Chapter Twenty Eight
Yang Hilang
POV: Pak Har
Yang pertama hilang adalah uang laci Pak Wisnu. Empat ratus lima puluh ribu, hari Senin, antara jam dua dan jam empat sore.
Pak Wisnu tidak melapor. Beliau pikir salah hitung.
Yang kedua adalah HP anak kos Melati, hari Rabu. Anak kuliahan, lantai dua, HP ditinggal di meja depan waktu dia mandi.
Yang ketiga, hari Kamis, adalah dua bor dan satu gerinda dari gudang belakang ruko C-9. Punya Pak Broto.
Yang ketiga inilah yang membuat semuanya jadi masalah, karena Pak Broto melapor ke saya jam tujuh pagi, dan Pak Broto melapor dengan cara Pak Broto.
“Pak Har, saya nggak nuduh.”
“Baik, Pak.”
“Saya cuma bilang fakta.”
“Silakan.”
“Tiga minggu terakhir ada orang yang keluar masuk semua ruko di blok ini.”
Saya membuka buku.
Saya tidak menulis apa-apa.
Saya perlu menuliskan sesuatu di sini, untuk kejujuran catatan.
Yang dikatakan Pak Broto itu benar.
Alfa memperbaiki kipas Bu Yati di blok D. Talang kos Melati. Karet kulkas kafe Sepuluh Menit. DVR pos saya sendiri. Rice cooker kos Melati, dua buah. Setrika Pak Ijang. Lampu teras ruko C-3.
Dalam tiga minggu terakhir, anak itu masuk ke sekitar sembilan bangunan di Blok C.
Dan di sembilan bangunan itu, tidak ada satu pun orang yang mengawasinya, karena tidak ada satu pun orang yang merasa perlu.
Saya menutup buku dan berdiri.
“Pak Broto.”
“Ya.”
“Bapak sudah cerita ini ke siapa?”
Pak Broto tidak menjawab.
Saya membuka HP.
Grup sudah tiga ratus dua puluh pesan.
Saya tidak akan menyalin semuanya. Saya menyalin secukupnya untuk catatan.
Pak Broto: Saya tidak menuduh siapapun. Saya cuma minta warga hati2.
Bu Ratih: HATI2 SAMA SIAPA PAK
Pak Broto: Sama siapa aja bu
Bu Ratih: BILANG AJA LANGSUNG
Pak Broto: Saya tidak menyebut nama
Bu Ratih: BAPAK GA NYEBUT NAMA TAPI SEMUA ORANG TAU BAPAK NGOMONGIN SIAPA
Ibu Kos Melati: Bu ratih sabar
Bu Ratih: IBU GA BISA SABAR
Lalu masuk yang ini, dan inilah yang membuat semuanya berbeda:
Anak kos (via ibu kos): Bu, hp saya hilang hari rabu. Hari rabu itu ada yg benerin talang.
Satu kalimat. Tanpa tuduhan. Anak itu bahkan mungkin tidak bermaksud apa-apa.
Grup itu diam selama enam menit.
Lalu:
Pak Ijang: Hari senin kan dia juga di ruko pak wisnu
Pak Wisnu: Iya. Betulin lampu teras.
Pak Wisnu: Tp saya ga nuduh ya
Pak Wisnu: SAYA GA NUDUH
Bu Ratih: PAK WISNU DIA YANG MUNGUTIN MI BAPAK DI JALAN
Pak Wisnu: Saya tau bu
Pak Wisnu: Makanya saya bingung
Dan kalimat “makanya saya bingung” itu, menurut saya, adalah kalimat paling jujur yang muncul di grup itu sepanjang hari.
Karena itu yang terjadi di Blok C hari itu.
Bukan orang jahat menuduh orang baik.
Orang bingung, semuanya, tiga puluh dua orang, yang tiga minggu lalu patungan mengirim makanan dan sekarang tidak tahu harus meletakkan kebingungannya di mana.
Yang tidak masuk grup, dan yang saya catat:
Jam sebelas siang, Neng Alina datang ke pos.
Anak itu berdiri di depan meja saya dengan HP di tangan dan tangannya gemetar.
“Pak Har.”
“Neng.”
“Bapak percaya?”
“Neng, saya belum ngomong apa-apa.”
“Bapak percaya nggak?”
Saya menaruh pena.
“Neng Alina,” kata saya. “Saya punya empat puluh dua entri tentang anak itu di buku ini. Empat puluh dua. Nomor empat puluh dua itu dia benerin CCTV pos ini pakai adaptor yang dia beli sendiri.”
“Terus?”
“Terus saya juga punya tugas.”
Anak itu menatap saya.
“Tugas apa?”
“Tugas nanya.”
Saya menemuinya jam empat sore, di depan bengkel, sendirian.
Saya sengaja sendirian. Saya sengaja sore. Saya sengaja tidak membawa siapa pun dan tidak memberi tahu siapa pun, karena ada cara untuk bertanya yang tidak mempermalukan orang, dan setelah dua belas tahun saya sudah cukup tahu bedanya.
“Mas Alfa.”
“Pak Har.”
“Bisa ngobrol sebentar?”
“Bisa.”
Kami duduk di bangku semen di depan bengkel.
“Mas sudah baca grup?”
“Nggak punya grup, Pak.”
Saya berhenti.
Saya lupa. Anak itu tidak ada di grup. Tidak pernah ada. Tiga puluh dua orang membicarakan dia setiap hari selama dua bulan dan dia tidak pernah ada di dalamnya.
“Mas tahu ada barang hilang di blok?”
“Tahu.”
“Dari mana?”
“Koh Ateng.”
“Mas tahu ada yang curiga sama Mas?”
Dia diam sebentar.
“Tahu.”
“Dari mana?”
“Ya tahu aja.”
Saya membuka buku saya. Saya menutupnya lagi.
“Mas,” kata saya. “Saya harus nanya. Ini tugas saya. Saya nanya ke semua orang yang punya akses, dan Mas salah satunya. Saya sudah nanya ke tukang galon dan ke dua anak magang bengkel dan ke pegawai Pak Wisnu.”
“Iya, Pak.”
“Hari Senin sore, jam dua sampai empat, Mas di mana?”
“Ruko Pak Wisnu. Benerin lampu teras.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“Hari Rabu, jam berapa Mas di kos Melati?”
“Jam tiga sampe setengah lima.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“Kamis, gudang C-9?”
“Nggak pernah masuk gudang, Pak. Saya cuma di depan.”
Saya menulis semuanya.
Lalu saya menaruh pena.
“Mas.”
“Ya.”
“Mas nggak mau bilang apa-apa?”
Dia menoleh ke saya.
“Bilang apa, Pak?”
“Ya... apa aja.” Saya melambaikan tangan. “Orang biasanya marah. Atau bilang ‘saya nggak ngambil, Pak’. Atau nanya siapa yang nuduh.”
Anak itu memandang ke jalan.
“Nggak ada gunanya, Pak.”
“Kenapa nggak ada gunanya?”
“Kalau saya bilang nggak ngambil, terus Bapak percaya, terus barangnya nggak balik.” Dia mengangkat bahu sekali. “Barangnya tetep nggak balik.”
Saya duduk di bangku semen itu dan tidak bisa membalas selama beberapa detik.
“Pak.”
“Ya.”
“Bapak udah cek CCTV?”
“Rusak lagi, Mas.”
Dia menoleh cepat.
Dan itu adalah pertama kalinya dalam dua bulan saya melihat wajah anak itu berubah.
“Rusak gimana?”
“Mati lagi. Hari Minggu.”
“Adaptornya?”
“Adaptornya bagus. Saya cek.”
Alfa berdiri.
“Mas?”
“Bapak ada waktu?”
Kami di pos sampai jam delapan malam.
Dia membongkar DVR itu untuk kedua kalinya dalam sebulan, dan kali ini saya tidak diminta memegang senter karena dia membawa senter kepala sendiri.
Jam tujuh lewat, dia berhenti bergerak.
“Pak.”
“Ya, Mas.”
“Kabel kamera tiga dicabut.”
Saya berdiri dari kursi.
“Dicabut?”
“Dicabut.” Dia menyorotkan senternya ke belakang rak. “Bukan lepas. Lepas itu ketarik, ujungnya rusak. Ini dicabut rapi terus ditaruh balik ke lubangnya biar keliatan nyambung.”
Saya jongkok di sebelahnya dan melihat sendiri.
Anak itu benar.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamera tiga itu ngarah ke mana?”
Dia menoleh ke saya di bawah cahaya senter kepalanya, di pos satpam yang sempit, jam tujuh lewat malam.
“Gang belakang,” katanya. “Sama pintu belakang gudang C-9.”
Saya buka buku cokelat saya dan tangan saya, saya akui, tidak terlalu stabil.
Karena ada satu hal yang baru saya sadari.
Orang yang mencabut kabel itu tahu kamera tiga mengarah ke mana.
Dan sepanjang dua tahun DVR itu mati, cuma ada dua orang di seluruh Blok C yang tahu kamera tiga masih hidup.
Saya, dan anak yang sedang jongkok di depan saya.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio
- 28 Yang Hilang reading
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin