Chapter Seventeen
Empat Puluh Satu
POV: Pak Har
Bu Sri datang ke pos hari Senin pagi sambil membawa dua gelas kopi, yang mana adalah tanda bahaya, karena Bu Sri tidak pernah membawakan siapa pun apa pun.
“Pak Har.”
“Bu Sri.”
“Bapak punya catatan, kan?”
“Punya.”
“Yang soal Mas itu.”
“Punya.”
Beliau duduk di kursi plastik depan pos, memegang gelasnya dengan dua tangan, dan tidak minum sama sekali selama lima belas menit berikutnya.
“Pak, ibu salah.”
“Ibu nggak perlu ngomong ke saya.”
“Ibu udah minta maaf ke ibunya Bilal.”
“Ke Masnya?”
Bu Sri diam.
“Ibu nggak berani,” katanya akhirnya. “Ibu tiap hari lewat bengkel itu dan ibu nggak berani.”
Aku minum kopinya. Kopinya enak. Bu Sri memang tidak pernah membawakan siapa pun apa pun, tapi kalau membawakan, kualitasnya tidak main-main.
“Pak.”
“Ya.”
“Bapak posting aja catatannya di grup.”
Aku menoleh.
“Biar semua orang tahu,” kata Bu Sri, ke arah gelasnya. “Ibu nggak sanggup ngomong sendiri. Ibu malu.”
Aku mengetik ulang catatan itu selama tiga jam.
Tiga jam. Dengan dua jari. Di HP.
Aku tidak menambahkan apa pun. Aku tidak mengurangi apa pun. Aku menyalin apa adanya, termasuk yang tulisannya jelek, termasuk yang aku sendiri sudah lupa konteksnya.
Aku mengirimnya jam empat sore, dalam satu pesan panjang, ke INFO RUKO BLOK C.
Judulnya aku tulis di paling atas:
CATATAN AKTIVITAS MENCURIGAKAN — BLOK C. 41 ENTRI. SILAKAN DINILAI SENDIRI.
Isinya, antara lain:
03. Lampu jalan no. 7 menyala. Tidak ada laporan perbaikan.
07. Trotoar depan pasar. Membantu warga (mahasiswa). Tas rusak. Pergi tanpa identitas.
09. Gang belakang. Memberi makan kucing pincang. Menahan kucing lain dengan tangan.
12. Menolak bunga gratis dari Bu Ratih.
14. Kafe Sepuluh Menit. Memperbaiki engsel pintu. Tidak menerima bayaran.
15. Halaman kos Melati. Memperbaiki sepeda anak (roda belakang). Tidak ada orang tua yang meminta.
18. Depan minimarket. Mengangkat galon ibu-ibu ke motor. Pergi sebelum diucapkan terima kasih.
21. Gang tembus. Memindahkan pecahan kaca dari tengah jalan ke tempat sampah. Menggunakan tangan.
23. Roda ember bunga Bu Ratih tidak lagi berbunyi. Bu Ratih tidak memanggil tukang.
26. Depan ruko blok C-4. Kardus mi instan Pak Wisnu tumpah ke jalan. Subjek memungut di tengah lalu lintas. Nyaris tertabrak pikap. Ditarik oleh Neng Dayana.
29. Halte depan indomaret. Menemukan anak kos Melati (9 th) tidak punya ongkos. Mengantar pulang lewat jalan besar. Membelikan bakso.
31. Lorong sayur pasar. Dikerubungi empat orang dewasa. Tidak membantah. Tidak marah.
33. Talang kecil dan list karet terpasang di ambang pintu Kafe Sepuluh Menit. Tidak ada yang melihat siapa yang memasang.
Dan di bawah entri terakhir, aku menambahkan satu baris. Cuma satu. Ini satu-satunya yang aku tulis sendiri hari itu:
Catatan admin: dua belas tahun saya mencatat orang yang mengambil dari blok ini. Ini catatan pertama saya tentang orang yang menaruh.
Aku menekan kirim dan meletakkan HP di meja dan mengelap muka.
Grup itu diam selama sembilan menit.
Sembilan menit. Aku menghitung, karena aku memang menghitung segala sesuatu.
Lalu meledak.
Bu Ratih: PAK HAR SAYA NANGIS
Bu Ratih: DI DEPAN LAPAK
Bu Ratih: ADA YG BELI BUNGA SAYA MASIH NANGIS
Ibu Kos Melati: Yg no 15 itu sepeda anak saya pak
Ibu Kos Melati: Saya kira temennya yg benerin
Pak Wisnu: No 26 itu bener. Saya saksinya. Saya sampe skrg belum sempet bilang makasih
Koh Ateng: Dia gak mau
Pak Wisnu: Ya tetep koh
Koh Ateng: Percaya sama saya. Dia gak mau.
Dan lalu, seperti yang sudah aku duga, datang sisi yang satunya.
Pak Broto (C-9): Maaf ya. Tp org normal ga gitu.
Bu Ratih: MAKSUDNYA APA PAK
Pak Broto: Ya org normal nolong 1 2 kali. Ini 41.
Pak Broto: Pasti ada maunya
Bu Ratih: MAU APA
Pak Broto: Ga tau. Tp pasti ada.
Pak Ijang: Bener juga sih
Bu Ratih: PAK IJANG
Pak Ijang: Saya cuma bilang bener juga bu
Empat puluh menit. Empat puluh menit grup itu terbelah, dan aku duduk di pos membaca semuanya tanpa mengetik satu huruf pun, karena admin harus netral, dan karena aku tidak tahu harus bilang apa.
Yang aku tahu cuma ini: Pak Broto tidak jahat. Pak Broto pernah kehilangan motor dua kali dan menantunya pernah ditipu orang yang baik sekali selama enam bulan.
Kecurigaan itu juga dibangun dari sesuatu.
Yang saya perhatikan, dan yang tidak saya tulis di grup, adalah dua nama yang tidak ikut berdebat sama sekali sore itu.
Neng Dayana tidak mengetik satu huruf pun.
Neng Alina mengetik satu kali, jam lima lewat, tiga kata, lalu dihapus. Saya sempat melihatnya sebelum hilang karena saya kebetulan sedang membuka grup.
“Kalian nggak tahu—“
Terhapus.
Dua bersaudara itu diam sepanjang perdebatan tentang orang yang setiap sore duduk di meja pojok kafe mereka.
Saya mencatat itu juga, tapi di halaman yang berbeda.
Yang tidak masuk grup, dan yang jadi entri nomor empat puluh dua di buku saya:
Malam itu, jam sembilan lewat, anak itu datang ke pos.
Saya belum pernah bicara dengannya secara langsung. Dua bulan mengejar orang ini di catatan dan belum pernah sekali pun berhadapan.
Dari dekat, dia lebih kurus dari yang saya kira.
“Pak.”
“Ya, Mas.”
“CCTV-nya mati?”
Saya menoleh ke monitor. Layar itu memang menampilkan empat kotak abu-abu dan sudah begitu sejak, kalau tidak salah, dua tahun lalu.
“Rusak, Mas. Dari lama.”
“Boleh dilihat?”
Dan tanpa menunggu jawaban yang jelas — saya belum bilang boleh, saya juga belum bilang tidak — dia sudah jongkok di depan rak, membuka penutup DVR dengan obeng dari kantongnya, dan mengeluarkan senter kecil dari kantong yang sama.
“Mas, itu—“
“Sebentar.”
Dua puluh menit. Saya berdiri di sebelahnya memegang senter kedua karena disuruh, di pos satpam saya sendiri, jam sembilan malam.
“Adaptornya,” katanya akhirnya. “Sama satu kabel.”
“Bisa dibenerin?”
“Adaptornya beli. Empat puluh ribu.”
“Berapa ongkosnya, Mas?”
Dia melihat saya dengan ekspresi yang, setelah dua bulan mencatat, akhirnya saya lihat sendiri dari jarak satu meter.
“Nggak usah dibales.”
Saya membuka mulut untuk berdebat.
“Pak,” katanya, sebelum saya sempat. “Kamera nomor tiga itu ngarah ke gang belakang, kan?”
“Iya.”
“Bagus.”
Lalu dia berdiri, menepuk celananya, dan pergi.
Saya berdiri di pos memegang senter yang masih menyala.
Saya baru menyadari dua hal setelah dia hilang di tikungan.
Yang pertama: dia tahu kamera nomor tiga mengarah ke mana. Dari DVR yang mati dua tahun. Dia tidak melihat satu pun gambar.
Yang kedua, dan yang membuat saya duduk agak lama: dia tidak pernah bertanya kenapa saya mencatat dia.
Empat puluh satu entri, di grup yang isinya tiga puluh dua orang, dengan namanya di mana-mana selama seminggu terakhir.
Anak itu pasti membacanya. Semua orang membacanya.
Dan yang dia tanyakan ke saya cuma adaptor.
Saya buka buku cokelat itu dan menulis entri nomor empat puluh dua dengan tangan yang, saya akui, agak lambat.
Senin. 21.14. Pos satpam. DVR CCTV diperbaiki. Adaptor dibeli sendiri oleh subjek. Ongkos ditolak.
Catatan: kamera 3 aktif kembali.
Saya menutup buku.
Saya tidak tahu waktu itu bahwa entri nomor empat puluh dua akan jadi entri paling penting yang pernah saya tulis dalam dua belas tahun.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu reading
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin