Chapter Fourteen
Enam Minggu
POV: Dayana
Kertas itu ukurannya delapan sentimeter kali lima. Aku tahu karena aku pernah mengukurnya, dan aku tidak akan menjelaskan kenapa.
Karbon biru pucat, sobekan dari buku bernomor, jenis yang dipakai bengkel kecil untuk nota servis. Di bagian atas ada cap SERVIS JAYA — ELEKTRONIK & KELISTRIKAN yang tintanya sudah tipis.
Di bawahnya, tulisan tangan.
Tulisannya jelek. Bukan jelek yang berantakan — jelek yang terlalu kaku, huruf-huruf yang berdiri sendiri-sendiri seperti orang yang tidak sering menulis dan mengerjakannya pelan-pelan supaya terbaca.
Kipas angin Bu Yati — dinamo. Beres.
Setrika Pak Ijang — kabel. Beres.
Rice cooker kos Melati (2) — beres 1, mati total 1.
Radio Koh Ateng — jangan disentuh.
Dan di pojok bawah, di kolom yang mestinya untuk tanda tangan teknisi:
Alfa
Itu saja. Satu kata. Ditulis dengan huruf yang sama kakunya.
Aku menemukannya di bawah gelas kosong di meja pojok, hari Kamis, enam minggu sebelum adikku berteriak di kafe.
Dan aku menyimpannya.
Aku bisa mengembalikannya. Itu yang harusnya aku lakukan. Dia datang lagi tiga hari kemudian dan aku bisa bilang, “Mas, ini ketinggalan,” dan urusan selesai dan hidupku lanjut dan aku akan menjadi orang yang sama seperti sebelumnya.
Aku tidak melakukannya.
Aku bilang ke diriku sendiri alasannya: nanti dia malu. Ini catatan kerja, ini bukan urusan aku, kalau aku kembalikan berarti aku sudah membacanya.
Alasan itu bertahan sekitar empat hari.
Setelah itu aku berhenti mencari alasan dan cuma membiarkannya di laci, di bawah nampan uang receh, bersama tiga benda lain yang aku simpan di sana: anting sebelah yang aku temukan di kolong meja tiga tahun lalu, korek gas milik seseorang, dan struk terakhir yang ditulis tangan oleh ibuku sebelum meninggal.
Aku baru menyadari daftar itu waktu menuliskannya barusan.
Aku tidak akan membahasnya lebih jauh.
“Kakak tahu namanya enam minggu.”
Adikku berdiri di depan konter dengan kantong ayam di antara kami dan matanya merah.
“Iya.”
“Kenapa Kakak nggak bilang?”
Aku bisa bilang banyak hal. Aku bisa bilang karena aku tidak yakin. Karena aku pikir tidak penting. Karena aku tidak ingin Alina mengejar orang yang bahkan belum aku pahami.
Semua alasan itu benar sebagian, yang artinya semuanya bohong.
“Karena aku nggak mau kamu tahu.”
Alina menatapku.
“Kenapa?”
“Aku nggak tahu.”
“Kak.”
“Aku beneran nggak tahu, Alina.” Aku menaruh kedua tanganku di konter karena aku butuh menaruhnya di suatu tempat. “Aku bangun tiap hari jam empat dan aku buka kafe ini dan aku ngitung uang dan aku bayar kuliah kamu dan aku tidur. Itu aja. Tiga tahun.”
“Aku tahu, Kak.”
“Terus ada orang manjat tiang lampu jam lima pagi.”
Aku berhenti. Aku tidak berencana melanjutkan.
“Dan aku nggak cerita ke siapa-siapa,” kataku pelan. “Termasuk kamu. Dan aku nggak ngerti kenapa, dan tiap hari aku nggak ngerti kenapa, dan tiap hari aku tetep nggak cerita.”
Adikku diam lama sekali.
Lalu dia jalan mengitari konter, berdiri di sebelahku, dan menyandarkan kepalanya ke bahuku seperti waktu dia masih SD dan takut petir.
“Kakak jelek banget,” katanya.
“Iya.”
“Enam minggu itu curang.”
“Iya.”
“Aku bolos kelas, Kak. Satu.”
“Alina.”
“Dua.”
“Alina.”
“Dan aku teriak ‘PENITI’ di depan bengkel Koh Ateng.”
Aku tertawa. Aku tidak berencana tertawa. Suaranya keluar aneh karena ada air mata di tengahnya, dan begitu keluar aku tidak bisa berhenti, dan adikku ikut tertawa, dan kami berdua berdiri di belakang konter kafe ibu kami sambil tertawa seperti orang gila dengan satu kantong ayam yang mulai mencair.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak suka dia?”
Kafe itu diam.
Aku memandang mesin kopi. Aku memandang etalase. Aku memandang pintu yang tidak lagi berbunyi.
“Aku nggak tahu,” kataku.
“Kakak selalu bilang nggak tahu.”
“Karena aku beneran—“
“Kak Dayana.” Adikku mengangkat kepalanya dari bahuku dan menatapku dari jarak dua puluh sentimeter, dan untuk sesaat dia kelihatan jauh lebih tua dari dua puluh satu. “Kakak nyimpen kertasnya enam minggu.”
Aku tidak menjawab.
“Aku nyimpen peniti di dompet,” katanya.
“Iya.”
“Kita berdua nggak waras.”
“Iya.”
Adikku menarik napas. Panjang. Seperti orang yang mau melompat.
“Kak, aku nggak bakal mundur.”
Aku menoleh.
“Aku bilang duluan biar adil,” katanya. Suaranya bergetar sedikit tapi dia tetap melanjutkan, dan aku sadar adikku sudah menyiapkan kalimat ini sepanjang jalan dari pasar. “Aku nggak bakal diem-diem. Aku nggak bakal ngerebut. Tapi aku juga nggak bakal pura-pura nggak ada apa-apa cuma karena Kakak kakak aku.”
“Alina—“
“Dan Kakak juga jangan mundur.”
Aku menatap adikku.
“Aku serius, Kak.” Matanya merah lagi. “Kalau Kakak ngalah buat aku, aku nggak bakal maafin Kakak seumur hidup. Kakak udah ngalah buat aku dari umur tujuh belas. Yang ini jangan.”
Kulkas display berbunyi seperti ambulans.
Aku memeluk adikku di belakang konter dan kami tidak bicara selama mungkin satu menit penuh, dan waktu kami lepas, kami berdua sama-sama berpura-pura tidak ada yang menangis.
“Ayamnya udah mencair,” kataku.
“Ya masak.”
“Kamu yang masak.”
“Kak.”
“Kamu yang bikin drama, kamu yang masak.”
Malamnya, setelah kafe tutup, aku duduk sendirian di meja pojok — kursinya, tapi aku tidak akan mengakui itu — dan membuka laci kasir.
Kertas itu masih di sana.
Aku memandanginya lama sekali.
Radio Koh Ateng — jangan disentuh.
Aku sudah membaca baris itu entah berapa kali dalam enam minggu dan setiap kali aku berhenti di situ.
Tiga baris pertama adalah catatan kerja. Nama, kerusakan, hasil. Rapi, urut, seperti orang yang memang disuruh mencatat.
Baris keempat bukan catatan kerja. Baris keempat adalah pesan.
Untuk siapa, aku tidak tahu. Buat dirinya sendiri, mungkin. Atau buat orang lain yang mungkin membuka bengkel itu waktu dia tidak ada.
Dan yang membuat aku tidak bisa berhenti memikirkannya adalah kata jangan.
Satu-satunya kata larangan dari orang yang tidak pernah melarang apa pun, tentang satu benda, di antara kipas angin dan setrika dan rice cooker.
Aku menaruh kertas itu di meja dan meratakannya dengan telapak tangan.
Enam minggu aku menyimpan nama orang ini seperti menyimpan sesuatu yang cuma milikku. Dan sore ini adikku berdiri di konter yang sama dan bilang jangan mundur dengan mata merah, dan itu adalah hal paling murah hati yang pernah dilakukan seseorang untukku, dan itu juga hal yang membuat dadaku sakit sampai sekarang.
Karena aku tahu sesuatu yang belum diketahui Alina.
Adikku pikir ini soal siapa yang lebih dulu, atau siapa yang lebih berani, atau siapa yang lebih cocok.
Aku sudah enam minggu mengamati orang itu, dan aku mulai curiga bahwa masalahnya bukan itu sama sekali.
Aku memasukkan kertas itu kembali ke bawah nampan uang receh.
Dan di bawahnya, di dasar laci, aku menaruh permen yang belum aku makan sejak hari Rabu.
Sebelum menutup laci, aku berhenti.
Aku mengeluarkan permen itu lagi, membukanya, dan memakannya berdiri di kafe yang sudah gelap.
Rasanya jeruk. Murah, terlalu manis, jenis yang dijual seribu dapat lima di warung.
Aku memakannya sampai habis, membuang bungkusnya ke tempat sampah, dan menutup laci.
Karena adikku benar soal satu hal.
Kalau aku terus menyimpan benda-benda ini, aku akan berhenti jadi orang yang jatuh cinta dan mulai jadi orang yang mengoleksi.
Dan aku tidak mau jadi orang yang begitu.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu reading
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin