Chapter Six
Tiga Detik
POV: Dayana
Aku tidak menjawab pertanyaan adikku.
Aku bilang “banyak yang pakai hoodie”, lalu aku menyodorkan cheesecake, dan seperti biasa cheesecake menyelesaikan segala bentuk investigasi di keluarga ini.
Tapi aku memikirkannya semalaman.
Adikku tidak pernah bertanya soal orang. Alina bertanya soal nilai, soal uang, soal kenapa kulkas bunyi. Kalau dia bertanya soal orang, artinya sudah lewat tahap penasaran dan masuk tahap yang lebih repot.
Aku memikirkan itu sampai jam satu pagi dan bangun jam empat dengan kepala berat, dan pagi itu aku menyalakan mesin kopi sambil berjanji pada diri sendiri bahwa aku tidak akan melihat ke luar jendela.
Aku melihat ke luar jendela dua belas kali sebelum jam tujuh.
Dia datang jam empat sore.
Bel pintu — yang sekarang tidak lagi berbunyi ngiiik tapi cuma tak pelan, yang mana masih membuat dadaku bereaksi tidak wajar setiap kali — berbunyi, dan aku mengangkat kepala, dan dia sudah di dalam.
Hoodie. Headphone menggantung di leher. Tas selempang yang sama.
Dan tiga anak kecil menempel di kaca jendela luar seperti tokek.
“Mas.”
“Kak.”
Itu perkembangan. Dua kali sebelumnya aku “Mbak”.
“Air putih?”
“Kopi.”
Aku mengangkat alis. “Beneran?”
“Beneran.”
“Yang mana?”
Dia melihat papan menu. Lama sekali. Aku sudah menunggu cukup lama sampai aku sempat menyeka konter, membuang sedotan bekas, dan mempertimbangkan hidupku.
“Yang murah.”
“Mas.”
“Ya.”
“Semua kopi di sini mahal. Ini kafe.”
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di sudut mulutnya yang bergerak sedikit ke atas. Sangat sedikit. Kalau aku berkedip aku akan melewatkannya.
“Yang paling nggak mahal.”
Aku membuatkan dia kopi susu, dan aku membuatnya dengan cara yang tidak akan pernah aku akui ke siapa pun, yaitu terlalu hati-hati.
Di luar, tokek-tokek itu masih menempel.
“Anak-anak itu kenal Mas?”
Dia menoleh ke jendela.
Lima detik penuh dia menatap tiga anak yang mukanya menempel di kaca kafeku, dan tiga anak itu balas menatap dia, dan tidak ada satu pun dari mereka yang mengubah ekspresi.
“Nggak.”
“Nggak kenal?”
“Nggak tahu namanya.”
“Tapi mereka tahu Mas.”
“Iya.”
Dan dia mengatakan itu seperti sedang menjelaskan bahwa hujan itu basah.
Salah satu dari mereka akhirnya masuk.
Anak laki-laki, mungkin sembilan tahun, seragam SD yang bawahnya sudah keluar semua, tas di punggung, sandal jepit satu warna beda. Dia berdiri di ambang pintu dan menunjuk dengan seluruh tangan.
“OM HOODIE.”
“Bilal,” kataku. “Nggak boleh teriak di dalam.”
“Maaf, Kak.” Lalu, dengan suara yang persis sama kerasnya: “OM. HOODIE.”
Alfa — meskipun waktu itu aku belum tahu namanya, dan itu penting untuk aku catat, karena aku ingat betul bagaimana rasanya belum tahu — menoleh.
“Om, aku kemarin dapat satu.”
“Iya.”
“Ardi dapat dua.”
“Ardi bohong.”
“ARDI BOHONG!” Bilal berbalik dan berteriak ke jendela. “ARDI BOHONG!”
Dari luar terdengar suara membela diri yang teredam kaca.
Lalu — dan ini bagian yang membuat aku berhenti mengelap gelas — Alfa memasukkan tangan ke kantong hoodie-nya, mengeluarkan dua permen, dan menaruhnya di meja.
“Satu buat kamu.”
“Satu lagi?”
“Buat Ardi.”
Bilal menatap dua permen itu dengan wajah orang yang sedang diuji Tuhan.
“Om,” katanya pelan. “Ardi bohong.”
“Iya.”
“Terus kenapa dikasih.”
“Karena kamu yang nganter.”
Bilal berpikir sekitar dua detik, memutuskan bahwa logika itu bisa diterima, menyambar dua permen, dan lari keluar sambil berteriak nama Ardi.
Pintu menutup tanpa bunyi.
Aku masih memegang gelas yang sama.
“Mas selalu bawa permen?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia melihat aku. Dan lagi-lagi ekspresi itu — bukan bingung karena tidak tahu jawabannya, tapi bingung karena tidak mengerti kenapa itu jadi pertanyaan.
“Kecil.”
“...permennya?”
“Anaknya.” Dia mengangkat bahu sekali. “Kalau nangis susah dibetulin.”
Aku menaruh gelas itu di rak dan aku tidak percaya kalimat yang barusan aku dengar dan aku juga tidak bisa berhenti mengulangnya di kepala selama tiga hari ke depan.
Kalau nangis susah dibetulin.
Seolah anak kecil itu sama kategorinya dengan engsel pintu dan lampu jalan. Seolah menangis adalah kerusakan. Seolah permen adalah obeng.
Aku mengelap konter yang sudah bersih untuk kedua kalinya sore itu.
“Mas.”
“Ya.”
“Mas kerja di mana?”
“Servis.”
“Servis apa?”
“Elektronik.”
“Yang di ujung? Punya Koh Ateng?”
Dia mengangguk.
Aku menunggu lanjutannya. Manusia normal, setelah ditanya tempat kerja, akan menambahkan sesuatu. Sudah berapa lama. Bosnya bagaimana. Capek atau tidak. Apa saja.
Dia meminum kopinya.
Di luar, dua tokek yang tersisa akhirnya menyerah dan lari ke arah lapangan.
Aku menyadari sesuatu yang agak mengganggu waktu itu: sudah tiga kali dia masuk ke kafeku, dan dia belum pernah sekali pun bertanya apa pun tentang aku.
Bukan karena tidak sopan. Dia sopan. Dia bilang terima kasih setiap kali.
Dia cuma benar-benar tidak penasaran.
Dan aku tidak tahu kenapa itu membuat aku ingin bertanya lebih banyak, bukan lebih sedikit.
Kopinya jadi jam empat lewat dua puluh.
Aku bisa saja menaruhnya di mejanya. Aku selalu menaruhnya di meja. Itu prosedur normal dan sudah aku lakukan puluhan ribu kali dalam hidupku.
Aku tidak melakukannya.
Aku memanggil, “Mas,” dan dia berdiri dan datang ke konter, dan aku mengulurkan cangkir itu dari sisi seberang meja seperti orang menyerahkan sesuatu yang penting.
Jarinya kena jariku.
Bukan sengaja — dari pihaknya, aku yakin sekali, tidak ada satu persen pun yang sengaja. Cangkirnya panas, pegangannya kecil, dan tanganku ada di tempat yang salah.
Punggung jarinya kena punggung jariku. Di situ.
Tiga detik.
Aku tahu tiga detik karena aku menghitungnya, dan aku menghitungnya karena bagian dari otakku yang masih waras sedang berteriak bahwa satu detik sudah cukup dan aku harus menarik tangan sekarang juga.
Aku tidak menariknya.
Tangannya hangat dan kasar dan ada plester di jari telunjuk yang teksturnya terasa jelas, dan aku berdiri di belakang konter kafe milik ibuku yang sudah meninggal, jam empat lewat dua puluh sore, dan tidak menarik tanganku selama tiga detik penuh.
Dia yang menarik. Karena kopinya sudah berpindah.
“Makasih, Kak.”
Lalu dia kembali ke meja pojok dan duduk seperti tidak ada apa-apa, karena memang tidak ada apa-apa, karena satu-satunya orang di ruangan itu yang mengalami sesuatu adalah aku.
Aku berbalik dan pura-pura mencuci sesuatu.
Air kerannya mengalir sekitar satu setengah menit ke wastafel kosong.
Waktu aku berbalik lagi, dia sudah kembali menghadap jendela dengan cangkir di tangan, dan tiga anak yang tadi menempel di kaca sudah diganti oleh satu anak baru yang lebih kecil dan lebih berani, yang sekarang berdiri di ambang pintu sambil memegang mobil-mobilan tanpa roda.
“Om.”
“Hm.”
Anak itu menaruh mobil-mobilan di lantai kafeku dan mendorongnya ke arah meja pojok. Benda itu bergerak sepuluh sentimeter lalu berhenti karena memang tidak punya roda.
Alfa menaruh cangkirnya. Mengambil mobil itu. Membaliknya. Melihatnya dari dekat selama tiga detik.
“Rodanya mana?”
“Ilang.”
“Di mana?”
“Kalau tahu ya nggak ilang, Om.”
Aku menutup mulutku dengan punggung tangan supaya tidak ketawa keras-keras di kafeku sendiri.
Alfa mengangguk pelan, seolah itu argumen yang sangat masuk akal, lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong hoodie-nya — bukan permen kali ini, tapi empat benda bulat kecil dari plastik hitam yang entah kenapa ada di kantong seorang laki-laki dewasa — dan mulai memasangnya.
Anak itu menonton dengan mulut terbuka.
Aku juga.
Dia pulang jam lima. Kopinya habis. Dia bayar, kali ini, dan uangnya pas, dan dia bilang terima kasih dan pergi.
Aku menutup kafe jam sebelas.
Di jalan pulang, di bawah lampu nomor tujuh, aku melihat tanganku sendiri di bawah cahaya kuning itu seperti orang bodoh.
Lalu aku menurunkan tangan dan jalan cepat-cepat sebelum ada yang lihat.
Aku bahkan belum tahu namanya.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik reading
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin