Chapter Thirty One
Nenek Sum
POV: Alina
Aku masuk ke grup INFO RUKO BLOK C hari Minggu jam tiga sore.
Aku tidak ada di grup itu. Aku tidak pernah ada di grup itu. Grup itu isinya pemilik ruko dan kepala keluarga dan aku cuma adik dari orang yang punya kafe.
Aku minta Pak Har memasukkan aku.
“Neng, ini grup—“
“Pak, masukin aku.”
“Neng Alina, saya nggak yakin—“
“Pak Har.” Aku berdiri di depan pos dengan HP di tangan. “Bapak nulis empat puluh dua entri pake dua jari selama tiga jam. Bapak udah milih pihak dari kemarin. Sekarang masukin aku.”
Pak Har memandangku selama sekitar lima detik.
Lalu beliau membuka HP-nya.
Alina bergabung.
Bu Ratih: NENG ALINA
Bu Ratih: AKHIRNYA
Pak Broto: Pak har ini grup warga
Pak Har: Beliau warga Blok C. Sudah 21 tahun.
Pak Broto: Bukan pemilik ruko
Pak Har: Bapak juga bukan pemilik ruko C-9. Itu punya kakak Bapak.
Grup itu diam empat menit.
Aku mengetik.
Aku menghapusnya.
Aku mengetik lagi. Aku menghapusnya lagi. Aku sudah melakukan ini berkali-kali selama dua bulan terakhir dan setiap kali aku menghapusnya karena aku takut memperburuk keadaan.
Lalu aku ingat wajah kakakku waktu pulang dari kafe jam tiga sore.
Aku mengetik untuk yang terakhir kali dan aku menekan kirim.
Alina: Halo semua. Saya nggak mau berdebat.
Alina: Saya cuma mau nanya satu hal ke Pak Broto. Boleh?
Pak Broto: Silakan
Alina: Sandal yang Bapak kasih ke dia bulan lalu itu ukuran berapa?
Grup itu diam.
Diam lama sekali.
Aku menunggu dengan HP di tangan dan jantung yang berdegup di telinga.
Pak Broto: 42
Alina: Bapak tau ukurannya dari mana?
Diam lagi.
Pak Broto: Saya liat sandal lamanya
Alina: Bapak merhatiin sandal orang yang Bapak curigain?
Pak Broto: Neng
Alina: Saya nggak nyerang Pak. Saya nanya beneran.
Alina: Karena kalau Bapak beneran mikir dia maling, Bapak nggak akan liat sandalnya.
Aku menaruh HP-ku di meja pos dan tanganku gemetar.
Pak Har menatapku.
“Neng.”
“Pak, aku belum selesai.”
Aku mengirim tiga belas foto.
Aku mengumpulkannya selama dua jam siang itu, dari Bilal, dari ibu kos Melati, dari Bu Ratih, dari HP kakakku, dari HP-ku sendiri.
Bukan foto Alfa. Alfa tidak pernah mau difoto dan tidak ada satu pun foto Alfa yang layak di seluruh Blok C.
Foto-foto barang.
Talang kos Melati yang tidak lagi bocor. Sepeda anak dengan roda belakang baru. Lampu teras ruko C-3. Ember bunga Bu Ratih. Pintu kafe. Kulkas display. Lampu jalan nomor tujuh yang menyala.
Dan yang terakhir: foto DVR pos satpam dengan empat kotak yang menyala, diambil oleh Pak Har sendiri sebulan lalu, dengan tanggal masih tertera di pojok.
Alina: Ini bukan pembelaan. Ini cuma daftar.
Alina: Kalau ada yang mau nambahin, silakan.
Dan Blok C mulai mengirim foto.
Bu Yati mengirim foto kipas angin. Pak Ijang mengirim foto setrika, entah kenapa dari empat sudut berbeda. Ibu kos Melati mengirim foto dua rice cooker. Bu Sri mengirim foto tangga kayu yang aku bahkan tidak tahu pernah rusak.
Dalam dua puluh menit ada empat puluh satu foto di grup itu.
Empat puluh satu. Sama persis dengan jumlah entri pertama di buku Pak Har, dan aku bersumpah itu kebetulan.
Pak Wisnu: Saya kirim juga
Pak Wisnu: [foto dus mi instan]
Pak Wisnu: Ini dus yg dia pungut di jalan. Saya simpen sampe skrg. Saya ga tau kenapa saya simpen.
Aku duduk di pos satpam dan menangis sambil memegang HP dan Pak Har pura-pura sibuk memeriksa senter.
Yang mengakhiri semuanya bukan aku.
Jam lima sore, Nenek Sum masuk ke grup.
Nenek Sum tujuh puluh empat tahun dan tidak bisa mengetik. Semua pesan Nenek Sum dikirim lewat voice note dan durasinya tidak pernah kurang dari satu menit.
Voice note itu durasinya empat menit dua belas detik.
Aku menyalinnya di sini semampuku, karena sebagian tidak jelas dan sebagian ada suara TV di belakangnya.
“Halo. Ini Sum. C-2.
Saya mau ngomong sama Broto. Broto, saya kenal bapak kamu. Bapak kamu dulu ngutang beras sama saya tahun sembilan tujuh dan belum lunas sampe dia meninggal, dan saya nggak pernah nagih, dan saya masih dateng ke tahlilannya.
Sekarang kamu dengerin nenek.
Anak itu nyeberangin saya di depan indomaret. Waktu itu saya mau nyeberang buat marahin tukang parkir yang naikin tarif. Saya lagi galak-galaknya.
Dia nggak nanya saya mau ngapain. Dia nggak nanya saya siapa. Dia cuma berdiri di sebelah kanan saya — di sebelah kanan, ya, yang deket sama mobil — terus jalan pelan-pelan ngikutin saya.
Kalian tau nggak, kalau orang tua nyeberang, yang bikin takut itu bukan mobilnya. Yang bikin takut itu kalau kita jalan pelan terus semua orang di belakang kesel.
Anak itu jalan pelan.
Empat menit, jalan pelan, buat nenek-nenek yang mau marahin tukang parkir.
Terus di seberang dia langsung pergi. Nggak bilang apa-apa. Saya belum sempet nanya namanya. Saya baru tau namanya bulan kemarin dari Ratih.
Broto. Kamu boleh curiga sama siapa aja. Itu hak kamu. Duit kamu ilang, saya ngerti, itu banyak.
Tapi kalau kamu bikin anak itu berdiri di depan lima belas orang di depan ruko kamu—
—nenek yang bakal berdiri di depan dia.
Dan nenek tujuh puluh empat tahun, Broto. Nenek nggak takut apa-apa lagi. Nenek cuma takut mati sebelum sempet bales orang baik.
Udah. Itu aja. Ratih, nanti kirimin nenek foto yang tadi. Yang lampu jalan.”
Voice note itu selesai.
Grup itu diam selama sembilan menit.
Lalu:
Pak Broto: Nek.
Pak Broto: Saya minta maaf.
Nenek Sum: [voice note 0:04] “Jangan sama nenek. Sama anaknya.”
Pak Broto: Iya nek.
Pak Broto: Tapi duit saya tetep ilang.
Nenek Sum: [voice note 0:07] “Ya iya. Itu urusan lain. Jangan dicampur. Kamu ini dari kecil emang suka nyampur-nyampur.”
Dan entah bagaimana, kalimat itu yang menyelesaikannya.
Aku pulang jam tujuh malam dan kakakku sedang duduk di ruang depan dalam gelap.
“Kak?”
“Hm.”
“Kakak nggak masak?”
“Nggak.”
Aku duduk di sebelahnya di lantai.
“Grup udah selesai,” kataku. “Pak Broto minta maaf.”
“Bagus.”
“Nenek Sum ngirim voice note empat menit. Kak, itu—“
“Alina.”
Aku menoleh.
Kakakku sedang menatap ke depan, ke tembok, dengan mata yang bengkak dan sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya.
“Aku ngomong terlalu banyak tadi siang,” katanya.
“Kak?”
“Aku bilang soal utang tiga ratus dua puluh ribu.”
Aku merasa perutku jatuh.
“Kak.”
“Aku nggak sengaja. Aku lagi marah dan aku nggak—“ Kakakku menutup mata. “Dia nanya aku tahu dari mana. Aku bilang dari kamu.”
“Terus?”
“Terus dia pergi.”
Kami duduk di lantai ruang depan dalam gelap selama beberapa saat.
“Kak, dia bakal ke mana?”
“Aku nggak tahu.”
“Kak—“
“Alina, aku nggak tahu.” Kakakku menoleh ke aku dan mukanya hancur. “Aku bahkan nggak tahu kontrakannya di mana. Dua bulan. Aku nggak pernah nanya kontrakannya di mana.”
Aku berdiri.
“Aku tahu,” kataku.
Kakakku mengangkat kepala.
“Bilal tahu,” kataku. “Bilal nganterin dia pulang sekali gara-gara penasaran.”
Aku mengambil jaketku dari gantungan.
“Kak, ayo.”
“Alina—“
“Kak Dayana.” Aku berdiri di depan pintu dengan jaket di tangan. “Pasal 1.”
Kakakku berdiri.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum reading
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin