← Nggak Usah Dibales

Chapter Twenty Four

Yang Aku Tahan Seharian

POV: Dayana

Aku memegang nampan waktu itu terjadi.

Aku mau menuliskannya persis seperti yang aku lihat, bukan seperti yang aku rasakan, karena kalau aku menuliskan yang aku rasakan aku tidak akan sampai ke paragraf kedua.

Yang aku lihat: adikku memukul lengannya dengan gagang sapu. Motor lewat. Dia bergeser. Tumitnya kena ember. Tangannya menangkap tiang.

Kepalanya tidak ikut berhenti.

Dan bibirnya kena pipi adikku.

Sekitar satu detik. Mungkin kurang.

Yang aku rasakan aku tidak akan tuliskan.


Aku tidak menjatuhkan nampan.

Aku ingin itu dicatat karena itu satu-satunya hal yang aku banggakan dari diriku sepanjang hari itu. Aku memegang nampan berisi dua gelas dan aku tidak menjatuhkannya dan aku berbalik ke konter dan aku melanjutkan membuat kopi susu untuk meja pojok.

Setengah sendok lebih manis. Seperti biasa.

Adikku masuk sepuluh menit kemudian dengan muka merah total dan sapu di tangan, dan aku bilang, “Alina, sapunya ditaruh,” dengan suara yang aku dengar sendiri keluar dengan nada yang benar-benar normal.

Aku bangga pada nada itu selama kira-kira empat jam.


Aku menahannya seharian.

Bukan “menahan” dalam arti aku sedang berjuang. Aku tidak berjuang. Aku cuma bekerja.

Aku membuat empat puluh satu gelas kopi. Aku memotong dua loyang cheesecake. Aku melayani ibu-ibu arisan meja tiga yang memesan bergiliran selama satu jam empat puluh menit. Aku menghitung stok susu. Aku mengganti kertas struk. Aku membuang ampas dua kali.

Setiap kali kepalaku mulai memutar ulang satu detik itu, aku memberinya pekerjaan.

Jam tujuh, Alfa pulang. Dia bilang terima kasih di depan pintu. Aku bilang sama-sama. Aku bahkan tersenyum, dan senyumnya asli, dan itu bagian yang paling membingungkan buatku sampai sekarang.

Jam sembilan, kafe sepi.

Jam sepuluh, kami mulai bersih-bersih.

Dan itulah masalah dengan bersih-bersih.

Bersih-bersih itu tidak butuh kepala.


“Kak, gelasnya taruh mana?”

“Rak dua.”

“Yang gede?”

“Rak dua, Alina.”

“Yang gede apa yang kecil—“

“RAK DUA.”

Adikku berhenti.

Aku juga berhenti.

Suaraku barusan terdengar salah bahkan di telingaku sendiri. Terlalu keras untuk kafe kosong. Terlalu keras untuk pertanyaan tentang rak.

“Kak?”

“Maaf.”

“Kakak kenapa?”

“Nggak apa-apa. Capek.”

Adikku menaruh gelasnya di rak dua.

Dan seharusnya berhenti di situ. Seharusnya. Kalau aku orang yang lebih baik, itu berhenti di situ, aku pulang, aku tidur, dan besok pagi semuanya normal.

Yang terjadi adalah adikku bilang, dengan nada ringan, sambil mengangkat kursi ke meja:

“Kak, tadi Bu Ratih nanyain Kakak. Katanya Kakak jarang keluar.”

Dan aku bilang:

“Ya, aku emang nggak punya waktu buat keliling kayak kamu.”

Kafe itu diam.


Aku mendengar kalimatku sendiri sekitar setengah detik setelah keluar, seperti orang mendengar gelas jatuh setelah tangannya sudah terbuka.

Alina berdiri memegang kursi.

“...Apa maksudnya?”

“Nggak ada maksud apa-apa.”

“Kak.”

“Aku capek, Alina.”

“’Keliling kayak kamu.’”

“Aku nggak—“

“Kakak bilang ‘keliling kayak kamu.’”

Adikku menurunkan kursi itu ke lantai. Pelan sekali. Dan cara dia menurunkannya jauh lebih menakutkan daripada kalau dia membantingnya.

“Kak, aku kerja di sini tiap sore.”

“Aku tahu.”

“Aku bantu Kakak dari jam empat sampe tutup.”

“Aku tahu, Alina.”

“Terus ‘keliling’ itu apa?”

Aku tidak menjawab.

Karena jawabannya jelas. Jawabannya sangat jelas dan kami berdua tahu dan yang aku lakukan barusan adalah memakai kata “keliling” sebagai pisau kecil yang aku sembunyikan di dalam kalimat yang kelihatan biasa.

Dan adikku tahu persis pisau mana yang aku pakai.

“Kak.”

“Alina, udah.”

“Kakak marah gara-gara tadi sore.”

“Aku nggak marah.”

“Kakak marah gara-gara ember.”

“AKU NGGAK MARAH.”

Dan suaraku pecah di tengah, dan itu menyelesaikan seluruh argumen dalam waktu satu detik, karena tidak ada satu pun kalimat “aku nggak marah” di dunia yang bertahan setelah suaranya pecah.


Adikku tidak menang.

Itu yang paling aku ingat. Alina tidak menang, tidak menyerang balik, tidak bilang “tuh kan.”

Adikku berdiri di tengah kafe dan matanya langsung merah dan dia bilang, dengan suara yang jauh lebih kecil dari biasanya:

“Kak, aku nggak sengaja.”

“Aku tahu.”

“Embernya aku yang mindahin. Aku lupa naruh balik. Aku nggak—“

“Alina, aku tahu.”

“Terus kenapa Kakak—“

“KARENA AKU PENGEN JADI KAMU.”

Kafe itu diam total.

Aku menaruh kedua tanganku di konter karena kalau tidak aku tidak tahu mau menaruhnya di mana.

“Aku pengen jadi orang yang bisa manjat punggung orang di tengah pasar,” kataku, dan suaraku keluar seperti milik orang lain. “Aku pengen bisa nyubit pipi orang di depan Bu Ratih. Aku pengen bisa bilang ‘bukan nanya’ terus naruh piring dan pergi.”

“Kak—“

“Aku nggak bisa, Alina.” Aku menekan konter itu sampai tanganku sakit. “Aku bangun jam empat. Aku buka kafe. Aku ngitung uang. Aku tidur. Itu aja yang aku bisa. Dan hari ini aku berdiri di jendela sambil megang nampan dan aku lihat—“

Aku berhenti.

“Aku lihat,” kataku lagi, lebih pelan.

Dan itu saja.

Itu semua yang aku bisa katakan malam itu, dan itu sudah jauh lebih banyak dari yang seharusnya.


Adikku menyeberangi kafe dan memeluk aku.

Aku ingin mencatat bahwa aku tidak balas memeluk selama sekitar lima detik pertama, karena aku sedang sangat sibuk mencoba tidak menangis dan gagal.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak jangan gitu.”

“Aku minta maaf soal ‘keliling’.”

“Bukan itu.” Adikku menarik diri dan memegang dua bahuku dan menatapku dari jarak yang terlalu dekat. “Kakak jangan bandingin diri Kakak sama aku. Itu curang.”

“Alina—“

“Kak, dia nyandarin bahunya buat Kakak jam dua pagi.”

Aku berkedip.

“...Kamu tahu?”

“Kak, aku bangun jam dua lewat. Kakak pulang jam setengah tiga sambil senyum-senyum kayak orang gila.”

“Aku nggak senyum-senyum.”

“Kakak selimutin aku, terus Kakak duduk di lantai lima belas menit.”

“Kamu bangun?”

“Aku pura-pura tidur.” Adikku mengangkat bahu. “Aku juga curang.”

Kami berdua tertawa. Tawanya jelek, basah, dan pendek.

“Kak.”

“Hm.”

“Pasal 10.”

Aku menutup mata. “Alina.”

“Kakak melanggar pasal 2. Nada.”

“Aku tahu.”

“Sanksinya cuci piring seminggu. Termasuk loyang.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak akan ngurangin.”

“Aku juga nggak minta.”


Kami pulang jam setengah dua belas.

Di depan pintu rumah, sebelum masuk, adikku berhenti.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak nggak nanya aku rasanya gimana.”

Aku berdiri dengan kunci di tangan.

“Aku nggak mau tahu.”

“Kak—“

“Alina, aku beneran nggak mau tahu.” Aku membuka pintu. “Kalau kamu cerita, aku bakal bayangin. Dan kalau aku bayangin, aku bakal jadi orang yang lebih jelek dari yang tadi.”

Adikku diam di ambang pintu.

“Oke,” katanya.

“Makasih.”

“Kak.”

“Hm.”

“Kalau suatu hari giliran Kakak,” katanya, sangat pelan, “aku juga nggak mau tahu. Boleh?”

Aku menoleh ke adikku di depan pintu rumah kami jam setengah dua belas malam.

“Boleh.”

Dan itu jadi pasal kedua belas yang tidak pernah kami tulis.


Aku mencuci piring kafe sendirian selama tujuh hari.

Termasuk loyang. Loyang itu yang paling parah.

Dan setiap malam selama tujuh hari itu, sambil berdiri di wastafel jam sebelas dengan tangan di air panas, aku memikirkan satu hal yang tidak aku katakan ke adikku.

Yang membuat dadaku sakit sore itu bukan bibirnya di pipi Alina.

Yang membuat dadaku sakit adalah apa yang dia lakukan setelahnya.

Dia bangun. Dia mengelap tangannya. Dan dia bertanya siapa yang menaruh ember di situ, karena kalau ada anak lari terus kesandung, kepalanya kena semen.

Dia tidak merasakan apa pun.

Bukan menyembunyikan. Bukan menahan diri. Tidak merasakan apa pun.

Dan aku berdiri di wastafel malam kelima dengan tangan di air yang sudah dingin dan akhirnya mengizinkan diriku memikirkan kalimat yang sudah aku hindari selama dua bulan:

Bagaimana kalau orang itu memang tidak bisa.

Bukan tidak mau. Bukan belum. Tidak bisa.

Aku mematikan keran dan mengeringkan tangan dan tidak melanjutkan pikiran itu sampai selesai.

Belum malam itu.