← Nggak Usah Dibales

Chapter Thirty Two

Gang

POV: Dayana

Kontrakannya di ujung gang belakang, seratus meter dari tempat kucing-kucing itu makan.

Seratus meter.

Aku memikirkan itu sepanjang jalan. Tiga tahun aku lewat mulut gang itu ratusan kali dan seratus meter dari situ ada pintu yang tidak pernah aku tahu ada.

Bilal yang mengantar kami. Adikku menjemputnya dari kos Melati dan anak itu langsung memakai sandal tanpa bertanya apa pun, yang mana adalah hal paling dewasa yang dilakukan siapa pun hari itu.

“Yang itu,” katanya, menunjuk. “Yang pintunya biru.”

“Kamu yakin, Bilal?”

“Yakin. Aku pernah ngikutin.”

“Bilal.”

“Aku penasaran, Tante.”

Adikku mengacak rambutnya dan menyuruhnya pulang, dan Bilal pulang tanpa protes, dan aku curiga anak itu tahu lebih banyak daripada yang dia tunjukkan.


Pintunya biru, catnya sudah mengelupas, dan lampu di depannya mati.

Aku hampir tertawa waktu melihatnya.

Lampu di depan pintunya sendiri mati.

Adikku mengetuk. Tidak ada jawaban. Mengetuk lagi.

“Kak, mungkin dia nggak di rumah.”

“Motornya ada.”

Kami berdua menoleh ke arah motor yang bersandar di tembok, tertutup terpal, dengan ban belakang yang kempes total dan kelihatan sudah kempes sejak lama.

“Kak, itu motornya?”

“Kayaknya.”

“Kempes.”

“Iya.”

“Dari kapan?”

“Aku nggak tahu, Alina.”

Adikku memandangi motor itu dengan ekspresi yang membuat aku ingin memeluknya.

“Kak, dia benerin semua barang di Blok C,” katanya pelan.

“Iya.”

“Motornya sendiri kempes.”

Kami berdiri di depan pintu biru itu selama beberapa detik.

Lalu adikku menarik napas.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak masuk sendiri.”

Aku menoleh cepat.

“Alina—“

“Pasal 1 ayat 4,” katanya. Dan dia tersenyum dengan cara yang membuat dadaku sakit. “Aku nggak ngalah. Aku ngitung.”

“Ngitung apa?”

“Kak, aku dapet dua puluh tiga menit di bus tadi pagi.” Adikku mengangkat bahu. “Kakak dapet nol hari ini. Kakak dapet marah-marah terus dia pergi.”

“Alina, itu bukan—“

“Kak Dayana.” Adikku memegang lenganku. “Aku bakal nagih ini. Suatu hari. Dan Kakak nggak boleh nolak.”

“Oke.”

“Beneran nggak boleh nolak.”

“Oke, Alina.”

Adikku melepaskan lenganku, mundur tiga langkah, dan berbalik ke mulut gang.

Lalu dia berhenti.

“Kak.”

“Hm.”

“Dia nggak ada di dalem.”

“Kok kamu tahu?”

Adikku menunjuk ke arah utara, ke arah tempat sampah, ke arah tumpukan kardus.

“Karena kucingnya udah kumpul,” katanya. “Ini jam sembilan malem. Bukan jamnya.”

Dan adikku pergi.


Dia duduk di tanah dengan punggung ke tembok, persis seperti pagi itu.

Sembilan ekor kucing di sekitarnya. Bungkus plastik kosong di depannya. Headphone di leher, bukan di telinga.

Dia tidak menoleh waktu aku masuk gang.

“Alfa.”

“Kak.”

Aku berdiri sekitar tiga meter darinya.

“Kamu makan?”

“Nggak.”

“Alfa.”

“Belum sempet.”

Aku berjalan mendekat dan berhenti. Si Miring mengangkat kepala, memandangku, lalu memutuskan aku tidak penting dan kembali makan.

“Aku minta maaf,” kataku.

“Nggak apa-apa.”

“Aku ngomongin sesuatu yang bukan punya aku.”

“Nggak apa-apa, Kak.”

“Alfa, itu apa-apa.”

Dia tidak menjawab.

Dan aku berdiri di gang belakang jam sembilan lewat malam, dengan bau tempat sampah dan sembilan ekor kucing, dan aku menyadari bahwa aku sudah kehabisan cara.

Aku sudah berteriak. Aku sudah bertanya. Aku sudah membuat daftar. Aku sudah menghitung sebelas luka di tangannya satu per satu.

Semua yang aku lakukan selama dua bulan adalah mencoba membuat orang ini mengerti sesuatu dengan kata-kata.

Dan orang ini tidak pernah, sekali pun, mengerti apa pun lewat kata-kata.

Dia mengerti benda. Dia mengerti kerusakan. Dia mengerti hal-hal yang bisa dia lihat dan pegang.

Jadi aku berhenti bicara.


Aku jalan ke belakangnya.

Dia tidak menoleh. Kucing-kucing itu tidak peduli. Blok C sedang tidur.

Dan aku menunduk dan melingkarkan kedua lenganku ke bahunya dari belakang dan menaruh dahiku di belakang kepalanya.


Dia tidak bergerak.

Tidak menegang. Tidak berbalik. Tidak melepaskan.

Bahunya lebih kurus dari yang kelihatan dari luar hoodie itu. Aku baru tahu malam itu.

“Kak.”

“Jangan ngomong.”

Dia diam.

Aku menutup mata.

“Kamu boleh nggak ngerti,” kataku, pelan sekali, ke belakang kepalanya. “Aku nggak nyuruh kamu ngerti.”

Dia tidak bergerak.

“Aku cuma nggak mau kamu duduk sendirian di sini.”

Sembilan ekor kucing makan. Motor lewat di kejauhan. Ada TV menyala dari salah satu kontrakan dan suaranya sampai ke gang.

Dan Alfa mengangkat tangan kanannya — pelan, seperti orang yang tidak yakin ini boleh — dan menaruhnya di lenganku yang melingkar di bahunya.

Tidak menarik. Tidak melepas.

Cuma menaruhnya di situ.

Telapaknya kasar dan ada plester baru di jari tengah yang belum ada tiga hari lalu, dan dia menaruhnya di lenganku dan menahannya di situ, dan itu adalah satu-satunya hal yang pernah dia lakukan lebih dulu.

Aku menangis di gang belakang Blok C jam sembilan lewat malam dengan dahi di belakang kepala orang yang bau logam dan sabun cuci murah.

Dan orang itu tidak bilang apa-apa, tidak bertanya kenapa, tidak menyuruh aku berhenti.

Dia cuma memindahkan ibu jarinya sekali, ke depan dan ke belakang, di lenganku.

Sekali.


Aku tidak tahu berapa lama.

Aku berhenti menghitung waktu sejak malam sebelas luka dan aku tidak berencana mulai lagi.

Waktu aku melepaskan, dia masih tidak berbalik.

Aku duduk di sebelahnya. Di tanah. Di gang.

“Alfa.”

“Hm.”

“Aku boleh nanya satu hal?”

“Boleh.”

“Dan kamu harus jawab jujur.”

“Iya.”

“Kamu takut apa tadi siang?”

Dia diam lama sekali.

Sembilan ekor kucing selesai makan satu per satu dan pergi satu per satu, dan waktu tinggal Si Miring saja yang tersisa, dia bicara.

“Kalau orang tahu,” katanya.

“Tahu apa?”

“Tahu semuanya.”

“Terus kenapa?”

Dia memandang ke depan, ke tembok seberang gang.

“Nanti berubah.”

“Berubah gimana?”

“Orang jadi baik sama aku.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Alfa, itu bagus.”

“Nggak.”

“Kenapa nggak?”

Dan dia bilang, dengan suara datar yang sama seperti waktu dia bilang “rusak” dari atas tiang lampu jam lima pagi dua bulan lalu:

“Karena kalau orang baik sama aku, terus aku kebiasaan, terus mereka berhenti—“

Dia berhenti.

“Terus?” kataku.

“Terus aku harus belajar lagi dari awal.”

Si Miring selesai makan dan pergi.

Gang itu kosong.

Dan aku duduk di tanah di sebelah orang yang barusan menjelaskan seluruh hidupnya dalam satu setengah kalimat, dan aku tidak bisa mengatakan apa pun selama waktu yang sangat lama.

Lalu aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya di atas tanah.

“Aku nggak bakal berhenti,” kataku.

“Kak—“

“Aku tahu kamu nggak percaya.”

“Aku nggak bilang gitu.”

“Aku tahu.” Aku mengeratkan genggamanku. “Nggak apa-apa. Kamu nggak usah percaya sekarang.”

Dan kami duduk di gang belakang sampai jam sepuluh lewat, dengan tangan yang tidak dilepas oleh siapa pun.


Waktu aku pulang, adikku sudah tidur di sofa dengan TV menyala.

Aku menyelimutinya.

Dia membuka mata setengah.

“Kak.”

“Tidur.”

“Dia gimana?”

Aku duduk di lantai di sebelah sofa itu.

“Alina,” kataku. “Kita salah dari awal.”

“Salah gimana?”

“Kita kira dia nggak ngerti perasaan orang.”

Adikku bangun setengah duduk.

“Dia ngerti,” kataku. “Dia ngerti banget. Dia cuma udah mutusin dari lama kalau nerima itu lebih bahaya daripada nggak dapet sama sekali.”

Adikku menatapku dalam gelap.

Dan kami berdua duduk di ruang depan sampai lewat tengah malam, tidak membicarakan apa-apa lagi, karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi malam itu.