Chapter Twenty Seven
Radio
POV: Alina
Aku ke bengkel hari Kamis untuk membeli lakban.
Aku tidak butuh lakban. Aku sudah punya lakban dari kunjungan sebelumnya, yang juga tidak aku butuhkan.
Koh Ateng melihat aku masuk dan langsung meletakkan solder.
“Neng.”
“Koh.”
“Lakban lagi?”
“...Iya.”
“Neng, lakban yang kemarin belum abis.”
“Kok Koh tahu?”
“Karena lakban itu abisnya dua bulan dan Neng beli dua minggu lalu.”
Aku berdiri di bengkel itu dengan muka panas dan Koh Ateng menatapku dengan ekspresi orang yang sudah enam puluh tahun hidup dan sudah kehabisan kesabaran untuk basa-basi.
“Alfa nggak ada,” katanya. “Lagi ke rumah Bu Yati.”
“Aku bukan nyari—“
“Neng Alina.”
“...Iya, Koh.”
“Duduk.”
Aku duduk di bangku plastik di antara tumpukan kipas angin rusak.
Bengkel Koh Ateng itu kecil, panas, dan sangat rapi dengan cara yang aneh. Semua barang rusak ditumpuk berdasarkan jenis. Ada rak khusus kabel. Ada kotak-kotak kecil berisi baut yang diberi label tulisan tangan.
Tulisan tangan yang aku kenal. Huruf-huruf kaku yang berdiri sendiri-sendiri.
“Koh.”
“Hm.”
“Aku mau nanya.”
“Saya nggak jualan cerita orang.”
“Koh, aku tahu. Aku cuma—“
“Neng.” Koh Ateng mengangkat tangannya. “Dengerin dulu.”
Beliau melepas kacamata dan mengelapnya dengan ujung kaos, sama seperti dua minggu lalu, dan aku sadar itu bukan kebiasaan.
Itu cara beliau mengulur waktu.
“Saya udah dua minggu mikirin,” kata Koh Ateng. “Sejak Neng nanya yang kemarin.”
“Koh—“
“Dan saya masih nggak mau cerita.” Beliau memasang kacamatanya lagi. “Tapi saya bakal tunjukin satu barang. Kalau Neng bisa nebak sendiri, ya bukan salah saya.”
Beliau berdiri, jalan ke rak paling belakang, dan turun kembali dengan sesuatu di tangannya.
Radio.
Radio tua. Kotak, kayu di sisinya, kain di depan speaker yang warnanya sudah tidak jelas. Ada tombol putar dua buah dan jarum di belakang kaca yang berhenti di angka yang tidak berarti apa-apa buat aku.
Debunya sudah dibersihkan. Bukan bersih karena baru; bersih karena rutin.
Koh Ateng menaruhnya di meja di depanku.
“Ini di buku servis ditulis punya siapa?” tanyaku.
Koh Ateng menatapku.
“Neng tahu soal buku servis?”
Aku menutup mulut.
“...Kakak aku nemu nota.”
“Ah.” Koh Ateng mengangguk pelan, dan sesuatu di wajahnya melunak. “Neng Dayana.”
“Koh, jangan bilang—“
“Saya nggak bakal bilang apa-apa ke siapa-siapa. Saya kan nggak jualan cerita orang.”
Beliau duduk di kursinya.
“Di buku, itu punya saya,” katanya. “Ditulis ‘Radio Koh Ateng’.”
“Tapi bukan punya Koh.”
“Bukan.”
“Punya siapa?”
Koh Ateng menyalakan solder, lalu mematikannya lagi, lalu tidak melakukan apa-apa dengan tangannya.
“Neneknya.”
Aku tidak bicara selama beberapa detik.
“Neneknya bawa itu ke sini empat tahun lalu,” kata Koh Ateng. “Ibu-ibu tua, kecil, ceriwis. Tiap pagi radio itu nyala di rumahnya. Katanya buat nemenin masak.”
“Terus?”
“Rusak. Trafo sama beberapa komponen. Barangnya udah nggak diproduksi.”
“Nggak bisa dibenerin?”
“Bisa,” kata Koh Ateng. “Kalau nyari komponennya. Bisa setahun, bisa lima tahun, bisa nggak ketemu.”
Beliau menoleh ke radio itu.
“Neneknya nggak sempet nunggu.”
Bengkel itu panas dan berisik dan ada kipas angin rusak di mana-mana, dan aku duduk di bangku plastik dengan tangan di pangkuan.
“Kapan, Koh?”
“Tiga bulan setelah radionya masuk sini.”
“Sakit?”
“Sakit. Nggak lama.”
Aku menunduk.
Tiga tahun. Kucing itu digigit tiga tahun lalu.
Kakakku menceritakannya ke aku semalam sambil mencuci gelas dan aku tidak tidur sampai jam dua.
“Koh.”
“Hm.”
“Kenapa di buku ditulis punya Koh?”
Koh Ateng mengambil kain dan mengelap radio yang sudah bersih.
“Karena kalau ditulis punya dia,” kata beliau, “dia bakal bawa pulang.”
“Terus?”
“Terus dia bakal duduk di kontrakannya tiap malem sambil ngeliatin radio yang nggak bisa dia benerin.”
Beliau menaruh kainnya.
“Saya bilang, ‘Alfa, ini radio saya sekarang. Kamu udah utang ongkos servis, jadi saya sita.’ Anak itu percaya.” Koh Ateng mendengus pelan. “Anak itu percaya, Neng. Empat tahun. Sampe sekarang dia masih ngira dia punya utang ongkos servis sama saya.”
Aku menutup muka dengan dua tangan.
“Koh.”
“Sudah, sudah.”
“Koh, itu—“
“Sudah.”
Aku mengangkat kepala setelah beberapa saat.
“Koh, satu lagi.”
“Satu.”
“Di nota itu dia nulis ‘jangan disentuh’.”
Koh Ateng mengangguk.
“Itu buat siapa?”
“Buat anak-anak magang,” kata beliau. “Dulu sempet ada dua. Anak muda, semangat, suka nyoba-nyoba barang di rak.”
“Terus?”
“Terus salah satunya buka radio itu. Mau ngasih kejutan.” Koh Ateng menggeleng. “Niatnya baik. Bongkar, terus nggak bisa masang balik.”
“Ya Allah.”
“Alfa nggak marah.” Beliau melihat aku. “Neng, saya kerja empat tahun sama anak itu. Saya belum pernah lihat dia marah sekali pun.”
“Terus dia gimana?”
“Dia duduk di lantai bengkel sampe jam dua pagi masang ulang.” Koh Ateng menyalakan solder lagi, dan kali ini benar-benar mulai bekerja. “Besoknya dia nulis di nota. ‘Jangan disentuh.’ Sampe sekarang.”
Aku memandangi radio itu.
“Koh, dia pernah cerita apa-apa nggak? Soal neneknya?”
“Sekali.”
“Apa?”
Koh Ateng tidak mengangkat kepala dari solderannya.
“Waktu pertama masuk kerja saya tanya, kenapa dia mau kerja servis padahal bayarannya kecil.”
“Terus?”
“Dia bilang neneknya punya satu kalimat.”
Beliau berhenti.
Dan aku menunggu, dan bengkel itu berisik oleh kipas dan solder dan motor lewat, dan Koh Ateng akhirnya bilang, tanpa nada apa pun:
“’Kalau lihat yang nggak beres, beresin.’”
Sebelum aku keluar, aku berhenti di pintu.
“Koh.”
“Hm.”
“Utang ongkos servisnya berapa?”
Koh Ateng tidak mengangkat kepala.
“Neng.”
“Aku serius.”
“Neng Alina, saya ngarang.”
“Aku tahu Koh ngarang.” Aku memegang kusen pintu. “Tapi dia percaya. Berarti angkanya ada.”
Koh Ateng meletakkan solder.
Beliau menatap aku cukup lama.
“Tiga ratus dua puluh ribu,” kata beliau akhirnya. “Saya ngarang angka itu empat tahun lalu waktu panik. Sampe sekarang saya nggak berani ngubah.”
“Dia bayar?”
“Nggak pernah saya tagih.”
“Dia nggak nanya?”
“Tiap tahun dia nanya sekali.” Koh Ateng mengambil solder lagi. “Tiap ulang tahun neneknya. Dia nanya ‘Koh, utang saya masih ada?’ Saya bilang masih. Terus dia bilang ‘oh’. Terus dia kerja lagi.”
Aku keluar dari bengkel itu dan berdiri di trotoar sekitar satu menit sebelum bisa jalan.
Aku jalan pulang dan tidak lewat kafe.
Aku jalan memutar, lewat gang belakang, lewat lapak Bu Ratih yang sudah tutup, dan aku berdiri di mulut gang itu sekitar lima menit.
Tidak ada kucing. Bukan jamnya.
Cuma tumpukan kardus dan tempat sampah dan tembok.
Dan aku berdiri di situ dan menyusun ulang semuanya dari awal.
Lampu jalan yang mati tiga tahun. Engsel pintu. Karet kulkas. Talang kos Melati. Roda ember Bu Ratih. Sepeda anak. Sembilan ekor kucing. Empat puluh dua entri di buku Pak Har.
Semuanya rusak. Semuanya dibetulkan.
Dan di rak paling belakang bengkel Koh Ateng ada satu benda yang tidak bisa dia betulkan, yang dia bersihkan debunya secara rutin, yang dia larang siapa pun menyentuh, dan yang dia biarkan disita oleh bosnya karena dia percaya dia punya utang ongkos servis.
Aku pulang jam sembilan malam.
Kakakku sedang di dapur.
“Kak.”
“Kamu dari mana?”
“Kak, duduk dulu.”
Kakakku menoleh dan melihat mukaku dan langsung mematikan kompor.
Kami duduk di lantai ruang depan, tempat yang sama seperti jam tiga pagi minggu lalu, dan aku menceritakan semuanya dari awal sampai habis.
Kakakku tidak memotong sekali pun.
Waktu aku selesai, kami berdua duduk diam agak lama.
“Alina.”
“Hm.”
“Kamu ngerti sekarang, kan.”
Aku menoleh ke kakakku.
Dan aku sadar kakakku sudah sampai di sini duluan. Entah kapan. Mungkin malam kelima cuci piring. Mungkin lebih awal.
“Dia bukan nggak mau, Kak,” kataku pelan.
“Iya.”
“Dia nggak ngerti kalau perasaan itu sesuatu yang bisa diliat.”
Kakakku menyandarkan kepala ke tembok.
“Dia bisa lihat semua yang rusak di Blok C,” kata kakakku. “Dari jarak enam meter. Sambil ngebelakangin.”
“Iya.”
“Dan dia nggak bisa lihat dua orang di depan mukanya sendiri.”
Kulkas rumah kami berbunyi.
“Kak, kita gimana?”
Kakakku tidak menjawab malam itu.
Dan seminggu kemudian, Blok C kehilangan sesuatu, dan semua orang lupa bertanya.
- 1 Lampu Nomor Tujuh
- 2 Peniti
- 3 Info Ruko Blok C
- 4 Air Putih
- 5 Salah Orang
- 6 Tiga Detik
- 7 Satu Ekor
- 8 Lima Belas Saksi
- 9 Jangan Dibangunin
- 10 Orang yang Sama
- 11 Kardusnya Jatuh
- 12 Om Hoodie Nganterin Aku Pulang
- 13 Namanya
- 14 Enam Minggu
- 15 Kampanye
- 16 Lantai Basah
- 17 Empat Puluh Satu
- 18 Verifikasi
- 19 Sembilan Ekor
- 20 Perjanjian
- 21 Jam Dua Pagi
- 22 Delapan Kali
- 23 Ember
- 24 Yang Aku Tahan Seharian
- 25 Jam Tiga Pagi
- 26 Sebelas
- 27 Radio reading
- 28 Yang Hilang
- 29 Bus
- 30 Aku Lihat, Kok
- 31 Nenek Sum
- 32 Gang
- 33 Kamera Tiga
- 34 Empat Detik
- 35 Yang Aku Susun Semalaman
- 36 Pintu Biru
- 37 Aku Nggak Mau Tahu
- 38 Berani Nggak
- 39 Yang Aku Lihat
- 40 Satu Pasal
- 41 Epilog — Om, Saya Mau Minta Izin