbaiki. Bu Ratih sampai pindah lapak bunganya ke seberang karena ujung blok ini terlalu gelap untuk berjualan malam.

Sekarang menyala. Kuning, terang, sedikit berdengung.

Aku berdiri di bawahnya lebih lama dari yang masuk akal untuk seseorang yang harus bangun jam empat besok pagi.

Di ponselku, grup RT berbunyi tiga kali.

Bu Ratih: Ada yg liat lampu ujung nyala?? 😳
Pak Ijang: Nyala dari jam brp bu
Bu Ratih: KELURAHAN AKHIRNYA BENERIN?? Alhamdulillah 🙏🙏🙏

Aku memandangi layar itu dengan jempol menggantung di atas keyboard.

Aku tahu jawabannya. Aku satu-satunya orang di Blok C yang tahu jawabannya.

Aku mengunci ponsel dan memasukkannya ke saku.