← Nggak Usah Dibales

Chapter Thirty

Aku Lihat, Kok

POV: Dayana

Minggu pagi, jam sepuluh, gudang belakang ruko C-9 dibongkar lagi.

Kali ini bukan bor. Kali ini brankas kecil Pak Broto, yang isinya sekitar dua juta tujuh ratus, ditemukan terbuka dan kosong.

Dan kali ini Pak Broto tidak menulis “saya tidak menuduh”.


Aku tahu dari Pak Har, yang datang ke kafe jam sebelas dengan wajah orang yang belum tidur.

“Neng.”

“Pak Har. Duduk dulu.”

“Nggak usah, Neng, saya cuma—“

“Duduk, Pak.”

Beliau duduk.

“Saya butuh bantuan.”

“Apa, Pak?”

“Neng tahu Mas Alfa ada di mana?”

Tanganku berhenti di atas gelas.

“Pak.”

“Neng, saya bukan—“

“Bapak nyari dia buat apa?”

“Buat ngamanin dia.”

Aku menoleh.

Pak Har mengeluarkan buku cokelatnya dan meletakkannya di meja, dan untuk pertama kalinya sejak aku kenal beliau, Pak Har kelihatan tua.

“Neng, orang lagi di depan ruko C-9. Ada sepuluh sampai lima belas. Sebagian marah beneran, sebagian ikut-ikutan, dan ada dua orang yang saya nggak kenal sama sekali.”

Aku menaruh gelasnya.

“Dan mereka nunggu di situ karena Pak Broto bilang mau nanya langsung,” lanjut Pak Har. “Dan saya sudah bilang ke Pak Broto bahwa itu bukan cara yang benar dan Pak Broto bilang beliau berhak.”

“Pak Har—“

“Neng, saya butuh anak itu ada di pos saya, bukan di depan ruko C-9.”

Aku mengambil HP-ku dan mengirim pesan ke adikku dan tanganku tidak stabil.


Mereka pulang jam satu siang lewat jalan belakang.

Alina masuk ke kafe duluan, membawa kantong plastik kecil, dengan muka yang langsung berubah begitu melihat aku dan Pak Har berdiri di tengah kafe.

“Kak?”

Alfa masuk di belakangnya.

Dan dia melihat kami bertiga, dan melihat buku cokelat di meja, dan yang dia lakukan pertama kali adalah menaruh tasnya di lantai dengan sangat pelan.

Seperti orang yang sudah tahu.

“Pak Har,” katanya.

“Mas.”

“Brankas?”

Pak Har menoleh ke aku.

“Dari mana Mas tahu?”

“Kemarin Pak Broto ngecek gudang tiga kali.” Alfa masih berdiri di ambang pintu. “Orang ngecek tiga kali kalau ada yang mau dipindah.”

Pak Har membuka bukunya dan mulai menulis.

Dan aku berdiri di kafeku sendiri dan menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin.

Orang ini memperhatikan segalanya.

Dan setiap kali dia mengatakan apa yang dia perhatikan, itu justru membuat dia kelihatan lebih bersalah.


Mereka bicara empat puluh menit.

Alfa menjawab semua pertanyaan. Waktu, tempat, siapa saja yang lewat, jam berapa dia pulang, lewat mana. Semua detail, semua jelas, semua tanpa ragu.

Dan tidak satu kali pun dia mengatakan bahwa dia tidak melakukannya.

Aku menunggu.

Aku menunggu selama empat puluh menit di belakang konter kafeku sendiri sambil mengelap gelas yang sama berulang-ulang, menunggu satu kalimat.

Kalimat itu tidak datang.

Pak Har pulang jam dua. Alina mengantarnya ke pintu dan langsung keluar juga, dan aku tahu persis adikku mau ke mana dan aku tidak menghentikannya.

Kafe kosong.

Tinggal aku dan orang yang duduk di meja pojok dengan tas di lantai.


“Alfa.”

“Ya.”

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Bilang apa?”

Aku menaruh gelas dan lap dan berjalan keluar dari belakang konter.

“Bilang kamu nggak ngambil.”

“Nggak ada gunanya.”

“Kata siapa nggak ada gunanya?”

“Kalau saya bilang, terus Kakak percaya, terus—“

“Aku nggak nanya soal barangnya!”

Suaraku memantul di kafe yang kosong.

Alfa menoleh.

“Aku nggak nanya soal brankas, Alfa. Aku nggak peduli sama brankasnya.” Aku berdiri di tengah kafeku dengan tangan gemetar. “Aku nanya kenapa kamu berdiri di situ empat puluh menit dan nggak ngebelain diri kamu sendiri sekali pun.”

“Kak—“

“Sama kayak di pasar. Sama kayak di depan kos Melati. Kamu selalu diem.”

“Pak Har cuma nanya—“

“IYA AKU TAHU PAK HAR CUMA NANYA.”

Aku berhenti. Aku menarik napas. Aku gagal.

“Kamu tahu nggak sih apa yang kamu lakuin ke aku?”

Dia diam.

“Waktu kamu diem, semua orang harus ngebelain kamu,” kataku. “Alina harus manjat punggung kamu di pasar. Bilal harus teriak sampe ingusan di depan lima ibu-ibu. Pak Har harus ngetik empat puluh dua entri pake dua jari selama tiga jam.”

“Aku nggak minta—“

“IYA, KAMU NGGAK PERNAH MINTA.”

Aku menekan dua tanganku ke meja terdekat.

“Itu masalahnya,” kataku. “Kamu nggak pernah minta apa-apa. Kamu nggak pernah ngambil apa-apa. Kamu nggak pernah bales apa-apa. Kamu masuk ke hidup orang, kamu benerin sesuatu, terus kamu pergi sebelum ada yang sempet ngasih kamu apa pun.”

“Kak.”

“Kamu tahu itu apa namanya, Alfa?”

Dia menatapku.

“Itu namanya kamu nggak ngasih orang kesempatan.”


Kafe itu diam.

Kulkas display berdengung pelan, halus, karena karetnya sudah diganti oleh orang yang sedang duduk di depanku.

“Kak.”

“Apa.”

“Aku nggak ngerti.”

Dan cara dia mengatakannya — bukan defensif, bukan bingung dibuat-buat, tapi benar-benar sebagai laporan tentang keadaan dirinya sendiri — membuat kemarahanku pindah tempat.

Bukan hilang. Pindah.

“Aku tahu kamu nggak ngerti,” kataku, dan suaraku turun. “Itu yang bikin aku pengen nangis.”

Aku duduk di kursi seberangnya.

“Alfa, kamu tahu kenapa aku marah?”

“Nggak.”

“Karena kalau kamu diem terus, suatu hari bakal ada yang percaya sama tuduhannya.”

“Ya udah.”

“’YA UDAH’?”

“Kak, aku nggak bisa ngatur orang percaya apa.”

“Kamu bisa ngomong.”

“Ngomong nggak ngubah apa-apa.”

“KAMU BELUM PERNAH NYOBA.”

Aku berdiri lagi. Aku tidak bisa duduk. Aku berjalan tiga langkah dan berbalik.

“Kamu belum pernah nyoba sekali pun,” kataku. “Empat tahun kerja sama Koh Ateng dan kamu masih percaya kamu punya utang tiga ratus dua puluh ribu.”

Alfa mengangkat kepala.

Cepat. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia bergerak cepat.

“Kakak tahu dari mana?”

Aku berdiri di tengah kafeku dan menyadari apa yang barusan aku katakan.

“Alina,” kataku.

“Koh Ateng cerita?”

“Alfa—“

“Koh Ateng cerita ke Alina?”

Dan wajah orang itu — untuk pertama kali dalam dua bulan, untuk pertama kali sejak dia memanjat tiang lampu jam lima pagi — berubah jadi sesuatu.

Bukan marah. Bukan malu.

Takut.


“Alfa.”

Dia berdiri dan mengambil tasnya.

“Alfa, duduk.”

“Aku harus—“

“Alfa.”

“Kak, aku harus pulang.”

Dan dia sudah setengah jalan ke pintu waktu aku bicara, dan aku bicara dengan suara yang jauh lebih keras dari yang pernah aku pakai di kafe ini seumur hidup.

“AKU LIHAT, KOK.”

Dia berhenti.

Berhenti total, di tengah kafeku, dengan tangan sudah di gagang pintu yang tidak lagi berbunyi.

“Aku lihat kamu,” kataku ke punggungnya. “Dari hari pertama. Dari kamu manjat tiang lampu jam lima pagi dan aku jatohin kunci di trotoar.”

Dia tidak berbalik.

“Kamu kira nggak ada yang lihat, kan,” kataku. “Kamu kira kamu bisa masuk ke tempat orang, benerin sesuatu, terus keluar, dan nggak ada yang nyatet.”

“Kak—“

“Ada yang nyatet, Alfa.” Suaraku pecah dan aku membiarkannya. “Ada empat puluh dua entri di buku Pak Har. Ada sembilan ekor kucing yang nungguin kamu jam setengah lima. Ada anak SD yang teriak sampe ingusan. Ada satu blok yang masak kebanyakan tiap hari selama tiga minggu.”

Tangannya masih di gagang pintu.

“Dan ada aku,” kataku.

Kafe itu sunyi total.

“Kamu boleh diem,” kataku. “Kamu boleh nggak ngebelain diri kamu. Kamu boleh nggak ngerti sampe kapan pun. Tapi jangan pernah lagi bilang nggak ada gunanya.”

Dia berdiri di situ selama waktu yang terasa sangat lama.

Lalu dia bilang, sangat pelan, tanpa berbalik:

“Kak.”

“Ya.”

“Aku nggak tahu harus ngapain sama itu.”

Dan dia keluar.

Pintunya menutup tanpa bunyi apa pun, dan aku berdiri di tengah kafe ibuku selama entah berapa lama, dan yang aku pikirkan bukan brankas dan bukan tuduhan dan bukan Blok C.

Yang aku pikirkan adalah bahwa itu adalah kalimat paling jujur yang pernah dia katakan ke aku.